Tuesday, August 30, 2016

Guru Dipukul? Siswa Dipukul? Apa Bedanya?



Assalamu’alaikum wr.wb.,
Ada berita tentang seorang guru yang dipukul orang tua di SMKN 2 Makassar. Banyak guru marah, teriak, menuntut ada UU Perlindungan Guru, dan lain-lain. Anggota DPR, menteri, ketua organisasi, dan lain-lain ikut berpendapat. Tiga hari sebelumnya, ada berita satu lagi. Seorang oknum guru menyerang siswa dgn balok kayu dan senjata tajam, dan siswa kena luka. [Oknum Guru Aniaya Siswa dengan Balok Kayu dan Senjata Tajam, 7 Agustus 2016, http://bit.ly/2btRfO4]. Apa menjadi berita nasional yang dibahas semua orang? Tidak. Bedanya apa?

Banyak guru marah dan minta perlindungan ketika seorang guru menjadi korban. Tetapi ketika siswa menjadi korban di tangan guru, kebanyakan guru bersikap "tidak peduli", mengatakan "oknum guru" saja, dan biarkan berlalu. Kenapa tidak menunjukkan sikap seperti itu juga ketika guru menjadi korban? Cukup mengatakan "oknum orang tua" saja dan biarkan berlalu. Ternyata kepedulian terhadap korban siswa dan korban guru berbeda sekali. Puluhan ribu atau ratusan ribu siswa bisa merasakan kekerasan dari tangan guru setiap tahun, tanpa perhatian besar. Sedangkan ketika satu guru menjadi korban, seluruh negara harus membahasnya. Nilai manusia bernama guru begitu tinggi, nilai ribuan manusia bernama siswa begitu rendah. Ini sebuah "standar ganda".

Menurut para guru, gurulah yang harus dianggap sebagai kaum yang lemah, terpojok dan rawan menjadi korban kekerasan. Siswa tidak. Ada guru yang ingin hapus UU Perlindungan Anak biar guru bebas memukul anak tanpa sanksi. Ketika seorang guru memukul siswa, katanya "dengan niat mendidik". Katanya tinggal di daerah keras. Katanya banyak siswa hanya bisa belajar kalau dipukul dan ilmu pendidikan tidak berlaku. Katanya orang tua memukul di rumah, jadi guru juga boleh. Guru-guru seperti itu seakan-akan tidak mau tahu tentang prinsip yang diajarkan secara tersirat setiap hari. Guru memukul siswa = "Saya berkuasa. Saya bisa atasi masalah dengan kekerasan! Diam dan taat saja!" Ketika siswa atau orang lain menggunakan kekerasan untuk atasi masalah, guru bingung dan bilang "tidak tahu" dari mana mereka belajar untuk atasi masalah dengan kekerasan, padahal guru dan orang tua memberikan contoh nyata bertahun-tahun!

Ini sebuah lingkaran setan kekerasan. Orang tua memukul anak, guru memukul anak, lalu anak menjadi dewasa dan memukul orang lain, termasuk guru. Guru belum mengajarkan anak untuk menegakkan keadilan, membela kebenaran dan berpegang teguh pada prinsip benar adalah benar, dan salah adalah salah. Pendirian yang kuat tidak ada di kalangan guru karena "diam dan taat" pada pihak yang berkuasa adalah sikap yang dicontohkan banyak guru. Kalau guru pukul siswa, salah. Kalau siswa pukul guru, salah. Kalau orang tua pukul guru, salah. Ada satu hukum untuk semua. Itu kebenaran, dan siswa perlu belajar tentang itu dari guru yang mulia, yang tidak mau tukar kebenaran dengan harga yang sedikit.

Kalau siswa menjadi korban pemukulan, serahkan ke proses hukum, dan dikeluarkan oknum guru itu dari sistem pendidikan. Kalau guru menjadi korban pemukulan, serahkan ke proses hukum juga. Tiga juta guru profesional harus membuktikan bahwa kita bisa selesaikan masalah dengan dialog, bukan dengan kekerasan. Kita harus siapkan generasi baru untuk menjadi pemimpin dunia, bukan kaum yang siap tunduk, diam dan taat ketika berhadapan dengan kedzholiman.

Buat apa Sukarno dan para pejuang siap mati memberikan kemerdekaan kepada rakyat Indonesia kalau para guru balas perjuangan itu dengan mendidik anak untuk diam dan taat di hadapan pihak yang dzholim, dan mendidik anak untuk tidak berani melawan, tidak berani berbeda, dan siap tukar benar dan salah kapan saja disuruh? Lingkaran setan kekerasan di tengah masyarakat dan sekolah hanya akan hilang setelah guru mulai memberi contoh dan mendidik calon orang tua masa depan yang sedang belajar di hadapan guru. Saya yakin Sukarno akan setuju bahwa anak Indonesia berhak dapat sistem pendidikan kualitas dunia dan guru mulia yang sangat ahli di bidangnya, dan berhak dapat orang tua yang berkualitas tinggi yang penuh kasih sayang dan kemuliaan. Jadi kita semua harus mau mendidik siswa untuk menegakkan keadilan, membela kebenaran dan berpegang teguh pada prinsip yang benar, demi masa depan bangsa yang merdeka dan berjaya.

Indonesia sanggup menjadi pemimpin dunia. Tetapi sebelumnya, para guru harus bangkit dan bersatu, dan berikan contoh pendidikan kualitas tinggi, dan buktikan bahwa anak Indonesia bisa dididik tanpa kekerasan untuk menjadi pemimpin, pelopor dan penemu. Lingkaran setan kekerasan harus dihentikan oleh para guru terlebih dahulu. Masa depan bangsa ini berada di tangan para guru dan orang tua. Jadi kita butuh guru dan orang tua yang terbaik untuk menciptakan generasi mendatang yang berkualitas. Sekarang 3 juta guru dan 100 juta orang tua harus memilih. Kita bisa teruskan kondisi sekarang, biarkan guru memukul anak, dan hanya marah ketika guru menjadi korban. Atau, kita bisa bersatu untuk memberikan pendidikan dan parenting dengan kualitas terbaik di dunia kepada 60 juta anak lewat sistem pendidikan nasional dan juga di rumah dengan orang tua berkualitas, yang tidak membutuhkan kekerasan untuk memberikan pelajaran. Silahkan pilih sendiri. 
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment