Monday, March 14, 2016

Apa Sulit Bagi Orang Muslim Untuk Sayangi Saudaranya?



Assalamu’alaikum wr.wb.,
Ketika saya masih sakit habis operasi hernia, dan menunggu kabar dari dokter ttg operasi tambahan, saya menjadi depresi dan menangis setiap hari. Saya sudah siap bunuh diri, kl tidak haram. Saya memberitahu semua teman Muslim saya, tapi yang balas tidak sampai sepuluh orang. Yang telfon hanya dua orang, yang bertemu saya hanya dua orang. Kebanyakan hanya mengatakan "Semoga cepat sembuh". Beginilah kualitas dari umat Islam? Ketidakpedulian orang Muslim terhadap sesama sudah menjadi perkara umum. Banyak orang merasa kewajibannya sudah lunas kl ucapkan tiga kata sakti: "Semoga cepat sembuh".

Contoh Rasulullah SAW tidak seperti itu. Dia menjenuk musuh Yahudi yang sakit, lalu orang itu masuk Islam karena terpesona. Nabi mengatakan umat Islam ibaratnya satu tubuh: Ketika satu anggota sakit, yang lain ikut merasakan sakitnya. Jadi kenapa umat Islam tidak penuh kasih sayang terhadap sesama, sesuai dengan harapan Nabi SAW? Umat yang digambarkan oleh Nabi seperti umat khayalan yang hanya ada di dunia mimpi.

Apa kita bisa BERSAUDARA? Atau lebih baik hidup sendiri2? Habluminallah (hubungan vertikal dgn Allah) menjadi kebanggaan kita. Tapi habluminannas (hubungan horizontal dgn manusia) kita anggap tidak penting? Anda punya pilihan. Kalau teman anda sakit, atau hidup dalam kesulitan, anggap dia sebagai SAUDARA, sesuai ajaran Rasulullah SAW. Kl anda sibuk, bisa perhatikan dia lewat telfon, email, SMS, BBM, WA dsb.

Umat Islam di Indonesia punya kesempatan dan kemampuan untuk BANGKIT, BERSATU dan menjadi PEMIMPIN DUNIA. Tetapi umat Islam sendiri yang membuat negara ini rusak dengan banyak korupsi, tidak peduli pada tetangga, dan hidup sendiri2. Kita kejar nikmat dunia, dengan abaikan kesulitan "saudara yang Muslim". Jadi kita yang harus berubah, sebelum bisa menjadi pemimpin bagi yg lain. Kita bisa berhasil kalau kita BERSATU. Jadi anda harus pilih sendiri utk utamakan dan menolong orang lain, Muslim dan non-Muslim, sesuai dengan contoh Rasulullah SAW. Apakah mau mengikuti dia?
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment