Monday, February 15, 2016

Pemuda Kristen Belajar Bahasa Isyarat Utk Sebarkan Kasih Sayang, Kita Kenapa Tidak?



Assalamu’alaikum wr.wb.,
Tadi saya mampir ke Sevel. Ada 5 orang di satu meja. Saya lihat mrk pakai bahasa isyarat. Saya berhenti dan bertanya2. Saya jelaskan ttg anak yatim yg tuli di Bekasi, yg keluarganya perlu belajar bahasa isyarat. Apa ada pusat pelatihan? Bisa belajar di mana? Berapa lama untuk belajar? Dsb. Mereka sptnya ragu2 untuk menjawab. Lalu dikatakan mereka belajar sendiri dari internet, dan ada teman yang melatih mereka di "pusat mereka". Jadi ada pusatnya dong? Tidak! Bukan tempat belajar bahasa isyarat, tapi tempat berkumpul saja.

Mungkin karena saya bertanya2 terus, akhirnya salah satunya menjawab. Katanya mereka (berempat) adalah Saksi Yehuwa. Dan sedang ajak satu bapak diskusi…. Saya menduga bapak itu orang miskin, tuli, dan mungkin juga Muslim. Lalu ada 4 pemuda Saksi Yehuwa yang mau habiskan waktunya untuk sayangi dia…. Lalu ke saya, mereka minta alamat dan nomor telfon untuk anak yatim di Bekasi itu…

Wednesday, February 10, 2016

Anak Yatim yang Tuli Kok Dipukul dan Didorong?



Kemarin saya bertemu dgn Ibu Rani, ibunya Nizam, anak tuli di Bekasi yg pada usia 5 tahun belum bisa bicara atau dengar. Saya diskusi sama Ibu Rani ttg kondisi hidup Nizam sehari2. Saya amati dari cara dia bermain dgn mobil2an bahwa IQ dia oke dan dia punya daya pikir yang normal utk usianya. Tapi karena belum bisa bicara, atau mendengar, saya bertanya ttg sosialisasi Nizam sama anak lain.

Ibu Rani sudah coba kirim Nizam ke sebuah TK agar dia bisa interaksi, ikut menggambar dsb. Tapi sayangnya, di TK itu, Nizam dipukul, didorong dan dicakar oleh anak2 lain. Untungnya dia tuli karena ketika mereka mengejeknya, dia tidak bisa dengar (tapi dari ekspresi mukanya, pasti sudah mengerti mereka benci dia). Nizam sudah bbrp kali dibawa ke TK untuk uji coba, tapi selalu pulang dalam keadaan menangis, jadi skg tidak boleh lagi. Dia dianggap "aneh"  oleh anak lain, tetapi daripada menunjukan EMPATI, mereka ingin membuang dia.

Saturday, February 06, 2016

Mendidik siswa untuk masa depan, bukan masa lalu



Tugasnya seorang guru sekarang adalah untuk menyiapkan anak untuk menghadapi masa depan yang tidak jelas. Tahun ini, ada siswa yg masuk SD kelas 1. Ada hal2 yang belum terwujud dan belum diciptakan di dunia. Ketika siswa lulus dalm 12 tahun, mungkin hal2 baru itu sudah menjadi bagian dari kehidupan normal. Contohnya banyak: komputer, internet, HP, iPad, Twitter, Facebook, Amazon, Uber, Instagram, dan seterusnya. Tidak ada di saat siswa masuk sekolah dulu, tapi setelah lulus, sudah menjadi normal.
Jadi guru harus siapkan siswa bukan untuk memahami sistem2 dunia yang lama, tapi harus siapkan siswa untuk menjadi mandiri dalam belajar, dan fleksibel untuk menggunakan sistem2 baru, yang belum pernah dipikirkan oleh manusia pada saat ini.
Jangan menjadi guru untuk masa lalu. Menjadi guru untuk masa depan.Dan siapkan generasi siswa yang hidup sekarang untuk menghadapi masa depan. 


Thursday, February 04, 2016

Pekerja Sosial Abdul Sattar Edhi



Abdul Sattar Edhi adalah orang Pakistan yang kerja selama 60 tahun untuk menolong orang lain. Dia telah selamatkan 20 ribu bayi yang tidak diinginkan, telah melatih 40 ribu perawat, dan 50 ribu anak yatim dapat tempat tinggal di panti asuhannya. Satu juta bayi telah lahir dalam Klinik Persalinan Edhi, ada 8 rumah sakit yang berikan pengobatan gratis, rumah sakit mata, klinik diabet, unit bedah, dan rumah sakit kanker.
Semuanya didirikan oleh satu orang bernama Abdul Sattar Edhi, yang punya keinginan untuk menolong orang lain. Jangan pernah ragu bahwa dunia bisa berubah dari usaha satu orang saja. Apalagi kl kita semua bersatu dengan satu tujuan.

Abdul Sattar Edhi
Abdul Sattar Edhi, NI (Memoni, Urdu: عبدالستار ایدھی‎) is a prominent Pakistani philanthropist, social activist, ascetic and humanitarian. He is the founder and head of the Edhi Foundation. Abdul Sattar Edhi has been running the Edhi Foundation in Pakistan for the better part of six decades. The foundation owns and operates a large ambulance service, free nursing homes, orphanages, clinics, women’s shelters, food kitchens, etc. In 1947, at the age of 19, Mr. Edhi's family was forced to flee to Karachi. Finding himself in a new city without any resources, Edhi resolved to dedicate his life to aiding the poor, and over the last sixty years, he has single handedly changed the face of welfare in Pakistan. Edhi founded the Edhi Foundation, with an initial sum of a mere five thousand rupees. Regarded as a guardian for the poor, Edhi began receiving numerous donations, which allowed him to expand his services. To this day, the Edhi Foundation continues to grow in both size and service, and is currently the largest welfare organisation in Pakistan.
Edhi has remained a simple and humble man. To this day, he owns two pairs of clothes, has never taken a salary from his organisation and lives in a small two bedroom apartment over his clinic in Karachi.

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...