Tuesday, August 30, 2016

Geger Panama Papers: Indonesia 10 Besar Penyimpan Dana di Negara Suaka Pajak



Belum paham kenapa Indonesia belum menjadi negara maju dari dulu? Bocoran data yang disebut "Panama Papers" ini menjelaskan. Para pemimpin dan elit bisnis dari Indonesia lebih suka simpan uang di negara bebas pajak spt Panama, agar bisa hindari pembayaran pajak dgn cara apapun. Karena pemerintah tidak dapat ratusan triliun rupiah dari pajak, maka banyak program sosial untuk mensejahterakan keluarga miskin sering tidak optimal, gagal, atau tidak pernah dibentuk (Raskin, BPJS, dll). Kaum elit (pemimpin politik dan bisnis) yang hidup dalam keadaan nyaman dan aman, di mana anak mereka dijamin dapat kondisi sejahtera, tidak peduli pada anak tetangga. Dan lebih lucu lagi, Indonesia termasuk 10 negara TERBESAR yg menyimpan dana di Panama untuk hindari pajak (atau cuci uang illegal).
Welcome to the real Indonesia. Kapan umat Islam akan bersatu untuk memilih pemimpin sejati yang peduli pada rakyat?
-Gene Netto

Geger Panama Papers: Indonesia 10 Besar Penyimpan Dana di Negara Suaka Pajak

Aset keuangan Indonesia di negara-negara tax haven mencapai $331 miliar atau setara Rp4.400 triliun

Selasa, 05 April 2016 16:29:22 WIB Rini Winati
Bareksa.com – Dunia sedang digegerkan bocornya dokumen keuangan dan pajak 'The Panama Papers', yang menyeret banyak nama tokoh dunia. Beberapa nama pengusaha besar Indonesia pun bermunculan, antara lain Sandiaga Uno (Saratoga), James Riady (Lippo Group), Franciscus Welirang (Indofood), Muhammad Riza Chalid (pengusaha minyak), dan Djoko Soegiarto Tjandra (pemilik Grup Mulia yang terkait skandal Bank Bali). Dua nama terakhir sedang berurusan dengan penegak hukum.
Terungkap dalam dokumen tersebut, para pengusaha itu memiliki offshore company (perusahaan yang didirikan di luar wilayah domisili bisnis) di Panama. Tujuannya untuk memanfaatkan keringanan tarif pajak yang ditawarkan negara itu. Sebagaimana diberitakan Majalah Tempo, Sandiaga yang juga merupakan bakal calon Gubernur DKI Jakarta, memiliki keterkaitan dengan tiga perusahaan offshore, yakni: Aldia Enterprises Ltd, Attica Finance Ltd., dan Ocean Blue Global Holdings Ltd.
Perlu digarisbawahi, cuma sebagian perusahaan dan pihak yang diungkap Panama Papers tersebut yang diindikasikan terlibat bisnis ilegal seperti pencucian uang, narkoba dan kejahatan terorganisir. Sebagian yang lain, belum ada bukti mereka terlibat dalam aktivitas yang melanggar hukum.
Menurut data Tax Justice Network tahun 2010, Indonesia masuk dalam daftar 10 besar negara di dunia yang memiliki aset keuangan terbesar di negara suaka pajak (tax haven). Lebih hebat lagi, Indonesia menempati posisi kesembilan dan merupakan satu-satunya negara dari Asia Tenggara di daftar top-10 ini. Jumlah aset dari Indonesia tercatat sebesar $331 miliar atau setara Rp4,400 triliun dengan asumsi Rp13.300/$.
Tak cuma itu, aliran dana ilegal dari Indonesia juga masuk daftar 10 besar di dunia sebesar $188 miliar atau sekitar Rp2.500 triliun. Indonesia menempati posisi ketujuh setelah Brasil.
(baca selengkapnya);

Ribuan Nama Asal Indonesia dalam Skandal Panama Papers

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Skandal cuci uang dalam Panama Papers terkait firma hukum Mossack Fonseca yang disusun oleh Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional (ICIJ) juga mencatut ribuan nama dari Indonesia. Sejumlah nama familiar terdengar publik.
Menurut daftar ICIJ, ada 2.961 nama dalam daftar Officers & Master Clients, sementara daftar offshore entities ada 43 dan listed addresses berjumlah 2.400 yang sebagian besar berada di Jakarta dan Bali.
ICIJ mengatakan semua data dalam 11,5 juta dokumen itu tidak serta merta menjadikan mereka melanggar hukum. Sejumlah nama Indonesia yang familiar yaitu Chairul Tanjung, Djan Faridz, Rachmat Gobel, James T. Riady, Anindya Bakrie hingga Sandiaga Uno.

No comments:

Post a Comment