Saturday, June 09, 2012

Bahayanya Belajar Agama Islam Dengan Membaca Teks Sendiri

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Di dalam sebuah Facebook group yang saya ikuti, seringkali ada orang yang mengutip hadiths atau ayat. Dengan jelas dan tegas, mereka mengatakan “Ada hadithsnya!” lalu dikutip hadithsnya untuk mendukung argumentasi mereka. Atau “Ada ayatnya” lalu dikutip ayatnya.

Biasanya, apa yang disampaikan memang sangat benar sekali, dan penjelasan juga bagus dan benar. Ayat itu benar ada, dan memang bisa digunakan untuk memperkuat suatu pendapat atau argumentasi karena memang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh ulama dan ahli tafsir. Begitu juga hadithsnya karena hadiths itu memang ada, sahih dan sangat bisa digunakan dengan cara tersebut. Ini merupakan ilmu Islam yang benar, yang kalau ditanyakan kepada para ustadz dan kyai akan dibenarkan juga karena sesuai dengan apa yang mereka ajarkan.

Tetapi kadang juga, ada orang yang menyampaikan pendapat yang belum tentu disetujui semua orang, atau pendapat yang tidak diyakini secara umum oleh ummat Islam. Orang itu mengatakan kita semua harus meyakini bahwa X itu wajib, atau X itu haram atau makna dari suatu keadaan adalah X. Lalu dikutip ayat atau hadiths. Setelah dibaca, kalau dari isi teksnya, sepertinya memang betul. Ayat dan hadiths tersebut tidak diragukan kebenarannya, dan teks sudah jelas di depan mata dengan pernyataan yang sepertinya sederhana.

Masalahnya cuma satu. Ayat atau hadiths tersebut punya makna yang lain, yang tidak bisa dipahami dari sekedar membaca teksnya saja. Kalau sebatas baca terjemahan dalam bahasa Indonesia, “sepertinya” jelas dan mudah dipahami. Tetapi kalau bertanya kepada seorang ustadz yang punya ilmu yang baik, maka dia mungkin akan senyum dan mengatakan, “Mohon maaf, tetapi anda salah paham.”

Yang telah terjadi adalah suatu teks (ayat atau hadiths) yang mengandung kalimat yang jelas dan sederhana dipahami secara TEKSTUAL saja, tetapi belum tentu punya makna yang juga jelas dan sederhana. Bisa juga teks itu punya makna lebih dari satu, dan bisa juga punya makna yang hanya bisa dipahami setelah diteliti KONTEKS-nya dan dibandingkan lagi dengan ayat dan hadiths yang juga membahas topik yang sama.

Dulu, saat saya masuk Islam, saya dapat suatu rahmat yang besar dari Allah dalam bentuk guru saya KH Masyhuri Syahid dari MUI. Setelah mulai membahas agama dengan Pak Kyai, dan saya menunjukan sikap tertarik pada bidang fiqih, Pak Kyai mulai mengajar saya secara rutin. Saya ingat sekali salah satu pelajaran pertama dari Pak Kyai berupa sebuah peringatan. Dia menegaskan bahwa orang awam seperti saya (yang masih muallaf saat itu) sama sekali tidak boleh membaca terjemahan Al Qur'an, atau hadiths, lalu mengatakan pada diri sendiri, “Saya sudah baca, saya sudah paham!” Sikap itu bisa menjadi hal yang berbahaya dalam proses belajar agama.

Pak Kyai Masyhuri menegaskan lagi, bahwa Al Qur'an dan hadiths HANYA bisa dipahami lewat bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab. Dan lebih dari itu, sangat penting untuk memeriksa KONTEKS dari sebuah ayat atau hadiths. Kalau sebatas membaca teks terjemahan, dan merasa paham, maka itu membuka suatu pintu yang sangat berbahaya bagi semua orang Muslim yang masih awam. Kadang, sebuah kalimat bisa berubah sekali di dalam konteks yang berbeda. Jadi, kalau kita baca terjemahan, di mana sangat mungkin maknanya sudah berubah sedikit sekali dari bahasa aslinya, dan setelah itu, kita juga tidak peduli pada konteksnya, maka harus siap-siap menjadi keliru dan salah paham.

Jadi saya diajarkan seperti itu. Kalau mau paham dengan benar, maka harus ada proses yang benar. Pertama, kita harus bertanya, “Kata-kata apa yang digunakan di dalam bahasa Arab?” dan bukan semata-mata melihat terjemahan saja. Dan kalau belum bisa berbahasa Arab, maka harus bertanya kepada seorang ustadz yang mengerti. Kedua, KONTEKS-nya apa pada saat ayat ini turun, atau apa yang sedang terjadi pada saat Nabi mengucapkan kalimat yang menjadi hadiths ini? Kalau bahasa Arab tidak dipahami, dan konteks tidak dipedulikan, maka dengan sangat mudah bisa terjadi PERUBAHAN MAKNA.

Dan ini yang sudah saya saksikan beberapa kali di dalam group Facebook tersebut, dan juga di beberapa tempat yang lain. Orang datang dan menyampaikan pendapat. Lalu setelah ada yang berprotes sedikit (“Masa seperti itu Pak?”), orang itu berusaha untuk membuktikan kebenaran dari pendapatnya. Ayat ada. Hadiths ada. Lalu disampaikan teks ayat dan hadiths dalam bahasa Indonesia. Kalau penjelasan yang disampaikan sesuai dengan ajaran para ustadz dan kyai, biasanya tidak menjadi masalah. Dan orang yang belum tahu menjadi tahu. Orang yang belum belajar mendapat pelajaran. Tetapi kadang yang terjadi adalah yang sebaliknya. Orang yang berpendapat itu mengikuti pikiran dan keinginan sendiri, lalu pikiran itulah yang diperkuat dengan ayat dan hadiths. Ini bukan hasil dari pengajian yang dia ikuti. Ini bukan hasil dari binaan seorang ahli agama. Ini adalah seorang Muslim, yang dengan ilmu terbatas, berusaha belajar sendiri dengan baca-baca di internet, lalu melihat sebuah ayat atau hadiths, memikirkan maknanya, dan kemudian dia mengucapkan di dalam hatinya:  “SAYA SUDAH BACA, SAYA SUDAH PAHAM!”

Lalu karena dia merasa “sudah paham” maka dengan semangat yang besar, dia mulai menyebarkan pendapatnya kepada semua orang, untuk meyakinkan mereka juga. Dia tidak berhenti sejenak dan bertanya kepada yang lebih ahli, karena dia merasa sudah baca dan paham sendiri, jadi buat apa harus tanya pada ustadz?

Hasilnya adalah pendapat dia yang keliru, yang merupakan hasil dari kesalahpahaman terhadap maknanya di dalam sebuah ayat atau hadiths, disebarkan ke mana-mana di dalam beberapa group dan komunitas. Lalu pada saat orang lain mengatakan tidak setuju atau tidak yakin pendapat itu benar, dia merasa harus menegor mereka dan suruh mereka setuju. Dia sudah baca, dan sudah paham, jadi orang lain harus mengikuti dia dan dan ikut paham seperti dia juga. Dan hasilnya setelah itu adalah dia mengganggu orang yang sedang belajar, karena dia menyampaikan pendapat yang keliru dan kemudian mulai ribut dengan orang yang tidak setuju. Perbuatan seperti ini sudah saya saksikan di beberapa tempat, berkali-kali dalam sekian tahun terakhir ini.

Kesimpulan saya dari semua ini hanya satu. Kita semua sebagai orang Muslim yang mau belajar lebih banyak dan ingin menjadi Muslim yang baik, WAJIB punya guru agama masing-masing. Dan ini juga merupakan salah satu ajaran dari Kyai Masyhuri kepada saya dulu. Dia mengatakan orang yang bukan ustadz atau kyai, yang tidak bisa bahasa Arab, dan belum diajarkan ilmu tafsir, sama sekali tidak sanggup memahami Al Qur'an dan hadiths secara benar. Pasti akan keliru dalam banyak perkara, karena yang bisa mengerti hanyalah ahli agama yang sudah diajarkan “cara yang benar untuk mengerti” secara turun-menurun dari zaman Nabi Muhammad SAW sampai dengan sekarang.

Tidak cukup kita baca sendiri terjemahan ayat dan hadiths dari internet, KECUALI kita sudah mengikuti pelajaran agama dan pengajian secara rutin dari dulu, dan sudah punya dasar ilmu agama yang kuat. Untuk orang2 seperti itu, walaupun belum menjadi ustadz, pada saat mendapatkan ayat atau hadiths yang membuat mereka berfikir-fikir (karena sepertinya ada makna yang lain) maka mereka sudah mengerti sendiri ada kewajiban untuk cek langsung kepada guru agamanya yang bisa bahasa Arab dan juga ahli tafsir, untuk mendapatkan pengertian yang lebih dalam. Jadi orang seperti itu sudah bisa menambahkan ilmu agama secara “independen” (di luar waktu pengajian) karena bisa membedakan antara apa yang sesuai dengan ajaran ustadz dan sudah dipahami, dan hal baru yang belum tentu dipahami secara benar dan perlu dicek lagi. Saya sering ketemu ibu-ibu pengajian dan bapak-bapak yang ikut pengajian setelah jam kantor yang seperti ini. Mereka belum menjadi “ahli agama”, tapi dasarnya sudah cukup kuat untuk tahu kapan mereka sudah paham, dan kapan mereka perlu bertanya lagi. Jadi insya Allah mereka masih cukup terjaga oleh ilmu yang sudah dikaji selama bertahun-tahun.

Tetapi bagi orang awam atau muallaf yang belum kuat ilmu agamanya, hal seperti itu tidak bisa dilakukan karena bagi mereka, semua ayat dan hadiths hanya bisa dipahami secara tekstual saja. Itu yang dikatakan “bahaya” oleh guru saya dulu dan sekarang saya sudah melihat buktinya secara langsung. Ternyata, pelajaran dari Pak Kyai Masyhuri itu sangat betul dan sangat bermanfaat kalau mau diterima. Jangan sampai ummat Islam, terutama orang awam dan muallaf, merasa tidak begitu membutuhkan guru agama yang ahli bahasa Arab dan ahli tafsir, karena cukup kita semua “baca-baca” dari internet. Sikap seperti itu membuka pintu untuk menjadi keliru dan salah memahami ajaran agama Islam.

Semoga bermanfaat.
Wabillahi taufik walhidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

5 comments:

  1. Maaf menyela mr Gene, bagaimana dengan Fatwa ulama (Fatawa Lajnah Daimah) apakah bisa dijadikan rujukan secara umum?

    ReplyDelete
  2. Jangan menghakimi kayak gitu. Org pengen belajar Islam aja udah alhamdulillah. Banyak keterbatasan utk belajar Islam. Yg paling gampang ya dari internet. Soal terjemah, saya yakin 90% dari yg diterjemahkan itu benar. Yg 10% mungkin ada kendala salah arti. Itu wajar, jangan jadikan itu sbg hambatan tuk baca terjemah. Salah dalam belajar itu biasa, ada juga guru yg salah. Normal, karena manusia tempatnya salah. Teman2 jangan takut salah. Allah akan membimbing kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Irwanto keren
      Mohon maaf tapi anda keliru sekali. Menyuruh orang “jangan takut salah”? Justru yang salah itu bisa menjadi penyimpangan besar. Penyimpangan itu kalau menjadi bagian yang diajarkan, maka yang mulai pertama kali dengan penyimpangan itu akan kena dosa besar dari semua orang yang mengikutinya.
      Islam tidak bisa dan tidak boleh dipahami dari teks terjemahan. Kalau anda punya guru agama, pasti diajarkan begitu karena begitu yang benar.
      Baca satu ayat: bunuhlah orang kafir!
      Sudah paham? Tidak perlu belajar konteks dan makna dari guru agama? Sudah baca terjemahan bahasa indonesia dan sudah paham sendiri? Boleh bunuh semua orang non-Muslim?
      Baca ayat lain: orang yang berjihad akan masuk sorga!
      Sudah paham? Sudah baca terjemahan? Kalau ada teman yang bilang “jihad” = membunuh polisi dan menjatuhkan negara sehingga ada pemerintahan Islam, lalu orang awam ikut, apa sudah benar? Kata orang awam, dia sudah baca teks terjemahan sesuai dengan anjuran anda. Kata anda, baguslah, jangan takut salah. Guru agama tidak perlu. Paham sendiri saja.
      Terjemahan Al Qur'an dan tafsir Al Qur'an sangat berbeda.
      Ada baiknya anda menyuruh orang awam mencari beberapa guru agama untuk belajar dengan benar, dan bukan suruh semua orang silahkan jalan sendiri tanpa perlu guru. Seharusnya semua Muslim takut salah dan takut menyimpang. Anda menyuruh yang sebaliknya.
      Tolong dipikirkan kembali.

      Delete
    2. mas irwanto..

      saya setuju dengan yang punya blog.. bener bahaya belajar lewat internet.. mungkin ma perlu tanya-tanya dengan seseorang yang ahli dalam bidang agama..
      menterjemahkan Al qur'an itu butuh ilmu apalagi menafsirkan..
      mungkin jika anda pernah belajar dari pesantren anda akan mengetahui bahayanya belajar ilmu tanpa guru

      Delete
  3. nah ini yang benar... jangan sembarang share masalah agama, mantap info x (y) , kasian yang baru bisa internet, udah bisa bicara, itu bid'ah ,, itu haram ,, itu syirik ,, eh ternyata gurunya buku + internet,, gurunya tak ada turun temurunnya sampai Rasullullah SAW.

    ReplyDelete