Friday, August 21, 2015

Lahir Sebagai Muslim Adalah Nikmat Yg Besar, Jangan Diabaikan



58. Dan Sesungguhnya telah Kami buat dalam Al Quran ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan Sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata: "Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka".
(QS. Ar-Rum 30:58)

Assalamu’alaikum wr.wb., 
Saya baca ayat ini, lalu berpikir. Bagaimana kl dulu kita lahir di sebuah kota kecil bernama Makkah, dan bertemu seorang pria bernama Muhammad, yang menyatakan dirinya adalah seorang Nabi Allah. Lalu dia ajak kita tinggalkan agama orang tua kita, dan ikuti dia dalam beriman kepada Allah SWT, terhadap Al Qur'an dan kepada dia sebagai Rasulullah. Lalu dia berikan ayat2 Al Qur'an, dan lakukan mujizat sebagai bukti nyata bahwa dia seorang Nabi Allah.

Apakah kita YAKIN bahwa kita akan mau dengar dan beriman? Atau apakah juga mungkin kita akan buang muka, menolak semuanya, dan tetap ikuti agama dari bapak-ibu kita?

Lahir sebagai seorang Muslim merupakan suatu nikmat yang sangat besar sekali. Tapi kebanyakan orang malah terima nikmat itu sebagai hal yang “biasa”. Banyak orang mengatakan “Saya hanya menjadi Muslim karena keturunan” dan itu menjadi alasan kenapa mereka tidak rajin shalat, tidak taat pada ajaran agama, dan jarang menyentuh Al Qur'an. Yang lebih parah lagi adalah orang yang menjadi ragu2 terhadap Islam dan siap pindah agama, karena lahir sebagai Muslim berarti “tidak memilih Islam”. Dan oleh karena itu mrk mau coba2 masuk agama lain, karena “mungkin saja” ada yang lebih menyenangkan (alias, bisa bebas tanpa banyak aturan).

Allah Maha Kuasa. Dan kepada orang pilihan, Dia telah memberikan nikmat lahir sebagai Muslim, sehingga orang2 itu tidak perlu diuji dgn menerima atau menolak Rasulullah SAW. Apakah kita termasuk yang banyak bersyukur? Atau apa kita termasuk yang terima kelahiran sebagai Muslim secara enteng, dan anggap itu “hal yang biasa”, tanpa merenung terlalu dalam? Orang yang sadar ttg betapa besarnya nikmat itu tidak akan ragu2 untuk banyak bersyukur setiap hari, karena hanya orang pilihan saja yang bisa menerima nikmat itu dari Allah SWT.

52. Maka Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang.
53. Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami).
54. Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
(QS. Ar-Rum 30:52-54)

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

1 comment:

  1. Tidak ada karunia Allah yang lebih tinggi dari iman Islam, karena dengannya manusia dapat selamat dari azab neraka yang kekal abadi.

    “Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. “QS 98 Al Bayyinah

    Dunia ini adalah kenikmatan dan karunia, tapi tidak ada yang dapat melebihi nikmat Iman Islam. Kita perhatikan orang-orang terkaya di dunia, berapa banyak kekayaan mereka? adakah yang memiliki emas sepenuh bumi? bahkan apabila mereka punya emas sepenuh bumi, niscaya tidak akan dapat menebus diri mereka dari azab Neraka abadi sekiranya mereka mati dalam keadaan kafir

    "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak itu). Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong." (Q.S. Ali ‘Imran: 91)

    Berhati-hati pula orang yang menjadi ragu terhadap Islam, karena keraguan itu akan membuatnya menjadi condong kepada munafik ( berkata beriman tetapi hatinya tidak beriman). Dan orang munafik itu tempatnya adalah di Neraka yang paling bawah.
    .
    “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.
    Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (QS An Nisa 142-143)

    “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. “QS An Nisa 146)

    Supaya tidak menjadi ragu dalam Iman Islam, maka bersungguh-sungguh berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan Iman dan belajar sepenuh hati memahami kebenaran Islam.

    “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (QS. Al Baqarah: 256)

    Telah jelas berbeda agama orang yang menyembah 1 Tuhan yaitu Allah, yang Menciptakan mahluk dan bukan mahluk , berbeda dengan mereka yang menyembah mahluk (matahari, bulan, bintang, berhala, manusia, jin, atau mahluk-mahluk lain) atau mereka yang juga menyembah sembahan lain selain Allah atau mereka yang tidak meyakini adanya Allah.

    Andaikan ada lebih dari Satu Tuhan, maka niscaya akan saling berperang diantara mereka , dan alam semesta ini juga bumi dan kehidupan yang indah ini tidak akan pernah sempat tercipta karena peperangan diantara mereka. Adanya kehidupan di bumi ini dan keteraturan pergerakan benda-benda di alam semesta membuktikan bahwa Tuhan itu Esa, satu saja adanya ( ada ayat yang menjelaskan ini di Al Qur’an, silahkan cari satu persatu pasti ketemu)

    Tidak ada paksaan dalam beragama, karena kebenaran itu nyata. Percuma saja orang dipaksa beragama Islam, kalau hatinya tidak beriman maka tetap tidak akan diakui keimanannya oleh Allah.

    Keyakinan agama itu diimani oleh hati, dan Allah Maha Mengetahui isi hati manusia

    “Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (at-Taghaabun: 4)

    ReplyDelete