Tuesday, November 12, 2013

Menjadi Muslim Seperti Orang yang Dikasih Mobil Mercedes Benz

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Minggu kemarin saya diskusi dengan orang bule yang tidak percaya pada Tuhan (ateis), dan karena itu, dia tidak bisa terima Islam. Katanya dia sudah baca sedikit tentang ajaran Islam, dan langsung dapat beberapa hal yang tidak dia senangi (dalam pengertian dia yang sangat terbatas), maka dia menjadi malas belajar lebih dalam. Saat saya ceritakan pertemuan itu di Facebook, banyak orang minta saya menulis seluruh isi dari diskusi itu, atau membuat bukunya. Karena belum sempat menulis buku seperti itu, saya diminta berikan poin terpenting dari diskusi itu. Salah satu poin yang sangat masuk hati dia adalah perumpamaan sebagai berikut.

Usaha untuk menerima Islam sama seperti menerima mobil baru, misalnya Mercedes Benz. Setiap orang di suatu komunitas dikasih satu mobil baru secara gratis dan disuruh pakai untuk kepentingan mereka. Mereka tidak perlu bayar dan tidak ada kewajiban apapun untuk balas budi dan sebagainya. Tinggal terima saja dan pakai, jadi banyak orang langsung ambil dan menikmatinya. Lalu beberapa orang yang dikasih mobil2 baru itu masuk ke dalam. Mereka melihat radio. Kok tombol Volume di radio ada di sebelah kanan, padahal di radio dalam mobil lama mereka, tombol itu di sebelah kiri. Bisa bingung nanti pas bawa mobil, dan salah pegang tombol. Berarti mobil ini ada “kelemahan” yang tidak menyenangkan. Tidak sesuai dengan harapan dan perkiraan mereka, atau tidak sesuai dengan apa yang sudah biasa bagi mereka.

Dalam kondisi itu, ada dua pilihan. Terima mobilnya, dan pakai dulu, sambil belajar terus, dan berusaha memahami kenapa ada yang berbeda atau tidak sesuai dengan harapan. Atau, menolak seluruh mobilnya, dan kirim kembali ke toko, dengan alasan ada yang tidak disenangi di dalamnya.

Mana yang lebih masuk akal? Terima saja, atau kembalikan seluruhnya? Dalam konteks belajar agama, berarti mereka memilih untuk kembalikan seluruhnya, dan mengatakan tidak suka satu hal jadi tidak mau lihat bagian yang lain, dan tidak mau coba dulu. Hanya karena mereka tidak suka suatu hal yang cukup sepele. Sebenarnya lebih masuk akal kalau mereka pakai dulu mobilnya, merasakan nikmatnya dan manfaatnya, sambil berusaha untuk belajar lebih dalam dan memahami kenapa ada bagian yang berbeda.

Saat ini mereka tidak suka. Mungkin setelah lebih paham, ada kemungkinan pendapat mereka bisa berubah. Tapi kalau seluruh mobilnya dikembalikan langsung dari awal, bagaimana mungkin mereka bisa merasakan nikmatnya dari bagian2 yang lain, yang baik dan cocok? Jadi kalau ada orang yang punya perasaan sedikit tertarik pada Islam, dan sudah belajar cukup banyak, tidak salah bagi mereka untuk “menerima Islam” dulu sebagai agama yang baik, dan coba memahami dari dekat, tanpa harus secara automatis senangi segala sesuatu di dalam Islam. Boleh dipelajari bertahap. Orang itu bisa saja masuk Islam dulu, atas sebatas mendekati Islam dengan sikap yang baik (tidak berburuk sangka terus). Tapi yang penting adalah bagaimana mereka bisa merasa bahwa memang ada nikmatnya dalam Islam, jadi boleh diterima dulu, sambil belajar.

Ada perumpamaan satu lagi: Orang yang nonton tivi. Kalau dipilih 100 orang secara acak, apa mereka bisa menjelaskan bagaimana caranya tivi berfungsi? Bagaimana caranya tayangan bola dari Inggris bisa muncul dalam sebuah kotak di kamar mereka? Ada kamera, signal, siaran ke satelit, penyiaran di sini, dan ada tivi yang terima. Tapi bagaimana caranya berfungsi seperti itu? Bisa dijelaskan? Signal berubah menjadi gambar bergerak. Kok bisa?

Mungkin dari 100 orang, 99 atau bahkan semuanya tidak bisa menjelaskan. Apakah karena “belum mengerti” mereka harus dilarang menikmatinya? Atau apa boleh saja nonton bola dulu dan menikmatinya, dengan rasa yakin “Ada ahli yang mengerti di suatu tempat”, dan kalau perlu, mereka bisa minta penjelasan dari ahli tersebut? Kalau mereka cerdas, mereka akan nonton saja dulu, karena terasa ada nikmatnya. Kalau mereka harus pahami semuanya sebelum boleh nonton, mungkin beberapa tahun bisa lewat tanpa mereka boleh nonton. Apa itu lebih baik? Atau lebih baik rasakan nikmatnya dulu, sambil belajar?

Dalam konteks agama, orang bule itu salahkan orang yang lahir sebagai Muslim dan kemudian bisa tetap “hidup sebagai Muslim” tanpa bisa menjelaskan A-Z yang berkaitan dengan syariah, fiqih dan tafsir. Kalau bukan seorang ahli agama, dan belum pahami segala sesuatu, masa mau beragama Islam terus? Kalau orang Muslim melihat ada hal yang tidak disenangi, kok tidak langsung tinggalkan Islam dan jadi ateis seperti dia? Sikap dia itu sama dengan menyalahkan orang yang nonton sepak bola siaran langsung. Kalau tidak sanggup menjelaskan caranya sebuah “signal” bisa menjadi “gambar”, dilarang nonton! Kalau tidak mengerti seluruh dari isinya Islam, dilarang beragama Islam. Dia anggap itu lebih baik.

Tapi saya jelaskan malah lebih baik “nonton bola dulu”, karena sudah terasa ada nikmatnya juga. Itu yang dilakukan orang yang beragama Islam. Dirasakan nikmatnya, jadi mereka beragama, dan mengajarkan anak mereka untuk beragama juga. Kalau belum menjadi ahli, tidak masalah. Semua orang bisa merasakan nikmatnya sambil belajar. Orang bule itu kirim email kepada saya besok harinya. Katanya dia tidak bisa lupa perumpamaan tentang mobil Mercedes Benz. Boleh saja dipakai dulu, sambil belajar tentang hal2 yang tidak disenangi. Tidak perlu dikembalikan ke toko alias ditolak semuanya. Katanya dia menjadi semangat untuk belajar Islam lebih dalam sekarang, walaupun masih ada hal yang tidak disenangi. Dia tidak akan berhenti, dan mau berusaha untuk mencari nikmatnya dulu, sambil belajar terus. Semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayah kepadanya.

Semoga penjelasan ini juga bermanfaat buat teman2 lain yang Muslim dari lahir.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment