Thursday, April 09, 2015

Anak Panti Yang Disodomi Menjadi Takut Akan Hamil



Anak panti yang disodomi di Bali diberitahu bisa “hamil” dan menjadi takut. Ini terkesan “lucu” karena dia percaya begitu saja. Di sisi lain, ini menunjukkan bahwa anak SD sangat membutuhkan ilmu sesuai usianya ttg proses kehamilan. Dan semua anak sejak SD juga butuh pelajaran bahwa orang lain tidak boleh menyentuh kemaluan mereka, dan lebih dilarang kl ada ancaman. Anak SD harus diajarkan untuk laporkan hal itu kepada orang dewasa yang mereka percayai.
Di sini peran orang tua dan guru sebagai SAHABAT yang ramah terhadap anak menjadi sangat penting. Kl anak takut setelah disodomi, dan juga takut lapor kepada orang tua atau guru karena mereka juga marah dan galak, maka makin banyak anak akan hidup dalam ketakutan krn tidak tahu mesti cari perlindungan ke mana. Kondisi ini tidak boleh kita biarkan, dgn alasan “bukan anak saya”.
Dibutuhkan orang tua dan guru yang selalu siap terima info (ttg perkara apa saja) dari anak yang jujur, tanpa selalu menjadi marah dan menghukum si anak. Kebiasaan banyak orang dewasa yang cepat marah, cepat menyalahkan dan menghukum anak hanya membuat mereka takut dan tidak percaya pada orang dewasa di sekitarnya.
Juga perlu dipahami bahwa anak panti ini pernah dicabuli SEBELUM berangkat sekolah. Apa di sekolah dia menjadi “anak manis” dan selesaikan semua tugas dgn baik? Atau menjadi anak bermasalah, karena merasa tidak ada yang mau melindungi dia? Semoga teman2 yang menjadi orang tua dan guru, yang suka marah terhadap anak, mau introspeksi.
-Gene Netto

Bocah Panti yang Disodomi 'Sersan' Ketakutan

Rabu, 18 Maret 2015 - 09:15 wib
DENPASAR -- RA (10), anak panti asuhan di Jalan Kebo Iwo, Denpasar, Bali diduga disodomi pengasuhnya Eko Sihaaan. Bocah itu khawatir hamil atas perbuatan pelaku.
"Iya korban bilang, apa nanti bisa hamil. Korban jelas merasa ketakutan," terang kuasa hukum RA, Siti Sapurah dihubungi Rabu (18/3/2015). Setelah diberikan pemahaman seperlunya agar tidak khawatir dengan hal itu, RA akhirnya bisa lebih berpikir tenang.
"Pernah sebelum berangkat ke sekolah, korban juga mengalami pencabulan diraba dan diciumi di dalam kamar," kata aktivis Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Denpasar ini. Namun karena di bawah ancaman seniornya, korban tidak berani melawan dan diperlakukan tidak senonoh oleh pria asal Medan, Sumatra Utara itu. Bahkan, tidak hanya RA yang diduga menjadi korban, ada anak panti asuhan lainnya juga menjadi korban aksi bejat Sersan yang tengah menjalani pemeriksaan di Mapolresta Denpasar. "Sampai sekarang, korban takut ke panti karena masih trauma dengan kejadian yang menimpanya," ujarnya. (MSR)

No comments:

Post a Comment