Thursday, January 23, 2014

Kekayaan Yang Kita Miliki Berasal Dari Allah


Assalamu’alaikum wr.wb.,
Ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak pernah kasih uang kepada keponakannya yang anak yatim. Uangnya dipakai dulu untuk membangun usaha, dan diniatkan akan bantu saudara yang yatim itu NANTI setelah menjadi kaya. Rasanya saya sudah ratusan kali dengar komentar serupa dari orang Muslim, walaupun 100% terbalik dengan apa yang diajarkan oleh Nabi kita. Rasulullah SAW malah merasa “tidak tenang” kalau simpan uang di rumah, tanpa niat mau pakai uang itu untuk sesuatu yang penting. Memang kita bukan “nabi” jadi bisa dipahami kalau banyak orang takut akan jatuh miskin, karena tidak tahu masa depannya seperti apa.

Tapi di sisi lain, dari pengalaman saya, kebanyakan orang cukup berlebihan dengan sikap “hati-hati” itu. Hasilnya adalah mereka simpan uang dalam jumlah yang besar, dan tidak mau membantu anak yatim dan dhuafa. Alasannya: takut uangnya habis (jadi miskin). Alasan lain: uang itu “milik mereka” (hasil usaha keras mereka). Kalau dipahami, semua uang di seluruh dunia adalah milik Allah. Semua atom dalam tubuh kita dan segala sesuatu yang berada di sekitar kita juga milik Allah. Tapi kebanyakan manusia tidak mau sadari hal itu. Kita merasa bahwa orang kaya menjadi kaya karena dia sendiri yang pintar atau kerja keras. Tidak juga. Banyak orang pintar tapi tidak menjadi kaya. Banyak orang kerja keras tapi masih miskin. Jadi selalu ada “faktor lain” di belakang kekayan seorang manusia.

Dari tingkat pembantu rumah tangga sampai tingkat manager, saya sering dengar komentar yang sama: “Saya akan lebih banyak bersedekah SETELAH menjadi kaya”. Tapi berapapun kekayaan yang Allah kasih kepada mereka, selalu terasa “belum cukup” agar orang itu bisa mulai bersedekah. Office boy merasa hidup pas-pasan (makanan, rokok, dan baju sudah mahal). Manager juga merasa pas-pasan (mau beli mobil lagi, mau renovasi rumah, mau umrah lagi, dsb.). Dan banyak “orang biasa” di antara tingkat manager dan office boy itu juga tidak mau bersedekah karena selalu hemat uang untuk beli baju baru, beli motor baru, beli HP baru, dan banyak sebab yang lain. Jadi berapapun yang mereka dapatkan dari Allah, selalu “belum cukup” untuk membuat mereka mulai peduli pada anak yatim dan dhuafa. Semuanya berpikir harus menjadi kaya dulu, baru membantu anak yatim SESUDAH KAYA.

Ajaran dari Rasulullah SAW adalah yang sebaliknya. Daripada utamakan urusan pribadi dan usaha dulu, berikan kepada anak yatim dan dhuafa SEKARANG, dengan berharap akan dapat balasan berlipat ganda dari Allah (karena Allah berjanji seperti itu dalam ayat Al Qur'an!). Berikan sebisanya kepada anak yatim. Dan minta mereka mendoakan anda agar sukses, sehingga anda bisa bantu mereka lebih.

Kalau belum berani membantu banyak orang, cari satu anak yatim yang dekat, yang masih saudara atau tinggal dekat rumah. Kasih 50 ribu, dan janjikan bulan depan akan kasih lebih kalau sanggup. Bulan depan coba kasih 100ribu, lalu 200rb, dan begitu seterusnya sampai merasa dia sudah bisa hidup secara baik. (Baru cari yang lain.)

Tanya dia ingin dibelikan apa. Misalnya, dia mau belajar komputer. Berjanji untuk beli komputer bagi dia kalau dapat uangnya. Dalam beberapa bulan ke depan, kalau misalnya ada untung 4 juta (tambahan rezeki di atas gaji yang biasa), pakai 2 juta dulu untuk beli komputer bagi dia (penuhi janji), dan sisanya buat diri sendiri. Jangan pakai sistem yang dipakai kebanyakan orang, yaitu 3,990,000 rupiah dihabiskan dulu untuk diri sendiri, lalu kasih 10 ribu saja kepada anak yatim, sambil bilang, “Maaf, uang aku hanya sedikit ya!” Saya yakin kita semua punya kemampunan masing2 untuk membantu satu anak yatim atau dhuafa setiap bulan. Tapi kebanyakan orang atas pengakuan sendiri tidak melakukannya.

Saya punya janji seperti yang dijelaskan di atas itu dengan seorang anak yatim. Saya janji saya akan bayar seluruh biaya sekolah pilot untuk dia karena dia ingin menjadi pilot. Totalnya 700 juta. Jadi tentu saja saya harus menjadi kaya dulu dan punya uang lebih dari itu. Dan saya berani membuat janji itu dalam keadaan tidak punya pekerjaan dan hidup dari pinjaman, bukan dalam kondisi sudah kaya.

Ada yang bertanya, kalau itu memang cara yang bagus, kenapa saya sendiri masih pengangguran dan tidak kaya? Bukannya Allah berjanji untuk balas dengan berlipat ganda? Iya, betul. Allah berjanji untuk balas, tapi tidak berjanji untuk balas pada minggu ini! Terserah Allah kapan Dia akan penuhi janji-Nya. Tapi harus diyakini, bahwa Allah tidak pernah ingkari janji-Nya. Mungkin saja ini suatu ujian bagi saya karena Allah ingin melihat apa saya masih bisa peduli pada anak yatim walaupun saya sendiri dalam keadaan “miskin”. Dan kalau terbukti saya bisa dipercayai untuk menjadi “agen” (penyalur dana) bagi Allah, baru Allah akan menjadikan saya lebih kaya dari semua orang lain. Mungkin saja begitu.

Tetapi untuk sementara, karena saya berani membuat janji dengan anak yatim itu, dia semangat mendoakan saya setiap hari, karena dia masih sering merasa pesimis bisa dapat uang sebanyak itu. Jadi saya berikan dia ceramah motivasi, dan berjanji akan bayar semuanya, kalau saya sudah kaya. Dari janji itu, saya dapat doa dari dia terus, dan sering terasa saya dapat kemudahan dalam banyak sekali urusan (walaupun belum menjadi kaya).

Semua orang Muslim yang lain bisa melakukan hal yang setara, dan lebih baik dilakukan untuk anak yatim dan dhuafa yang paling dekat dulu. Apalagi kalau ada saudara kandung yang yatim dan belum dibantu. Silahkan coba dulu dan yakinlah bahwa Allah tidak pernah ingkari janji-Nya.

245. Siapakah yang mau memberi PINJAMAN kepada Allah, pinjaman yang BAIK (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan MELIPAT GANDAKAN pembayaran kepadanya dengan LIPAT GANDA yang BANYAK. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.
(QS. Al-Baqarah 2:245)

Rasulullah SAW bersabda, “Aku dan pemelihara anak yatim di surga seperti ini (dan beliau memberi isyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya, lalu membukanya.” (HR. Bukhari, Turmidzi, dan Abu Daud)

Semoga bermanfaat. Wabillahi taufik walhidayah.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment