Sunday, June 07, 2015

Nabi Syu’aib dan Beras Plastik



Assalamu’alaikum wr.wb.,
Dulu ada seorang Nabi Allah bernama Syu’aib, yg diutuskan ke kaum Madyan. Dia suruh mereka beriman kepada Allah dan berhenti merekayasa takaran dan timbangan dalam perdagangan karena akan mengundang kemurkaan Allah.

85. Dan Syu'aib berkata: "Hai kaumku, CUKUPKANLAH TAKARAN DAN TIMBANGAN DENGAN ADIL, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.
(QS. Hud 11:85)

Tetapi kaum Madyan itu menolak ajakan Nabi Syu’aib utk beriman kepada Allah, dan mereka juga menolak untuk berlaku jujur dan adil dalam perdagangan. Jadi Allah menyelamatkan Nabi Syuaib, dan jatuhkan siksaan di atas kamu Madyan, yang binasakan mereka.

91. Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka,
(QS. Al-A’raf 7:91)

Jadi mereka semua mati dalam sekejap. Selain tidak beriman, ada satu dosa yang disebutkan secara jelas oleh Allah: merekayasa takaran dan timbangan. Bagaimana dengan Indonesia? Seorang pedagang mengeluh karena “rugi terus”. Di pasar, hanya dia sendiri yang tidak curang dgn merekayasa timbangan. Katanya, teman2 curang semua, jadi untung mereka lebih besar daripada dia. Dan pedagang2 lain membenarkan bahwa itu memang umum di semua pasar dari dulu.

Tapi di Indonesia, bukan hanya takaran dan timbangan saja yang direkayasa. Barang yang mau dijual juga bisa direkayasa. Ada banyak contoh mulai dari bahan palsu, barang palsu, daging sapi palsu (celeng), air Zam-zam pun ada yang palsu. Lalu juga ada campuran puluhan zat kimia spt formalin, borax, bayclin, dan yang lain, yang bukan unsur palsu tapi malah lebih bahaya lagi. Yang terbaru adalah beras plastik. Penjual tidak peduli kl konsumen dirugikan atau jatuh sakit. Timbangan saja sudah direkayasa, dan barang yang dijual juga bisa direkayasa. Dan dilakukan setiap hari oleh banyak sekali pedagang yang mengaku beriman kepada Allah.

Timbangan yg direkayasa sudah setara dgn kaum Madyan. Kl barang yang dijual juga direkayasa, berarti lebih buruk dari kaum Madyan. Dan kl penjual sudah mengaku beriman kepada Allah (sambil berbuat curang dan rekayasa) berarti dua kali lebih buruk dari kaum Madyan, karena seharusnya sadar sendiri dan takut kena kemurkaan Allah.

Kaum Madyan diberikan siksaan yang besar, disebabkan kecurangan mereka. Dan sekarang orang yang mengaku beriman lebih curang lagi dari mereka. Kaum Madyan tidak peduli pada Nabi Syu’aib, dan banyak pedadang Muslim di Indonesia lebih tidak peduli pada Nabi Muhammad SAW yang juga ajarkan kita utk jujur dan adil dalam perdagangan. Apa kita sudah siap kena azab dari Allah juga, disebabkan kecurangan kita yang lebih parah dari kaum Madyan?
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto


1 comment: