Wednesday, August 17, 2016

Surat Terbuka Kepada Guru Indonesia Tentang Kekerasan



Assalamu’alaikum wr.wb.,
Ada berita tentang seorang guru yang dipukul orang tua di SMKN 2 Makassar. Banyak guru marah, teriak, dan menuntut ada UU Perlindungan Guru. Anggota DPR, menteri, dan ketua organisasi ikut berpendapat. Tiga hari sebelumnya, ada berita satu lagi. Seorang oknum guru menyerang siswa dgn balok kayu dan senjata tajam, dan siswa kena luka. [Oknum Guru Aniaya Siswa dengan Balok Kayu dan Senjata Tajam, 7 Agustus 2016, http://bit.ly/2btRfO4]. Apa menjadi berita nasional yang dibahas semua orang? Tidak. Bedanya apa?

Banyak guru marah dan minta perlindungan ketika seorang guru menjadi korban. Tetapi ketika siswa menjadi korban di tangan guru setiap hari, kebanyakan guru "tidak peduli". Ternyata kepedulian terhadap korban siswa dan korban guru berbeda sekali. Puluhan ribu atau ratusan ribu siswa bisa merasakan kekerasan dari tangan guru setiap tahun, tanpa perhatian besar. Ini sebuah "standar ganda".

Menurut banyak guru, gurulah yang harus dianggap sebagai kaum yang lemah, terpojok dan rawan menjadi korban kekerasan. Siswa tidak. Ketika seorang guru memukul siswa, katanya "dengan niat mendidik". Katanya tinggal di daerah keras. Katanya orang tua memukul, jadi guru juga boleh. Guru-guru itu tidak mau tahu tentang prinsip yang diajarkan secara tersirat setiap hari. Guru memukul siswa = "Saya berkuasa. Saya bisa atasi masalah dengan kekerasan!"

Ini menciptakan sebuah lingkaran setan kekerasan. Orang tua memukul anak, guru memukul anak, lalu anak menjadi dewasa dan memukul orang lain, termasuk guru. Banyak guru belum mau mengajarkan anak untuk menegakkan keadilan, membela kebenaran dan berpegang teguh pada prinsip benar adalah benar, dan salah adalah salah. Kalau guru pukul siswa, atau siswa pukul guru, atau orang tua pukul guru, semuanya salah dan melanggar hukum. Ada satu hukum untuk semua. Itu kebenaran. Tiga juta guru profesional harus bangkit dan bersatu untuk membuktikan bahwa kita bisa selesaikan masalah dengan dialog dan ilmu pendidikan, bukan dengan kekerasan.

Buat apa Sukarno dan para pejuang siap mati untuk memberikan kemerdekaan kepada rakyat Indonesia kalau para guru balas perjuangan itu dengan mendidik anak untuk tidak berani melawan, tidak berani berbeda, dan siap tukar benar dan salah kapan saja? Lingkaran setan kekerasan di sekolah dan masyarakat hanya akan hilang setelah guru memberikan contoh yang baik, lalu anak Indonesia akan dapat pendidikan kualitas dunia dari guru yang ahli dan orang tua yang penuh kasih sayang.

Indonesia sanggup menjadi pemimpin dunia. Tetapi sebelumnya, para guru harus bangkit dan bersatu, dan mendidik anak tanpa kekerasan untuk menjadi pemimpin, pelopor dan penemu. Untuk mencapai tujuan itu, lingkaran setan kekerasan harus dihentikan oleh para guru dan orang tua. Sekarang 3 juta guru dan 100 juta orang tua harus memilih. Kita teruskan kondisi sekarang, biarkan guru terus memukul anak, dan hanya marah ketika guru menjadi korban. Atau, kita bersatu untuk memberikan pendidikan dan parenting dengan kualitas terbaik di dunia kepada semua anak Indonesia untuk menciptakan negara yang maju dan sejahtera. Silahkan pilih sendiri. 
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment