Tuesday, July 10, 2012

Apa Bagus Kalau Membina Muallaf Dengan Pandangan Islam Yang Keras?

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Teman2, saya dapat message dari Admin lain di Facebook Muallaf Indonesia (MI), yang mengatakan ada beberapa member yang komplain tentang saya. Diantara lain, dikatakan bahwa saya “tidak sopan”, “bertindak seenaknya”, “bersikap kaya preman”, dan sering “menghinakan orang Indonesia” (tapi saya tidak diberikan buktinya). Para member itu juga mendirikan group Facebook yang baru untuk muallaf, supaya dapat kebebasan bicara di situ.
Mungkin sebagian dari orang itu tidak suka kalau saya tegas. Apa saya tegas? Iya, mungkin saja saya sering tegas, tetapi hanya terhadap orang yang mau bicara dengan muallaf tanpa punya ilmu pembinaan muallaf. Komentar mereka, yang mereka anggap “bagus atau “ilmu Islam yang benar”, bisa sangat mengganggu hatinya seorang muallaf. Sebagian member menulis komentar di group MI tanpa paham kondisi muallaf sama sekali. Tetapi kalau saya lawan di awalnya (dengan sikap dan kata2 yang baik) kadang mereka malah naik darah dan menyerang dengan menanyakan dari mana saya dapat hak untuk menolak post atau komentar mereka (terutama kalau ada ayat dan hadiths dalam teks yang juga dihapus). Dan ini tidak terjadi sekali, atau dua kali, tetapi terjadi secara rutin setiap beberapa bulan dengan masuknya member-member baru yang punya pandangan keras dalam agama.

Orang Muslim dengan sangat mudah bisa menulis (misalnya), “Wajib shalat di masjid bagi pria. Haram dan berdosa kalau shalat sendirian di rumah.” Atau, “Haram dan berdosa kalau tidak pakai jilbab setelah masuk Islam.” Atau, “Wajib potong celana setinggi betis (cingkrang).” Atau, “Wajib panjangkan jenggot.” Atau, “Sekali tidak shalat, kafirlah!” Tetapi orang yang menulis itu tidak paham ada sebagian muallaf yang takut ketahuan sebagai muallaf karena tidak tahu apa yang akan terjadi kalau rahasia mereka terbongkar di tengah keluarga yang benci orang Muslim. (Misalnya, di rumahnya, orang Muslim disindir sebagai “teroris” dan dikatakan “bodoh” karena tidak mengenal kasih sayangnya Yesus.)   
Ada muallaf yang ceritakan kepada saya bahwa dia bawa sebotol Aqua ke kamar, kunci pintu, taruh handuk di lantai, dan tuangkan air ke tangan dengan pelan untuk melakukan wudhu. Dia tidak berani wudhu di kamar mandi, karena takut suara air kedengaran Ibunya. Lalu dia ambil sejaddah dari tempat penyimpanan rahasia di lemari, dan shalat subuh tanpa pakai suara. Ini bukan cerita rekayasa dari saya. Ini cerita nyata dari seorang muallaf yang tinggal di Jakarta. Dia takut sekali keluarganya akan tahu dia sudah masuk Islam. Dia takut dipukuli, diusir dari rumah, dan tentu saja uang kuliah akan dihentikan karena dia dinilai “bukan anak lagi”. Bagaimana nasib dia setelah itu? Dia takut dan sedih setiap hari. Lalu dia cari bantuan lewat internet, ketemu blog saya dan kirim email. Alhamdulillah saya bisa membantunya sebelum niat bunuh diri terwujud.

 Apa anda bisa dibayangkan isi hatinya muallaf itu kalau dia masuk group Facebook Muallaf Indonesia, dan di situ ada member yang pengertian agamanya keras, yang dengan enteng sekali menulis: “Haram dan berdosa kalau laki-laki shalat di rumah!” Si muallaf hanya bisa menangis dan bingung mau bicara dengan siapa. Kalau dia coba ke masjid, pasti akan ketahuan keluarganya, dan apa yang akan terjadi setelah itu? Dia mau menjadi seorang Muslim yang baik, tapi tidak berani ke masjid. Dan sekarang langsung dicap sebagai orang Muslim yang buruk dan berdosa. Satu kalimat bisa punya pengaruh yang besar sekali di dalam hatinya seorang muallaf yang baru saja masuk Islam. Tetapi hal itu tidak dipahami oleh banyak orang Muslim yang tidak mengerti rasanya menjadi muallaf. Mereka menulis “HARAM” atau “BERDOSA” lalu pergi lagi, tanpa pernah bicara dengan muallaf yang mau putus asa.
Ada muallaf yang begitu tertekan dalam kehidupannya sampai mau bunuh diri. Ada muallaf yang merasa lebih baik murtad (keluar dari Islam) karena kasih sayang dari Yesus jelas, tapi sama orang Muslim yang lain hanya disalahkan dan ditegor terus, bukan disayangi. Ada muallaf yang takut bicara dengan ustadz, takut ikut pengajian, takut memberitahu teman2 Muslim bahwa mereka menjadi muallaf, takut bertanya karena takut akan dimarahi (karena pertanyaan itu tidak pantas), atau takut dicela (karena pertanyaan itu dinilai bodoh), dan takut masuk masjid karena takut tidak boleh atau tidak akan diterima secara baik. Intinya, mereka selalu takut.

Ada muallaf yang mengatakan kepada saya lebih baik dia murtad karena bapaknya benci orang Muslim, dan juga sakit jantung. Seluruh anggota keluarga dilarang dokter mengagetkan bapak, karena bapak bisa langsung serangan jantung. Jadi si muallaf sambil menangis keras dan membentak meja teriak kepada saya, “Masa untuk menjadi seorang Muslim saya harus MEMBUNUH bapak kandung saya sendiri!!??” (Dia yakin bapak akan mati mendadak kalau tahu anaknya sudah Muslim. Katanya, lebih baik bunuh diri daripada bunuh bapak! Saya habiskan satu hari untuk bicara dengan dia supaya dia tidak murtad. Atau bunuh diri.)
Ada muallaf yang harus mengurus perceraian, pindah rumah, pindah kerja, hak pengasuhan anak-anaknya, orang tua dan mertua yang ribut, barang milik sendiri yang perlu dipindahkan, harta yang dimiliki bersama, dan sebagainya. Ada muallaf yang sehari2 merasa diancam, dihujat, dihinakan, diusir, dipukul, dan dinyatakan bukan anggota keluarga lagi. Dan siapa yang mau bayar uang kuliah nanti buat mahasiswa? Dan mungkin juga di depan mereka, Nabi mulia kita Muhammad SAW dihinakan secara kasar sebagai nabi palsu, pembohong, perampok, pecandu seks (karena banyak isteri), gila perang, dan banyak yang lain. Si muallaf mungkin harus mendengarkan itu semua di dalam rumahnya sendiri, dari saudara kandung yang sedang naik darah.

Mereka mungkin harus tahan itu semua, sambil menangis dan merasa sangat tertekan. Lalu mereka masuk group Muallaf Indonesia untuk mencari sahabat dan dukungan, dan malah dikatakan “berdosa dan bukan orang Muslim yang baik” kalau tidak langsung pakai jilbab, panjangkan jenggot, pakai gamis, pakai celana cingkrang, shalat di masjid dan lain sebagainya. Atau bahkah dikatakan KAFIR lagi, karena tidak shalat satu waktu (mungkin karena belum biasa jadi kadang lupa).
     Di group MI ada orang yang mengatakan saya ketahuan orang liberal yang “tidak suka perempuan berjilbab”! Itu sama sekali tidak benar. Apa pernah bicara dengan wanita yang baru masuk Islam, lalu diancam akan diceraikan oleh suaminya, dan juga dihujat dan dicacimaki oleh suami, orang tua, mertua dan bahkan anak kandung sendiri? Muallaf seperti itu bisa merasa bingung, sendirian, depresi dan tidak tahu mesti lakukan apa! Lalu dia cari bantuan dan dukungan di group Muallaf Indonesia (misalnya) dan di situ orang Muslim lain dengan enteng menulis “Haram dan berdosa kalau wanita Muslim tidak pakai jilbab! Bukan wanita Muslim yang benar!” Dan seterusnya. Apa bisa dipahami isi hati perempuan yang muallaf itu? Di tengah gangguan emosional yang paling besar seumur hidup, dia mencari teman dan bantuan lewat internet, dan malah merasa disalahkan, ditekan, dipojokkan dan dianggap “bukan orang Muslim yang benar”. Dia mungkin saja mau pakai jilbab nanti, tetapi pada saat ini, terasa terlalu berat dan mustahil untuk tampil seperti itu di depan keluarga yang sedang mengancamnya.

Kadang ada member yang menyampaikan pendapat bahwa ini dan itu adalah bid’ah dan haram. Misalnya, ada yang menulis pendapat bahwa Maulid Nabi, Tahlilan (dan hal-hal lain) adalah bid’ah dan haram. Apa itu benar? Memang ada pendapat seperti itu di kalangan ulama, tetapi ulama tidak sepakat. Ada pendapat yang sebaliknya juga. Tetapi apakah ini merupakan TUGAS yang penting bagi muallaf untuk segera memutuskan dan menyetujui pendapat haram tersebut? Daripada harus meyakinkan MUALLAF tentang hal itu, kenapa orang2 itu tidak datang ke MUI, memaksakan para ULAMA untuk setuju dengan mereka dan mengeluarkan fatwa haram? Kenapa harus membujuk muallaf untuk sepakat, tetapi tidak mau memaksakan ulama untuk sepakat? Menurut saya, orang yang mau memaksakan muallaf memilih satu pendapat yang tidak umum di Indonesia sangat tidak adil dan tidak mulia. Orang itu sudah tahu puluhan juta ustadz, kyai, imam masjid, dan bapak haji di seluruh Indonesia tidak sependapat dengan mereka. Jadi muallaf saja yang ditekan.

Tiba-tiba di group MI ada yang mulai membahas pentingnya gamis, sorban dan jenggot sebagai simbol agama, dan bukti keimanan kepada Allah. Dikatakan bahwa orang yang berpakaian seperti itu lebih beriman kepada Allah dan akan aman dari gangguan pelacur kalau masuk mall (karena semua mall penuh dengan pelacur, katanya), tetapi para satpam akan curiga kepadanya. Orang yang berpakaian seperti itu membawa simbol agama yang bagus untuk ditiru, lalu ditampilkan foto. Siapa itu? Abu Bakar Basyhir, yang masuk berita setelah dipenjarakan sebagai teroris! Tetapi diangkat sebagai contoh orang Muslim yang baik di depan muallaf, karena pakai gamis, sorban dan jenggot. Apa ini cara yang benar untuk mendidik muallaf?
Semua Admin diam dan membiarkan foto itu berada di situ. (Kalau ada yang mau beragumentasi bahwa Abu Bakar bukan teroris, silahkan. Tapi jangan di forum muallaf!) Mungkin para Admin yang lain lebih utamakan diam dan hindari keributan dengan orang yang punya pendapat keras, daripada melindungi muallaf dari pendapat itu. Saya tidak bisa diam. Jadi di dalam group MI, saya dulu selalu punya satu tujuan saja: MENJAGA para muallaf sehingga mereka bisa belajar dengan baik, dan tidak meragukan keputusan masuk Islam. Tugas itu menjadi sulit ketika orang lain mengajak muallaf mengikuti contoh Abu Bakar Basyir.

Dari pengamataan saya, makin lama makin sedikit pertanyaan dari muallaf di dalam group Muallaf Indonesia. Dulu muallaf bertanya terus, dan yang lain menjawab. Tetapi sekarang sudah beda. Isinya lebih banyak dari orang yang bukan muallaf yang datang dan menulis, “Satu kali tidak shalat, kafirlah” atau “Haram dan berdosa kalau laki-laki shalat di rumah” dan sebagainya. Bagaimana teks itu diterima di hati muallaf yang mungkin saja sedang depresi dan takut? Sepertinya tidak ada yang peduli di dalam group. Muallaf wajib ditegor terus, karena harus sempurna dari awalnya, dan kalau tidak, berdosa dan masuk neraka! Itulah Islam yang diajarkan kepada mereka sekarang. Saya tidak bisa setuju dan tidak bisa diam ketika menyaksikan itu setiap hari. Pembinaan terhadap muallaf bukan suatu kegiatan yang sederhana, tetapi suatu skil khusus yang butuh pengalaman untuk memahami apa yang perlu dilakukan, apa yang boleh dikatakan, dan kapan saat yang tepat untuk memberikan informasi.

     Saya punya pengalaman 15 tahun membina ribuan muallaf. Semua itu tidak dilakukan demi mencari prestasi, atau pujian orang, atau uang. Saya malah habsikan banyak uang dan waktu untuk bertemu dengan muallaf (tanpa mau terima uang dari mereka) hanya untuk membantu mereka mengenal Islam secara benar, dan menjadi orang yang beriman. Dan di Facebook Muallaf Indonesia yang dulu saya harapkan menjadi tempat perlindungan dan pembinaan bagi muallaf, makin lama makin terasa sebagai tempat yang keras, tidak fleksibel, tidak peduli pada hati muallaf atau kondisi hidup mereka. Sebagian member merasa bahwa pendapat agama yang keras harus disampaikan tanpa perlu menyampaikan pendapat yang lebih moderat.  

Saya sudah melakukan shalat istiqharah berkali2 dari minggu kemarin. (Shalat istiqharah adalah shalat sunnah 2 rakaat untuk minta pentunjuk langsung dari Allah). Hasilnya? Tidak muncul perasaan bahwa saya bersalah. Bahkan saya malah merasa lebih percaya diri dan tambah yakin bahwa insya Allah tindakan saya selama ini untuk melindungi muallaf adalah benar. Orang yang pandangan Islamnya keras harus dilawan dan ditegor kalau ada kemungkinan bisa mengganggu proses belajarnya muallaf. Muallaf yang harus diutamakan, bukan hatinya orang Muslim itu yang mau menegor muallaf setiap hari dan cepat naik darah kalau tidak boleh.
Saya ingin berpesan kepada para muallaf di group MI: tolong jangan putus asa! Walaupun anda merasa disalahkan, dipojokkan, diremehkan, dihinakan, dan ditekan karena anda tidak bisa memakai jilbab, gamis dan sorban, memanjangkan jenggot, pakai celana cingkrang, shalat di masjid, atau bahkan shalat 5 waktu dan lain sebagainya, jangan putus asa. Ada 200 juta orang Muslim di Indonesia, dan anda bagian dari mereka sekarang. Dan orang yang bicara dengan tegas dan keras terhadap anda di group Muallaf Indonesia BUKAN perwakilan dari 200 juta orang Muslim itu. Tolong cari info tambahan di tempat lain. Cari seorang Muslim yang mulia, lembut dan berilmu, dan tolong bicara lagi dengan dia. Minta bantuan dari dia, dan jangan hanya terima pendapat dari satu sumber saja.

Semoga semua orang yang hatinya keras di Facebook Muallaf Indonesia siap bertanggung jawab di hadapan Allah. Saya kuatir akan datang harinya di mana ada satu muallaf yang merasa tertekan di group MI, misalnya setelah dia baca “Satu kali tinggalkan shalat, kafirlah!”, dan karena itu dia tambah depresi sampai murtad (keluar dari Islam). Di hari akhirat, saya tidak mau dipanggil Allah dan disuruh menjelaskan karena saya diam dan membiarkan hal itu terjadi. Lebih baik saya tinggalkan group Muallaf Indonesia.
Pada Jumat 6 Juli 2012 di pagi hari saya dikeluarkan dari group Muallaf Indonesia. Saya berkomentar tentang itu di blog dan Facebook saya, lalu ada pernyataan dari Admin lain bahwa saya tidak pernah dikeluarkan dan keluar sendiri. Setelah saya buktikan dikeluarkan, penjelasan berubah menjadi saya dikeluarkan secara “tidak sengaja” dan boleh kembali (untuk sebulan dulu). Baiklah. Saya terima bahwa itu tidak sengaja. Saya kemudian masuk sebagai member baru, diam tiga hari sambil menulis komentar di atas, dan akhirnya pada Senin 9 Juli 2012 pada jam 4 sore saya mundur lagi dari group Muallaf Indonesia untuk selama-lamanya.  

Saya ingin mohon maaf kepada para muallaf. Saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk melindungi anda sekalian selama beberapa tahun dari orang-orang yang hatinya dan pandangan agamanya keras. Tetapi saya gagal. Saya sendirian melawan 22 Admin lain dan ratusan member yang mau membiarkan anda disalahkan dan dipojokkan terus, dan dikatakan bukan orang Muslim yang benar kalau tidak melakukan ini dan itu. Memang dalam setiap “perjuangan” harus ada yang kalah. Jadi  saya mohon maaf, karena tidak bisa melakukan apa-apa. (Tetapi kalau ada muallaf yang masih mau bertanya kepada saya, silahkan cari Facebook page saya atau  kirim email ke saya.)

Saya hanya berharap bahwa anda tidak putus asa ketika disalahkan terus oleh orang Muslim yang lain setiap hari. Mereka mungkin tidak mau peduli pada kondisi anda tetapi Allah selalu akan peduli. Dan kalau anda bisa berpegang kepada Allah, maka percayalah bahwa Dia tidak pernah akan tinggalkan anda, dan Dia akan memberikan jalan keluar, jadi jangan putus asa. Allah selalu bersama anda dan yang penting di dunia ini bukan pendapat orang lain terhadap kita, tapi yang penting hanya PENDAPAT ALLAH terhadap kita. Tidak ada orang yang masuk sorga karena dicintai manusia di dunia, tapi dibenci Allah. Dan tidak ada yang masuk neraka karena dibenci manusia, tapi dicintai dan dimuliakan sama Allah. (Keadaan sempurna adalah dicintai manusia dan Allah juga, tapi kalau pilihan itu tidak ada, utamakan pendapat Allah!) Jadi berpegang pada Allah, dan jangan bawa ke hati setiap kali orang lain mengatakan anda “kurang beriman” dibandingkan mereka. Nanti insya Allah anda akan bisa melebihi mereka semua di mata Allah, tapi harus bersabar dulu dan belajar secara bertahap! 

Sekian saja dari saya. Mohon maaf bila tidak berkenan.
Wabillahi taufik walhidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto


1 comment:

  1. Subhanallah.. Saya sangat setuju dengan brother Gene Netto.. Islamkan orang yang mau Islam,, jangan sebaliknya.. mengkafirkan mereka yang dengan susah payah mau menjadi Islam.. memaksa muallaf untuk mendadak "kaffah" tak beda dengan memaksa bayi yang baru lahir untuk puasa sehari penuh.. I do support you dear brother.. dari Abdul Wahib.. Saat sdg di Brisbane untuk bertemu dengan para Muallaf..

    ReplyDelete