Tuesday, June 10, 2014

Pengaruh Nonton Video Porno, 5 Anak SD Disodomi Anak SD yang Lain



Minggu baru. Berita baru anak sekolah disodomi.
Biasanya anak besar atau dewasa yang menyodomi, tapi kali ini pelaku juga anak SD kelas 3. Habis nonton video porno di Warnet, dia menajak teman sekolah bermain, lalu disodomi, dan bahkan bambu juga dimasukkan ke dubur korban.
Setiap minggu ada berita serupa. Anak SD disodomi, anak lain diperkosa bergilir. Tapi hampir tidak ada yang berubah.
Apa pernah ada pemilik warnet yang ditangkap polisi dan dipidanakan karena “menyediakan sarana pornografi bagi anak sekolah”? Apa kalau menyebarkan pornografi adalah tindakan ilegal, bukan seharusnya menyediakan sarana nonton pornografi bagi anak sekolah adalah pelanggaran hukum juga? Apa ada pasal seperti itu? Kalau ada, kenapa (sepertinya) tidak pernah ada berita pemilik warung kena sanksi hukum?
Setiap minggu anak sekolah diperkosa bergilir, dan anak lain disodomi. Dan sekarang, pelakunya anak SD juga. Lalu 100 juta orang tua, 60 juta siswa sekolah, dan 3 juta guru profesional mengucapkan Mantra Nasional Indonesia berjudul, “Sangat Memprihatinkan Ya!”. Dan kalau ditanyakan kenapa tidak ada tindakan yang terjadi pada skala nasional, semua orang tersebut mengatakan, “Kami tidak punya kekuatan”. Lebih dari 100 juta orang dewasa “tidak punya kekuatan”. Dan besok anak sekolah yang lain akan diperkosa bergilir dan disodomi. Kapan kondisi ini bisa berubah?
Wasalam,
Gene Netto

Bocah RD Terlibat Pencabulan akan Jalani Rehab

Senin, 09 Juni 2014 | 23:54 WIB
TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Perlindungan Anak Suku Dinas Sosial Jakarta Utara menyatakan faktor kelalaian orangtua sebagai penyebab RD, bocah 10 tahun, melakukan pencabulan atas kelima orang temannya. Rika meminta RD ditangani secara khusus dan tak dicap sebagai pelaku. Sebab, menurutnya, RD adalah korban akibat orang tuanya yang lalai mendidik dan mengawasi. "Dia mengakui ke saya kalau melakukan itu karena lihat video porno di warnet," ujar Rika.

RD dilaporkan melakukan pelecehan seksual kepada F, 10 tahun, I, 7 tahun, N, 7 tahun, A, 8 tahun, dan D, 7 tahun. F dan A merupakan anak perempuan. Sejumlah insiden pelecehan seksual itu terjadi di kelurahan Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara, pada akhir April lalu. Dari mediasi yang dilakukan LPA Sabtu 7 Juni 2014 lalu, disepakati keluarga pelaku harus pindah. Sedangkan RD dan para korban menjalani rehabilitasi psikologis dan fisik. "Anggap RD jangan sebagai pelaku. Tetapi anak-anak yang juga menjadi korban," ujar Rika.

Keempat korban mengaku dicabuli RD dengan memasukkan kemaluannya ke dubur secara bergiliran. N mengaku beberapa kali ditusuk duburnya dengan bambu. Sedangkan RD melakukan perbuatannya kepada A dengan memegang-megang kemaluannya. Perbuatan RD sudah dilaporkan keluarga korban ke Polres Jakarta Utara pada Rabu, 4 Juni 2014. Suyono, 38 tahun, ayah RD mengakui kelalaiannya dalam mengawasi keseharian anaknya. Ia hanya mengetahui RD yang sering minta uang untuk pergi ke warung internet untuk main game. "Saya kaget kalau RD ternyata nonton video porno," ujar Yono, Senin 9 Juni 2014. (Baca juga: Kasus Pelecehan, Ini Cara Gali Cerita dari Anak)
ROBBY IRFANY MAQOMA

No comments:

Post a Comment