Monday, April 13, 2015

Guru Tidak Mengerti P3K, Anak SD Tewas Karena Tersedak Saat Makan



Menyedihkan. Mau katakan apa? Berapa persen dari guru Indonesia yg tidak belajar P3K? Saat saya belajar menjadi guru di Australia, semua mahasiswa diajarkan “prinsip utama” bagi para guru: “Siswa Harus Selamat”. Disiplin tinggi, ranking, prestasi, hasil ujian, PR, seragam, semuanya menjadi tidak penting kl siswa tidak bisa AMAN DAN SELAMAT. Hasilnya? Lebih dari 90% guru di Australia belajar P3K dan kematian siswa di sekolah nyaris tidak terjadi.

Sedangkan teman2 guru di Indonesia sibuk fokus pada disiplin tinggi, ketaatan pada aturan, dan sering tunjuk diri sendiri sebagai “korban” karena ada beban administrasi, masalah kurikulum, dan uang sertifikasi yang selalu dibayar telat. Memang utk menjadi guru di sini banyak kesulitannya. Tapi kalau semua guru mau setuju utk selamatkan siswa di atas segala2nya, maka dgn sukarela mereka akan mau belajar P3K. Memang tidak dibutuhkan setiap hari. Tapi ketika muncul SATU HARI itu saja, di mana ILMU itu dibutuhkan, alangkah baiknya kl ada banyak guru yang mengerti!

Siswa dibawa lari ke Puskesmas? Maaf, itu sama saja dgn MEMBUNUH siswa itu. Orang yg tidak bisa bernafas karena tersedak harus dibantu saat itu juga, dgn batas 1-2 menit utk selamatkan nyawanya. Sayangnya, tidak ada guru di sekolah itu yang berilmu P3K. Ada Pramuka di setiap sekolah, bukan? P3K menjadi bagian dari kurikulum Pramuka, bukan? Kenapa banyak guru tetap tidak paham? Apa diajarkan dgn benar, agar bisa langsung dipraktekkan? Atau diajarkan secara asal saja? Buat apa diajarkan kl tidak ada yang bisa pakai ilmu itu ketika dibutuhkan?

Kalau guru mau bela diri dan mengatakan “Saya tidak pernah diajarkan P3K jadi tidak bisa bantu siswa yang tersedak” maka apa bisa selamatkan siswa ketika terjadi kebakaran? Soalnya guru2 itu juga tidak diajarkan menggunakan selang utk semprot air pada tembok. Mohon maaf, tapi alasan2 spt itu tidak wajar. P3K hanya butuh beberapa jam saja utk belajar dasar2nya. Kl ada guru yang malas belajar, artinya dia tidak mau utamakan keselamatan siswa. Jadi buat apa menjadi guru?

“Maaf Bu! Anak Ibu mati di sekolah. Tapi nilai matematikanya tinggi. Jadi saya sudah berhasil!” Selamat istirahat Riska Mutiara Lestari. Kamu tidak pernah lagi dimarahi karena persoalan seragam atau PR.
Wassalam,
Gene Netto

Lagi Asyik Makan Cilok, Tersedak, Riska Kemudian Tewas
Reporter : Parwito | Jumat, 10 April 2015 15:49
Merdeka.com - Malang benar nasib bocah SD Riska Mutiara Lestari. Gara-gara tersedak saat makan jajanan cilok yang dia beli di depan sekolahnya, siswa kelas 1 SD Negeri 3 Desa Wonosari, itu tewas. Sebenarnya, saat Riska menyadari ada makanan yang tersedak di tenggorokannya, guru-guru sudah coba dilarikan ke puskesmas setempat dengan sepeda motor. Sayang, nyawa warga Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah itu tak bisa tertolong.

No comments:

Post a Comment