Tuesday, February 05, 2013

Apa Yang Perlu Dilakukan Bagi Siswa Yang Datang Telat?



Assalamu’alaikum wr.wb.,
Saya bertanya di group guru tentang apa yang dilakukan kalau ada siswa yang telat masuk kelas. Banyak guru menjawab bahwa siswa itu akan kena hukuman. Kalau telat sekali saja, hanya ditegor, tapi ada juga yang menghukum untuk 1 kali telat. Kalau lebih dari 3 kali berturut-turut, maka sudah pasti ada hukuman dan ini masuk dalam peraturan sekolah. Ada hukuman di mana siswa dilarang masuk kelas, dilarang masuk sekolah, dipulangkan ke rumah, dikasih hukuman bersihkan lapangan, orang tua dipanggil, dan juga ada sekolah yang ancam keluarkan siswa dari sekolah kalau telat lebih dari 4 kali.

Ada yang berkomentar bahwa siswa harus disiplin, jadi yang penting adalah hasil: hadir di kelas tepat pada waktunya. Sepertinya guru tidak mau tahu tentang bagaimana caranya, atau dalam kondisi apa siswa hadir. Yang penting hanya hasil itu saja, bukan proses. Itu merupakan pelajaran apa bagi siswa? (Apa teman2 ingat pembahasan saya tentang UN dulu? Yang penting hanya hasil, yaitu lulus, dan proses tidak penting, makanya ada banyak kasus pencontekan.)

Ada guru yang mengatakan siswanya harus dibiarkan menangis di depan kelas (karena tidak boleh masuk). Saya pernah dengar juga ada sekolah yang kunci pagar dan melarang siswa masuk (jadi mereka bebas main ke warnet seharian). Apa sekolah itu mau disebut “tempat belajar”? Kalau tujuan sekolah adalah mendidik, bagaimana kita bisa mendidik siswa kalau pada saat mereka datang, kita malah melarang mereka masuk (karena telat 5 minit)?

Ada guru yang mengatakan siswa yang telat lebih dari 4 kali berturut2 akan terima surat yang mengancam akan keluarkan mereka dari sekolah kalau terjadi lagi. Tetapi kalau dia ikut tawuran dan membunuh anak lain, dia juga akan dikeluarkan dari sekolah. Kok kedua hal itu yang sangat berbeda bisa dapat “hukuman yang sama”? Apa guru dan sekolah ada niat “mengajar” dan memberikan pendidikan yang terbaik? Atau apa niatnya sebatas “menampung siswa saja” dengan gaya penjara, atau gaya militer (apa ini sisa dari pendidikan Orde Baru)?

Seingat saya, anak sekolah yang telat di Selandia Baru atau Australia hanya dinasehati, dan diajak berubah. Diajarkan bahwa dia merugikan diri sendiri kalau telat. Tapi tidak dimarahi, atau ditegor dengan sikap marah, orang tua tidak perlu ditelfon, anak tidak diberikan “hukuman”, dan tidak ada kasus anak dilarang masuk kelas, apalagi dilarang masuk sekolah, apalagi dikeluarkan dari sekolah hanya karena “telat”. Kenapa di sini bisa seperti itu? Landasan pemikiran itu apa? Manfaat dari sisi pendidikan dan psikologi anak apa? Sepertinya banyak orang dewasa di sini, baik guru maupun orang tua, hanya meneruskan apa saja yang dulu dilakukan terhadap mereka oleh orang tua dan guru pada zaman dulu, dan tidak mau belajar. Ilmu psikologi anak dan buku/majalah parenting sudah banyak. Tapi berapa banyak orang tua/guru mau belajar?

Ada banyak sekali alasan yang bisa membuat seorang anak telat, bahkan berkali2 dalam satu minggu. Contohnya: Macet. Banjir. Sakit perut, jadi harus ke WC. Ada saudara yang sakit, dan dia yang lama di kamar mandi. Susah tidur (insomnia). Orang tua sering ribut (mungkin mau cerai). Ada kerjaan pagi seperti mengantar koran, atau menjadi pemulung. Dan banyak lagi “alasan” yang setara.

Ini bukan pilihan siswa untuk mengalami hal2 seperti ini, tapi kenyataannya, dia harus mengalaminya. Jadi? Apa kita harus “memberikan hukuman” atau bahkan mengancam akan dikeluarkan dia dari sekolah? Apa kita tidak mau peduli pada apa yang dialami siswa dalam kehidupannya, dan hanya mau melihat HASIL, yaitu masuk tepat waktu? Apa itu “pelajaran” yang terbaik untuk 50 juta siswa di Indonesia? Sebagian dari mereka akan menjadi pemimpin bangsa nanti!

Saya dulu diajarkan, dan sekarang juga meyakini, bahwa saya sebagai seorang guru punya tugas yang sangat mulia. Saya diberikan kesempatan untuk menjadi orang yang punya pengaruh besar terhadap masa depan semua manusia kecil (calon orang dewasa) yang duduk di depan saya. Saya bisa mengubah cara pikir mereka dari yang kurang baik menjadi baik, dan dari baik menjadi luar biasa. Kalau nanti mereka menjadi manusia yang luar biasa, yang menjadi contoh yang baik di tengah masyarakat, maka sebagian dari itu adalah hasil dari kerjaan saya sebagai gurunya. Itu yang ingin saya berikan kepada semua siswa saya.

Pada saat saya mengajar, kalau ada siswa yang datang telat, maka tanggapan saya selalu sama. Dia masuk, minta maaf karena telat, dan cepat duduk. Saya senyum, bilang “Silahkan masuk”, dan biarkan dia duduk. Kalau siswa lain sudah mulai kerjakan tugas, saya suruh dia bertanya kepada teman di sebelah tentang apa yang sedang dikerjakan, dan kalau kurang paham bisa tanya kepada saya. Kalau semua siswa sedang kerjakan tugas yang berkaitan dengan ilmu baru, yang sudah selesai dibahas, maka saya akan duduk di samping siswa yang telat itu, dan memberikan ringkasan dari ilmu itu. Dan saya minta teman di sebelah untuk bantu dia mengerti dengan memberikan penjelasan tambahan.

Saya seorang guru. Tugas saya adalah mengajar. Saya tidak ingin menjadi seorang satpam yang mengancam siswa yang telat 5 minit. Tempat yang pantas bagi siswa saya adalah di dalam kelas bersama saya. Bukan menangis di depan pagar sekolah yang terkunci.

Semoga bermanfaat,
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

5 comments:

  1. Itu kalau tugas kita hanya sebagai pengajar, bagaimana tugas sebagai pendidik? kita perlu mendidik anak untuk disiplin yang salah satunya adalah disiplin terhadap waktu. tidak semua anak terlambat karena faktor yang tidak disengaja, banyak anak yg memang sengaja karena malas. Anda memang guru yang sabar, tapi tidak selalu kesabaran itu dapat dimengerti oleh siswa karena malah banyak yang memanfaatkan untuk tetap terlambat. Guru berperan sebagai kontrol dalam penegakan disiplin di sekolah, jadi kalau guru bertindak tegas bukanlah berarti dia berperan sebagai polisi atau satpam tapi memang dia memerankan tugasnya sebgai pendidik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya stuju dengan anda ... mari kita ciptakan gennerasi yang memiliki mental yang kuat ...
      note. Setahu saya Satpam tidak boleh menghukum siswa, yang menhkum siswa melanggar ketertiban adalah guru dan waka kesiswaan.

      Delete
  2. sangat perlu diketahui bahwa tingkat pemikiran anak dari setiap negara adalah sangat berbeda. bahkan di indonesia. kalu kita mau samakan sistem pendidikan kita dengan ada yang di australia itu saya rasa tidak tepat.karena saya pernah melihat sendiri bagaiman cara mendidik murid di luar negri yang sangat begitu disiplin. berbagai macam maslah siswa dapat di selesaikan dengan komunikasi, dan hal itu karena sistem pendidikan dan kebiasaan hidup mereka yang melek (sadar) akan hukum ketertiban. sedangkan indoneisa ini belum, setiap siapapun yang kena hukum pasti akan di bela mati matian atu dikasihani ( inilah yang di sebut mental tempe). menurut saya hukuman sangat penting dan harus di tegakkan. selama hukuman selalu memberikan celah maka saya sangat yakin celah itu akan semakin terbuka lebar. hanya saja hukuman tersebut harus di sesuaikan dengan berat dan ringannya hukuman. masalah berangkat pagi adalah maslah paling vital menurut saya. jadi ada beberapa sekolah yang sampai mengunci pintu gerbang itu adalah hal lumrah. karena majunya sebuah sekolah bisa dibangun dari awal kegiatan sekolah itu dimulai. jadi jika dari awal sekolah sudah sering dan banyak yang terlambat bagaimana proses belajar mengajar bisa berjalan lancar. saya seorang pengajar di luar negri. saya mengajar di myanmar, sebagai orang Indonesia saya salut dengan cara mengajar orang myanmar yang menurut survei negara ini masih tertinggal 20 tahun dari indonesia, namun teknik disiplin mengajar mereka saya acungi jempol. dengan melihat argumen anda saya masih melihat ketidak tegasan dalam menegakkan aturan. kalau memang aturannya sudah demikian dan sudah menjadi misi sekolah untuk membentuk siswa yang berkualitas mengapa tidak? dan saya saya sudah melaksanakannya dan sekolah kami masih menjadi pilihan bagi warga setempat di yangon myanmar. guru itu tugasnya adalah mengajar dan mendidik, jadi biar tidak selalu mengurusi hukuman,, ya caranya mudah ,,, hukum harus tegas ... trimkasih
    Joko Sudibyo
    IISY Yangon Myanmar

    ReplyDelete
    Replies
    1. mas joko coba kasih pengetahuan terkait dengan jenis hukuman yang pantas pada zaman sekarang ini. mohon bimbingannya. kalau di minamar gimana jenis hukumannya? terima kasih.

      Delete
  3. Sipppp mantaappppp nieh, aku setuju

    ReplyDelete