Monday, March 25, 2013

Orang Pinggiran - Bocah Singkong




Anak pintar, sering termasuk 3 besar di sekolah. Tapi sejak mulai kerja, nilainya turun. Sering sakit leher juga disebabkan angkat beban dengan bawa di atas kepala.
Kenapa mesti kerja? Karena ibunya meninggal, lalu bapaknya pergi saja, abaikan kedua anaknya di rumah kakek-nenek, dan menikah lagi. Jarang kembali untuk ketemu anak kandungnya sendiri.

Kok kasus seperti ini sangat umum di Indonesia? Sudah sering saya dengar. Bapak pergi begitu saja, menikah lagi, dan tinggalkan anak2 kandung di tempat saudara. Kadang karena isteri meninggal, kadang isteri juga ditinggalkan tanpa nafkah hidup, tapi juga tidak diceraikan. Enak menjadi suami di Indonesia: tidak perlu bertanggung jawab sama sekali terhadap isteri atau anak (kalau tidak mau)!

Lalu anak ini terpaksa kerja untuk mencari uang buat makan dan sekolah. Dan setelah pulang dari kerja, sudah malam dan masih harus belajar untuk UJIAN NASIONAL. Jangan heran nanti kalau semua anak di sekolah dia lulus UN dengan 100%. Tidak penting bisa menjadi cerdas, tidak penting bisa hidup secara sejahtera. Yang penting hanya lulus UN agar bisa lanjutkan sekolahnya. Apa bisa berpikir secara kreatif? Tidak. Tapi tidak penting. Hanya lulus UN yang penting sebelum nanti putus sekolah dan menjadi buruh seumur hidup, dengan IQ yang rendah. Itulah masa depan yang ditawarkan pemerintah kepada anak2 miskin. Anak seperti ini sangat membutuhkan bantuan pemerintah, tapi malah diberikan beban dari pemerintah, dan kebutuhan utama tidak diberikan.

Saya lupa. Anggota DPR studi banding ke mana minggu ini?

Wassalam,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment