Tuesday, August 02, 2016

Apakah Erdogan Menjadi Seorang Diktator?



Assalamu’alaikum wr.wb., Kemarin ada kudeta militer di Turki. Setelah menjadi berita, saya baru tahu banyak teman Muslim di Indonesia mengagumi Erdogan. Katanya, dia pemimpin Muslim yg baik dalam negara demokrasi. Benar? Ada banyak hal positif yang terjadi sejak Erdogan menjadi Perdana Menteri dari 2003 to 2014. Ekonomi meningkat, kekuasaan militer dikurangi, perempuan diizinkan pakai jilbab, antara lain. Tapi, ada sisi lain. Sudah lama ada laporan2 pelanggaran HAM di Turki. Dari Uni Eropa,  PBB, Amnesty International, antara lain. Tetapi Turki merupakan sekutu bagi negara2 barat, dalam melawan ISIS, dan menahan pengungsi Suriah, jadi mereka berhati2 terhadap Turki. Sudah jelas ada kudeta kemarin, tapi kondisi sesudahnya seharusnya membuat kita prihatin. Pemerintah menangkap dan memecat banyak orang secara cepat. Ini merupakan indikasi ada Daftar Nama yang sudah disiapkan sebelumnya.

Pemerintah Turki pecat atau menahan lebih dari 60 ribu orang. Lebih dari 8 ribu prajurit dan 100 jenderal dan laksamana ditahan. Dua puluh ribu guru sekolah dipecat, 1,577 dekan, dan 15 universitas ditutup. Juga ada ribuan dosen, PNS, 1.400 hakim, jaksa, polisi, dan lain2 dipecat. Puluhan lembaga berita ditutup, wartawan ditangkap. Juga ada 2.341 lembaga termasuk sekolah, yayasan, klink berobat dll. yg ditutup. Seorang menteri sudah menyatakan ini "permulaan" saja. PBB dapat laporan ttg tahanan yang disiksa agar mengaku, dan PBB minta izin kunjungi tahanan. Turki tidak menjawab.

Turkey punya ranking 151 dalam World Press Freedom Index (Daftar Kebebasan Pers Dunia). Posisi itu berada di bawah Tajikistan, Bangladesh, Myanmar, dll. Seorang editor yg mengritik Erdogan di tahun 2015 diancam dgn 2 kali penjara seumur hidup. Erdogan sudah menyatakan internet dan medsos adalah ancaman terhadap negaranya. Pasal 26 dari Konstitusi Turki memberikan hak bicara bebas. Pasal 34 memberikan hak berkumpul secara bebas, dan hak melakukan demonstrasi tanpa izin. Tetapi kudeta, banyak lembaga melaporkan pelanggaran HAM, termasuk siksaan dalam tahanan polisi, demo dibubarkan secara paksa, kematian dalam tahanan, dan tahanan yg "hilang". Dalam konstitusi, semua hak warga bisa dibubarkan oleh Presiden dalam keadaan "Darurat Negara". Dua minggu yang lalu, Erdogan tetapkan Darurat Negara.

Di negara demokrasi, apa Presiden punya wewenang untuk memecat hakim? Sekarang tinggal hakim yang pro-Erdogan saja, dan mereka memimpin sidang. Semua negara demokrasi memisahkan 3 lembaga pemerintah (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) agar hukum tidak bisa diacak oleh satu pemimpin. Di Turki, DPR dan Pengadilan sudah tunduk dengan kuasa Presiden. Sebelum Erdogan menjadi Presiden pada Augustus 2014, posisi presiden negara bersifat "seremoni". Presiden hadiri pertemuan dan upacara, dan Perdana Menteri yg berkuasa. (Jerman, India, Irlandia, dll. juga spt itu.) Tapi setelah Erdogan menjadi Presiden, kekuasaan negara dipindahkan dari Perdana Menteri ke Presiden. (Dan ternyata istana 1.150 kamar juga pindah ke Presiden). Ada komentar Erdogan ingin menjadi Presiden yg berkuasa mutlak, dan ada pendukung yg berikan julukan "Sultan".

Dua petinggi negara Turki yg dikutip wartawan menyatakan bahwa sebelum kudeta, pemerintah sudah rencanakan penangkapan massal terhadap para jenderal, yang dianggap berafiliasi terhadap Fethullah Gulen, atau sekuler. Tapi karena ketahuan akan ditangkap, mereka kudeta duluan tanpa perencanaan. Bagi yang belum tahu, Bapak Fethullah Gulen adalah mantan sahabat Erdogan. Dia juga anti-sekuler, dan anti-militer. Bersama Erdogan, dia dukung pemerintahan sipil dan menolak kudeta dulu. Gulen mengajarkan sunni Islam yang bertoleransi, menolong orang, hidup sederhana, utamakan pendidikan, dsb. Gerakannya, yg disebut "Hizmet" (Pelayanan), mendirikan ratusan sekolah dan lembaga lain di manca negara.

Gerakan Gulen telihat mirip Muhammadiyah. Komunitas agama, mendirikan lembaga sosial dan pendidikan, tapi tidak mendirikan sayap militer atau politik (bedanya, sekarang ada PAN juga). Gerakan Gulen berbeda dgn Hamas dan Hizbullah yang terstruktur secara kuat, dan punya sayap politik dan militer. Sekarang Gulen dinyatakan "organisasi teroris", tanpa pernah lakukan pengemboman, penembakan, pembajakan, dll. Setelah kudeta militer 1980, para jenderal menuduh Gulen mau menjatuhkan pemerintahan militer, dan dia ditangkap. Ketika bebas, dia pergi ke Amerika dan tinggal di sana sejak 2000.

Gulen tidak mau mendirikan partai politik. Erdogan mau. Jadi mereka berpecah, tapi pengaruh Gulen lewat kegiatan pendidikan dan sosial tambah besar. Tahun 2013, ada tuduhan korupsi terhadap beberapa menteri Erdogan, dan anaknya, lalu Erdogan bermusuhan dgn Gulen. Pendukungnya Gulen dikatakan berada di belakang semua kejadian anti-Erdogan. Sekarang Fethullah Gulen dicap dalang kudeta, dan pendukung Gulen dianggap musuh negara (walaupun tidak ikut kudeta).

Pernah ada kejadian serupa. Adolf Hitler dipilih secara demokratis dan dicintai rakyat. Lalu gedung parlemen terbakar, dikatakan pelakunya Komunis, dibuat Darurat Negara, dan Komunis ditangkap secara massal. Nazi berkuasa mutlak, Hitler berkuasa mutlak. Hak bicara bebas dan hak berkumpul dicabut, koran ditutup, wartawan, redaksi, dosen, cendekiawan, hakim dan sebagainya yg tidak pro-Nazi ditangkap atau dipecat. Apa bisa melihat kemiripan dgn Turki dan Erdogan?

Jadi, memang terjadi kudeta. Belum bisa dipastikan apa dilakukan oleh Gulen. Bisa saja ada sekelompok pendukung Gulen yang bersatu (tanpa komando dari Gulen). Juga bisa ada jenderal dan kaum elit yg ingin kembalikan kondisi negara sekuler. Tapi karena Gulen sudah dihakimi Presiden Erdogan, maka sulit untuk dapat hasil investigasi independen. Sepertinya Erdogan tidak melakukan kudeta sendiri, dan memang dilakukan oleh satu bagian kecil dari tentara. Apa Erdogan adalah presiden baik dalam negara demokrasi? Sayangnya, terlihat Erdogan makin mirip dgn Adolf Hitler, Stalin, Kim Jong-Il, Mubarok, Saddam Hussein, Ghadaffi, dan Soeharto. Erdogan adalah pemimpin yang dipilih secara demokratis dan dicintai oleh rakyat, tapi sudah membangun posisi kuat utk diri sendiri, dan singkirkan semua orang yang mengritiknya. Ingat bahwa Adolf Hitler juga dipilih dan dicintai oleh rakyat. Lalu terjadi perang dunia kedua. Jadi sabar dan berhati2 dalam menilai informasi "pro-Erdogan" atau "anti-Erdogan".

Jadi ada banyak hal yang terkesan ganjil sesudah kudeta Turki, dan tidak ada kepastian. Tapi ada indikasi dan pola, yang mirip dgn indikasi dan pola yang pernah terjadi di negara lain. Yg sedang terjadi di Turki bisa berakhir dgn "negara polisi" (spt Korea Utara), atau perang sipil, atau perang terhadap tetangga. Sebaiknya kita buka mata, baca semua info, dan berhati2. Dalam sejarah manusia, jarang ada akhir yg baik ketika seorang pemimpin negara berikan kekuasaan mutlak pada diri sendiri, dan penjarakan orang yg tidak sependapat. Hitler dan Soeharto juga melakukannya. Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
-Gene Netto


SUMBER:

Video: President Erdoğan: the Turkish strongman silencing journalists
Oct 29, 2015

Turkey: Arrest warrants issued for 42 journalists

Turkey: Coup plotters 'acted early' in fear of arrests
Turkey officials say coup plotters likely to have staged attempt prematurely, after learning they were to be arrested.

Penjelasan pemerintahan Turki dari 20 tahun yang lalu sampai sekarang. Sangat menarik.
How Erdogan Made Turkey Authoritarian Again

Daftar wartawan yang dipenjarakan ini sudah kadaluwarsa dan belum dibuat update terbaru. Bisa dilihat bahwa penangkapan wartawan dan redaksi sudah menjadi hal yang sangat umum selama Erdogan menjadi Perdana Menteri.
List of arrested journalists in Turkey

Human rights in Turkey

Recep Tayyip Erdoğan

Turkey: 283 Presidential Guard soldiers in custody

Turkey continues to suspend state workers

Dari wartawan Turki di Universitas Oxford.
Turkey coup: Who was behind Turkey coup attempt?

Turkey coup attempt: President accuses foreign governments of possible involvement as state of emergency imposed

Hundreds fired by Turkish companies after attempted coup

Foreign Ministry to dismiss ambassador-level diplomats over Gülen links

Turkey’s interior minister says plotters’ ‘brain team’ among police intelligence

Turkey Coup: Erdogan bans all academics from leaving country as government crackdown intensifies

Former CIA Officials Give Turkish Coup Plotters Advice On CNN

Turkey coup: What is Gulen movement and what does it want?

Turkey coup attempt: Erdoğan declares three-month state of emergency

2016 World Press Freedom Index

Turkey coup attempt: Charges laid against 99 generals and admirals

Erdogan's purge may give Nato no choice but to expel Turkey from the alliance

What Caused the Turkish Coup Attempt

Detainees beaten, tortured and raped after failed Turkey coup, Amnesty says

Turkey: Independent Monitors Must Be Allowed To Access Detainees Amid Torture Allegations

No comments:

Post a Comment