Monday, January 11, 2016

Gorontalo: 62 Persen Siswi SMP Tidak Perawan, 21 Persen Aborsi



Seringkali dalam survei seperti ini, responden sedikit, jadi kurang dipercayai. Tapi dalam survei ini, repsonden sebanyak 4.500 anak. Dgn jumlah seperti itu, hasilnya lebih kredibel. Mungkin sebagian dari anak berbohong, karena iseng saja. Walaupun begitu, jumlah yang didapatkan dari survei merupakan indikasi bahwa ada masalah besar di kalangan remaja di Indonesia. Sayangnya kebanyakan pemimpin negara tidak mau membahasnya, dan kebanyakan orang tua tidak mau dengar, selama anaknya orang lain yang menjadi korban. Selalu ada berita ttg banyak anak yang dinikahan dalam keadaan hamil di setiap daerah, dan meningkat terus. Ditambahkan lagi dgn kasus pemerkosaan dan sodomi, di mana kebanyakan pelaku juga anak remaja, dan mengaku tidak tahan nafsunya setelah sering nonton film porno di HP.
Tapi belum dianggap masalah nasional yang perlu diperhatikan. Seratus juta orang tua di Indonesia harus bersatu untuk selamatkan SEMUA anak bangsa. Tidak cukup kalau hanya pedulikan anak sendiri dan abaikan nasib anaknya orang lain. Anaknya orang lain itu bisa saja menjadi pelaku yang menyerang anak anda nanti.
-Gene Netto

Gorontalo: 62 Persen Siswi SMP Tidak Perawan, 21 Persen Aborsi
Kamis, 31 Desember 2015 | 11:40 WIB
POJOKSATU.id, GORONTALO – Pergaulan bebas remaja di Gorontalo semakin gila. BKOW Provinsi Gorontalo merilis hasil survei mereka dimana 62 persen siswi SMP sudah tidak perawan dan 21 persen pernah aborsi. Survei tersebut melibatkan 4.500 responden. Sebanyak 62,7 persen siswi SMP mengaku sudah pernah berhubungan intim layaknya suami istri. Menurut Dokter dari BKOW Gorontalo, Sulianti Otto, dari hasil survei tersebut, 97 persen remaja mengaku pernah  aktif menonton film dewasa.
Selain itu, 93,7 persen siswi SMP pernah melakukan ciuman dan 62,7 persen dari mereka mengaku sudah pernah berhubungan layaknya suami istri. “Yang mengejutkan lagi, 21,2 persen diantaranya pernah aborsi,” ujar Sulianti kepada Radar Gorontalo (grup JPNN/pojoksatu). Kata Sulianti, penanganan pergaulan bebas tak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Tapi butuh keterlibatan aktif dari orang tua, masyarakat hingga sekolah.

No comments:

Post a Comment