Friday, September 21, 2012

Khutbah Jumat Yang Terasa Tidak Cocok

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Teman2, saya merasa sangat tidak cocok dengan Khutbah Jumat pada hari ini. Saya kira seperti biasa, akan penuh dengan ilmu agama yang bermanfaat sebagai renungan. Tapi hari ini, malah terkesan sebagai serangan terhadap ummat Islam, terhadap orang non-Muslim, dan usaha menyebarkan kebencian dan rasisme. Temanya berkaitan dengan Pilkada DKI kemarin. Ternyata Jokowi menang. Tanpa menyebutkan nama para calon, khatib menggunakan suara tegas dan seolah-olah ingin menegor ummat Islam yang membiarkan Jokowi menang. Isi dari khutbah kurang lebih seperti yang berikut  ini:

Ummat Islam dilarang mengangkat pemimpin yang kafir. Ayat dikutip, dan dikatakan dengan kemenangan gubenur baru kemarin, maka ummat Islam telah mengangkat orang kafir menjadi pemimpin. Saya jadi bingung. Bukannya Jokowi yang Muslim yang menang?! Apa Jokowi orang kafir? Kalau yang disindir Basuki, apa sang Gubenur Jokowi wajib manggut-manggut dan nurut dengan kemauan Basuki??? Bukannya Basuki itu seorang WAKIL saja, yang wajib nurut dengan Gubenur dan boleh diganti juga? Kok Khatib bicara seolah-olah Jokowi tidak ada, seolah-olah yang menang dalam Pilkada DKI adalah seorang misionaris yang punya cita-cita menyerang ummat Islam dan menghancurkan Islam di Indonesia? Setahu belum pernah dengar ada pernyataan Basuki yang demikian. Jadi kenapa dibenci dengan begitu besar? Buat saya semua yang dibahas terkesan sangat berlebihan dan tidak tepat. Tapi ribuan orang Muslim menyimak dan dengarkan terus. (Dan berapa banyak berubah pendapatnya dan menjadi setuju?)

Sambil kami semua ditegor oleh sang Khatib, dia mengatakan bahwa “SEMUA” ustadz dan ulama sudah menyuruh ummat Islam “memilih pemimpin yang beriman”. Tapi, katanya, ummat Islam berbuat dzholim terhadap ulama. Perintah dari ulama tidak didengarkan! Dan kalau ulama tidak didengarkan lagi, maka tidak akan ada rahmat dari Allah bagi ummat Islam di sini. Dan sesuatu yang tidak dapat rahmat Allah adalah setara dengan kotoran, ibaratnya makanan yang masuk ke mulut dan keluar sebagai kotoran, tidak ada rahmatnya. Menjadi kotoran saja. Dan karena ummat Islam sudah tidak lagi “mendengarkan ulama” maka ummat Islam setara dengan binatang juga, karena binatang tidak dibina oleh siapapun dan dibiarkan dalam keadaan liar tanpa ilmu. Hanya ulama yang punya ilmu agama yang benar, dan hanya ulama yang takut sama Allah. Jadi kalau ulama tidak lagi didengarkan oleh ummat, akan jadi apa ummat ini?

Lalu dia membahas orang Rohingya di Myanmar. Coba lihat mereka, katanya. Mereka bisa dibantai karena pemimpin mereka tidak seiman dengan mereka. Tidak ada yang lebih buruk bagi seorang Muslim daripada dapat pemimpin yang tidak seiman. Ummat Islam di sini juga bisa dibantai kalau pemimpinnya tidak seiman, dan hanya bisa hidup dengan aman dan sejahtera kalau pemimpin adalah orang yang seiman. Tapi kemarin ummat Islam punya pilihan mengangkat pemimpin yang Muslim, dan malah pilih orang kafir. (Saya jadi berfikir tentang orang Muslim di Tunisa, Mesir, Libya, Suriah, Yaman, Iraq, Iran dan sebagainya. Mereka dapat “pemimpin yang seiman” dengan mereka, tapi kok mereka tidak hidup secara sejahtera dan aman? Malah diteror, disiksa, dipenjarakan, dan dirampas hak2nya oleh para pemimpin itu yang mengaku beriman kepada Allah. Kok bisa?)

Jadi buat saya, semua yang dibahas oleh Khatib ini berbau kebencian dan rasisme, dan sangat tidak pantas kalau seorang pemimpin ummat bicara seperti itu dalam khutbahnya. Dia bicara seolah Jokowi sendiri yang orang kafir, tapi tentu saja tidak mengatakan itu. Ummat Islam dianggap setara dengan binatang karena tidak ikuti “perintah ulama” (tapi saya tidak tahu “ulama yang mana” yang dimaksudkan!). Dia juga suruh ummat Islam segera bertaubat dan jangan sampai hal yang sama terulang lagi! Waduh.

Saya jadi berfikir. Apa sang khatib tahu masa depan? Bagaimana kalau seandainya bulan depan Pak Basuki masuk Islam dan menjadi muallaf? Mustahil? Kalau bilang begitu, jelaskan kenapa! Allah yang Maha Kuasa. Dan kalau seandainya Basuki menjadi muallaf, apa yang akan dikatakan semua ustadz yang menyebarkan kebencian terhadap dia pada bulan ini? Apa mereka harus telan ludah sendiri? Atau malah tetap curiga karena tidak percaya pada muallaf yang matanya sipit? Tapi buat apa Basuki mau masuk Islam, kalau pada saat ini dia hanya merasa kebencian di atas kebencian dari para ustadz dan ummat Islam? Apa kebencian adalah bagian dari strategi dakwah Rasulullah SAW?

Kalau ini reaksi dari sebagian ummat Islam terhadap seorang non-Muslim yang dapat jabatan (hanya sebatas wakil saja), maka bagaimana caranya melakukan dakwah terhadap non-Muslim? Dan kalau Jokowi mau dimusuhi karena punya wakil yang non-Muslim, kenapa SBY tidak dimusuhi juga kalau punya MENTERI yang non-Muslim? Apa bedanya? Tapi ummat yang memilih SBY tidak dianggap setara dengan kotoran dan binatang, walaupun SBY menerima Menteri (wakilnya dan pembantunya Presiden) yang non-Muslim. Kenapa tidak membenci SBY juga??

Saya punya pengalaman 16 tahun melakukan dakwah di sini sejak masuk Islam. Kalau ummat Islam sibuk menyebarkan kebencian seperti yang saya saksikan pada hari ini, maka saya jamin tidak ada orang non-Muslim yang mau masuk Islam. Saya merasa sedih sekali bahwa seorang ustadz yang ilmu agamanya lebih luas daripada saya bisa punya pandangan dan sikap yang begitu keras, penuh dengan kebencian, dan mengajak orang Muslim lain yang lebih awam untuk ikut membenci (tanpa ada tindakan salah pada pihak orang non-Muslim terlebih dahulu. Dibenci karena dia lahir dalam agama yang lain). Kalau seandainya Basuki berbuat salah nanti, masih bisa didemo juga, bukan, dan dijatuhkan seperti Soeharto? Soeharto seorang Muslim, dan jauh lebih kuat daripada seorang Basuki, tapi tumbang juga!! Jadi buat apa begitu takut terhadap Basuki? Bukannya Allah SWT yang Maha Kuasa? Buat apa begitu takut terhadap satu manusia yang sangat kecil di hadapan Allah?

Teman2, silahkan berbeda pendapat kalau mau, tapi saya tidak bisa membenci Basuki hanya karena dia non-Muslim (pada saat ini). Setahu saya tidak ada tindakan satupun dari dia untuk mengganggu ummat Islam sebelum sekarang. Dia hanya seorang wakil saja. Bisa dipecat, bisa mundur, bisa dijatuhkan lewat demo, bisa ditangkap KPK, bisa wafat besok kalau Allah menghendaki, dan juga bisa masuk Islam dan menjadi orang saleh. Jadi kalau belum terbukti dia akan berbuat dzholim terhadap ummat Islam, kenapa kita bersikap kasar dan menyebarkan kebencian terhadap dia? Apakah itu ADIL?

8. Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Maidah 5:8)

Sekian saja. Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto


7 comments:

  1. Ya begitulah keterbatasan manusia. Hanya Allah yang Maha Luas Pengetahuan-NYA. Merupakan kewajiban kita untuk meluruskan hal2 yang mengundang kebencian dan chaos. Banyak dari umat muslim yang satu pikiran dengan Anda, yang jengkel dengan mereka yang mengaku ustadz, kiai, ulama, dll tapi pemahaman terhadap agama Islam sangat keliru. Utk kasus muslim Rohingya, tidak semata2 pengusiran dan pembunuhan thd kaum muslim, tetapi dilatarbelakangi politik geostrategic negara-negara yang haus akan minyak bumi.

    ReplyDelete
  2. Nasihat Syaikh Al-'Utsaimin rahimahullah:

    "Berdakwah dengan menggunakan HIKMAH dan TA'ANNI (tenang, tidak tergesa-gesa), suatu perkara yang mungkin akan menunda waktu barang sedikit, namun hasilnya akan terpuji dengan kehendak Allah Ta’ala." (Dikutip dari catatan lama yang berjudul "Bekal Bagi Para Da'i Dalam Berdakwah")

    Nasihat Syaikh bin Baaz rahimahullah:

    "Bagi mereka yang mengajak ke jalan Allah, hendaklah memilih cara-cara yang paling baik, MENGHINDARI KEKERASAN dan KEKAKUAN, karena hal itu akan MENYERET KEPADA PENOLAKAN KEBENARAN (Al Haq) dan KERASNYA PERSELISIHAN serta PERPECAHAN di antara saudara.

    Cara yang dimaksud di sini adalah menjelaskan kebenaran dan memberi semangat untuk dapat menerimanya dan mengambil faidah dari dakwah itu.

    Bukanlah (berdakwah itu) semata-mata MENAMPAKKAN ILMU atau MENUNJUKKAN DIRIMU MENYERU KEPADA ALLAH atau JALAN ALLAH, atau MEMPERTONTONKAN bahwa dirimu memiliki kecemburuan terhadap agama Allah. Allah-lah yang mengetahui rahasia hati dan apa yang paling tersembunyi.

    TERLETAK PADA DIRIMULAH SEBAB DITERIMA atau DITOLAKNYA SERUAN ITU. Maka berhati-hatilah!" (Dikutip dari catatan lama yang berjudul "Hikmah Dalam Dakwah" dengan penyesuaian)

    Nasihat Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdil Hamid Al-Atsari hafizhahullah:

    "Ketahuilah bahwa dakwah kepada Allah Ta’ala itu merupakan suatu jalan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.

    “Sungguh seseorang yang diberikan hidayah oleh Allah melalui jalan kamu, hal itu lebih baik bagimu daripada unta yang merah (pilihan).” (Muttafaq ‘alaihi).

    Pahala akan diperoleh hanya dengan sekedar berdakwah dan tidak terkait dengan respon (obyek dakwah). Juru dakwah tidak dituntut untuk merealisasikan kemenangan Islam, karena hal ini adalah urusan Allah dan berada di tangan-Nya. Akan tetapi, juru dakwah dituntut untuk mencurahkan kemampuannya dalam berdakwah.

    Manhaj (metode) yang afdhal dalam berdakwah adalah memulai dengan mengemukakan hakikat Islam dan manhajnya. BUKAN MENDATANGKAN SYUBHAT LALU MEMBANTAHNYA.

    Berikan kepada manusia NERACA KEBENARAN, ajak mereka kepada POKOK-POKOK AGAMA dan BERBICARALAH MENURUT KEMAMPUAN AKAL PIKIR MEREKA. Mengetahui celah untuk memasuki jiwa mereka merupakan pintu masuk untuk memberikan hidayah kepada mereka." (Dikutip dari kitab Al-Wajiiz fii ‘Aqidatis Salafish Shaalih Ahlis Sunnah wal Jama’ah)copy paste dr status FB teman

    ReplyDelete
  3. assalamualaikum gene,

    saya sih setuju dgn teguran khatib thdp kaum muslimin tsb, mungkin caranya yg krg pas, tp kebenaran ttp hrs disampaikan!

    umat Islam mmg diperintahkn Allah utk memilih pemimpin bahkan sahabat dekat/karib yg seiman!
    Menyikapi pilkada dki dilihat dr sudut pandang seiman, dpt kita asumsikan fokenara ibarat bensin dgn bensin dan jokowi ahok ibarat bensin dgn air

    manakah yg sehrsnya kita gunakan utk bhn bakar kendaraan? Tentunya bensin murni kan? Apa jd nya mobil menggunakan bensin campur air? Dijamin pasti mogok!

    Lha wong pake bensin murni aja kadang jg mogok, krn kandungan bensin murni tsb tlh tercemar timbal, kotoran2 dll.

    Allah telah melarang kita mencampur adukkan yg haq dgn yg batil, walau yg batil itu menarik hatimu

    seharusnya pertanyaan gene yg menyangkutkan pemimpin yg seiman ditimur tengah ttp menindas rakyatnya bisa kita ubah persepsinya, "pemimpin yg seiman saja tdk menjamin kesejahteraan umat, apalagi yg tdk seiman!


    Renungkanlah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hanya Allah lah sebaik2nya hakim, kita tidak berhak menghakimi. Yang tidak seiman belum tentu tidak adil. Yang seiman pun belum tentu juga. Jadi peluangnya sama !

      Delete
    2. Hanya Allah lah sebaik2nya hakim = Gunakan Al Quran sebagai pemutus perkara yang di terapkan oleh pemimpin amanah yang menerapkan Al Quran bagi kehidupan.

      Delete
  4. masbro, atas nama perintah Allah, klo bg org yg beriman hanya ada 2 kata 'kami dgr dan kami taat!' jd tdk ada lg logika dan dalih macam macam!

    ReplyDelete
  5. @Abi, perintah Allah yang mana? Apakah Allah atau Nabi mengatakan "semua pemimpin harus Muslim", dan dikatakan dalam bahasa Indonesia? Di ayat mana? Di hadiths mana?
    Setahu saya, Allah dalam Al Qur'an dan Nabi dalam hadiths menggunakan BAHASA ARAB. Jadi dalam memahami sebuah ayat, harus dipahami dari bahasa Arab, bukan bahasa Indonesia.
    Ada perbedaan pendapat tentang apa yang dimaksudkan dengan kata Wali. Ada yang tafsirkan sebagai "pemimpin" saja dalam bahasa Indonesia, tapi pendapat lain mengatakan ini kurang tepat, dan lebih tepat diterjemahkan sebagai SEKUTU atau teman dekat yang membantu kita. Bukan sebagai "pemimpin".
    Tapi sangat mungkin ada alasan politis kenapa Wali diterjemahkan sebagai "pemimpin" di sini dan di negara muslim yang lain. Jadi belum tentu karena Allah melarang non-Muslim, tapi karena para penguasa inginkan rakyat punya pendapat demikian.
    Begitulah fungsi akal dalam agama. Jangan hanya mengikuti sesuatu dengan mengatakan "Ini Islam yang benar" padahal mungkin saja hal yang dikuti itu adalah hasil terjemahan yang keliru.
    wassalam,
    Gene

    ReplyDelete