Wednesday, April 23, 2014

Kenapa Kasus Anak JIS Lebih Besar Daripada Kasus Anak Lain?


Assalamu’alaikum wr.wb.,
Teman2, Tadi saya nonton pembahasan kasus pelecehan seks di TK JIS, dalam acara Indonesian Lawyers Club di TV One. Setelah itu saya berkomentar di Facebook page saya tentang perkara itu. Dan setelah itu saya mulai merenung lebih dalam.

Kasus ini menjadi besar sekali. Bahkan masuk berita internasional. Anak TK sudah jelas menjadi korban, dan layak untuk dapat perhatian dan bantuan. Tapi selama beberapa tahun, saya sering sebarkan berita tentang anak sekolah lain yang diperkosa, baik oleh anak lain maupun oleh orang dewasa. Kadang saya post berita baru setiap minggu di Facebook saya karena memang ada begitu banyak berita. Anak SD, SMP dan SMA diperkosa bergilir, setiap minggu, di seluruh Indonesia. Seringkali oleh kenalan Facebook, atau teman sekolah, atau pacar sendiri.

Apa masuk TV One dan Indonesia Lawyers Club bahwa anak sekolah di seluruh Indonesia sedang diperkosa secara rutin? Tidak. Apa masuk berita internasional bahwa anak Indonesia tidak aman dari pemerkosaan? Tidak. Saya sering sebarkan info dan berita buruk seperti itu bukan karena saya suka hal negatif, tapi karena saya sangat ingin semua orang dewasa di Indonesia menjadi sadar bahwa sebuah bencana sedang terjadi di negara ini.

Katanya, kalau taruh kodok di dalam panci dan panaskan airnya, dia akan diam di situ sampai mati direbus, karena tidak sadar suhu air sedang naik. Tapi kalau ditaruh di dalam air mendidih, dia akan langsung loncat keluar. Sama seperti pemerkosaan anak sekolah di Indonesia. Kalau setiap minggu tambah satu kasus, dua kasus, tiga kasus, sepertinya semua orang dewasa tidak sadar dan merasa tidak ada yang perlu dilakukan. Dan kalau disuruh bertindak, pasti akan mengatakan “Apa boleh buat?” karena tidak tahu mesti lakukan apa.

Tapi ketika satu bocah di JIS diperkosa, menjadi berita paling heboh satu negara, dan bahkan ke manca negara. Ketika ribuan anak (atau mungkin juga puluhan ribu anak) diperkosa bergilir setiap tahun di semua propinsi, tidak menjadi berita. Bahkan statistik tentang jumlah anak yang pernah diperkosa setiap tahun belum pernah saya lihat di berita. Apa ada suatu pihak yang kumpulkan? Siapa? Polisi? KPAI? Kemensos? Siapa?

Lalu siapa yang bisa ajak masyarakat bersatu dan lebih memperhatikan nasib anak sekolah sehingga aman dari pelecehan seks dan pemerkosaan? Tidak ada Menteri Urusan Anak di sini, padahal atau 80 juta anak di Indonesia. Semua menteri sibuk dengan urusan masing2, dan sekian ribu atau sekian puluh ribu anak sekolah di Indonesia diperkosa setiap tahun. Itu hanya yang diperkosa. Yang kena macam2 bentuk pelecehan seks dan bentuk kekerasan yang lain berapa banyak?

Siapa yang akan bersuara atas nama mereka? Mereka juga korban. Tapi nasib mereka tidak dibahas di media nasional dan internasional. Dibutuhkan satu bocah di TK internasional di Jakarta sehingga pelecehan seks terhadap anak menjadi berita sangat besar. Bagaimana dengan anak2 lain, yang juga diperkosa, tetapi tidak akan dapat bantuan apapun dari siapapun? Mereka tidak akan dapatkan terapi psikolog (karena orang tua tidak bisa bayar). Dan pelaku belum tentu ditangkap atau dapat terapi juga. Pelaku yang masih anak sekolah mungkin ditangkap dan dipenjarakan sekian tahun, lalu dilepaskan begitu saja… untuk memperkosa anak yang lain? Yang bisa mengubah perilaku mereka apa? Dan siapa yang akan membantunya? Di dalam penjara, sangat mungkin mereka menjadi lebih jahat lagi…

Sungguh malang nasibnya anak Indonesia. “Air di panci sedang dipanaskan”, yang artinya ada banyak kasus pelecehan seks terhadap anak kecil di seluruh negara tapi terjadi satu-satu di banyak tempat sehingga mungkin tidak disadari. Dan orang dewasa yang mesti sadar malah tenang saja dan merasa bahwa tidak ada masalah, karena bukan anak mereka sendiri yang menjadi korban. Anak tetangga tidak dipikirkan. Juga tidak jelas tindakan apa yang perlu dilakukan. Jadi orang tua diam saja, dan berharap orang lain akan memikirkan masalah ini dan mencari solusi.

Tapi ketika anak di sekolah internasional menjadi korban, berita langsung menjadi besar karena dianggap sekolah itu paling baik dari semua. Tapi bagaimana dengan semua anak lain, yang tidak masuk sekolah internasional? Ketika ada kasus anak sekolah diperkosa bergilir SETIAP MINGGU, tidak ada yang merasa kejadian2 itu luar biasa dan perlu dikomentari. Tidak ada yang bertindak. Tidak ada yang panggil Menteri Pendidikan, Polisi, psikolog anak, KPAI, Komnas Perlindungan Anak dan bertanya Live di tivi “Kenapa hal ini bisa terjadi terhadap anak Indonesia?” Hanya satu anak di sekolah elit yang dapat perhatian yang begitu besar.

Mungkin ada banyak orang tua dan guru yang pernah baca tulisan saya tentang pemerkosaan anak sekolah yang sering saya sebarkan, tetapi mereka abaikan saja, atau tegor saya dengan mengatakan “Jangan bahas hal negatif terus”. Dan sekarang orang yang sama mungkin malah sibuk sendiri komentari kejadian pelecehan seks di JIS itu. Nasib anak Indonesia yang masuk sekolah biasa sepertinya tidak cukup penting untuk menarik perhatian 100 juta orang tua di Indonesia. Anak-anak yang biasa itu boleh-boleh saja diperkosa bergilir setiap minggu, tanpa ada harapan bisa dapat perhatian dari seluruh masyarakat Indonesia. Hanya anak kaya di sekolah elit yang akan dapatkan perhatian seperti itu…

Air di panci sedang dipanaskan, dan kodok masih diam karena tidak merasa ada masalah. Artinya, orang tua masih diam saja, dan tidak terkejut membaca berita terus tentang pemerkosaan anak sekolah di mana-mana. Belum terasa ada masalah. Bagaimana nasibnya generasi mendatang? Dan kapan keadaan ini bisa berubah?
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Mr. Gene Netto
Guru bahasa Inggris di Jakarta sejak 1996.
Email: genenetto [@] gmail.com

No comments:

Post a Comment