Thursday, July 30, 2015

Anak Yatim Piatu Diperkosa Bergilir Oleh 3 Anak SD



Anak yatim piatu, usia 6 tahun, diajak bermain oleh 3 teman SD. Setelah telanjang, diperkosa bergilir oleh mereka. Terjadi di pelosok yang sangat jauh, jadi wajar kl umat Islam tidak punya kekuasaan untuk melindungi anak yatim di sana. Di tempat jauh dari pusat kota, bernama “Depok” nasib anak yatim tidak bisa dijamin oleh siapapun. Hidup dalam kemiskinan, kesulitan dan kelaparan, menjadi korban kekerasan seks, diabaikan oleh para pemimpin bangsa dan umat Islam karena tinggal di pelosok yg jauh (dari hati mereka) di Depok. Welcome to Indonesia. Neraka dunia bagi anak yatim. Tapi Alhamdulillah tidak ada masjid yang terbakar dalam berita ini. Jadi umat Islam tidak perlu bersatu, bangkit dan marah. Semua bangunan yang menjadi simbol umat Islam masih aman. Jadi cukup ucapkan mantra nasional “Memprihatinkan ya” dan kembali nonton sinetron. Bukan anak saya, jadi bukan urusan saya.
Wassalam,
Gene Netto

Anak Yatim Diperkosa 3 Murid SD
Rabu, 29 Juli 2015 22:24 WIB
POJOKSATU.id, DEPOK – Seorang anak yatim di Depok Jawa Barat diperkosa 3 murid SD yang tak lain adalah kakak kelasnya sendiri. Korban berinisial KS (6), digilir oleh bocah ingusan berinisial E (8), R (10) dan F (10) di lahan kosong, dekat lapangan golf.
Kasus perkosaan itu telah dilaporkan keluarga korban ke polisi. Selama ini, korban tinggal bersama neneknya karena orang tuanya sudah meninggal.
Informasi yang dihimpun, pemerkosaan itu bermula ketika korban diajak 3 murid SD main ke lahan kosong yang tak jauh dari lapangan golf. Di tempat itu, korban diintimidasi oleh 3 pelaku. “Mereka bilang kalau enggak mau (dicabuli), enggak diajak main,” ujar kerabat korban, Aminah saat mendatangi Polresta Depok, Rabu (29/7/2015).

Aminah mengatakan, korban digilir oleh 3 bocah SD itu secara bergiliran. Saat pulang ke rumahnya, korban menagis karena merasakan sakit di bagian kemaluannya.
“Malam harinya dia nangis sakit. Terus dibawa ke klinik dan hasilnya ada luka di bagian kemaluannya,” ujarnya. Menurut Aminah, peristiwa itu terjadi awal Juli lalu. Ia langsung melamporkannya ke polisi pasca korban diperiksa di klinik. Namun, sampai saat ini ia belum mendapat kabar dari polisi terkait perkembangannya. Karena itu, Aminah mendatangi Kantor Polresta Depok untuk menanyakan perkembangan kasus tersebut.


No comments:

Post a Comment