Wednesday, February 26, 2014

Anak Tumor Mata Telah Meninggal Dunia



Assalamu’alaikum wr.wb.,
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Berita duka. Bagi teman2 yang bantu dengan sumbangan untuk Arya, anak miskin berusia 10 tahun dari Bogor, yang kena tumor mata sebesar melon, saya mau informasikan bahwa dia meninggal dunia hari ini di rumahnya.

Kemarin operasi untuk angkat tumornya sempat ditunda karena tumor membesar setelah dapat radiasi dan kemoterapi (seharusnya mengecil). Dan ditunda lagi karena ICU Anak penuh. Dan ditunda lagi karena ICU Anak harus disterilisasi, jadi tidak bisa dipakai untuk seminggu.

Setelah menunggu operasi berminggu-minggu, Arya sudah meninggal dunia duluan, sehari setelah dibawa pulang dari rumah sakit oleh bapaknya. Tapi kemarin, waktu rencana operasi masih dibahas, dokter juga tidak bisa perkirakan Arya akan selamat dari operasi karena kondisi tumornya sangat sulit untuk dioperasi (karena membesar terus). Perlu dipahami bahwa Arya dibawa ke rumah sakit dalam kondisi sudah cukup kritis. Orang tua sebelumnya tidak bawa dia berobat sesuai jadwal awalnya karena tidak ada biaya transportasi atau penginapan. Kalau dari awalnya, di saat tumor masih kecil, sudah langsung berobat mungkin hasilnya akan berbeda. Tapi begitulah kehidupan bagi orang miskin di Indonesia.

Pasien seperti mereka tidak punya pilihan selain menunggu. Fasilitas dari pemerintah untuk membantu orang miskin minimal sekali. Yang menjadi masalah utama untuk kasus seperti Arya adalah orang tua yang harus berhenti kerja untuk bawa anaknya ke RS, lalu tidak ada nafkah hidup untuk orang tua itu dan keluarga yang ditinggal, dan tidak ada tempat penginapan di Jakarta bagi mereka. Jadi dari pandangan mereka, serba salah kalau bawa anak berobat ke Jakarta dari daerah. Akhirnya setelah sudah mulai kritis, baru mereka memaksakan diri untuk datang. Tapi kadang, seperti dalam kasus Arya, sudah telat.

Arya telah meninggal dunia di rumah bersama keluarganya. Masih ada banyak pasien lain yang antrian operasi, dan ini hanya di satu rumah sakit, karena Dr Nina adalah teman saya di situ dan minta tolong. Berapa pasien di berapa rumah sakit yang lain sedang menunggu juga?

Pemerintah dan pejabat sibuk korupsi. Rakyat menderita. Kalau terjadi gempa bumi atau gunung api yang meletus, Presiden dan pemerintah akan bertindak (lumayan) cepat, dan akan ada tindakan nyata. Tapi kalau anak miskin perlu operasi, jangan berharap akan ada bantuan cepat dari pemerintah. Bantuan yang lambatpun juga belum tentu akan muncul.

Begitulah negara ini. Negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, dan sekaligus termasuk yang paling korup di dunia juga. Dan anak yang miskin dibiarkan wafat begitu saja karena ternyata anak Muslim yang yatim dan miskin tidak punya nilai tinggi di mata pejabat Muslim. Yang penting anaknya si pejabat sendiri yang selalu dapat bantuan semaksimal mungkin (dengan uang korupsi) agar bisa berobat dan kuliah di luar negeri. Anak bangsa yang miskin kalah penting. Lalu banyak orang lain dicap “tidak nasionalis” oleh pejabat yang sama. Sedangkan mereka sendiri tidak percaya dan tidak peduli pada rumah sakit dan dokter dalam negeri, atau terhadap sekolah dan universitas dalam negeri yang tidak dapat dukungan yang semestinya. Siapa yang tidak nasionalis sebenarnya?

Foto terakhir Arya bisa dilihat di sini kalau mau: http://bit.ly/LW1xVg (Tapi hati-hati, kalau tidak berani melihat tumor besar tumbuh di kepala seorang anak, jangan dibuka link itu. Dokter saja menangis, apalagi orang yang tidak biasa melihatnya!!)

Kata Dr Nina, teman saya di RSCM, pasien baru ada banyak yang lain. Semuanya pasien miskin dari daerah, anak dan dewasa, dan hanya bisa berobat di Jakarta karena kemoterapi, radiasi dan dokter spesialis ada di sini. Jadi mau tidak mau, mereka ke sini untuk berobat…. tanpa dana….

Selamat istirahat Mas Arya. Semoga anak miskin yang lain bisa dapat nasib yang lebih baik… Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment