Thursday, December 24, 2015

Semoga Cepat Sembuh? Apakah Ini Kualitas Umat Islam?



Assalamu’alaikum wr.wb.,
Sepuluh hari yg lalu, saya dioperasi. Sesudah operasi, ada komplikasi krn ada pembengkakan yg seharusnya tidak terjadi, dan belum hilang smp sekarang. Hari Jumat pagi sebelum operasi, saya BBM banyak teman dan minta doanya. Kebanyakan teman balas dgn 3 kata, “Semoga cepat sembuh!”. Habis operasi, saya tidak boleh duduk utk 12 jam, rasa sakitnya lumayan keras, dan ada infeksi jadi dikasih suntikan antibiotik 10 kali. Akhirnya boleh pulang pada hari Minggu.

Lalu mulai terasa kesepiannya. Mungkin banyak teman merasa sudah tuntaskan kewajibannya utk peduli dgn ucapkan tiga kata, “Semoga cepat sembuh”. Kebanyakan teman saya tidak bertanya ttg hasil operasi, kapan boleh pulang, apa sudah bisa jalan kaki, apa ada makanan di rumah, apa ada uang, dsb. Yang saya dapatkan hanya tiga kata saja, lalu dilupakan.

Saya merenung. Kita tahu kisah ttg Rasulullah SAW yg dicaci-maki satu orang Yahudi setiap hari, dan ketika dia sakit, Nabi langsung datang ke rumahnya. Karena ada kasih sayang terhadap seorang “musuh”, orang Yahudi itu masuk Islam. Di medan perang, orang kafir yang dikalahkan dikasih makanan dan minuman, dan lukanya diobati dgn baik. Banyak dari orang kafir itu begitu terpesona sampai masuk Islam.

Ketika ada muallaf yang masuk Islam di masjid di sini, selalu dikatakan semua orang Muslim adalah “saudaranya”. Apakah benar? Di mana persaudaraan itu? Ketika saya dioperasi, kebanyakan orang yg menjadi sahabat dekat saya sebatas kirim BBM berisi tiga kata saja. Apakah itu persaudaraan? Apakah itu kualitas dari umat kita sekarang?

Bbrp teman saya bilang mereka pernah alami hal yang sama. Ketika sakit keras, opname, operasi, hanya saudara kandung yg perhatikan betul. Kebanyakan teman hanya kirim BBM, “Semoga cepat sembuh”. Apakah ini umat Islam yang diharapkan Rasulullah SAW? Jangan salah paham. Saya tidak marah. Ini menjadi pelajaran bahwa umat Islam belum berhasil hidupkan contoh Rasulullah SAW. Banyak orang Muslim sibuk dengan utamakan diri sendiri, pekerjaan dan keluarga, sampai hubungi teman yg sakit dianggap tidak penting. Apalagi datang. Apalagi menolong. Apa kita tidak bisa lebih baik dari itu? Kenapa kita sulit mengikuti contohnya Rasulullah SAW?

Hanya ada dua kemungkinan. Kita semua BERSAUDARA, atau kita hidup sendiri2 dan harus utamakan ibadah pribadi saja. Habluminallah (hubungan vertikal dgn Allah) menjadi kebanggaan kita. Tapi habluminannas (hubungan horizontal dgn manusia) bisa kita tinggalkan dgn begitu mudah.

Sekarang anda punya pilihan. Kalau ada teman yg sakit, tolong ingat pada contoh Rasulullah SAW. Kl anda sibuk dan sulit datang, anda bisa telfon, atau kirim SMS, BBM atau WA berkali-kali dalam satu minggu, hanya untuk menghibur orang itu.  Anda bisa membuat dia merasa disayangi oleh teman sesama Muslim (selain keluarga kandung). Dan juga dilakukan untuk teman non-Muslim, sesuai contoh Nabi.

Anda bisa berusaha meniru Rasulullah SAW dan menjadi seorang Muslim yang dekat dengan Allah dan juga dekat dengan manusia. Saya berharap umat Islam bisa bangun dari dunia mimpi, bisa bangkit dan bersatu, untuk menjadi pemimpin di dunia ini. Dan kita bisa berhasil kalau kita BERSATU. Jadi anda harus pilih sendiri utk utamakan dan menolong orang lain, Muslim dan non-Muslim, sesuai dengan contoh Rasulullah SAW. Apakah mau mengikuti dia? Kalau ada teman anda yg sedang sakit, coba hubungi dia berkali-kali, dan yakinlah bahwa usaha kecil itu akan diberikan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Apalagi kl bisa menolongnya. Kualitas dari umat Islam tergantung usaha kita semua. Allah sedang menunggu kita berubah. Semoga bermanfaat bagi teman2 yang mau merenung.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment