Monday, August 06, 2012

Buat Apa Ujian Kompetensi Guru? Biar Bisa Dibuat Proyek Pelatihan Guru!

Sekarang ketahuan alasan sebenarnya kenapa dibuat Ujian Kompetensi Guru (UKG) kemarin. Banyak guru yang ikuti “ujian” itu komplain. Ada pertanyaan yang: tidak lengkap, suruh lihat gambar (untuk menjawab) tapi gambar tidak nampak, berbasis penghafalan pantun saja, tidak punya jawaban yang benar, dan ada juga yang punya lebih dari satu jawaban benar. Banyak guru komplain bahwa ketahuan soal2 itu dibuat secara mendadak, dan juga dibuat secara asal!
Ada banyak guru yang sedang ikuti ujian ketika koneksinya ke server  di Dikbud putus, dan hasilnya adalah mereka “tidak lulus” (dengan alasan “tidak menyelesaikan ujian”). Ada beberapa guru yang lapor bahwa semua guru di dalam kelompoknya “tidak lulus”. (Kok bisa semuanya “tidak kompeten”?
Jadi buat apa buang2 waktu bikin Ujian Kompetensi Guru ini? Sekarang sudah ketahuan…
Yaitu: mulainya PROYEK PELATIHAN GURU DARI KEMENDIKBUD pada tahun depan!!!
Jadi guru yang tidak lulus UKG (dan itu mayoritas) sekarang disuruh siap-siap mengikuti “pelatihan”. Alias proyek yang nilainya pasti mencapai ratusan milyar nanti (untuk mayoritas dari 2,8 juta guru se-Indonesia). Dan yang “tidak lulus” ujian kemarin, alias “tidak kompeten” diwajibkan mengikuti “pelatihan”. Luar biasa. Semoga KPK siap juga untuk memantau…
Wassalam,
Gene

Guru Bernilai Jelek, Disiapkan Pelatihan Khusus Tahun Depan
Senin, 06 Agustus 2012 , 03:53:00
Pendidikan
YOGYAKARTA - Melihat hasil sementara uji komptensi guru (UKG) yang jeblok, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) langsung merancang agenda pembinaan. Guru-guru peserta yang mendapatkan nilai UKG jelek, wajib mengikuti pembinaan khusus tahun depan.
Di sela safari Ramadan di Yogyakarta, Minggu (5/8) Mendikbud Mohammad Nuh mengakui jika rata-rata hasil sementara UKG yang hanya 44,5 adalah hasil cukup jelek. Nuh mengatakan para guru peserta UKG tidak perlu meratapi berlebihan hasil UKG tersebut.

 "Dengan hasil tadi, mari kita belajar untuk mengakui hal yang sesungguhnya. Kita sudah waktunya belajar fair," ucap Nuh. Dia mengatakan hasil rata-rata UKG yang hanya 44,5 itu harus digenjot. Dia menuturkan guru yang memperoleh nilai jelek wajib mengikuti pelatihan khusus tahun depan. Sedangkan guru yang sudah mendapatkan nilai bagus, dilepas untuk kembali mengajar.

Mantan Menkominfo itu mengatakan, jika sampai saat ini nilai ambang batas kewajaran atau standar guru harus ikut pelatihan khusus masih dalam kajian. Kemungkinan besar guru-guru yang nilainya kurang dari 50 atau 60 akan diikutkan dalam pelatihan khusus tahun depan.
Materi-materi dalam pelatihan khusus ini nantinya akan disesuaikan dengan hasil UKG masing-masing guru. Rata-rata Nuh mengatakan jika para guru kesulitan menghadapi materi soal kependidikan atau pedagogik.

Nuh mengatakan guru yang sangat jago atau menguasai mata pelajaran yang diampu saja tidak cukup. Tetapi guru itu wajib menguasai juga soal teori-teori kependidikan dan prakteknya. Upaya Kemendikbud dalam meningkatkan kualitas dan kinerja guru tidak berhenti pada pelatihan khusus tersebut. Setelah guru-guru bernilai jelek tadi menjalani pelatihan khusus, akan dikembalikan lagi ke sekolah masing-masing untuk mengajar.

Selanjutnya guru-guru yang memperoleh nilai UKG bagus maupun jelek wajib menjalani penilaian kinerja secara berjangka. "Penilaian kinerja ini diantaranya menyangkut urusan kedisiplinan," tutur Nuh. Dia menuturkan, penilaian kinerja ini nantinya akan mengetahui hingga detail kinerja guru dalam mengajar. Mulai dari urusan absensi mengajar, keterlambatan datang ke sekolah, dan urusan teknis lainnya.

"Ibarat dokter, profesi guru juga harus dipantau secara berkala. Tidak bisa dilepas begitu saja," katanya. Terkait urusan keberlanjutan UKG, Nuh mengatakan UKG tahap pertama terus dijalankan hingga 12 Agustus mendatang. "Walaupun ada yang macet di beberapa tempat, jalan terus," katanya. Untuk itu, Nuh meminta para guru yang akan menghadapi UKG untuk menyiapkan diri dengan matang. Sehingga tidak kesulitan dalam mengerjakan soal ujian. (wan)


No comments:

Post a Comment