Thursday, September 05, 2013

Keterampilan P3K Perlu Dimiliki Para Guru


[Dari teman saya]:
Kemarin seorang guru di sekolah tempat istri saya mengajar meninggal saat sedang bersama murid-muridnya. Guru tsb masih muda, 34 th. Dia guru tahfidz, sedang menerima setoran hafalan Qur'an dari murid-muridnya tiba-tiba memegang dada dan kejang tampak kesakitan. Muridnya mengira bermain-main. Ada guru lain yg melihat dari jauh mengira sedang ruku, dari posisi berdiri Pak Guru tsb membungkukkan badan dan jatuh. Saat ditolong, kata seorang guru lain nadinya masih ada, karena tidak ada yg tahu ttg CPR dia hanya berusaha dgn cepat dibawa ke RS, proses evakuasi sekitar 30 menit. Ketika sampai di RS, dokter bilang Pak Guru tsb sudah meninggal 15 menit.
Umur memang rahasia milik Allah SWT, tetapi manusia tetap harus berusaha sekuat tenaga untuk menjaga kehidupan yg telah dianugrahkan kepadanya.
Keterampilan Pertolongan Pertama perlu dilatihkan kepada guru dan tenaga pendidikan lain di sekolah.
**********

[Gene Netto]: Saya sangat setuju bahwa semua guru membutuhkan ilmu dasar P3K, apalagi guru yang tinggal di daerah, yang jaraknya ke klinik atau rumah sakit sangat jauh. Saya punya rencana untuk membuat program P3K untuk guru, yang disebarkan secara graits lewat internet, dan menjadi bagian dari program pelatihan guru yang lebih luas. Tapi masih belum terwujud.
Di Australia, semua guru didorong untuk ikut pelatihan P3K, tapi tidak wajib. Jadi secara sukarela, sekitar 80% dari semua guru sekolah ikut pelatihan itu. Saya juga.
Di sini ada baiknya ini menjadi ilmu wajib bagi semua guru.
Pernah di Jakarta, saya dengar keributan di luar kelas. Ada siswa yang sedang dibawa ke arah tangga, dan banyak guru dan siswa lain sedang teriak2. Katanya siswa itu jatuh pingsan dan sedang “tidak bernafas”. Jadi mereka mau membawanya ke rumah sakit, yang kebetulan di seberang jalan. Tapi, untuk dibawa turun 2 lantai, dibawa ke depan, menyeberang jalan raya, dan masuk RS, pasti akan makan waktu 5-10 minit. Jadi kl dia memang “tidak bernafas” sangat tidak bermanfaat untuk dibawa ke RS karena akan wafat dalam perjalanan (kalau belum wafat). Lebih baik ditangani langsung di tempat.

Saya suruh mereka turunkan siswa itu agar saya bisa periksa (untung mereka mau turut). Kalau memang tidak bernafas, saya mau berikan pernafasan buatan atau mouth to mouth resuscitation. Dan bila jantung sudah berhenti, berikan CPR (resusitasi jantung paru-paru). Setelah saya cek, dia hanya pingsan biasa, dan masih bernafas seperti normal, dan jantungnya tidak bermasalah. Jadi tidak perlu dibawa ke RS, dan tidak ada masalah medis. (Dia ada gangguan emosional, dan itu caranya untuk dapat perhatian).

Yang berbahaya adalah sikap semua guru dan siswa di situ bahwa tindakan satu-satunya yang bisa dilakukan adalah “bawa ke rumah sakit”. Padahal kalau dia sedang tidak bernafas, tindakan tersebut justru akan mempercepat kematiannya karena tidak bernafas selama 5-10 minit dalam perjalanan. Alangkah baiknya semua guru (dan siswa SMA) bisa belajar CPR dan juga tindakan2 medis lain yang diajarkan dalam kelas P3K.
Wassalam,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment