Thursday, November 21, 2013

Dokter Atau Pejabat Yang Lebih Patut Dianggap “Kriminal”?



Setelah ada informasi tentang kasusnya Dr. Ayu yang sudah dipenjarakan sebagai seorang “kriminal”, banyak dokter dan orang yang peduli pada masyarakat Indonesia mulai memikirkan apa yang bisa terjadi di jangka panjang, kalau kasus ini tidak segera selesai. Bahkan sekarang ada dokter yang sudah siap “berhenti menjadi dokter” karena kuatir masa depan keluarga mereka terancam kalau seorang dokter yang baik bisa masuk penjara kapan saja.

Apakah ada dokter yang buruk? Pasti ada. Apakah semua dokter buruk? Tentu saja tidak. Ada banyak dokter yang kerja sampai larut malam, Sabtu dan Minggu juga, tinggalkan keluarganya dalam sekejap karena harus periksa pasien secara mendadak, dan tangani ratusan pasien setiap hari, semuanya dengan bayaran kecil. Tetapi malah kena penghinaan dari Menteri Kesehatan sendiri. Luar biasa. Presiden juga diam dan tidak mau peduli, padahal para dokter itulah yang akan mengobati dia dan keluarganya kalau jatuh sakit.

Kalau seorang pasien wafat, lalu orang tuanya marah, maka itu wajar (ada orang tua yang pasrah, ada yang menjadi marah). Tetapi apakah wajar kalau seorang dokter langsung dianggap seorang kriminal, dan dipenjarakan seperti kriminal, hanya karena ada Jaksa Penuntut yang tidak mau lepaskan kasus itu sampai berhasil penjarakan seorang dokter?

Apa pernah ada kasus seorang dokter yang kena "dugaan" malpraktek, lalu kabur ke luar negeri dengan menggunakan paspor palsu, dan membawa ratusan milyar uang negara? Setahu saya, bukan dokter yang melakukan hal seperti itu, tetapi para pejabat dan politikus yang berasal dari partai politik, berserta kawan-kawan mereka dari dunia bisnis. Para politikus dan pejabat kalau baru "diduga" melakukan korupsi, tidak langsung ditangkap polisi. Banyak yang masih bebas bertahun-tahun, dan bahkan tidak kena pencekalan ke luar negeri, dan tidak masuk DPO. Padahal korupsi mereka menghilangkan uang negara, dan secara tidak langsung, mungkin menjadi penyebab kematian ratusan ribu orang miskin yang tidak bisa berobat gratis, dengan alasan "uang negara tidak ada untuk membiayai pengobatan mereka". Jadi siapa yang jahat dan seharusnya dikejar terus oleh Jaksa Penuntut dan Polisi? Dokter atau pejabat? Kenapa dokter yang dikejar?

Kalau rakyat bicara tentang dokter, bisa marah, karena dokter mau digaji dengan baik setelah 10 tahun belajar. Orang yang komplain itu mengatakan bahwa dokter harus “mengabdi” saja tanpa
boleh dapat bayaran yang baik! Lalu kalau rakyat yang sama ketemu seorang pejabat yang bertahun-tahun sibuk mencuri uang negara, yang semestinya dipakai untuk kepentingan rakyat, maka sikap rakyat itu berbeda sekali.

Korupsinya pejabat itu mungkin saja menjadi penyebab kematian ratusan ribu orang miskin secara tidak langsung. Tapi para pejabat itu digaji lebih dari para dokter, dan dikasih banyak sekali fasilitas dan tunjangan, yang semuanya dibayar dengan “uang rakyat”. Dan untuk menjadi pejabat, cukup lulusan SMA saja. Kuliah tidak perlu, apalagi kuliah 10 tahun atau lebih sampai menjadi seorang spesialis di bidangnya.

Kalau ada pasien yang wafat, keluarga pasien bisa menuntut dokter bertanggung jawab dan bahkan dipenjarakan. Mereka tidak mau terima kenyataan bahwa saudara mereka bisa wafat setelah dibantu oleh seorang dokter. Tapi di saat banyak orang miskin wafat di kampung karena “tidak ada uang negara untuk membiayai pengobatan” mereka, pejabat tidak dituntut untuk bertanggung jawab sama sekali, dan tidak akan masuk penjara disebabkan kematian orang miskin.

Lalu bagaimana sikap rakyat saat ketemu para pejabat yang korup itu? Rakyat malah senyum-senyum, menundukkan kepala, cium tangan, dan minta foto bersama. Tidak ada rakyat yang mau suruh pejabat itu "mengabdi" pada rakyat dengan gaji yang kecil dan risiko bisa masuk penjara kapan saja. Hanya dokter yang disuruh begitu.

Apa tidak terbalik, sikap rakyat itu?

Wassalam,
Gene Netto

1 comment:

  1. Saya bukan dokter dan bukan berasal dari keluarga dokter. Tapi saya kenal dengan banyak dokter baik yang bersedia mengedukasi pasien maupun orang tua pasien, bahkan kadang tanpa dibayar. Pada dasarnya, tidak bisa menyalahkan dokter sepenuhnya, apapun kasusnya! Dan juga tidak cukup hanya menyalahkan sistem layanan kesehatan yang jauh dari ideal. Cobalah introspeksi diri masing-masing, apakah si pasien atau orang tua pasien (dalam kasus pasiennya adalah anak-anak) sudah benar-benar memperhatikan/peduli dengan kesehatannya? Salah satu cara peduli ya membekali diri dengan ilmu! Jangan sampai meninggal karena serangan jantung atau stroke, langsung menyalahkan dokter dengan alasan terlambat ditangani, padahal sudah bolak-balik si dokter mengingatkan untuk berhenti merokok atau mengkonsumsi makanan sehat, misalnya. Dalam kasus kehamilan, apakah si ibu hamil benar-benar mau belajar untuk menjalani kehamilan yang sehat atau justru cuek dengan kehamilannya, pasrah sama kata dokter, karena merasa ilmu kesehatan bukan suatu hal yang perlu dipelajari? Dalam setiap kasus, pastilah ada kontribusi kesalahan si pasien sendiri, karena sesungguhnya pasien lah yang bertanggung jawab penuh terhadap badannya, termasuk kesehatannya. Dokter hanya sebatas memberikan professional judgment/opinion berdasarkan ilmu yang dia miliki. Sebagai pasien, seharusnya jangan lempar tanggung jawab begitu saja ke dokter hanya karena sudah membayar jasa dokter!

    ReplyDelete