Tuesday, August 26, 2014

Apakah PR Penting?



Ada yang mengatakan PR penting utk siswa. Dan kalau tidak dikerjakan, harus ada hukuman fisik, biar ada efek jera, karena PR tidak boleh ditinggalkan. Ini satu isu yang muncul saat bahas hukuman fisik. Siswa harus dipaksakan kerjakan PR, dihukum kl tidak, dengan asumsi PR penting.

Seharusnya sebelum berikan hukuman apapun, dicek dulu apakah benar bahwa PR itu penting. Kalau guru dan orang tua mau mencari bukti ilmiah tentang ini, sebenarnya sudah terbukti berkali2 dalam puluhan studi bahwa PR “tidak penting”. Puluhan buah riset selama puluhan tahun selalu berikan  hasil yang bervariasi. Kebanyakan tidak menunjukkan efek apapun. Dalam studi yang menunjukkan efek positif, tidak sampai 4% bedanya dalam nilai ujian antara siswa yang dapat banyak PR, dan siswa yang tidak dapat. Dan beberapa peneliti juga meragukan efek positif 4% tersebut karena keterbatasan studi2 itu sendiri. Jadi hanya “terkesan” ada efek positif yg kecil, tapi bukan bukti yang kuat.

Artinya: "TIDAK ADA BUKTI ILMIAH BAHWA BANYAK PR MEMBERIKAN HASIL POSITIF DALAM NILAI UJIAN SISWA". Juga tidak ada bukti ilmiah bahwa siswa lebih paham pelajaran disebabkan ada banyak PR.

Thursday, August 14, 2014

Untuk Dapat Sistem Pendidikan Baru, Siswa Harus Berani Mogok Belajar



Assalamu’alaikum wr.wb.,
Katanya ini negara demokrasi. Kita harus belajar artinya demokrasi dan harus paham bagaimana rakyat Indonesia bisa berpartisipasi secara aktif dalam demokrasi. Banyak dari 60 juta siswa Indonesia merasa stres setiap hari menghadapi sistem pendidikan buruk, begitu juga 100 juta orang tua dan 3 juta guru. Kalau mau dapat sistem yang lebih baik, siswa, guru dan orang tua harus bersatu untuk “melawan pemerintah”. Orang tua takut melawan sekolah. Guru takut melawan dinas pendidikan dan pemerintah. Jadi siapa yang berani bertindak duluan? Mungkin hanya anak muda yang punya keberanian! Siswa harus berani mulai, dan bersatu untuk mogok belajar. Dan di dalam negara demokrasi, mereka berhak bersikap begitu.

Anak Indonesia punya hak untuk bantu memperbaiki bangsa ini. Kalau pemerintah keluarkan kebijakan yang buruk (seperti wajib lulus dari UN), apa siswa harus diam dan terima? Tidak. Enam puluh juta siswa Indonesia boleh melawan kebijakan buruk. Bisa dengan kirim surat, membuat petisi, menulis artikel, mendirikan organisasi dan komunitas yang punya pemikiran yang sama, mogok belajar, dan demo. Tetapi media lebih memperhatikan mogok dan demo, jadi sepertinya itu yang perlu diutamakan dulu.

Monday, August 11, 2014

Apa Tujuannya Sistem Pendidikan Di Sini? Kok Siswa Diberikan Stres Terus?



Assalamu’alaikum wr.wb.,
Yang saya dengar dari siswa, kurang lebih seperti ini kehidupan untuk anak kelas 3 SMA sekarang (di Jakarta).

Wajib masuk sekolah jam 6.30 pagi. Belajar sepanjang hari. Dalam waktu 8 bulan akan ada UN, jadi sekolah kasih materi tambahan. Baru bisa pulang jam 4.30. Selalu macet. Harus langsung berangkat ke Bimbel, karena takut kalau tidak ikut Bimbel tidak bisa lulus UN dan harus mengulang satu tahun. Selesai Bimbel jam 8.30 malam. Pulang ke rumah. Sudah jam 9 malam. Belum makan malam, belum mandi, belum shalat, dan masih harus kerjakan PR untuk 3-4 jam per malam (termasuk untuk pelajaran yang tidak diinginkan).

Selalu tidur di atas jam 12 malam (kecuali ketiduran karena capek), dan selalu telat bangun untuk shalat subuh. Bangun buru2, shalat buru2, mandi2 buru, tidak ada waktu untuk sarapan, ngebut ke sekolah (karena kalau telat, tidak boleh masuk tanpa panggil orang tua ke sekolah). Lebih baik ambil risiko senggolan atau tabrakanan dengan orang lain di jalan, lalu kabur, daripada bersikap sikap hati2. Kalau senggolan atau tabrakan dan berhenti untuk tanggung jawab di jalan tapi sampai sekolah telat, akan dilarang masuk. Buat apa berhati-hati dan tanggung jawab di jalan? Rugi!

Language Assistant Program (Australia)



Applications close Friday 29 August 2014 (INCOMPLETE or LATE applications will not be accepted)

Registrations for 2015 Language Assistant Program in Western Australia are now open! 
Every year, Balai Bahasa Indonesia Perth (Inc) in collaboration with the Consulate General of the Republic of Indonesia in Perth, Western Australia and the Department of Education of Western Australia seek participants in the Indonesian Language Assistant Program in Western Australia. 

The program is held each year, from January to December. During the program, participants teach and assist in Indonesian language classrooms, promoting the Indonesian language teaching and learning program in Western Australia while serving as goodwill ambassadors to introduce Indonesian culture to enhance the bilateral relationship between Indonesia and Australia. Participants are paid a salary through the WA Department of Education. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...