Monday, April 30, 2012

Buat Apa Uang Kita?

Assalamu’alaikum wr.wb.,Selama 3-4 hari, ada pengalaman pribadi yang jarang muncul dan tidak banyak didapatkan orang yang tergolong mampu. Uang saya habis. Alasannya uang bisa habis juga kurang dipahami. Mungkin karena bulan kemarin terlalu banyak menghabiskan uang untuk orang lain, atau kurang hati2 dalam perhitungan, atau lupa bahwa harus membayar minimal di kartu kredit pada akhir bulan (4,5 juta), atau ada alasan yang lain.Tetapi pada akhir minggu kemarin, pas dicek rekening, sudah kosong. Tinggal 19 ribu rupiah.Dompet dicek, dan tersisa kurang dari 100 ribu, dan sekarang tinggal 60 ribu karena kasih uang ke pembantu untuk beli roti (untuk sarapan).

Kemarin saya ulang tahun dan pada saat mau pergi untuk ketemu teman2, merenung dulu. Saya terbiasa naik taksi, tapi sekarang tidak bisa. Naik Metro Mini malas 100%. Enakan jalan kaki daripada naik bis jelek itu. Naik ojek juga percuma. Pada saat tukang ojek melihat orang bule, harga naik, dan tidak mau turun. Harganya sama saja dengan taksi. Sepeda tidak punya, motor juga tidak. Jadi mau naik apa? Pas sedang berfikir mau naik apa untuk pergi ketemu teman, ada yang telfon: “Kami jemput sekarang ya!” Alhamdulillah, dijemput. Bisa menghemat sekian puluh ribu. Saat sudah mau pulang, ada yang mau antarin juga. Mulai dipikirkan makan malam. Mau makan apa ya? Ada makanan apa di rumah? Makan di luar jelas tidak bisa. Tiba2 teman lain telfon. “Aku traktir kamu malam ini ya!” Aku kasih tahu ada keponakan juga, yang sedang diantar pulang. “Nggak masalah, saya traktir dia juga.” Alhamdulillah. Ditraktir dan saya sama keponakan diantar pulang ke rumah masing2.

Kemarin masih sempat merenung. Uang sudah habis, bisa melakukan apa di sini? Mau belanja tidak bisa (tanpa pakai kartu kredit). Mau traktir anak yatim makan tidak bisa. Mau beli kado ulang tahun untuk diri sendiri tidak bisa. Mau pergi naik taksi tidak bisa.
Jadi dipikirkan: Ohhh, ini yang dirasakan puluhan juta saudara yang Muslim SETIAP HARI di negara ini. Tetapi beda dengan mereka, saya mengalaminya untuk beberapa hari saja karena belum ada suntikan uang baru. Tetapi bagi MEREKA, perasaan ini dirasakan setiap hari, tanpa ampun, tanpa kepedulian para pejabat dan orang kaya, tanpa tahu mau makan apa besok, tanpa tahu siapa yang akan membantu mereka kalau mengalami musibah.
Saya cuma beberapa hari saja. Mereka puluhan tahun!

Walaupun saya insya Allah hanya mengalami “kemiskinan” untuk beberapa hari saja, sangat terasa di dalam hati bahwa kehidupan menjadi sangat terbatas. Tetapi alhamdulillah masih ada listrik di rumah, masih ada Hp dan komputer, dan masih ada kartu kredit kalau dibutuhkan. Sedangkan untuk puluhan juta orang lain, tidak ada apa-apa selain berharap keridhoan Allah tidak akan jauh dari mereka terus. Saya hanya mengalami sebagian kecil dari apa yang mereka alami, dan rasanya sangat tajam di dalam hati. Tanpa ada Allah yang selalu hadir untuk membantu hamba-Nya, bagaimana mungkin kita bisa maju dan berhasil?

Sayangnya, kebanyakan orang “kaya” di negara ini tidak pernah mengalami kemiskinan yang begitu mendalam, sampai mau makan satu kali dengan teman di rumah makan harus hitung dulu uangnya dan berfikir. Kebanyakan orang kaya hidup dengan deposito yang penuh, dan tidak punya kepedulian terhadap anak yatim dan anak miskin yang tidur dalam keadaan lapar setiap malam.

Bagaimana mungkin bisa peduli pada anak yatim kalau Bentley baru akan segera keluar? Tidak ada uang yang cukup untuk dua-duanya, jadi mereka pilih Bentley saja. Ini hanya pengalaman sementara buat saya insya Allah tetapi sebagai pelajaran sangat bermanfaat. Bukan pelajaran untuk menjadi lebih pelit, atau lebih irit, atau lebih hati-hati dengan uang. Pasti banyak orang akan mengatakan bahwa itu adalah pelajaran yang harus diambil, tetapi saya tidak setuju! Tetapi pelajaran yang diambil adalah uang seberapapun yang ada di dompet dan rekening tidak akan membawa berkah bagi kita kalau dianggap bahwa uang itu adalah tujuan hidup kita. Hanya uang yang kita taruh di tangan anak yatim dan anak miskin akan menjadi berkah bagi kita, bukan yang yang dikasih kepada penjual mobil di showroom Bentley.

Saya malah merasa kasihan dengan orang kaya yang deposito (dan garasinya) penuh terus. Mereka tidak tahu (dan tidak peduli) pada perasaan yang ada di dalam hatinya seorang anak yatim atau orang miskin pada saat mereka merenung dan berfikir tentang apa yang bisa mereka lakukan dengan jumlah uang yang sangat terbatas. Kalau orang kaya bisa ikut merasakan hal yang sama, mungkin mereka akan senyum saja pada saat ditawarkan Bentley baru, dan lebih keras memeluk anak yatim yang sedang ditraktir makan di rumah makan yang mewah. Kalau bisa dapat senyuman anak yatim atau wanginya mobil Bentley yang baru, hanya ada satu yang bermanfaat di dunia dan diakhirat.
Dan banyak orang kaya tidak sadar bahwa pilihan mereka salah.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene

Saturday, April 28, 2012

Memilih Mana Antara Senyum Dan Saham?

Assalamu’alaikum wr.wb.,Saya merasa sedih. Kapan saya bisa menjadi orang kaya yang tidak perlu memikirkan uang lagi?Tadi ketemu seorang anak yatim, anak dari teman yang bapaknya wafat tahun kemarin. Saya pengen traktir dia makan steak karena dia suka banget dan jarang makan. Dia baru selesai Ujian Nasional dan belajar dengan sungguh2 sebelumnya selama beberapa bulan, jadi saya mau menghibur dia.

Pas diajak makan, saya tanya mau makan apa. Dia jawab, “Terserah Om”. Saya balas, “Terserah kamu”. Bolak balik begitu terus selama beberapa minit, karena dia tidak mau pilih. Saya tawarkan steak karena sudah tahu itu kesukaan dia dan dia jarang makan. Dia menolak. Nggak mau katanya. Saya melihat matanya. Saya tanya apa nggak mau karena lagi nggak pengen, atau karena takut terlalu mahal? Dia diam dan mikir dulu. Hahaha. Sudah ketahuan jawabannya. Dia tidak mau minta yang mahal. Saya paksakan dia makan steak, sambil dengarkan dia komplain terus bahwa dia tidak mau makan steak.

Setelah dibeli dan ditaruh di meja, senyumnya lebar sekali. Saat saya selesai makan, dia baru selesai makan setengah dari steaknya. Saya tanya kenapa, apa kurang enak rasanya atau benar2 nggak mau makan steak (seperti yang dia katakan tadi)? Dia senyum lebar lagi.

“Lagi menghayati steaknya,” katanya. Hahahah. Ya ampun. Saya perhatikan bahwa steaknya dipotong kecil sekali dengan pelan sehingga ada puluhan potongan kecil yang bisa masuk mulutnya satu per satu. Kayanya hanya dokter gigi yang lebih pelan dan hati2 dalam melakukan tugasnya.

Saat main ke rumahnya, ketahuan kulkas rusak lagi, padahal baru diservis setelah rusak minggu kemarin. Es krim Magnum yang saya beli kemarin sudah mencair semua. Ibu berkomentar, ya sudah, harus dicari uangnya untuk beli kulkas baru. Saya mau langsung berkomentar, “Biarkan saya yang beli,” tapi pas berfikir kembali, baru ingat bahwa saya juga tidak punya uang. Jadi harus gigit lidah dan menahan rasa sedih karena tidak bisa langsung beli buat mereka hari itu juga.

Anak yang satu itu pengen sekali naik pesawat keluar negeri, dan saya sudah bilang kalau ada uangnya nanti, saya mau ajak dia ikut ke Kuala Lumpur saat saya membuat visa kerja. Insya Allah awal bulan depan saya sudah bisa ke sana untuk membuat visa, tapi saya tidak berani berjanji kepada dia, karena masih berfikir apakah sanggup bayarin dia juga atau tidak, jadi baru “diinformasikan” saja kepada dia, bukan berjanji. Bapaknya sudah berjanji mau bawa dia naik pesawat ke luar negeri, tetapi sudah wafat duluan. Jadi itu terasa sebagai beban di dalam hatinya si anak.

Di dalam hati saya, ada daftar panjang barang2 yang mau dibeli untuk membantu anak-anak yatim dalam keluarga yang satu itu, dan banyak anak yatim dan anak miskin di tempat lain yang saya tahu. Mencari anak yatim dan anak miskin tidak perlu pergi ke pelosok, karena di Jakarta dan di sekitarnya sudah disediakan stok yang besar. Tetapi saya belum menjadi konglomerat jadi hanya bisa bermimpi saja dan membantu sebisanya setiap bulan dengan uang yang terbatas. Dan orang yang sudah menjadi konglomerat tidak begitu peduli, kecuali masuk bulan puasa, maka tiba2 mulai peduli semua untuk beberapa hari saja. Bulan puasa itu waktu “panen” untuk anak yatim dan panti asuhan.

Di satu sisi, saya iri sekali dengan orang kaya yang uangnya berlimpahan. Saya sering berfikir tentang apa yang bisa saya lakukan kalau ada uang ratusan milyar seperti mereka. Tetapi mereka dikasih uang yang banyak dan hanya merasa senang kalau uang mereka bertambah terus. 

Saya merasa senang dan puas kalau melihat senyumnya seorang anak yatim yang ditraktir makan dengan makanan kesukaan dia. Tetapi mereka yang menjadi konglomerat (karena diizinkan kaya oleh Allah) malah merasa senang kalau melihat saham mereka naik. Ada pilihan yang sederhana bagi kita semua: senyum atau saham. Mana yang lebih utama?

Jadi saya merasa iri pada mereka yang menjadi konglomerat karena tidak perlu peduli pada uang lagi, dan sekaligus saya merasa kasihan pada mereka karena mereka tidak bisa merasakan nikmat yang luar biasa dari senyumnya seorang anak yatim (kecuali sedikit sekali orang kaya yang memang juga dermawan, tetapi berapa persen itu dari semua?).
Jadi saya merasa sedih. Kapan saya bisa menjadi orang kaya ya? 

Tetapi sekaligus saya merasa senang sekali pada malam ini walaupun dompet sudah kosong. Pada saat orang konglomerat sudah pusing melihat nilai sahamnya naik-turun pada hari ini, saya mendapatkan nikmatnya melihat senyumnya seorang anak yatim pada waktu yang sama. 

Ada pilihan yang jelas: senyum atau saham? 

Biarkan konglomerat memilih yang mana saja yang mereka mau, karena saya sudah memilih juga. Terima kasih ya Allah, sudah memberikan kemudahan untuk memilih antara senyum dan saham. Saya sama sekali tidak mau menukar senyumnya anak yatim itu dengan saham senilai apapun. Tidak ada nikmatnya saham itu kalau dibandingkan dengan senyumnya seorang anak yatim yang dirahmati Allah.  

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

Friday, April 27, 2012

HOAX: Cermin Dua Arah di WC Umum

Ada email yang menyuruh semua wanita untuk melakukan tes dengan kuku jari terhadap cermin pada saat masuk WC umum. Ini untuk mengetahui apakah itu cermin dua arah atau cermin biasa. Katanya ada kemungkinan itu cermin dua arah dan ada pria di belakang cermin itu yang nonton para wanita saat berada di WC. Berikut ini penjelasan saya tentang informasi rekayasa ini.  


Assalamu’alaikum wr.wb.,
Mohon maaf, saya tidak senang dengan semua upaya melakukan pembodohan terhadap ummat Islam, walaupun mungkin orang yang bersangkutan berniat baik.

Pertama. Ini sebuah email rekayasa yang sudah disebarkan dari 1999 dalam bahasa Inggris, dan sudah dibahas di situs Snopes.com. Tadi saya cari, dan langsung ketemu. Linknya ada di bawah.

Kedua. Cermin dua arah itu mahal. Siapa yang memproduksi di Indonesia? Saya belum pernah dengar ada di sini. Tadi saya coba cari di Google (“beli cermin dua arah”) dan hasilnya NOL. Jadi pasti sulit untuk membelinya di sini karena tidak banyak yang mencarinya. Yang mengimpor cermin dua arah ke Indonesia siapa? Berapa biayanya untuk 1) beli dan impor, 2) bawa ke mall, 3) pasang di WC wanita tanpa sepengetahuan pemilik mall? Bayangkan kalau ukuran cermin itu 2x4 meter. Cara bawa ke dalam gedung dan pasang tanpa ketahuan bagaimana? Dan kalau ketahuan, berarti pemilik mall yang pasang, dengan biaya yang tinggi, dan puluhan tukang sudah tahu. Tetapi info itu tidak pernah bocor ke media. Aneh bukan?
Ketiga. Cermin dua arah menjadi berbahaya kalau digunakan untuk “pemerkosaan visual” (apa itu??). Jadi hanya ada dua kemungkinan. 1) ada ruangan di belakang cermin itu, untuk menonton seperti di kantor polisi, 2) ada kamera di belakangnya.
Kalau ada ruangan, berarti persiapan ruangan itu di belakang cermin WC umum dimulai sebelum saat pembangunan (misalnya di sebuah mall), karena arsitek harus mendesain ruang kosong di belakang WC agar orang bisa berdiri di situ, setelah cermin dua arah dipasang. Arsitek membuat desain, kontraktor membangun, lalu tukang mengatur ruangan itu, dan pasang cermin. Semuanya terjadi secara rahasia dan tidak ada yang tahu, padahal puluhan sampai ratusan orang terlibat dalam pembangunan dan pemasangannya. Tapi masih dijaga rahasianya bahwa ada cermin dua arah di mall itu di Indonesia. Aneh bukan? 
Kalau menggunakan kamera, maka kamera sekarang cukup 1 senti, bahkan bisa beberapa milimeter saja. Jadi buat apa pusing2 pasang cermin dua arah yang mahal kalau hanya mau sediakan kamera dengan ukuran 1 senti di belakangnya? Kamera bisa ditaruh di tembok saja, dan dikasih hiasan supaya tidak ketahuan. Jadi untuk menggunakan kamera, sama sekali tidak membutuhkan cermin dua arah.

Keempat. Karena disebarkan info palsu ini, ada yang berkomentar begini: “Menurut sy sbg laki2 posting ini juga sangat perlu untuk kita berbagi kepada istrinya atau adik perempuannya.”
Jadi semua wanita dan semua pria yang membaca ini akan meyakininya (walaupun tidak ada ilmu, dan tidak menggunakan akal, tapi asal percaya saja), dan akan sebarkan info ini dari mulut ke mulut agar selalu waspada kalau ke WC umum. Bisa saja ada cermin dua arah di situ, dan anda menjadi korban “pemerkosaan visual”. Ini bagian dari pembodohan ummat Islam, dan pasti disenangi oleh orang yang tidak bisa bernafas tanpa melihat konspirasi untuk menjatuhkan Islam di semua sudut. Nanti bisa ada yang menambahkan komentar dalam email rekayasa itu bahwa ini bagian dari konspirasi barat untuk menjatuhkan martabat wanita Muslim, dan sebagainya. Semua ini palsu dan tidak bermanfaat untuk ummat Islam.

Kelima. Yang menulis info palsu ini berpesan: “Karena itu ingatlah selalu, setiap kali anda melihat cermin di tempat-tempat umum seperti disebutkan di atas, lakukanlah "TEST KUKU JARI".”
Jadi semua wanita akan mulai menyentuh cermin di WC untuk tes. Dan wanita di sebelah akan bertanya, “Ada apa?” dan wanita pertama akan jelaskan bahayanya dari cermin dua arah. Dalam sekejap, jutaan wanita menjadi was-was (dan mungkin juga ketakutan) kalau melihat cermin di WC di Indonesia. Manfaatnya apa?? Apalagi ini informasi palsu.

Keenam. “Pemerkosaan visual” itu apa? Melihat seorang perempuan bukan pemerkosaan. Coba anda bicara dengan seorang wanita yang pernah diperkosa. Dan mengatakan kepadanya, “Saya sudah pernah diperkosa juga. Tapi hanya secara visual dari cermin di WC”. Kira2 reaksi korban pemerkosaan itu apa? Setuju dengan anda, bahwa anda juga “korban pemerkosaan”?
Apakah emang wanita Indonesia masuk ke WC lalu membuka semua baju dan joget2 telanjang di depan cermin? Kalau tidak, apa kira2 yang dilihat oleh si “pemerkosa visual”? Seorang wanita yang merapikan jilbabnya? Wanita yang memakai make-up? Apa lagi? Pemerkosaannya terjadi di mana, dalam bentuk apa?
Kalau mau melihat perempuan tanpa jilbab, cukup masuk mall saja. Di pinggir jalan juga banyak. Rok mini juga disediakan kalau mau lihat. Jadi buat apa capek2 pasang cermin dua arah yang mahal, dan hasilnya hanya melihat wanita yang merapikan jilbab dan pasang make up???
Lebih gampang duduk di café saja dan melihat semua perempuan yang lewat. Lebih gampang lagi nonton film porno di internet kalau mau.
Pemerkosaan itu suatu kejahatan yang serius dan sangat mengganggu masa depan wanita yang menjadi korbannya. Saya tidak setuju kalau konsep pemerkosaan terhadap wanita diremehkan dan istilah itu disamakan dengan wanita yang hanya sebatas “dilihat saja” lewat cermin. Itu bukan pemerkosaan. Itu namanya “dilihat” saja.

Saya berharap ummat Islam akan tambah CERDAS, bukan tambah bodoh. Jumlah orang Muslim yang bodoh sudah banyak, bahkan ada ratusan juta. Mayoritas dari orang Muslim di Indonesia hanya lulusan SD, dan sangat gampang dibodohi karena akal dan daya pikir mereka tidak dikembangkan dari pihak sekolah, maupun dari pemerintah. Jadi kita butuhkan upaya untuk mencerdaskan ummat Islam. Dan hal itu tidak akan terjadi kalau orang selalu menyebarkan segala sesuatu yang diterima dalam bentuk email, sms, bbm dan sebagainya, tanpa berfikir, tanpa menganalisa, dan asal meyakini saja.
“Ada di internet kok! Kalau sudah ditulis di internet, masa tidak benar?” Begitulah sikap banyak orang sekarang. Dan karena ada kebencian terhadap barat, dan dari itu dapat kebencian terhadap penggunaan akal, maka mereka melihat konspirasi dan bahaya di mana saja. Mereka selalu merasa diserang dan diancam, dan membalas dengan suruh ummat Islam meninggalkan ABCD atau melakukan ABCD supaya bisa “selamat” dari segala ancaman. Padahal kebanyakan dari apa yang mereka katakan dan yakini itu hanya rekayasa yang disebarkan di internet tanpa landasan ilmu dan akal. Semoga usaha yang sia-sia itu tidak akan berlangsung terus, dan ummat Islam bisa menjadi cerdas.

Sekian,
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

Info hoax (info rekayasa) tentang cermin dua arah, yang sudah disebarkan dari 1999 dalam bahasa Inggris.

[Email yang disebarkan seperti ini]:
Tes Kuku Jari, Hindarkan PERKOSAAN VISUAL.
Perhatian untuk para wanita juga pria yg punya anak, saudara, istri maupun ibu. Khususnya ketika berada ditempat umum yang ada cerminnya, terutama toilet umum. Ketika kita masuk ke toilet, bilik mandi, bilik hotel, ruang ganti pakaian, dan lain-lain, seberapa besar anda yakin bahawa cermin yang tergantung di dinding dan kelihatannya seperti cermin biasa itu memang benar-benar cermin biasa, atau sebenarnya itu adalah cermin dua arah (orang di belakang cermin boleh melihat anda, sementara anda tidak dapat melihat mereka).

Banyak tempat di mana orang memasang cermin 2 arah di dalam ruang ganti pakaian wanita, namun tidak menutup kemungkinan juga di ruang ganti lelaki. Adalah sangat sulit untuk secara jelas mengindentifikasi permukaannya hanya dengan melihatnya saja. Saatnyalah kita untuk berhati-hati.

Jadi, bagaimana kita dapat menentukan dengan pasti apakah cermin tersebut adalah cermin biasa atau cermin 2 arah?. Kalau di bilik polis, iaitu di ruang soal siasat, sudah dapat dipastikan cerminnya 2 arah tapi untuk di Public Area do this thing :

LAKUKANLAH TEST SEDERHANA (TEST KUKU JARI)

Letakkan ujung kuku anda di atas permukaan cermin. Jika ada jarak (gap) antara kuku anda dan bayangan kuku anda di cermin, dapat dikatakan bahwa cermin itu adalah cermin biasa (selamat).Tetapi, jika kuku anda terus menyentuh bayangan kuku anda di cermin, hati-hatilah, kerana benda itu adalah cermin 2 arah ! Kerana itu ingatlah selalu, setiap kali anda melihat cermin di tempat-tempat umum seperti disebutkan di atas, lakukanlah "TEST KUKU JARI". Tidak perlu membayar. Mudah dilakukan, dan ini mungkin boleh menyelamatkan anda dari "PERKOSAAN VISUAL" !

Para wanita : Silakan beri tahu teman-teman anda yang lain.
Para lelaki: Silakan beri tahu isteri, anak perempuan atau teman wanita anda

Tuesday, April 24, 2012

Bocah 11 Tahun Sudah 20 Kali Disodomi Guru Agamanya di Tebet

Ray Jordan - detikNews
Selasa, 24/04/2012 16:16 WIB
Jakarta KHD (36), guru agama yang menyodomi muridnya yang berusia 11 tahun sudah berkali-kali melancarkan aksinya. KDH sudah 20 kali menyodomi bocah laki-laki tersebut. "Tersangka KHD terbukti melakukan pencabulan terhadap anak di bawah umur berinisial sebanyak 20 kali," kata Kasubag Humas Polres Jakarta Selatan Kompol Aswin saat ditemui detikcom di kantornya, Jl Wijaya II, Jakarta, Selasa (24/4/2012).

Menurut Aswin, kasus ini terungkap karena teman dari korban melaporkan perbuatan tersangka ke kepala sekolah di mana guru agama tersebut mengajar di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Dari pihak sekolah lantas mengamankan tersangka dan mengonfirmasi hal ini ke keluarga korban.

"Melaporkan peristiwa kejahatan ini ke Polres Jaksel pada 13 April dan menyerahkan tersangkanya," jelasnya. Aswin mengatakan perbuatan bejat KHD dilakukan di beberapa tempat yakni ruang kelas, kamar mandi sekolah dan rumah korban di Galur, Jakarta Pusat.

Wednesday, April 18, 2012

Kisah Simon Donaldson Dan New Zealand Yang Paling Islami

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Tulisan di bawah berasal dari teman saya Pak Satria Dharma. Dia menceritakan kasus seorang warga NZ yang berada di Indonesia, dalam kondisi buruk, dan berita ini diangkat oleh media NZ dan juga dapat perhatian dari Perdana Menteri NZ dan dibahas dalam kunjungannya ke Indonesia sekarang.
Berikut ini adalah komentar saya:

Saya baru dengar kasus tentang si Simon itu karena tidak baca berita dari NZ setiap hari. Tapi setelah baca tulis Pak Satria, saya tidak heran, karena memang sangat umum dan biasa di sana.
SBY juga bisa melakukan hal yang sama, dan menunjukkan kepedulian pada kasus2 rakyat kecil. (Cukup diperhatikan sekali, lalu diserahkan ke menteri dan pejabat terkait, dan perintahkan mereka bertindak. Semua pemimpin di negara lain juga begitu.) Tetapi SBY tidak mau. Ummat Islam juga bisa menunjukkan kepedulian yang sama, tetapi tidak mau.
Di NZ, kalau diadakan Ujian Nasional yang tidak adil, dan ada yang berdiri dan ajak boikot, maka bisa diyakini akan diboikot secara massal. Dan pemerintah sangat takut dihujat oleh para pemilih yang tidak terima kebijakan yang tidak adil seperti itu.
Tetapi di Indonesia, mayoritas dari penduduk adalah lulusan SD. Dan kualitas dari pendidikan SD itu juga rendah. Karena sudah mengetahui kenyataan tersebut, pemerintah bisa saja mengubah kurikulum SD sehingga memberikan pelajaran yang paling luas, dan membuka wawasan yang baik bagi anak2 SD, sehingga setelah lulus mereka sanggup belajar secara independen saja, dan bisa menjadi wiraswasta dengan kualitas yang baik.
Ternyata tidak. Yang dikasih adalah hafalan berkualitas rendah saja. Guru sudah benar. Murid cukup hafal dan nurut dengan pendapat guru. Tidak perlu berfikir secara independen. Tidak perlu menjadi orang yang pintar, kreatif, adil, bijaksana dan memiliki wawasan luas. Pemerintah tidak akan bisa membodohi rakyat yang pintar, dan merampas harta rakyat dengan korupsi.

Hebat! Bocah 10 Tahun Bikin Game untuk Nenek yang Tunanetra

Di luar negeri, anak bisa membuat game untuk main bersama dengan neneknya. Di Indonesia, anak disiapkan menjadi karyawan pabrik, supaya bisa memproduksi game yang dibuat orang asing, dan ekspor dengan biaya murah (karena gaji karyawan di sini juga murah.) Dan yang dapat pekerjaan di pabrik merasa beruntung. Masih ada orang lain yang makan belalang dan menjadi pemulung.
Apa pemerintah peduli? Kalau peduli, sistem pendidikan sudah diubah dari dulu, untuk menghasilkan jutaan anak cerdas yang bisa membuat game juga.
Wassalam,
Gene

Hebat! Bocah 10 Tahun Bikin Game untuk Nenek yang Tunanetra
Trisno Heriyanto - detikinet
Selasa, 17/04/2012 12:25 WIB
Amerika Serikat - Keinginan kuat untuk bisa bermain game bersama dengan neneknya yang tak bisa melihat, memancing bocah 10 tahun ini untuk membuat game yang dirancang untuk tunanetra.

Bocah tersebut bernama Dylan Viale, saat ini ia masih duduk di kelas 5 SD di Hidden Valley Elementary, Martinez, California. Namun tak seperti anak di usianya yang hanya suka bermain game, Dylan selangkah lebih maju karena berhasil membuat gamenya sendiri.

Motivasinya membuat game didasari keinginan kuat untuk bermain dengan neneknya, Sherry Nissen, yang sudah bertahun-tahun mengalami kebutaan. Seperti yang dikutip detikINET dari kotaku, Selasa (17/4/2012).

Sunday, April 15, 2012

Indonesia Dominasi Lomba Robot Cerdas di Amerika

Antara – Sen, 2 Apr 2012
Surabaya (ANTARA) - Tim robot dari tiga perguruan tinggi Indonesia, yakni ITB, ITTelkom, dan Unikom (Bandung) mendominasi lomba robot cerdas "Trinity College Fire-Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC)" di Trinity College, Hartford, Connecticut, AS.
Staf khusus Mendikbud Sukemi kepada ANTARA melalui surat elektronik, Senin, menyatakan tim robot Indonesia berhasil membawa pulang delapan gelar juara internasional.
Ke-delapan gelar adalah juara satu dan dua (robot pemadam api divisi beroda/ITTelkom); juara satu, dua, dan tiga (robot pemadam api divisi berkaki/ITTelkom dan ITB); juara satu (RoboWaiter divisi Entry Level/Unikom); serta juara satu dan dua (RoboWaiter divisi Advanced/Unikom).

TCFFHRC 2012 diikuti oleh 130 tim yang bertanding pada berbagai kategori. Selain AS terdapat beberapa negara lain, seperti Portugal, Israel dan China. TCFFHRC adalah kompetisi tahunan robot cerdas pemadam api yang diselenggarakan di Trinity College, Hartford, Connecticut, AS.
Kompetisi yang sudah berlangsung selama 19 tahun itu telah menjadi standar acuan kompetisi robot pemadam api di berbagai sekolah dan perguruan tinggi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia sendiri.
Aturan pertandingan pada kompetisi TCFFHRC diadopsi pada kompetisi robot di berbagai negara, mulai tingkat regional hingga nasional. Indonesia juga mengadopsi aturan kompetisi di TCFFHRC pada ajang Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) untuk kategori robot beroda dan kategori robot berkaki.

Tuesday, April 10, 2012

Bagaimana Kita Bisa Dapat Keberanian Untuk Melawan UN?

Para guru Indonesia tidak akan bisa berhasil kalau bertindak sendiri2. Harus kompak dan melawan secara bersamaan. Melawan Belanda dulu tidak ada yang berhasil kalau sendiri2. Di sini banyak pendekar silat, tapi kalau melawan pemerintah Belanda sendirian, tidak ada hasil.
Tapi pada saat semuanya diajak bergabung dengan Sukarno-Hatta dan melawan secara bersamaan, maka berhasil.
Sekarang Indonesia masih dijajah. Secara fisik sudah bebas. Tetapi secara mental masih dijajah oleh pemerintah yang penuh dengan koruptor dan mafia, dan selalu berkiblat ke ekonomi barat daripada utamakan kepentingan rakyat sendiri. Kalau anak Indonesia mau merdeka secara mental juga, maka kita harus berani untuk bersatu dan membela mereka. Pemerintah punya hukum, polisi, tentara, kejaksaan. Mereka tidak perlu dibela. Mereka bukan anak tetapi sudah besar dan bisa membela diri sendiri. Kita mesti bersatu dan membela anak kecil yang tidak sanggup membela diri sendiri. Pemerintah inginkan agar rakyat bodoh supaya bisa dibodohi terus. Rakyat yang bodoh tidak akan bertanya dari mana dapat uang kampanye senilai ratusan milyar hanya untuk iklan tivi. Rakyat yang bodoh tidak akan bertanya berapa banyak orang yang punya akses terhadap server komputer di dalam KPU setelah pemilu. Rakyat yang bodoh gampang dibodohi.
Kita bisa diam dan nurut, atua melawan. Bukan karena kita ingin berkuasa, bukan karena kita inginkan revolusi yang berdarah2 kaya di Mesir, tetapi karena kita punya beban moral untuk melindungi dan melayani anak bangsa supaya masa depan Indonesia menjadi lebih kuat, bukan lebih lemah, atau tetap sama saja (di saat negara lain makin maju).
Dua puluh lima tahun dari sekarang, salah satu dari anak didik kita bisa menjadi presiden negara. Dia akan mengatakan apa tentang kita yang menjadi gurunya? Apa dia bangga dengan kita? Atau apa dia tidak peduli dengan kita, karena selalu merasa bahwa kita tidak berani untuk membela dan melindungi dia dari kebijakan yang merugikan dia, dan sekaligus melanggar hukum?
Kita bisa memilih untuk selalu diam dan nurut dengan pemerintah yang tidak adil dan melanggar hukum. Atau kita bisa kompak dan melawan secara baik, sopan dan profesional.
Kita berani melakukan apa untuk generasi mendatang? Dulu ada banyak orang biasa, tanpa pendidikan tinggi, yang hidup sebagai petani, buruh, guru, dan lain-lain, tetapi mereka berani menjadi pahlawan negara karena berani melawan Belanda, bahkan siap korbankan nyawa mereka sendiri.
Sedangkan kita takut dipecat, dimutasi, dapat surat peringatan dan sebagainya.
Di mana keberanian kita?
Di mana para pahlawan negara Indonesia?

Wassalam,
Gene Netto