Wednesday, June 27, 2012

Sepatu Bola Untuk Anak Yatim Dibalas Oleh Allah

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Mungkin teman2 yang mengikuti kegiatan saya akan ingat beberapa minggu yang lalu saya beli sepatu bola untuk seorang anak yatim. Saat itu, saya dapat sedekah dari beberapa teman karena perlu bantuan untuk mengurus persoalan imigrasi di sini. Dari bantuan itu yang dikirim, ada beberapa juta lebih dari kebutuhan. Jadi karena merasa sangat bersyukur kepada Allah atas bantuan itu, saya ambil keputusan untuk bersedekah juga dari uang tambahan itu untuk membantu orang lain.

Ada anak teman saya yang yatim sejak tahun kemarin dan sering main bola. Setiap kali saya pergi dengan dia, selalu harus mampir ke toko olahraga untuk melihat sepatu bola idamannya, merek Nike. Setiap kali dia memegangnya, seolah2 dia melihatnya untuk pertama kali, begitu terpesona dan kagum. Haha. Jadi, untuk semangatkan dia, dan membuat dia merasakan kasih sayang dari Allah, saya memutuskan untuk beli sepatu bola itu. Tapi tidak dikasih begitu saja. Dia dapat beberapa tausiyah dulu, yang mengajak dia memperhatikan shalatnya dan ibadah yang lain, dan semua nikmat yang Allah berikan kepadanya. Jadi sepatu bola itu berasal dari Allah, jadi dia harus membalas dengan banyak bersyukur kepada Allah. Akhirnya dibeli, dan dia sepertinya tidak bisa berhenti senyum pada waktu itu karena merasa begitu bahagia.

Setelah itu, saya juga panggil anak pemulung yang disantuni secara rutin dan kasih uang tambahan kepada dia. Dia juga kaget dan bapaknya telfon saya dan menangis di telfon karena tidak menduga bisa dapat bantuan tambahan pada saat itu, di luar yang rutin. Jadi setelah saya merasa nikmatnya dapat bantuan dari orang lain, ada 2 anak yang juga merasakan hal yang sama.

Saturday, June 23, 2012

Nenek Yang Dihinakan Anak Remaja Dapat Sumbangan 500.000 Dolar

Di New York, Amerika Serikat, ada seorang Ibu yang menjadi penjaga di dalam bis sekolah (disebut “bus monitor”). Tugasnya hanya untuk duduk di bis pada saat anak sekolah sedang berangkat dan pulang, untuk mengawasinya supaya tidak terjadi masalah. Gajinya kecil sekali, hanya 15 ribu dolar per tahun.
Ibu ini yang bernama Mrs Karen Klein adalah seoarang nenek dengan 8 cucu, dan sudah melakukan tugas sebagai pengaja bis ini selama beberapa tahun karena peduli pada anak. Sebelum pensiun, dia kerja sebagai sopir bis sekolah juga. Beberapa minggu yang lalu, 4 anak yang sedang naik bis mulai mengejek dan menghinakan Mrs Klein. Anak2 itu berusia antara 12-13 tahun, atau anak SMP. Mereka mengatakan Mrs Klein jelek, gemuk, bau badan, dan bertanya alamat rumahnya karena mau merampoknya. Satu anak mengatakan anak2nya Mrs Klein pasti akan bunuh diri karena tidak ingin berdekatan dengannya. (Anak itu tidak tahu bahwa salah satu anaknya Mrs Klein memang bunuh diri 10 tahun yang lalu).
Walaupun diejek dan dihinakan berkali2, Mrs Klein tetap bersabar dan tidak membalas dengan mengejek anak2 itu juga, dan hanya sarankan mereka diam saja kalau tidak bisa mengucapkan kata2 yang baik. Akhirnya dia tidak tahan dan menangis juga, tetapi masih diam saja dan tidak mengucapkan kata2 buruk kepada anak2 yang sedang menghinakannya. (Walaupun dia mengaku kepada wartawan bahwa di dalam hati dia ingin sekali memukul mereka karena kata2 mereka begitu menyakiti hatinya).
Salah satu anak membuat rekaman, dan kemudian di-upload ke You Tube. Setelah mulai ditonton banyak orang, video ini menyebar secara cepat, masuk berita, dan banyak sekali orang dewasa di Amerika mengatakan kaget dan tidak percaya anak sekarang bisa begitu buruk perilakunya.
Seorang blogger yang nonton tidak mau diam dan biarkan Mrs Klein menjadi korban begitu saja, padahal dia melakukan tugas mulia (menjaga anak) dengan gaji yang kecil. Dia membuka situs baru untuk kumpulkan uang, dan ajak semua orang menyumbang agar Mrs Klein bisa dapat liburan yang baik sebagai tanda kepedulian masyarakat kepadanya.
Hasilnya? Uang yang disumbangkan oleh masyarakat sudah lewat batas 500.000 dolar (lima ratus ribu dolar, atau setara dengan 5 milyar rupiah).   
Begitulah balasan bagi orang yang sabar.


Dalam berita di Amerika:

Video aslinya (10 min berisi penghinaan terhadap Mrs Klein):

Saturday, June 09, 2012

Bahayanya Belajar Agama Islam Dengan Membaca Teks Sendiri

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Di dalam sebuah Facebook group yang saya ikuti, seringkali ada orang yang mengutip hadiths atau ayat. Dengan jelas dan tegas, mereka mengatakan “Ada hadithsnya!” lalu dikutip hadithsnya untuk mendukung argumentasi mereka. Atau “Ada ayatnya” lalu dikutip ayatnya.

Biasanya, apa yang disampaikan memang sangat benar sekali, dan penjelasan juga bagus dan benar. Ayat itu benar ada, dan memang bisa digunakan untuk memperkuat suatu pendapat atau argumentasi karena memang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh ulama dan ahli tafsir. Begitu juga hadithsnya karena hadiths itu memang ada, sahih dan sangat bisa digunakan dengan cara tersebut. Ini merupakan ilmu Islam yang benar, yang kalau ditanyakan kepada para ustadz dan kyai akan dibenarkan juga karena sesuai dengan apa yang mereka ajarkan.

Tetapi kadang juga, ada orang yang menyampaikan pendapat yang belum tentu disetujui semua orang, atau pendapat yang tidak diyakini secara umum oleh ummat Islam. Orang itu mengatakan kita semua harus meyakini bahwa X itu wajib, atau X itu haram atau makna dari suatu keadaan adalah X. Lalu dikutip ayat atau hadiths. Setelah dibaca, kalau dari isi teksnya, sepertinya memang betul. Ayat dan hadiths tersebut tidak diragukan kebenarannya, dan teks sudah jelas di depan mata dengan pernyataan yang sepertinya sederhana.

Masalahnya cuma satu. Ayat atau hadiths tersebut punya makna yang lain, yang tidak bisa dipahami dari sekedar membaca teksnya saja. Kalau sebatas baca terjemahan dalam bahasa Indonesia, “sepertinya” jelas dan mudah dipahami. Tetapi kalau bertanya kepada seorang ustadz yang punya ilmu yang baik, maka dia mungkin akan senyum dan mengatakan, “Mohon maaf, tetapi anda salah paham.”

Friday, June 01, 2012

Pembinaan Terhadap Muallaf

[Di dalam group muallaf, ada yang merasa saya terlalu tegas dalam membatasi pembahasan dari orang2 yang bukan muallaf, tetapi masuk ke group dengan niat “membina muallaf”. Karena sepertinya banyak orang yang bukan muallaf tidak begitu paham, maka saya kasih penjelasan di bawah ini, agar mereka bisa menyadari bahwa membina muallaf tidak sama dengan membina orang dewasa yang Muslim dari lahir tetapi masih awam. Mungkin ada manfaatnya kalau dibaca teman2 yang lain juga.]

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Saya pernah bicara 8 jam non-stop (kecuali shalat) dengan seorang muallaf yang mau murtad. Dia merasa semua yang dia alami sebagai seorang Muslim terlalu berat, jadi dia mau murtad saja. Setelah bicara lama dengan saya, akhirnya dia banyak menangis dan memilih sendiri untuk tetap sebagai seorang Muslim. Dalam diskusi itu, saya sengaja kasih dia dua pilihan, menjadi Muslim terus atau kembali Kristen, dan menjelaskan hasil yang baik dan buruk dari kedua pilihan itu. Hal itu sengaja dilakukan untuk memancing logika dia jalan. Karena keputusan murtad (setelah dia jelaskan semua alasannya) adalah keputusan dari emosi. Jadi saya harus memaksa dia untuk menganalisa keadaannya. Dan hal itu sangat mudah bagi saya karena setiap kali saya bertanya kepada dia, sebelum dia sempat berfikir dan buka mulut, saya sudah tahu jawabannya akan seperti apa, dan sudah siapkan pertanyaan susulan. Jadi dalam proses diskusi lama itu, saya bisa mengarahkan pikiran dia dari kondisi bingung dan mau putus asa menjadi yakin dan kuat untuk menghadapi semua ujian yang Allah berikan kepadanya.