Thursday, September 03, 2015

Indonesia Butuh Bahasa Inggris. Kapan Pemerintah Menjadi Serius?



Ada LSM yang membawa 34 sukarelawan dari Amerika ke sini untuk bantu mengajar bahasa Inggris di beberapa sekolah. Tapi apakah mereka berprofesi sbg guru bahasa Inggris? Kemungkinan besar tidak. Hanya orang bule saja. Sedangkan sejak 2010, ribuan guru asing tidak diizinkan kerja di sini lagi, karena visa kerja dari Kemdikbud ditolak, termasuk utk saya juga. Gelar saya gunakan kata "Pendidikan" dan tidak pakai kata "Inggris" dan oleh karena itu saja, visa kerja utk saya tiba2 ditolak. Dikatakan saya tidak sanggup mengajar bahasa Inggris, setelah mengajar bahasa Inggris di sini selama 15 tahun.

Orang Irlandia dgn suara mirip David Cameron dicap "tidak sanggup mengajar bahasa Inggris" hanya karena persoalan paspor. Orang Jerman yg kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas langsung dikasih visa kerja hanya karena punya paspor dua bangsa, dari Jerman dan juga dari Inggris. Jadi dicap "Native Speaker" dan diizinkan mengajar. Guru yang sanggup mengajar dan mau kerja di sini diusir terus selama 5 tahun, tapi anehnya setiap tahun pemerintah juga terima beberapa sukarelawan dari Amerika, dalam rangka “memperbaiki kualitas bahasa Inggris di sekolah!” Sangat aneh.

Selama saya tinggal di sini, saya belum melihat kepedulian terhadap bahasa Inggris dari pejabat mana saja. Dan itu salah satu sebabnya Indonesia tidak bisa bersaing dgn negara lain spt India, dsb. Banyak tugas dari PT swasta manca negara di-outsourcing sekarang, contohnya pembuatan software komputer, pembuatan film kartun, pelayanan bisnis (customer service), dsb.

Selama 5 tahun saya terima tawaran kerja terus. Dari UI, Trisakti, Binus, Wall Street, TBI, dan banyak yg lain. Tapi semuanya tidak bisa dapat visa utk saya. Tidak ada cara utk protes ke Kemdikbud, tidak bisa minta interview. Banyak guru asing di sini pakai gelar dan CV yang palsu. Kemdikbud terima saja tanpa periksa. Guru jujur diusir. Guru yang berbohong diterima tanpa masalah.

Kalau mau kembangkan bahasa Inggris di sini, coba serius dulu. Saya setuju sekali. Tapi membawa 34 sukarelawan ke sini bukan tindakan serius!
-Gene Netto

34 Sukarelawan AS Bantu Guru Bahasa Inggris di Indonesia

1 comment:

  1. Satuju pisan...
    Saya yang bekerja di lingkungan industri dengan kegiatan ekspor impor hanya bisa terkejut dan pasrah karena level sebagian besar (tidak semua) karyawan di sini dari berbagai strata, kemampuan bahasa inggrisnya lebih rendah daripada anak SMP jaman sekarang. (Bahkan operator mesin lebih jago daripada manajernya)
    Lebih parahnya, ketika saya koreksi mereka malah marah-marah dan berkata bahwa di sini dari dulu sudah pakai bahasa yang begitu. Apakah ini tanda-tanda tidak mau berubah atau sekedar malu?

    ReplyDelete