Friday, April 26, 2013

Kalau Anak Membunuh Temannya, Siapa Yang Salah?



Assalamu’alaikum wr.wb.,
Saya ditanyakan kalau ada kasus anak umur 8 tahun yang membunuh temannya, maka siapa yang bersalah. Saya berusaha menjawab sebagai berikut:

Menurut saya ada beberapa lapisan dalam perkara seperti ini, jadi tidak ada satu pihak yang “bersalah”. Orang tuanya seperti apa? Mungkin mereka kerja keras dengan gaji yang tidak cukup, pulang malam, ribut tentang keuangan terus, sehingga waktu untuk membina akhlak anak mereka tidak cukup. Karena mereka stres dalam kehidupan sehari2, maka mereka keras dan kejam dalam cara bicara dan bersikap terhadap anak mereka. Jadi di dalam rumah, anak ini sudah dekat dengan kekerasan. Dan bantuan untuk orang tuanya sangat minim, baik dari pemerintah (iklan, tempat konseling, bantuan sosial), dari masyarakat (ustadz, orang yang bijaksana, tempat bermain bagi anak), dan dari keluarga sendiri (om, tante, sepupu yang lebih tua). Semuanya punya peran dalam membantu dan mendidik seorang anak.

Dalam bahasa Inggris sekarang, ada suatu pepatah yang makin terkenal: “It takes a village to raise a child” (Dibutuhkan sebuah desa untuk membesarkan seorang anak). Intinya pepatah itu, banyak sekali orang berperan dalam mendidik satu anak dan membantunya dapat akhlak yang mulia. Jadi bukan peran orang tua saja, bukan peran guru saja.

Guru sekolahnya seperti apa? Mungkin mereka dibuat pusing dengan proses sertifikasi (yang tidak berpengaruh terhadap kualitas pengajaran di kelas). Selalu ada beban ini dan itu dari pemerintah, contohnya Ujian Nasional, yang menjadi fokus semua guru. Kalau banyak siswa gagal dalam UN, guru disalahkan, dan dana untuk sekolah bisa dipotong. Para guru begitu sibuk dengan kesulitan masing2, sehingga mereka tidak bisa fokus pada tugas pembinaan terhadap setiap anak secara individu. Yang dipikirkan hanya bagaimana mayoritas bisa lulus dan keluar dari sekolah, sehingga guru tidak disalahkan oleh pihak lain. Ada masalah di sekolah? Belum tentu guru berani protes atau lapor. Selalu takut kena sanksi atau dimutasi. Jadi peran guru sebagai pembina terhadap anak dikecilkan, dan peran guru sebagai “orang yang bantu anak lulus ujian” dijadikan yang utama.

Tetangganya seperti apa? Mungkin mereka adalah orang yang hidup secara pas-pasan. Masalah pribadi mereka juga banyak. Jadi kalau melihat satu anak di jalan, yang mereka inginkan hanya “jangan sampai dia mengganggu saya”. Kalau anak berbuat “nakal” maka orang dewasa cepat marahi anak itu. Yang mau bicara dengan lembut dan membina dengan kata2 bijaksana sedikit sekali. Lebih gampang marah saja. Selama anak diam saja dan tidak mengganggu, kebanyakan orang dewasa mungkin tidak begitu peduli padanya. Tidak bertanya tentang kabarnya, tidak memastikan dia sudah makan, tidak cek kalau dia bahagia. Yang penting jangan sampai dia menjadi nakal dan mengganggu. Itu saja yang diinginkan.

Acara tivi yang dia tonton seperti apa? Di negara2 barat, seperti Australia dan Inggris misalnya, semua acara tivi yang tidak cocok untuk anak kecil DILARANG tayang sebelum jam 9 malam. Tapi di Indonesia? Coba nonton sinetron pada jam 5 sore, atau jam 7 malam. Ada pemerkosaan, penculikan, pemukulan, penyiksaan, anak yang teriaki ibunya sendiri, ibu yang teriaki anaknya, bapak yang memukul anak karena “nakal”, anak yang memukul orang tua karena “tidak dapat izin”, anak yang marah dan ribut karena “jatuh cinta” tapi orang tua tidak setuju, anak yang kabur dari rumah, perilaku jahat terhadap “anak tiri”, bullying di sekolah, guru yang jahat, orang tua yang jahat, tetangga yang jahat, dan daftarnya masih panjang sekali kalau mau ditulis semua.

Pemerintah dan KPI bisa menghentikan semua itu dalam sehari kalau mau. Psikolog anak sudah sering bicarakan peran tivi dalam membentuk perilaku anak kecil. Tapi tidak ada yang peduli. Kalau misalnya ada yang “menghinakan Islam” dalam acara tivi, maka semuanya langsung bertindak cepat dan media ikut berkomentar. Tapi kalau anak kecil dikasih suapan penculikan, penyiksaan dan pemerkosaan pada jam 5 sore, tidak ada yang mau peduli. Jadi dari mana anak akan belajar akhlak yang mulia kalau itu yang dia tonton setiap hari?

Dan masih ada lagi pihak2 lain yang bisa dibahas, tapi saya rasa yang diatas itu sudah cukup, karena paling utama. Selama tidak ada yang mau peduli, berita seperti yang saya kutip (anak 8 tahun yang membunuh teman karena hutang seribu rupiah) hanya akan bertambah banyak.

Saat ini, hampir setiap minggu, saya menulis komentar tentang “pemerkosaan anak sekolah” dan saya selalu mengatakan “Tunggu minggu depan, akan ada kasus lagi!” Dan selalu ada kasus baru di minggu berikut. Itu saja masih diabaikan oleh pemerintah dan semua pihak yang punya wewenang untuk bertindak. Jadi jangan heran kalau anak SD sudah mulai bunuh-bunuhan. Nanti akan ada berita yang sama lagi setelah yang ini. Tunggu saja.

Semua ini bisa dihadapi dan diatasi, kalau ada yang mau bertindak secara serius. Bisa dibuat program pendidikan, iklan, dan acara telvisi yang mendidik masyarakat. Bisa dibuat tempat-tempat konseling untuk membantu orang yang punya masalah dan perlu mendapatkan nasehat dan bantuan nyata dari orang lain. Di semua negara ada program pendidikan, iklan dan acara tivi yang mendidik masyarakat. Ada tempat konseling yang gratis dari pemerintah. Ada nomor telfon yang bisa dihubungi untuk minta nasehat. Di Indonesia hampir tidak ada semuanya. Dan tidak ada yang mau mulai. Kalau tidak mau lihat anak membunuh temannya lagi, harus ada pembinaan terhadap semua anak di seluruh Indonesia, secara holistik. Semua organisasi dan semua pihak yang bisa membantu harus mau membantu. Tapi kalau tidak ada yang mau mulai, tunggu saja, akan ada kasus pembunuhan berikut.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment