Wednesday, February 10, 2016

Anak Yatim yang Tuli Kok Dipukul dan Didorong?



Kemarin saya bertemu dgn Ibu Rani, ibunya Nizam, anak tuli di Bekasi yg pada usia 5 tahun belum bisa bicara atau dengar. Saya diskusi sama Ibu Rani ttg kondisi hidup Nizam sehari2. Saya amati dari cara dia bermain dgn mobil2an bahwa IQ dia oke dan dia punya daya pikir yang normal utk usianya. Tapi karena belum bisa bicara, atau mendengar, saya bertanya ttg sosialisasi Nizam sama anak lain.

Ibu Rani sudah coba kirim Nizam ke sebuah TK agar dia bisa interaksi, ikut menggambar dsb. Tapi sayangnya, di TK itu, Nizam dipukul, didorong dan dicakar oleh anak2 lain. Untungnya dia tuli karena ketika mereka mengejeknya, dia tidak bisa dengar (tapi dari ekspresi mukanya, pasti sudah mengerti mereka benci dia). Nizam sudah bbrp kali dibawa ke TK untuk uji coba, tapi selalu pulang dalam keadaan menangis, jadi skg tidak boleh lagi. Dia dianggap "aneh"  oleh anak lain, tetapi daripada menunjukan EMPATI, mereka ingin membuang dia.

Kalau Nizam diajak ke masjid, dia selalu berangkat dgn gembira kata ibunya. Sama guru ngaji, dia dikasih contoh2 huruf Arab, dan Nizam bisa membuat salinan. Dia menjadi gembira. Tapi dia hanya bisa ikut TPA di rumah tetangga yg sepi. Kl ikut TPA di masjid, dgn banyak anak tetangga, maka sekali lagi dia dipukul, didorong dan dicakar, dan pulang ke rumah dalam keadaan menangis. Ternyata anak yatim itu tidak aman di rumah Allah.

Saya sudah terbiasa duduk bersama anak kecil, ketika ada bayi baru di rumah, atau anak kucing, dan semua anak itu dengan mudah bisa diajarkan untuk BEREMPATI, dan mengusap kepala dan badan adik atau kucing dgn pelan dan lembut. Dijelaskan bahwa adik atau kucing itu belum bisa ikut bermain, jadi harus disayangi dulu dan ditunggu, sampai menjadi besar. Dari pengalaman saya, semua anak bisa paham dan laksanakan. Tapi dgn Nizam, kok belum ada orang tua dan guru yang bisa berhasil mengajarkan mereka berempati??!!!

Sudah sering saya dengarkan komentar dari orang tua, guru dan orang dewasa lain, yg menganggap banyak anak di sini punya rasa "empati" yang sangat kurang. Tapi tidak ada yang bisa jelaskan kenapa. (Satu contoh, setiap hari di banyak kota ada tawuran, tapi di negara2 tetangga tidak ada, apalagi yang rutin. Kebencian terhadap anak lain banyak, empati minimal.)

Pertanyaan saya, kenapa Nizam, seorang ANAK YATIM yang tuli dan belum bisa bicara menjadi tidak aman di tengah anak2 Muslim yang lain? Empatinya ke mana? Dan siapa yang bisa mengajarkannya, kalau orang tua dan guru belum berhasil?
-Gene Netto

No comments:

Post a Comment