Sunday, April 20, 2014

“Nama Baik” Di Sekolah Swasta



[Pelecehan Seks di TK JIS, Artikel No.3]

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Saya tidak habis memikirkan kalimat ini dari berita tentang TK JIS:

"Tapi dari sms/email yang masuk melarang semua orangtua berkumpul atau berbicara ke pemerintah tanpa ada izin dari JIS. Ini membuat kami terhambat karena kami mau memberikan perlindungan darurat kepada anak," ucap Kaligis.

Pihak sekolah MELARANG orang tua untuk bicara dengan pemerintah. Kenapa? Apa yang akan terjadi kalau orang tua bicara dengan pemerintah? Rahasia apa yang perlu dijaga begitu ketat? TK JIS apa sama dengan BIN, CIA, NSA dan lain-lain yang punya rahasia negara yang perlu dijaga ketat?

Sikap berlebihan itu berasal dari mana? Dari rasa sedih, malu dan wajib tanggung jawab terhadap musibah yang menimpa anak di sekolah mereka? Atau dari rasa bahwa mereka mesti dianggap kebal hukum dan “nama baik sekolah” tidak boleh diganggu sama sekali? bahkan mereka akan bayar pengacara yang mahal untuk bantu mengancam orang tua yang berani buka mulut dan bicarakan sekolah. Digunakan pasal “Pencemaran Nama Baik” agar orang tua menjadi takut.

Inilah sikap BISNIS di wilayah pendidikan. Saya jadi ingat kejadian kasus2 pelecehan seks yang terjadi di Gereja Katolik. Kelangsungan Gereja dan nama baik Gereja dianggap lebih utama dari keselamatan anak kecil. Dari satu sisi, mungkin bisa dipahami sedikit, karena Gereja merasa ada misi untuk “menyelamatkan manusia”. Mereka yakin pendeta pedofil sedikit, jadi tidak mau sampai kejadian dari beberapa pelaku itu bisa merusak Gereja. Pemikiran yang sangat buruk, tapi ada landasan “penyelamatan” yang lebih luas di belakangnya, jadi minimal bisa dipahami sedikit kenapa mereka berpikir begitu (walaupun tetap salah).

Tapi untuk TK JIS, yang sudah mulai menunjukkan sikap yang sama, tidak ada misi penyelamatan nyawa umat manusia di belakang tindakan mereka sekarang. Ada tujuan BISNIS semata. Jangan sampai rencana bisnis mereka diganggu oleh berita yang buruk, yang bisa ganggu profit masuk. Profit selalu akan menjadi prioritas utama, dan kalau pengakuan dari orang tua akan mengganggu profit, maka orang tua siswa bisa berubah dari mitra menjadi musuh dalam sekejap.

Di Korea, seorang kepala sekolah baru saja bunuh diri setelah 200 siswa menghilang dan diperkirakan wafat dalam kapal feri.  Dia merasa begitu bersalah (padahal tidak bersalah) karena tidak berhasil menjaga keselamatan mereka. Di JIS, anak berusia 5 tahun diperkosa dan mungkin akan terganggu seumur hidup oleh kejadian buruk itu. (Dari satu sisi, lebih enak wafat daripada mengalami trauma selama puluhan tahun). Para pemimpin JIS bukannya harus bunuh diri juga seperti kepala sekolah Korea, tapi minimal mereka bisa menunjukkan rasa bersalah, menyesal, dan menjadi terbuka sekali, dengan cara bekerja sama secara maksimal dengan polisi, pemerintah dan orang tua untuk membuka kasus ini secara total. Ini penting sekali agar kebenaran dari kasus ini bisa diketahui, dan bisa menjadi pelajaran buat kita semua, supaya tidak terjadi di tempat lain juga.

Mereka malah menjadi marah dan sibuk “menjaga diri”. Inilah sikap BISNIS pendidikan. Sayangnya, orang tua yang kaya masih belum paham juga bahwa sekolah swasta adalah BISNIS, dan bukan tempat yang utamakan keselamatan siswa dan pendidikan di atas segala-galanya. Bagi sekolah swasta, PROFIT akan selalu menjadi pemikiran pertama…

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

Artikel terkait kasus Pelecehan Seks di TK JIS
1. Sekolah Swasta Merusak Konsep Komunitas Sekolah Dengan Outsourcing
2. Sekolah Swasta Outsourcing, Bagaimana Dengan Sekolah Negeri?
3. “Nama Baik” Di Sekolah Swasta

No comments:

Post a Comment