Thursday, February 26, 2015

Bagaimana kita bisa dapat negara yang baik?



[Komentar]:
Ada apa sebenarnya dengan Anak Bangsa Ini Pak Gene Netto , Kenapa semua orang gampang sekali Marah dan berprilaku Bar bar, Begal Motor Dibakar, Guru Menghukum murid sampai akhirnya meninggal.. Polisi Memukuli Mahasiswa/demonstran dengan Beringas, Satpol PP menginjak injak PKL, KPK Pimpinan dan Para Penyidiknya jadi tersangka, Koruptor bebas dengan Praperadilan... ( Koruptor lain rame rame mengajukan juga ).. Di DPR Meja terbalik.. Suami Bakar Istri,, Baby Sister menyiksa Bayi/Balita.. majikan menyiksa pembantu.... Aaaaachhh.... Pusing... " Bukan Urusan Saya "....

[Gene]:
Saya juga kurang paham sepenuhnya Pak. Hasil analisa saya adalah bahwa ada pengaruh besar dari: sistem pendidikan (bukan hanya di sekolah); sistem parenting; budaya “malu” yang menjadi keliru sehingga tidak mau tahu hal2 buruk; budaya asal bapak senang (dan asal orang tua senang) yang kadang bisa bertentangan dgn kejujuran dan keterbukaan; peran pemerintah dan lembaga2 yang kurang aktif (sibuk korupsi dan abaikan tugas resminya) dan tidak berusaha melakukan pencegahan dan pembinaan sebelum terjadi masalah; dan kekurangan empati terhadap orang lain pada skala nasional karena jarang diajarkan; antara lain.

Ini mungkin saja sebagian besar dari bbrp unsur yang menjadi “perfect storm” (badai sempurna) yang menghasilkan banyak anak muda dan anggota masyarakat yg (mohon maaf) bisa kita katakan “kurang berkualitas”. Indonesia bukan negara yang paling buruk dlm soal ini. Indonesia masih lumayan baik kl dibandingkan dgn bbrp negara Afrika (dan bbrp negara lain), yang tidak bisa lepas dari konflik dan karena itu, anak dan perempuan tidak aman dan setiap hari menghadapi bahaya bisa diperkosa, dianiaya, dirampok, atau dibunuh. Walaupun Indonesia tidak termasuk yang terburuk, terasa ada indikasi bahwa kondisi masyarakat Indonesia makin buruk setiap bulan sehingga mengarah ke sana. Dan usaha dari semua pihak terkait terlalu minimal karena semuanya masih fokus pada diri sendiri. Hasilnya adalah solusi kolektif utk seluruh bangsa tidak dicari.

Kalau mau hentikan semua ini, dan dapatkan perubahan yang baik, maka harus ada persatuan pada skala nasional yang bisa fokus pada KUALITAS HIDUP bagi SETIAP WARGA NEGARA, dan bukan saja keluarga pejabat, keluarga elit politik, dan keluarga orang kaya. Harus ada persatuan yang mengutamakan kemajuan bangsa, dan jaminan pendidikan dan kesejahteraan bagi semua. Dan saya yakin Indonesia bisa karena sebenarnya Indonesia negara kaya sekali. Tetapi sayangnya, korupsi sudah merajalela di sini selama puluhan tahun, sehingga banyak SISTEM di negara ini dibuat dgn landasan korupsi, dan peran sistem korupsi itu lebih utama dari sistem resminya.

Hasilnya, anak Indonesia dan orang tuanya, guru sekolah dan anggota masyarakat, dgn mudah sekali merasa pesimis, putus asa, depresi, stress, dan tidak yakin bisa dapat masa depan yang baik. Jadi buat apa berbuat baik pada orang lain? Hukum rimba yang berlaku. Dan hasilnya dari itu adalah apa yang kita lihat di tengah masyarakat. Semua ini bisa berubah. Tapi perjuangan utk memperbaiki bangsa ini mungkin saja lebih sulit, lebih berat, lebih kompleks dan lebih lama daripada perjuangan kemerdekaan dari Belanda.

Kl perang kemerdekaan, musuh jelas di depan mata, dan orang asing. Tinggal serang dan bunuh saja. Bagaimana mau perangi kondisi sekarang kl “musuh” adalah saudara kandung kita dan tetangga kita? Dan bagi orang yang dpt manfaat dari kekuasaan tertentu, maka mereka tidak mau abaikan, karena hanya dgn koneksi dan kekuasaan itu bisa dapat jaminan maju sendiri. Kl mau berjuang sendiri, tanpa koneksi, tanpa kekuasaan, tunggu saja sampai menjadi korban, atau hidup dalam kesulitan dan kemiskinan.

Sukarno dan para pejuang kemerdekaan telah berikan kita sebuah negara yang penuh dengan rahmat Allah secara alami. Tetapi kita yang belum mau berjuang utk mensyukuri nikmat itu dan pastikan generasi berikut bisa merasakan nikmat dan rahmat itu dalam kehidupan sehari2. Kita semua masih fokus pada diri sendiri, dan belum mau peduli pada kesejahteraan tetangga, apalagi orang yang jauh.

Ini yang perlu berubah, dan bisa berubah. Kita semua bisa mulai peduli pada tetangga dan saudara sebangsa dan setanah air di mana2 mrk berada, dan bukan hanya peduli pada saudara kandung saja. Mau lihat dari kacamata agama Islam, Kristen, Buddha, Hindu atau yang lain, TIDAK ADA yang mengajarkan kita utk abaikan kebutuhan orang lain dan utamakan diri sendiri di atas segala-galanya. Justru yang sebaliknya yang diajarkan oleh semua agama.

Jadi kita hanya perlu hidupkan ajaran agama kita masing2 dan bersatu untuk maju bersama, tanpa melihat agama, suku atau siapa orang tuanya orang itu. Bantu semua orang secara bersamaan. Dan karena orang Muslim mayoritas, maka kita yang harus maju dan berikan kepemimpinan dgn hidupkan contoh mulia yg telah diberikan oleh Rasulullah SAW. Kita bisa dan harus bisa. Sukarno dan para pejuang tidak berjuang mati-matian untuk berikan kemerdekaan agar anak kita dapat kehidupan yang sengsara. Apa kita bisa bersatu dan berjuang untuk dapat kemajuan? Terserah kita untuk mulai berubah atau tidak!

Wassalam,
Gene Netto


5 comments:

  1. Assalamualaikum wr wb,

    Revolusi mental.. Terima kasih kepada bapak Gene yang sudah memulai mengajar anak-anak bangsa ini dari kecil/remaja...

    Seharusnya dengan menteri pendidikan sekarang, kita harus sama2 meningkatkan kualitas guru SD & SMP. Agar lebih fokus ke akhlak, budi pekerti, mental pejuang & empati, serta peningkatan intelektual emosi & spiritual.

    Terima kasih sekali lagi to Bapak Gene.. Terus semangat pak, semoga Allah membalas kebaikan bapak ke bangsa ini...

    Wassalamualaikum wr wb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa alaikum salam. Terima kasih. Tugas memperbaiki bangsa ini harus dilakukan oleh semua warga negara secara bersamaan, dan bisa dilakukan kl muncul kepedulian terhadap tetangga. Pemerintah punya peran besar, tapi masyarakat sendiri yang harus aktif bergerak utk melakukan perubahan.

      Delete
  2. Itu akan membutuhkan usaha yang keras dan mati2an serta...syusyah mengatakannya. Bagaimana tidak? Individu pro aktif melawan pemerintah terstruktur yg tersistem? Daud vs Jalut (Goliath). Urus berangkat haji bikin surat pengantar sampai tes kesehatan yg harusnya gratis jadi 300 rb. Mau marah? Jelas, iya. Tapi lawan siapa? ini terjadi saat sy urus keberangkatan haji. Belum biaya formulir.

    kacamata psikologi sosial bahwa usaha menegakkan keadilan yang dipressur penguasa akan menimbulkan chaos,that's the theory. Karena mereka melampiaskan kekesalan yg dilakukan org yg berwenang atas kepengurusan hajat hidup mereka yang dikorup.

    saya rasa org2 besar, para pejabat, para pemilik uang tapi cuma pesta pora dan para pemegang status quo kalo saat ini kiamat (naudzubillah) mereka dapat porsi hukuman terbanyak, harusnya! Mereka punya power, punya uang apalagi punya ilmu dan beragama tapi gak mau tahu (atau memang g tahu krn dididik sebodo# ingat kisah Maria Antoinette, sampai mati pun dia ga merasa bersalah krn yg dia tahu hidup itu ya hidup di istana doang). What a role, she deserved to be guillotined!

    Kondisi ini sudah luama sehingga menimbulkan efek jenuh pada yg berjuang. Ganti presiden pun tapi klo pengurus kecamatan gak ganti apa bedanya?

    Jadi, masyarakat sekarang terbagi atas
    1. mereka yg masih berjuang dan percaya bisa kembali baik (kaum muda, intelektual, pemerhati umumnya middle class yg dpt didikan moral)
    2. masyarakat yg jenuh dan melampiaskan kekesalan penguasa dan sistem pada pengrusakan alat negara umumnya lower class, yg kebutuhan utamanya sandang pangan papan dan pendidikan dasar terganggu (they dont have any choice nor time to fight back).
    3. masyarakat benalu yg hidup dari memanfaatkan kesusahan orang
    4. dan terakhir : penguasa status quo , tuan tanah tak bermoral; pengusaha rasis, yg mempertahankan keadaan ini dengan membuat sistem2 yg lebih menyengsarakan orang demi klan, kroni dan konco lebih terstruktur, masif, berjaringan internasional).

    Jadi, kalo rakyat kecil butuh sosok Satria Piningit (istilahnya) utk basmi tuh sistem dan kroni2 benalu masyarakat saya rasa seperti cope from reality meskipun kenyataannya g ada (atau belum).

    ReplyDelete
  3. ya semoga Indonesia segera aman sejahtera makmur sentosa aamiin

    ReplyDelete
  4. Blog dan artikelnya menarik sekali untuk disimak, sayang banget jika sampai terlewatkan...

    ReplyDelete