Friday, November 08, 2013

Apa Benar Umat Islam Peduli Pada Anak Yatim?



Assalamu’alaikum wr.wb.,
Kemarin saya berusaha kumpulkan uang untuk seorang anak yatim yang lumpuh di Cilacap, dan belum pernah dibantu seumur hidup. Dia tidak pernah sekolah karena tidak ada kursi roda. Pertama saya berusaha kumpulkan uang, ternyata hanya 9 orang dari sekitar 20 ribu orang yang terima artikel saya yang mau bantu. Saya membuat artikel kedua, dan bertanya kenapa tanggapan dari begitu banyak orang Muslim bisa begitu minimal.

Beberapa orang merasa tersentuh dan setuju bahwa kita semua bisa lakukan lebih, dan mereka juga mulai bantu saya cari uang. Tapi ada pendapat lain dari beberapa orang. Katanya, jangan berburuk sangka. Jangan salahkan umat Islam. Mungkin saja 20 ribu orang punya program masing2 untuk menyantuni anak yatim sendiri, jadi tidak perlu lewat saya. Apakah mungkin itu benar?

Mohon maaf bagi yang tidak berkenan, tapi saya tidak percaya. Saya punya pengalaman luas bicara dengan ratusan ribu orang Muslim secara langsung. Ketika membahas anak yatim, mayoritas dari mereka (di atas 90%) mengatakan tidak ada santunan rutin untuk anak yatim, dan bahkan bertanya kepada saya bisa ketemu anak yatim di mana. Ada juga orang yang mengaku tidak pernah bantu anak yatim yang merupakan keponakannya sendiri.

Contohnya, ada seorang bapak yang mengaku kepada saya bahwa 3 keponakan yang yatim di Cirebon tidak pernah dibantu. Saya kasih ceramah lembut kepada dia tentang anak yatim dan ajaran Rasulullah SAW sampai akhirnya dia menangis dan janji akan mulai kirim uang kepada 3 keponakan itu setiap bulan (mereka miskin, dan yang sulung putus sekolah untuk kerja).

Contoh lain, untuk seorang ibu yang sakit, saya sarankan untuk kasih santunan kepada anak yatim dan minta doanya mereka. Dia tanya bisa ketemu anak yatim di mana, padahal ada beberapa panti dekat rumah dia (yang tidak pernah dicari). Saya sarankan agar dia tidak asal kasih uang, dan tidak asal kasih makanan, tapi datang dulu, kenal dengan anak yatim, duduk sama mereka, dan bertanya mereka ingin dibelikan apa (coklat, buah, dsb). Dia malah menjawab, “Lho, kok saya harus direpotkan dengan datang dua kali?” (Satu kali untuk bertanya, sekali lagi untuk mengantar makanan dan santunan). Luar biasa pemikiran seperti itu. Tapi umum. Kebanyakan orang mau kasih KFC atau Dunkin Donuts saja, karena murah, mudah dibeli dan tidak merepotkan si pembeli. Mereka tidak berpikir bahwa anak yatim bisa dapat KFC terus sampai jadi jenuh.

Dalam banyak kasus lain, saya anjurkan orang yang berkonsultasi kepada saya untuk menyantuni anak yatim (dengan harapan dapat rahmat Allah). Berkali2 saya dapat jawaban, “Saya sudah kasih ke mereka di bulan puasa. Apa harus kasih lagi?” Dan saya sudah dengar komentar seperti itu secara rutin selama beberapa tahun.

Jadi saya punya pengalaman yang sangat luas dalam membahas dan membantu anak yatim di seluruh DKI sampai ke luar kota juga, dan pengalaman itu berasal dari diskusi dengan ratusan ribu orang Muslim. Dari tingkat kalangan pengusaha elit sampai tingkat office boy dan pembantu rumah tangga, saya sudah bahas anak yatim. Dan saya punya ribuan cerita dari orang2 Muslim itu yang mengaku sendiri tidak membantu anak yatim secara rutin. (Kecuali di bulan puasa ada santunan atau buka puasa bersama). Dan banyak dari orang Muslim itu kalau diajak membahas anak yatim selalu bertanya, “Ada anak yatim di mana?” seolah-olah sulit dicari.

Jadi kepada orang yang menyuruh saya berbaik sangka, dan jangan salahkan umat Islam, karena mungkin saja umat Islam sudah menyantuni anak yatim lewat jalur lain, maka mohon maaf, saya tahu betul bahwa itu tidak benar untuk mayoritas orang. Orang lain boleh saja berbaik sangka terus, tapi saya punya bukti nyata dari pengakuan2 itu.

Dulu pernah ada suatu organisasi, yang kalau tidak salah ingat, namanya Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GN-OTA). Saya tidak tahu organisasi itu hilang ke mana, tapi pada saat ini lebih dibutuhkan dari dulu. Lebih banyak anak yatim yang menderita sekarang. Dan banyak orang Muslim yang lebih makmur kehidupannya. Tapi setelah dapatkan kemakmuran dari Allah, yang dipikirkan adalah konsumsi pribadi (mobil baru, perhiasan baru, renovasi rumah, liburan keluarga, dsb.) Jarang sekali ada orang yang dapat rezeki baru, lalu kasih kepada anak yatim DULUAN, dan gunakan sisa dari uang itu untuk beli barang2 yang diinginkan. Bukannya tidak ada orang seperti itu, tapi dari pengalaman saya dengan umat Islam, jarang ada.

Apa benar kita bisa peduli pada anak yatim, sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW? Atau apakah hadiths Nabi yang membahas anak yatim hanya suatu ucapan saja di masjid dan pengajian, tanpa bisa masuk ke dalam hati kita?

Rasulullah SAW bersabda, “Aku dan pemelihara anak yatim di surga seperti ini (dan beliau memberi isyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya, lalu membukanya.” (HR. Bukhari, Turmidzi, dan Abu Daud)

Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment