Sunday, August 21, 2016

Renungan tentang Coklat dan Shalat



Minggu kemarin saya mampir ke Carrefour utk belanja sedikit sebelum pulang. Saya lagi pengen makan coklat. Anehnya, di tempat coklat semua batang SilverQueen tidak ada. Di rak ada sticker SilverQueen, tapi stok kosong. Kok bisa habis total? Saya bertanya ke seorang pelayan. Dia senyum. "Tidak habis Pak. Dijaga di sana, di tempat susu anak." Kok dijaga? Saya ke tempat susu. Coklat SilverQueen banyak. Tapi dijaga oleh pelayan dgn kasir di depannya. "Kalau mau beli coklat, harus di sini Pak. Bayar langsung!" Lho? Kok? Saya bertanya kenapa begini. Pelayan itu menjelaskan. Ternyata, coklat SilverQueen dicuri terus. Setiap bulan ada kerugian lebih dari 20 juta rupiah, di satu toko saja, dari satu jenis coklat itu saja. Belum yang lain.

Negara penuh orang Muslim, dengan pendidikan agama di sekolah, di rumah, di masjid dan musholla. Hasilnya, banyak anak bisa shalat dan ngaji, tapi belum tentu bisa menahan diri dari mencuri barang bukan miliknya. Setiap kali ada perampok, pembunuh, pemerkosa, pencuri  dll. yg tampil depan media (setelah ditangkap) seringkali pakai baju koko (karena mau tampilkan agamanya sebelum dihukum). Tapi ketika dibutuhkan pendidikan AKHLAK dan budi perkerti dari agama jauh hari sebelumnya, banyak anak tidak terima. Dikasih kulitnya agama saja. Teknisnya saja. Dikasih bentuk ibadah, tapi bukan hakekat dari ibadahnya. Dapatnya "ibadah kosong" alias gerakan dan ucapan tanpa makna di dalam hati.

Bagaimana caranya melakukan perubahan terhadap sistem pendidikan agama sehingga menghasilkan orang Muslim yg tahu bentuk teknis ibadah dan juga tahu makna dari ibadahnya, dan bisa menghidupkan dalam kehidupan sehari-hari?



No comments:

Post a Comment