Sunday, April 20, 2014

Sekolah Swasta Merusak Konsep Komunitas Sekolah Dengan Outsourcing



[Pelecehan Seks di TK JIS, Artikel No.1]

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Minggu ini masyarakat Indonesia menjadi kaget dengan kasus pelecehan seks terhadap anak kecil di TK JIS di Jakarta Selatan. Semua orang bertanya-tanya, kenapa bisa terjadi di sekolah swasta yang mahal seperti itu? Setelah saya merenung, saya anggap bahwa salah satu kesalahan paling besar adalah sikap sekolah swasta yang utamakan bisnis dan profit di atas keselamatan siswanya. Staf cleaning service adalah “staf luar” yang disewakan dari perusahaan penyedia jasa. Mereka bukan staf fulltime di sekolah swasta itu.

Sekolah swasta adalah bisnis yang punya tujuan “profit bagi pemilik sekolah”. Urusan pendidikan selalu nomor dua, karena sekolah butuh uang. Sekolah swasta tidak mau punya terlalu banyak karyawan tetap. Satpam, office boy, cleaning service, staf kantin, dan sebagainya, seringkali didapatkan dengan sistem yang disebut “outsourcing” alias disewa dari pihak luar. Staf outsourcing itu lebih murah. Sekolah tidak perlu memberikan hak apapun karena hanya bayar ke perusahaan penyedia jasa.

Kalau ada staf yang hamil, sakit, sering telat, kontrak mau habis, sering komplain karena gaji tidak naik, komplain tentang kondisi kerja, dan seterusnya, maka bukan urusan sekolah. Sekolah minta 8 staf cleaning service, dan terima siapa saja yang dikirim. Dan kalau ada masalah, tinggal telfon dan minta satu orang bermasalah diganti. Semua dilakukan tanpa pengecekan oleh ahli pendidikan terhadap latar belakang mereka. Dianggap urusan perusahaan penyedia jasa untuk memeriksa staf itu. Tapi PT penyedia jasa yang menyaring staf itu juga tidak punya latar belakang di bidang pendidikan. Yang penting bagi dia, staf dikirim, pembayaran diterima.

Hasilnya dari sistem outsourcing ini? Dalam sekian tahun, semua staf yang kerja di sekolah itu bisa ganti terus-terusan dan latar belakang dari semuanya tidak diketahui karena tidak ada yang kenal mereka. Keluarga mereka, tempat tinggal mereka, hobi dan kesukaan mereka, dan sifat pribadi mereka tidak diketahui oleh orang lain di sekolah, karena semuanya saling tidak kenal, karena bukan karyawan fulltime di sekolah. Mereka adalah "orang luar" yang kerja untuk sementara di sekolah itu.

Pelaku yang kriminal bisa siapa saja, termasuk seorang guru atau kepala sekolah. Tapi dengan adanya sistem outsourcing ini, orang yang bermasalah bisa dapat izin masuk ke sekolah swasta, tanpa perlu menjadi bagian dari “komunitas sekolah” seperti guru yang kerja fulttime selama bertahun-tahun di satu sekolah. Jadi outsourcing ini adalah sebuah sistem BISNIS yang masuk ke ranah pendidikan dan menjadi faktor besar kenapa ada orang jahat yang bisa masuk ke dalam sistem pendidikan, tanpa diketahui.

Alhamdulillah banyak sekali cleaning service di banyak sekolah swasta adalah orang biasa, yang berbaik hati dan beragama, yang hanya ingin kerja saja. Jadi setahu kita, kasus seperti ini belum banyak terjadi karena kebetulan, banyak orang cleaning service adalah orang baik. Tetapi karena ada sistem outsourcing ini, hanya perlu menunggu saja sampai kejadian kriminal seperti pelecehan seks, penculikan dan sebagainya terulang lagi. Orang luar yang tidak punya rasa komunitas dan kepemilikan terhadap sekolah dipersilahkan masuk, karena alasan bisnis. Profit bagi pemilik menentukan bahwa orang itu boleh masuk, dan staf fulltime yang ingin berdedikasi terhadap satu tempat kerja malah dipecat.

Apa keadaan psikologis staf luar itu diperhatikan? Kalau mereka staf fulltime di sekolah, dan diinterview oleh kepala sekolah dan staf lain, dan dikenal setiap hari oleh semua guru dan siswa yang anggap mereka bagian dari "keluarga sekolah" maka dalam waktu singkat, masalah2 dengan orang tertentu bakalan ketahuan. Anak sekolah sangat memperhatikan perilaku orang dewasa di sekitar mereka, terutama kalau sering ketemu. Tapi kalau mereka orang luar, staf outsourcing yang berganti terus, saya yakin mayoritas dari guru dan anak di sekolah itu tidak tahu nama2 staf itu. Staf fulltime punya rasa kepemilikan dan tanggung jawab untuk menjaga suasana komunitas sekolah. Staf outsourcing tidak!

Di lingkungan sekolah, terutama tingkat SD dan TK, semua GURU PROFESIONAL merasa ada kewajiban untuk "menjaga siswa”. Kalau melihat orang yang tidak dikenal di sekolah, PASTI akan ditanyakan siapa dia dan kenapa berada di sekolah. Tapi kalau untuk cleaning service yang ganti terus, dan tidak dikenal, para guru hanya akan melihat seragam saja, lalu abaikan mereka. Padahal seharusnya guru menjaga semua siswa dari semua bentuk gangguan dan bahaya, terutama dari orang dewasa yang tidak dikenal.

Outsourcing adalah praktek bisnis yang umum di tempat bisnis, tapi bukan suatu kebijakan yang umum di dalam bidang
PENDIDIKAN. Sekolah swasta melakukan itu karena mengikuti pola pikir bisnis. Sebaliknya, sebuah sekolah negeri yang biasa akan mengikuti pola pembinaan dan penjagaan terhadap siswa yang berasal dari sistem pendidikan. Semua orang dewasa yang masuk sekolah dikenal dan kerja lama di situ, akan menjadi bagian dari komunitas sekolah.

Banyak sekolah swasta sedang cari guru baru. Kenapa? Karena guru lama mengundurkan diri. Mereka tidak tahan kerja di tempat itu lagi, biasanya karena masalah managemen sekolah yang buruk. Sekolah tidak perlu peduli. Tidak perlu introspeksi. Tinggal pasang iklan dan terima 40 guru baru, tapi dengan gaji yang lebih rendah tentu saja!! Staf baru selalu lebih murah. Jadi sekolah swasta tidak perlu peduli pada rasa komunitas sekolah, karena tujuan utama mereka adalah profit dan pendidikan nomor dua.

Jangan salah paham. Tidak berarti SEMUA sekolah swasta begitu. Tentu saja harus ada sekolah yang baik dan bagus yang bisa tahan guru yang sama selama beberapa tahun karena guru senang kerja di situ. Dan itu bisa terjadi karena sekolah itu mencari KESEIMBANGAN antara kebutuhan bsinis dan kebutuhan pendidikan. Tapi kalau mulai lebih berat ke bisnis, hal2 buruk akan mulai terjadi. Dan sekarang salah satu efek samping terbukti. Outsourcing memberikan izin kepada orang jahat masuk ke sekolah.

Apapun yang mau dikatakan, saya tetap anggap sekolah swasta 100% salah karena membuka pintunya terhadap orang luar, hanya untuk kejar untung sekian juta saja lewat outsourcing. Dan sekarang hanya ada dua kemungkinan. JIS akan mengaku bersalah, minta maaf sedalam-dalamnya, dan berusaha mendukung investigasi, lalu memperbaiki sistem managemen mereka. Atau, mereka anak naik darah, menyerang orang tua dan pihak2 lain, dan salahkan semua orang kecuali diri sendiri. Kalau yang terjadi adalah nomor dua, itu disebabkan mereka marah keburukan managemen mereka terbongkar dan ketahuan oleh publik. Ada pengaruh langsung terhadap penghasilan sekolah. Dan sekolah mereka itu adalah sebuah BISNIS.

Kalau orang tua mau dukung privitasi sekolah terus, dan dukung perkembangan sekolah swasta di mana2 seperti sekarang, ini salah satu hasilnya. Semoga orang tua bisa mulai introspeksi.

Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene

Artikel terkait kasus Pelecehan Seks di TK JIS
1. Sekolah Swasta Merusak Konsep Komunitas Sekolah Dengan Outsourcing
2. Sekolah Swasta Outsourcing, Bagaimana Dengan Sekolah Negeri?
3. “Nama Baik” Di Sekolah Swasta


No comments:

Post a Comment