Thursday, October 11, 2012

Program Pendidikan Anti-Tawuran



 Berikut ini adalah ide-ide untuk membentuk sebuah program pendidikan baru untuk mengatasi masalah tawuran siswa antar sekolah. Diharapkan guru dan siswa bisa menjalankan sebagian dari ide ini secara mandiri tanpa perlu latihan atau bantuan dari pihak lain.
Semua ide dalam program ini tidak perlu dijalankan secara bersamaan, tapi sekolah bisa memilih satu ide dulu dan jalankan, lalu mencoba ide kedua, dan seterusnya. Program ini boleh disebarkan secara bebas untuk umum, dan akan di-update sewaktu-waktu. Kalau ada orang yang mempunyai ide baru yang ingin dimasukkan ke program ini, terutama ide yang berbasis program pendidikan, silahkan hubungi saya di email: genenetto@igi.or.id. 
Semoga bermanfaat,
Mr. Gene Netto
Staf Ahli dari Ikatan Guru Indonesia (IGI)


1.   Gelang Karet Anti-Tawuran dan Anti-Bullying

Banyak anak suka pakai gelang karet yang lebar dengan berbagai macam logo dan pesan. Gelang karet ini bisa dijual atau dibagikan kepada semua siswa (harga hanya beberapa ribu saja, bisa dicari sponsor supaya gratis). Kepala sekolah bisa memberikan izin untuk gelang itu dipakai di sekolah setiap hari, dan bahkan bisa diwajibkan untuk sementara.
      Di pinggir gelang, ditulis pesan: Stop Tawuran. Stop Bullying. Menggunakan bahasa Inggris agar lebih menarik bagi siswa. Kalau bahasa terlalu formal, mungkin mereka tidak tertarik menggunakannya. Pesan yang mau ditulis juga bisa ditanyakan kepada siswa dulu, sebelum dibuat, agar mereka memilih kata-kata yang penting bagi mereka.
TUJUAN:  Dengan pemakaian gelang ini, siswa bisa menunjukkan secara visual bahwa mereka tidak mendukung tawuran dan bullying, dan siswa yang melakukan hal-hal itu bisa melihat bahwa perbuatan mereka tidak didukung oleh anak lain. Harga gelang karet seperti ini di bawah 5 ribu rupiah, dan dengan pesan jumlah seribu atau lebih, bisa dengan harga 2-3 ribu rupiah per gelang. (Bisa cek harga di internet, ada beberapa perusahaan yang menjualnya).

 


2.   Keping/Gelang Dengan Hitungan Hari, Minggu Atau Bulan

Siswa yang tawuran mungkin bisa dianggap “kecanduan”, setara dengan orang yang kecanduan alkohol atau narkoba. Di negara barat, ada organisasi bernama “Alcoholics Anonymous” (AA) untuk memberikan terapi kepada orang yang kecanduan alkohol, dan dinilai cukup berhasil. Mungkin sebagian dari program terapi mereka bisa digunakan juga untuk anak yang tawuran. Siswa dianggap “kecanduan tawuran”.
Dalam organisasi AA, member diberikan sebuah keping, dengan hitungan sekian hari, minggu, bulan atau tahun di atasnya. Ditukar setiap minggu/bulan oleh member pada saat bertemu pembina dalam kelompok diskusinya. Sistem yang sama bisa digunakan sebagai tanda yang jelas untuk setiap anak yang sudah tinggalkan tawuran untuk sekian hari dan minggu.
Setiap hari atau minggu, keping/gelang lama bisa ditukar dengan guru pembina. Di atas keping ada tulisan “1 hari”, “2 hari” dan sebagainya. Setelah 30 hari tanpa tawuran, diganti dengan keping/gelang mingguan. Misalnya, 4 minggu, 5 minggu tanpa tawuran. Kalau sudah mencapai 3 bulan, bisa pindah ke bulanan sistem bulanan.
Kalau seandainya ada anak yang mencapai 10 minggu, lalu ketahuan atau mengaku ikut tawuran lagi, maka di depan kelas atau seluruh sekolah, keping 10 minggu harus ditukar dengan keping baru “1 hari”, dan siswa itu harus mulai lagi dari bawah. Ditekankan bahwa semua usaha kemarin (10 minggu tanpa tawuran) sudah hilang, dan anak harus mulai berjuang lagi. Disemangatkan untuk melewati 10 minggu pada kesempatan baru ini.
Keping/gelang ini diberikan secara gratis oleh sekolah (hanya bisa didapatkan dari guru pembina) dan wajib dibawa ke sekolah setiap hari. Bisa dibuat dalam bentuk keping yang lepas (simpan di kantong), pin, gelang karet, kalung, atau yang lain.
TUJUAN: Sistem ini memberikan tanda yang jelas bagi setiap anak bahwa mereka merugikan diri sendiri dan akan kehilangan hasil dari usaha menahan diri kalau ikut tawuran 1 kali. Sistem ini perlu dijalankan sekaligus dengan pembinaan secara langsung agar siswa memahami arti dari perjuangan mereka meninggalkan tawuran.


3.   Psikolog Sekolah Fulltime

Setiap sekolah yang mengalami masalah tawuran secara serius (sudah bertahun-tahun) harus mempunyai psikolog profesional secara fulltime yang kerja di sekolah, dan bertemu dengan anak2 yang ketahuan ikut tawuran. Mungkin sebagian dari anak ini punya masalah sosial atau masalah keluarga yang sangat serius, dan perlu ditangani secara profesional. Tugas ini mungkin terlalu berat untuk seorang guru BK. Gaji untuk psikolog harus disediakan dari sekolah, pemda, pemerintah atau mungkin dari sponsor, atau mungkin juga dibebankan sebagian biayanya kepada orang tua.
Anak yang mengalami masalah di rumah dan datang ke sekolah dalam keadaan trauma dan stres tidak akan bisa menjadi tenang kalau ditekan lagi oleh pihak sekolah untuk “memperbaiki diri” tanpa ada yang memahami akar dari masalah yang dialami siswa itu. Siswa yang ketahuan ikut tawuran wajib ketemu psikolog 2-3 kali per minggu, dan setelah bulan pertama, psikolog bisa mengatur jadwal yang tepat sesuai kebutuhan.  
TUJUAN: Psikolog fulltime bisa melakukan analisis profesional terhadap setiap siswa, dan menentukan alasan mereka ikut tawuran. Kalau ada masalah sosial yang dialami, bisa ditangani secara profesional.


4.   Kelas Parenting Yang Wajib Bagi Orang Tua

Mungkin sebagian dari siswa punya masalah yang cukup serius di rumah, dengan orang tua yang bersikap keras dan kejam terhadap anaknya. Oleh karena itu, siswa tidak menghargai diri sendiri, dan tidak bisa menghargai orang lain. Pemeriksaan terhadap orang tua perlu dilakukan oleh psikolog sekolah dan bila ada indikasi orang tua bermasalah, maka psikolog bisa memberikan rekomendasi terhadap Pemda atau sekolah agar orang tua itu diwajibkan mengikuti kelas “parenting” Ini bisa diwajibkan oleh pengadilan, pemda, atau kepala sekolah khusus untuk anak yang pernah ditangkap dan dipastikan pernah ikut tawuran. Kelas parenting bisa ditawarkan kepada orang tua untuk ikut secara sukarela, dan kalau mereka menolak, baru diwajibkan dengan sangsi bagi orang tua yang menolak (misalnya anak mereka tidak akan diterima di semua sekolah dalam wilayah yang sama, atau yang lain).
TUJUAN: Agar orang tua yang bermasalah paham bahwa perbuatan mereka di rumah mengganggu perkembangan psikologis anak, dan perlu diperbaiki agar anak bisa tinggalkan kebiasaan tawuran.  


5.   Poster Anti-Tawuran Yang Dibuat Oleh Siswa

Sekolah bisa menyediakan beberapa foto/gambar dan siswa akan menggunakannya untuk membuat poster sendiri (bisa ditempel saja). Siswa juga boleh membuat gambar sendiri kalau sanggup. Sekolah juga perlu menyediakan kertas, pencil berwarna, lem, kertas berwarna, dan hal-hal lain yang biasanya digunakan dalam kelas seni untuk membuat poster. Gambar memberikan dua skenario yang jelas, dan siswa harus tempelkan gambar dan membuat teks sendiri di poster
Gambar 1: sekelompok orang sedang tawuran.
Gambar 2: anak masuk penjara.
Dari dua gambar atau foto ini, siswa harus membuat desain dengan pesan visual bahwa akibat dari tawuran adalah penjara.
Gambar 3: siswa sedang belajar dan baca buku.
Gambar 4: orang dewasa yang menjadi pilot (atau profesi lain, seperti dokter, pengacara, prajurit, pembalap mobil, penyanyi, dsb.).
(atau) Gambar 5: orang dewasa yang punya isteri, anak, dan berdiri depan rumah dengan motor/mobil di sebelah (seperti iklan perumahan).
            Dari dua/tiga gambar ini, siswa harus membuat desain dengan pesan visual bahwa belajar punya akibat positif, bisa punya karir dan keluarga.
Di bagian atas atau bawah dari poster ini, siswa bisa menulis pesan sendiri, misalnya: PILIH SENDIRI MASA DEPAN KAMU! Dan poster menampilkan semua gambar sekaligus, agar kelihatan dua jalan yang jelas. Bisa ikut tawuran dan masuk penjara, atau belajar dan dapat masa depan yang baik. Pesan-pesan tambahan boleh diberikan oleh setiap siswa, dan dihias sesuai selera masing-masing. Siswa boleh membuat poster sendiri, atau berkelompok. Semua poster akan dipajang di sekitar kelas dan sekolah.
TUJUAN: Ini akan menjadi pesan visual terhadap semua siswa bahwa tawuran tidak didukung oleh komunitas sekolah.


6.   Program “Mentoring” (Guru Pembina Pribadi)

Setiap anak yang ketahuan pernah ikut tawuran, harus punya seorang “mentor” yaitu seorang guru pembina pribadi yang bertemu dengan siswa setiap hari, dan sangat mengenal siswa tersebut, menjadi lebih mirip dengan seorang abang daripada guru saja. Yang terpenting adalah pembinaan dilakukan setiap hari. Sebelum pulang sekolah, siswa wajib lapor kepada pembina/mentor. Siswa ditanyakan tentang rencananya untuk hari itu, mau ke mana, sama siapa, untuk apa, dan sebagainya. Ditanyakan apa mau tawuran pada hari itu atau tidak. Kalau ada orang lain yang mulai tawuran, apa dia mau ikut, atau kembali ke sekolah, atau masuk toko sebagai tempat perlindungan, dan sebagainya. Pembina harus menanam konsep bahwa tawuran adalah sebuah pilihan, yang semua akibatnya negatif. Kalau program keping/gelang dengan hitungan harian dijalankan, maka pembina bisa cek tentang jumlah hari/minggu siswa tidak mengikuti tawuran, dan bisa meyakinkan dia untuk mempertahankan prestasi yang baik itu.
Kalau jumlah siswa terlalu banyak, setiap guru pembina/mentor bisa diberikan 2 siswa untuk dibina. Kalau jumlah guru kurang, sekolah bisa minta tolong dari para orang tua, tetangga sekolah, para tokoh agama setempat yang punya waktu kosong di sore hari untuk menjadi pembina sukarelawan. Mereka bisa datang ke sekolah, atau siswa diwajibkan mampir ke rumah/tempat kerja mereka, dan dapat pembinaan sebelum pulang (cukup mengirim sms antara kepala sekolah dan orang dewasa itu untuk memastikan siswa langsung datang ke rumahnya setelah sekolah selesai).   
TUJUAN: Setiap anak yang suka tawuran akan dapat satu orang dewasa yang sangat akrab dengan mereka, dan membuat mereka berfikir dua kali agar tidak mengecewakan orang dewasa itu yang memperhatikan mereka secara khusus.


7.   Sistem Lapor Kepada Guru Dan Kepsek

Kalau ada siswa yang mengalami bullying, atau diajak berantem, atau dipaksakan mengikuti tawuran, bagaimana mereka bisa laporkan hal itu kepada guru dan kepala sekolah tanpa harus datang dan bicara sendiri? Mungkin ada banyak informasi yang disembunyikan dari para guru, karena siswa tidak percaya pada guru, atau tidak percaya guru akan bertindak untuk melindungi mereka. Mungkin sebagian siswa ingin lapor, tapi tidak mau ketahuan lapor oleh anak yang lain, karena takut akan dihajar kalau lapor ke guru. Kalau bisa kirim informasi secara rahasia lewat sms, telfon, twitter, atau email, mungkin para siswa akan menjadi lebih berani melaporkan masalah kepada guru. Jadi perlu dibentuk suatu sistem melaporkan informasi, bahkan secara anonymous (tanpa diketahui identitas), agar siswa tidak ketahuan bertemu guru atau kepala sekolah, agar aman dari kemarahan siswa lain.
TUJUAN: Memberikan kemudahan kepada siswa untuk menyampaikan informasi kepada guru dan kepala sekolah tanpa ketahuan siswa lain.


8.   Tatap Muka Antara Pelaku Tawuran Dan Orang Tua “Musuh”

CATATAN PENTING: Sangat penting untuk menyiapkan keamanan yang baik. Minta kehadiran polisi (beberapa orang), satpam, guru bela diri, guru pembina, dan orang dewasa lain yang mampu membantu menjaga keamanan. Karena semua anak ini kumpul di satu lokasi, perlu dipastikan semua bisa datang dan pulang dalam keadaan aman. Jumlah orang dewasa harus sama atau lebih dari jumlah anak yang hadir. Kalau jumlah anak banyak, program yang sama bisa dilakukan 2-3 kali dengan undang siswa yang berbeda pada setiap sesi.
Kumpulkan anak yang pernah ikut tawuran, dan orang tuanya dalam satu aula. Perlu anak dan orang tua dari 2 sekolah, sekolah A dan B. Dibuat dua baris. Anak dan orang tua dari sekolah A di sebelah kiri, sekolah B di sebelah kanan. Semua duduk dengan kursi masing-masing. Setiap pasangan orang tua dari sekolah A dikasih satu anak dari sekolah B. Orang tua dari sekolah B dikasih satu anak dari sekolah A. (Dalam kata lain, semua orang tua “tukar anak” untuk sementara).
Semua siswa harus duduk di depan orang tua dari anak yang lain, yang dianggap “musuh”. Orang tua bertanya kepada anak itu, “Tolong menjelaskan kenapa kamu ingin menganiaya anak saya?” Orang tua harus dibekali dengan daftar pertanyaan dari guru pembina/psikolog. Mereka bisa baca setiap pertanyaan, dan mendengarkan jawaban dari siswa itu. Orang tua bisa menambahkan pertanyaan2 sendiri. Guru pembina dan psikolog akan berjalan di antara mereka semua, ikut mendengar, dan memberikan sedikit pengarahan bila perlu. Orang tua diminta membawa foto keluarga, dan ditunjukkan kepada siswa itu, agar dia sadar bahwa anak yang diserang di jalan punya keluarga juga, dan akan sangat menderita kalau anak/saudara itu terluka. Sesi ini berlangsung untuk 1-2 jam. Bisa ditambahkan dengan sesi pembinaan secara global oleh psikolog sekolah bagi semua siswa.
Contoh pertanyaan yang diberikan kepada orang tua:
·         Tolong menjelaskan kenapa kamu ingin menganiaya anak saya?
·         Bagaimana perasaan kamu kalau seandainya teman kamu dianiaya di jalan?
·         Bagaimana kira-kira perasaan KAMI kalau anak kami yang dianiaya dan berdarah,  karena dihajar oleh kamu?
·         Apa yang kamu inginkan dalam masa depan kamu? Mau jadi apa?
·         Kalau kamu punya cita-cita, bagaimana bisa tercapai kalau kamu masuk penjara?
·         Kalau kamu punya cita-cita dan ingin menjadi [X], apakah anak kami tidak boleh punya cita-cita juga?
·         Bagaimana anak kami bisa menjadi [X] kalau dia kena bacok dari kamu di jalan?
·         Apa kamu senang kalau dibuat takut oleh orang lain?
·         Kenapa anak kami tidak boleh hidup tanpa merasa takut akan dibacok oleh kamu?
·         [Dan seterusnya.]
TUJUAN: Agar setiap siswa menjadi sadar bahwa anak lain yang dia serang di jalan punya orang tua, keluarga, cita-cita, dan sebagainya. Siswa harus berhenti melihat anak lain sebagai musuh, dan melihat mereka sebagai manusia yang juga disayangi keluarganya, yang punya hak untuk mendapatkan masa depan yang baik.


9.   Tempat Menulis Pendapat Secara Bebas

Bisa ditaruh sebuah papan hitam yang kosong di luar kelas, pada salah satu dinding. Disediakan kapur dan siswa dipersilahkan menulis pendapatnya secara bebas. Guru bisa mengarahkan siswa dengan minta komentar atas sebuah tema (misalnya, “Bagaimana pendapat kamu tentang tawuran?”) atau memberikan kebebasan mutlak terhadap siswa untuk menulis apa saja. Mungkin sebagian dari komentar akan tidak sopan, atau menghinakan, tapi kalau diberikan kebebasan, guru akan tahu pemikiran siswa yang sebenarnya. Mungkin mayoritas dari siswa merasa bahwa kelas mereka membosankan, dan malas masuk kelas, malas belajar karena tidak ada pelajaran yang menarik, dan oleh karena itu lebih senang mencari “hiburan” di jalan lewat tawuran. Kalau mengetahui itu, kepala sekolah bisa mengatur pelatihan bagi para guru agar mereka bisa membuat pelajaran yang lebih menarik. Mungkin ada terlalu banyak PR, mata pelajaran dan ujian, yang membuat siswa stres dan jenuh. Kalau hal itu diucapkan secara tertulis, maka sekolah bisa mencari suatu cara untuk mengurangi frekuensi PR dan ujian bila memungkinkan.  
TUJUAN: Memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk menulis pendapat secara bebas, dan melihatnya diterima dan ditanggapi oleh guru dan siswa lain.


10.       Menulis Kesan Pribadi (Jurnal)

Setiap siswa yang mengikuti tawuran bisa diwajibkan menulis pendapat dan kesannya setiap malam di dalam sebuah buku catatan (jurnal), dan harus diserahkan kepada guru pembina atau psikolog setiap hari. Kegiatan ini akan memaksakan mereka berfikir dan menulis tentang kehidupan mereka sehari-hari, dan menjelaskan apa yang menjadi beban bagi mereka. Mereka bisa membicarakan apa saja yang mereka kerjakan, atau alami, atau inginkan di masa depan. Guru pembina atau psikolog akan membalas dengan komentar dan pertanyaan dan ini akan membentuk dialog tertulis antara siswa dengan guru pembina. Kegiatan ini kalau dilakukan setiap hari akan mendorong anak untuk memikirkan apa yang mereka lakukan, kenapa, dan apa yang mereka inginkan. Karena dipaksa menulis, mereka akan perlu berfikir dan merenung dulu, untuk memilih kata-kata yang akan ditulis. Diharapkan ini akan meningkatkan kesadaran mereka terhadap kehidupan mereka dan masa depan. Juga mungkin akan menjadi ketahuan kalau mereka mengalami masalah-masalah pribadi yang perlu dibahas dengan psikolog.  
TUJUAN: Membuat siswa lebih menjelaskan dengan kata-kata sendiri kenapa mereka ikut tawuran, apa yang menjadi beban dalam kehidupan mereka, dan apa yang mereka inginkan di masa depan.


11.       Kelompok Diskusi

Siswa yang ikut tawuran diwajibkan kumpul dalam satu kelas dan bicara  dengan guru pembina atau psikolog setiap minggu, mungkin 1-2 kali. Mereka harus duduk bersama dan menjelaskan perasaan dan pemikiran mereka. Guru atau psikolog akan mengarahkan diskusi agar mereka menjadi terbuka untuk membahas kenapa mereka melakukan tawuran, dan apa yang mereka harapkan dari tindakan itu. Siswa diberikan pengarahan untuk memikirkan cara-cara lain untuk mencari tujuan yang sama. Kalau misalnya tawuran dianggap bagian dari prestasi sekolah, maka diarahkan untuk memikirkan lomba olahraga dan sebagainya yang juga bisa membawa prestasi buat sekolah, tapi dengan cara yang positif, dan membawa pujian dari orang tua dan masyarakat tanpa ada risiko mati atau masuk penjara.
TUJUAN: Kelompok diskusi akan menjadi forum terbuka bagi siswa untuk menyampaikan pendapatnya dan mendengarkan pendapat dari teman-teman yang lain. Belum tentu semuanya punya pendapat yang sama tentang penyebab tawuran.


12.       Latihan Menahan Diri Pada Saat Dihinakan

Mungkin sebagian siswa cepat naik darah pada saat mereka berada di jalan dan diejek atau dihinakan siswa dari sekolah lain. Dengan guru pembina, setiap anak bisa diberikan latihan menahan diri pada saat dihinakan. (Saya pernah melakukan ini dengan anak yang berantem di kelas setiap hari karena dihinakan teman kelas, dan dia langsung berhenti).
Dibutuhkan guru pembina yang sangat sanggup menahan diri dan dijamin tidak akan naik darah kalau dihinakan siswa. Dimulai dulu secara perorangan dengan satu anak di kelas kosong. Diberikan tantangan: Siswa akan dapat yang sekian banyak uang (misalnya 100.000 rupiah) kalau bisa membuat guru naik darah dan emosi. Dipersilahkan menggunakan kata-kata yang paling kasar dan menghinakan, dengan jaminan tidak akan kena sangsi apapun dan tidak akan dipukul oleh guru. Bisa juga membuat perjanjian itu di depan guru lain sebagai saksi.
Lalu siswa itu dipersilahkan menghinakan guru, dengan kata-kata kasar apapun, dan harus bisa membuat guru naik darah untuk menang uangnya. Pada saat disebut “anjing”, “bangsat”, “guru goblok” dan sebagainya, guru cukup senyum saja dan menunggu siswa kehabisan kata. Kalau siswa sudah kehabisan ide, ditantang untuk teruskan dengan penghinaan yang lain karena guru belum marah (guru masih senyum saja dan tidak terpengaruh).
Setelah siswa menyerah, guru pembina bisa menjelaskan bahwa kita tidak harus naik darah secara automatis pada saat dihinakan orang lain. Kita MEMILIH untuk menjadi marah, dan itu tidak wajib. Lalu guru dan siswa bisa ulangi aktivitas itu sekali lagi, tapi secara bergantian. Siswa menghinakan guru, guru membalas (dengan tetap senyum), siswa menghinakan lagi, guru menghinakan lagi, dan seterusnya untuk 1-2 minit saja. Kondisi siswa perlu dipantau (mencari tanda kemarahan di mukanya) dan kalau kelihatan mulai naik darah, langsung berhenti dan suruh tenang dulu. Bisa diulangi lagi pada besok hari, sampai siswa berhasil melakukan aktivitas itu tanpa naik darah.
Kalau setiap siswa sudah berhasil secara perorangan dan tidak naik darah pada saat mendengarkan kata-kata yang menghinakan, bisa dilakukan lagi dengan 2-3 siswa sekaligus. Diberikan tantangan yang sama: membuat guru pembina naik darah dan menang 100.000. Lalu dilakukan secara bergantian dengan kelompok kecil itu.
Kalau dengan kelompok kecil sudah bisa, dicoba lagi dengan 5-10 anak secara bersamaan dengan cara yang sama. Dalam setiap pertemuan, ditekankan bahwa kita harus memilih untuk naik darah kalau dihinakan orang lain. Kita juga bisa memilih untuk tidak peduli pada ucapan orang itu. Orang yang bicara itu bukan teman kita, jadi buat apa peduli pada pendapat dia? Abaikan saja, dan tinggalkan. Kita tahu bahwa kita bukan orang “goblok” jadi kalau kita percaya diri, tidak perlu peduli kalau orang lain mengatakan kita goblok. Itu hanya pendapat dia, padahal dia tidak tahu apa-apa.
Juga diajarkan kepada siswa bahwa orang yang menghinakan mereka itu justru ingin melihat mereka naik darah dan perang di jalan. Anak itu berhasil “mengontrol perbuatan siswa” lewat penghinaan, jadi kata-kata penghinaan itu sama dengan “perintah menyerang”. Bisa ditanyakan apakah siswa mau nurut dengan kemauan anak dari sekolah lain? Atau mau mengatur diri sendiri, tanpa bisa diperintahkan untuk melakukan apa saja oleh anak lain? Kalau siswa dihinakan, lalu langsung naik darah dan tawuran, berarti siswa berada di bahwa kendali anak itu. Mau seperti itu? Atau lebih baik abaikan anak-anak itu saja?
TUJUAN: Membuat siswa sadar bahwa mereka bisa mendengarkan kata-kata yang menghinakan dan tidak perlu menjadi marah atau menyerang. Siswa yang sudah berhasil dalam latihan ini tidak akan sensitif dan cepat marah kalau dihinakan orang lain, dan punya kemampuan untuk mengendalikan diri.


13.       Poster/Video Menolak Anak Tawuran Dalam Semua Tim

Poster/Video bisa dibuat oleh siswa laki-laki, dari semua tim, kelompok olahraga, dan organisasi. Kalau ikut tawuran, tidak akan diterima di tim futsal, tim basket, band, dll. Menekankan bahwa tidak ada siswa yang lain yang mau berteman dengan anak yang memilih untuk ikut tawuran. Bentuk pernyataan bisa bervariasi.
·         Poster. Anak laki tempelkan foto tim atau kelompok, dan menulis pernyataan bahwa tidak akan terima siswa yang ikut tawuran. (Mungkin ditambah dengan komentar anti-bullying and anti kekerasan sekaligus).
·         Video. Setiap tim dan kelompok siswa direkam membuat pesan anti-tawuran. Cukup menggunakan kamera digital. Cari siswa atau guru IT yang bisa editing film (ada programnya). Minta semua rekaman dijadikan satu video singkat. Misalnya dengan 20-30 adegan singkat berdurasi puluhan detik saja, yang isinya pernyataan “Tidak menerima siswa yang ikut tawuran di dalam semua tim”. Film di-upload ke YouTube, dan disebarkan lewat email, Facebook dan Twitter.
·         Lisan. Diumumkan di depan sekolah, atau di depan kelas. Semua anggota dari setiap tim dan organisasi bisa diminta maju dan menjelaskan secara lisan bahwa mereka tidak ingin terima siswa yang ikut tawuran dalam tim mereka, karena anak tawuran bersikap kejam dan siap menganiaya anak lain di jalan. Jadi kalau mau bergabung dengan tim atau organisasi, harus bersikap jantan dan dewasa, dan tinggalkan tawuran, dsb.
TUJUAN: Membuat siswa yang ikut tawuran memilih antara semua tim, organisasi, dan komunitas sekolah, atau perang di jalan. Jadi kalau mereka mengatakan tawuran dilakukan untuk menjaga kehormatan sekolah, maka siswa yang lain bisa menolak persepsi itu. Kehormatan sekolah dijaga lewat prestasi di bidang akademik dan olahraga, bukan lewat perang di jalan.


14.       Poster/Video Menolak Anak Tawuran Sebagai Pacar

Program ini bukan untuk promosikan pacaran, tapi kalau dinilai tidak cocok dengan budaya sekolah, bisa ditinggalkan. Merupakan kenyataan bahwa sebagian dari siswa ingin punya pacar atau sudah punya pacar. Keinginan ini mungkin bisa dimanfaatkan untuk mengubah perilakunya. Kumpulkan para perempuan (dianggap “calon pacar”), dan membantu mereka membuat pernyataan bahwa cowok yang ikut tawuran tidak layak menjadi pacar mereka. Bentuk pernyataan bisa bervariasi.
Siswa bisa membuat poster, atau merekam pesan visual, dijadikan video, upload ke YouTube, sebarkan lewat email, Facebook, Twitter, dll. Juga bisa dilakukan secara lisan di depan kelas, atau di depan sekolah. Perempuan yang sudah ketahuan pacaran dengan anak yang ikut tawuran bisa diminta memberikan pilihan kepada pacarnya: tinggalkan tawuran atau tinggalkan pacar, dan dibiarkan pilih sendiri. Mana yang lebih diinginkan?
TUJUAN: Manfaatkan keinginan siswa untuk dapat pacar, dan yakinkan mereka bahwa anak yang ikut tawuran akan kesulitan dapat pacar karena sifat anak yang melakukan tawuran tidak disenangi perempuan.


15.       Lukisan Dinding (Mural)

Siswa yang ikut tawuran bisa kerja sama untuk membuat sebuah lukisan dinding (mural) di tembok sekolah, dengan tema anti-kekerasan. Siswa harus kerja kelompok, bisa dari satu sekolah, atau dipadu antara dua sekolah, misalnya 2 anak dari sekolah A, 2 dari sekolah B. Dibina oleh guru kesenian, dan guru pembina lain. Bisa minta bantuan kepada seniman dari masyarakat setempat untuk datang dan bantu secara sukarelawan untuk memberikan masukan dan ide kepada siswa, dan bantu mereka membuat desain yang menarik. Setiap kelompok siswa diberikan lokasi yang berbeda untuk membuat lukisannya. Setiap semester atau setiap tahun, bisa dibuat lukisan yang baru.
TUJUAN: Agar siswa yang ikut tawuran membuat pesan visual yang menolak tawuran dan kekerasan. Mereka akan melihatnya setiap hari dan mengenalnya sebagai usaha mereka yang positif.


16.       Latihan Bela Diri

Dalam latihan bela diri seperti Silat, Karate, Tai Kwon Do dan lain-lain, semua murid diajarkan untuk mengendalikan diri, percaya diri, membela kebenaran, melindungi orang lemah yang tidak sanggup membela diri, menjadi sehat secara jasmani dan rohani, dan sebagainya.
Murid bela diri diajarkan untuk MELAWAN orang jahat (seperti preman, perampok), dan bukan untuk MENJADI orang jahat. Kalau siswa sudah ketahuan ikut tawuran, bisa diwajibkan mengikuti kelas bela diri di sekolah atau di wilayah terdekat, dan pelatihnya akan diberikan permintaan dari pihak sekolah agar lebih memperhatikan perkembangan moral dan akhlak murid-murid itu. Dengan mengikuti kelas bela diri, siswa akan belajar untuk tanggung jawab, dan belajar bahwa orang kuat justru bisa menahan diri ketika marah atau tersinggung.
Bisa dibuat perjanjian khusus bahwa kalau siswa itu ketahuan ikut tawuran lagi, maka dalam latihan bela diri yang berikut, dia harus fight dengan pelatihnya. Semua pelatih bisa mengalahkan murid baru secara mudah, dan murid akan kena pukulan dan tendangan dan akan cepat merasa capek (juga mungkin dia merasa takut fight sama pelatihnya, jadi sudah gugup dari awalnya). Murid itu tidak akan punya pilihan selain menyerah dan mengakui kelemahannya. Setelah itu pelatih dan juga guru pembina di sekolah akan memberikan masukan bahwa sebenarnya dia bukan orang jagoan, dan menyerang anak di jalan tidak akan membuatnya jagoan. Melawan satu pelatih saja tidak bisa, jadi lempar batu di jalan tidak akan menjadikan dia orang hebat.
TUJUAN: Memberikan pelajaran kepada siswa agar kekuatan fisik dan ilmu bela diri digunakan untuk melindungi dan bukan menganiaya. Kalau mau dapat prestasi sebagai orang kuat maka bisa dicari secara baik dalam pertandingan bela diri.


17.       Membuat Kartun Dengan Tema Anti-Tawuran

Siswa bisa membuat kartun atau poster dengan tema anti-tawuran. Semua kartun dan poster dipasang di sekitar sekolah, di dalam dan di luar kelas. Ini akan menjadi tanda visual bahwa semua siswa yang lain tidak mendukung tawuran. Bisa dibuat kartun yang berseri, sehingga setiap minggu ada yang baru untuk dibaca. Bisa juga disebarkan lewat internet agar dibaca lebih luas. Gambar untuk kartun bisa dibuat oleh siswa seni yang punya kemampuan, dan diberikan pasangan anak tawuran yang bisa membantu membuat skenario dan teks, dengan pembinan dari guru pembina atau psikolog. Tema dalam kartun harus selalu anti-kekerasan, dan menunjukkan hasil yang buruk dari tawuran.
TUJUAN: Melibatkan siswa dalam tindakan positif yang memberikan pesan visual anti-tawuran.


Ide-ide Lain

18.       Electronic Tagging (Gelang Kaki Elektronik)

Di Amerika, “electronic tagging” (sebuah gelang karet dengan chip GPS di dalamnya) digunakan untuk orang yang tidak perlu dipenjarakan, tapi masih perlu diketahui lokasinya. Misalnya, untuk kriminal kelas kecil, atau kriminal yang sedang direhabilitasi, dan sebagainya. Harga untuk memasang “electronic tag” di pergelangan kaki hanya perlu biasa operasional US$1 per hari (biaya per orang), dan biaya ini bisa dibebankan terhadap orang tua. (Saya tidak tahu biaya total untuk memasang seluruh sistemnya, tapi ini perlu dibeli oleh Polisi atau Pemda, dan dipakai untuk seluruh kota). Tag ini, seperti gelang karet besar yang menggunakan sistem GPS seperti HP, dan lokasi siswa akan ketahuan 24 jam. Kalau beberapa siswa berkumpul di satu jalan, maka akan ketahuan langsung, dan polisi bisa dikirim ke lokasi itu dengan cepat. Gelang ini bisa dipasang untuk 6 bulan atau 1 tahun bagi setiap siswa yang ketahuan ikut tawuran, dan hanya dilepaskan setelah terbukti mereka tidak berada di lokasi tawuran selama masa itu. Dengan gelang ini, mereka masih bisa bersekolah, tapi tidak bisa menyembunyikan lokasinya. Gelang ini tahan air, jadi bisa dipakai pada saat mandi, dan kalau ada usaha melepaskannya, akan bunyikan alarm. Siswa yang coba melepaskannya bisa kena sangsi yang lebih berat seperti penjara.
TUJUAN: Agar lokasi siswa yang ikut tawuran diketahui 24 jam. Dengan itu, mereka tidak akan bisa berkumpul untuk melakukan tawuran.
  


19.       Terapi Meditasi

Ada orang yang percaya bahwa terapi meditasi atau yoga bisa membantu sebagian orang menjadi lebih tenang. Bisa diwajibkan bagi siswa yang ketahuan punya kesulitan mengatasi keadaan emosionalnya. Kegiatan ini bisa dilakukan berkelompok, atau secara individu dengan seorang pelatih. Terapi ini bisa diwajibkan oleh pihak sekolah, atau pengadilan, dan biaya dibebankan ke orang tua. Anak bisa diajarkan untuk meditasi sendiri di rumah, dan bisa ditanyakan oleh guru pembina atau psikolog untuk memastikan mereka melakukannya dan apa yang mereka rasakan sebagai hasilnya. Diutamakan bahwa siswa harus mulai bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, dan menjadi marah terhadap siswa lain adalah sebuah pilihan yang bisa dilawan.  
TUJUAN: Membuat siswa lebih tenang dalam kehidupan sehari-hari agar niat berperang di jalan berkurang.


20.       Terapi Pijit

Ada orang yang percaya bahwa pijit di leher dan punggung bisa mengurangi stress dan membantu orang menjadi lebih santai, tenang dan segar. Mungkin terapi pijit seperti itu akan bermanfaat untuk sebagian siswa untuk membuat mereka lebih tenang di dalam sekolah, dan membantu mereka tidur lebih cepat dan dalam kondisi yang lebih baik. Sekolah bisa mencari seorang ahli pijit dengan skil yang tinggi, dan bayar untuk menyediakan pijit di sekolah bagi siswa yang ikut tawuran. Bila dana kurang, bisa dicari bantuan dari orang tua atau sponsor lain.
TUJUAN: Membuat siswa lebih tenang dalam kehidupan sehari-hari agar niat berperang di jalan berkurang.


21.       Kesimpulan

Program pendidikan anti-tawuran ini berisi ide-ide yang mungkin bermanfaat kalau dijalankan oleh sekolah-sekolah yang mengalami masalah tawuran siswa antar sekolah. Sebaiknya dilakukan koordinasi antara guru dan kepala sekolah dalam kedua sekolah yang bermasalah (kalau sering terjadi perang antara dua sekolah yang sama) agar masalah ini ditangani secara bersamaan dan komprehensif.
Semua ide dalam program ini tidak perlu dijalankan secara bersamaan, tapi sekolah bisa memilih satu ide dulu dan jalankan, lalu mencoba ide kedua, dan seterusnya. Program ini disebarkan untuk umum, dan akan di-update sewaktu-waktu. Kalau ada orang yang mempunyai ide baru yang ingin dimasukkan ke program ini, terutama ide yang berbasis program pendidikan, silahkan hubungi saya di email: genenetto@igi.or.id. 

Semoga bermanfaat.

Mr Gene Netto
Staf Ahli, Ikatan Guru Indonesia (IGI)

1 comment:

  1. Pak Gene, saya salut bapak sudah buat tulisan ini. saya sangat setuju dgn point no 4, 6, 8. Kayanya setiap sekolah sudah harus melakukan ini.

    Tambahan, jangan lupa 1 hal lagi pak. "Gurunya", (1) harus didik juga jangan sampai ada guru juga yang malah menggunakan kekerasan. (2) Bagaimana caranya supaya Guru juga harus dididik jadi orang yang disegani oleh murid karena kebijakan, kearifan, kecerdasannya, bukan karena keseraman/ketakutannya.

    Menurut saya salah satu faktor ada kekerasan di anak adalah krn tidak adanya orang yang jadi panutan anak. Tidak ada di rumah, tidak ada di sekolah.

    Itu aja tambahan saya, semoga sukses pak, semoga tidak ada lagi kekerasan dalam sekolah dan tawuran antar pelajar. Salam.

    ReplyDelete