Wednesday, July 04, 2012

Menilai Orang Lain Dari Pakaiannya

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Pernah ada cerita dari teman saya yang namanya Yasir. Dia lagi duduk di warung untuk makan malam, dan ada orang yang datang dan duduk di sebelahnya. Orang itu memakai baju panjang (gaya Pakistan) dengan sorban, dan celana dipotong tinggi di atas betis, dan pakai sandal jepit. Jenggotnya panjang dan tidak rapi (mungkin karena kepanjangan, dan jarang dipotong).
Orang itu tanya apakah Yasir seorang Muslim. Yasir jawab iya. Orang itu mulai menegor Yasir,  tetapi dengan senyuman yang kaku, mungkin seperti buaya yang senyum tapi niat sebenarnya adalah untuk menekan atau mengancam.

Katanya, Kok jam segini duduk di warung padahal sudah jelas ada adzan dari masjid. Mestinya sebagai seorang Muslim dia tinggalkan makanan di warung dan datang ke masjid untuk ikut shalat. Orang yang baik agamanya akan shalat di masjid, dan tidak akan duduk di warung terus pada saat dengar adzan. Lalu dia kutip beberapa ayat dalam bahasa Arab untuk memperkuat semua komentarnya bahwa Yasir adalah orang yang agamanya tidak baik dan perlu diperbaiki. (Dan orang itu sepertinya siap menegor sehingga Yasir merasa malu dan mau pergi ke masjid sama dia.)

Dia juga menegor Yasir karena memakai celana jeans dan kaos padahal itu adalah pakaian orang kafir, dan seorang Muslim yang baik akan memakai baju seperti dia, atau memakai gamis dan sorban, karena itu adalah pakaian seorang Muslim. Jeans dan kaos tidak boleh dipakai untuk shalat, katanya, karena “meniru orang kafir, berarti kafir juga”.

Yasir senyum dan meletakkan sendoknya. Dia mulai menjelaskan.
Pertama, dia seorang Musafir (orang dalam perjalanan) jadi sudah shalat tadi (maghrib dan isya digabung) dan karena itu tidak perlu shalat isya lagi. Kedua, ayat yang dikutip tadi sebenarnya kurang tepat, dan Yasir kutip ayat yang lain dalam bahasa Arab, dan juga memberikan terjemahan dan tafsir. Lalu dikutip beberapa hadiths Nabi juga, dan ditambah hadiths lain yang berkaitan dengan dakwah, semuanya dalam bahasa Arab.

Orang itu mulai kelihatan bingung. Dia berusaha membela diri dengan mengatakan dia hanya niat berdakwah, jadi tidak salah menegor orang lain. Yasir senyum lagi dan mulai menjelaskan ayat2 berkaitan dengan dakwah dan menjelaskan petunjuk dari Nabi SAW di dalam hadiths yang berkaitan dengan cara melakukan dakwah terhadap orang yang lain. Ternyata orang itu belum tahu semua ilmu tersebut, dan hanya sebatas datang ke warung dan menegor orang yang tidak ikut shalat di masjid (karena dia merasa dirinya sudah paling benar). Dan dia hanya bisa mengutip ayat yang itu-itu saja, karena tidak punya yang lain.

Setelah sudah mulai kelihatan malu, orang itu bertanya Yasir siapa. Yasir menjawab.
“Saya seorang ustadz dari pesantren, dan mengajar ilmu Al Qur'an di sana karena saya insya Allah seorang hafiz Qur’an (orang yang hafal seluruh isi Al Qur'an), dan hanya berada di Jakarta untuk bertemu dengan guru saya dari MUI. Rumahnya di jalan itu. Jadi, permisi, saya mau ke rumah Pak Kyai dulu. Dan karena anda sudah habiskan banyak waktu di sini dengan saya, anda mungkin sudah jadi telat dan tidak akan dapat shalat di masjid.”

Lalu dia pergi dan tinggalkan orang itu di warung. Dan saat Yasir ceritakan semua itu kepada saya pada malam itu, saya tidak tahan untuk ketawa dengan keras. Orang yang mau menegor itu sedang bicara dengan seorang Ustadz yang hafiz Quran. Tapi dia tidak tahu dan hanya berasumsi Yasir tidak mengerti agama, karena memakai jeans dan kaos, dan karena berada di warung pada saat adzan. Salah sekali dia dalam menilai orang yang pakai jeans dan kaos.

Kita bisa saja menilai orang lain dari pakaiannya, dan kita bisa salah sekali. Islam milik kita semua, dan bukan milik orang yang pakai gamis dan sorban saja.
Semoga bermanfaat.
Wabillahi taufik walhidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene  

2 comments:

  1. Kapanpun kita menilai orang lain dari pakaian, atau warna kulitnya, atau bahasa yang dia pakai, siap2 salah menilai dan salah paham.
    Menilai orang yang pakai gamis pasti seperti X, salah, menilai orang yang pakai kaos pasti seperti X juga salah. Menilai orang yang berbahasa Arab pasti lebih baik akhlak dan ibadahnya salah. Menilai orang yang kulit putih pasti tidak bisa baca Al Qur'an dengan benar juga salah. Menilai orang yang bertato pasti seorang preman dan berakhlak buruk juga salah. (Ada ustadz di Kota, yang mantan preman, dan seluruh tubuh penuh tato!)
    Jadi semua penilaian kita yang berasal dari asumsi dan bukan dari kenyataan adalah salah. Kita dengan mudah sekali bisa salah menilai orang dan pasang sikap X terhadap mereka, padahal kita tidak tahu apa2 tentang mereka, ilmu mereka, pemikiran mereka, dan latar belakang mereka.
    Jadi kita perlu hati2 dan bersikap baik kepada semua orang (sebelum ada informasi yang lebih dalam), tanpa menilai mereka dari pakaian, warna kulit, bahasa dan lain sebagainya.
    Saya pernah datang ke rumah guru, dan dia sedang duduk di depan dengan 2 tamu. Saya tanya kepada anak Pak Kyai, “Kok ada dua orang Kristen di depan? Mereka mau apa?” Saya komentar begitu karena mereka jelas2 orang Papua. Jadi saya mengira mereka orang Kristen dan datang untuk bicarakan suatu acara lintas agama. Ternyata, mereka berdua memang orang Papua, tapi Muslim, dan juga ustadz, dan datang ke Jakarta untuk mengundang Pak Kyai ceramah di masjid mereka. (Hehehhehe…. Salah menilai deh! Jadi malu sendiri!)

    ReplyDelete
  2. masih banyak yang seperti itu, saya sendiri terkadang masih sering begitu. walaupun tidak diucapkan secara lisan, tp dalam hati menilai (tetap salah kan???). semoga bisa memperbaiki diri...kisah yang penuh makna pak

    ReplyDelete