Tuesday, October 25, 2016

Anak Tewas Dianiaya Ibu Tiri Jahat, Kok Guru Yang Salah?



Dafa, anak SD usia 7 tahun di Ciledug, Tengerang, telah wafat. Ada dugaan kuat dia dianiaya oleh ibu tirinya yang jahat hingga tewas. Di sekolah, guru lihat darah di kepala Dafa. Dafa tidak mau menjelaskan. Guru melakukan pendekatan lembut, dan akhirnya Dafa mengaku kepalanya dipukul oleh ibu tiri yang jahat. Sampai di sini, guru BENAR. Guru melihat anak yang trauma, dan mencari penjelasan. Luka2 Dafa difoto oleh guru.

Tetapi kemudian, guru berubah menjadi SALAH. Guru panggil ibu tiri yang jahat ke sekolah, dan tanya apakah dirinya jahat dan hajar kepala Dafa. Ibu yang jahat itu mengaku bahwa dia tidak jahat. Sikap guru? Yowes, silahkan bawa Dafa pulang saja! Guru tidak lapor ke polisi, tidak lapor ke saudara anak yg lain, tidak bawa ke dokter, tidak melakukan tindakan profesional untuk PASTIKAN ANAK ITU AMAN. Besok Dafa wafat. Mohon maaf, tapi guru yang salah!

Seharusnya guru lapor ke polisi dan anak tidak dipulangkan karena ada dugaan bahaya di rumah. Saudara yg lain bisa jaga dia sambil polisi melakukan penyelidikan. Ketika kepala anak berdarah, dan dia mengaku dihajar oleh ibu tiri, maka sangat tidak adil, tidak manusiawi, tidak logis dan tidak sesuai dgn tanggung jawab moral profesi guru kl kemudian guru bersikap "Silahkan kamu kembali ke rumah yang berbahaya dan semoga malam ini selamat." Dan ketika anak malah mati, kok gurunya kaget? Ternyata guru tidak tahu bahwa anak yang kepalanya dihajar terus dengan kayu bisa wafat!

Saat jenazah Dafa dimandikan, terlihat bekas sundutan rokok di tubuhnya. Kalau dari awal guru sudah panggil polisi, maka polisi pasti visum dan seluruh badan Dafa akan diperiksa. Tapi guru tidak mau bertanggung jawab secara profesional, dgn cari bantuan dari polisi dan dokter. Guru lepaskan anak ke tangan orang berbahaya begitu saja. Mohon maaf, tapi sering terlihat guru sekolah di Indonesia tidak bisa atau tidak mau peduli untuk utamakan keselamatan anak.

Anak tewas setelah dipakasakan lari lapangan dan sesak nafas, dicap "musibah". Anak tewas karena tertimpa mading, dicap "musibah". Anak tewas setelah diserahkan kembali ke ibu tiri yg jahat juga dicap "musibah". Oleh para guru, semua kasus kematian anak selalu dicap musibah. Bukan kelalaian guru. Keselamatan anak kecil ternyata bukan urusan guru. Apa ini kualitas guru terbaik yang bisa kita berikan kepada anak Indonesia? Satu lagi anak Indonesia mati dengan sia-sia. Semoga para guru mau belajar dari kejadian ini. Semoga para guru mau berubah dan menjadi kaum profesional, sebelum anak anda menjadi korban berikutnya.
-Gene Netto

Guru Panggil Ibu Tiri, Esoknya Murid SD di Ciledug Ini Tewas  

No comments:

Post a Comment