Friday, August 11, 2017

Jangan Emosi Kalau Pemimpin Dikritik



Kemarin saya bertanya apa Jokowi bisa paham pemimpin2 negara Eropa yang sedang berbincang di sekitarnya. Banyak orang muncul di sini dan mengritik saya. Katanya saya sinis, menghinakan presiden, emang saya siapa, apa yang saya lakukan dibandingkan dia, dan buntutnya saya disuruh segera keluar dari Indonesia.

Ternyata dilarang bertanya ttg Jokowi. Atau banyak orang yang super sensi ttg topik Jokowi? Mungkin banyak org di sini kagum dgn orang Korea Utara yang hanya boleh puji pemimpin negaranya. Dia dianggap sangat ahli dalam semua hal bahkan seorang dewa, dilarang mengritiknya, apalagi bertanya ttg kemampuannya. Sejak menjadi pemimpin, langsung (simsalabim) menjadi manusia paling ahli dalam semua bidang. Begitulah sikap rakyat Korea Utara terhadap pemimpinnya. Mau spt itu di sini juga?

Kl belum tahu, bisa sangat sulit utk pahami orang asing yang bukan Native Speaker of English. Logatnya macam2, kelancaran berbeda2, kosa kata yg mrk pakai bisa beda, jadi mudah utk salah paham. Saya sudah bbrp kali ikut acara (konperensi dll.) yang dihadiri Menteri, dubes, pengusaha, dsb. Saya melihat sendiri bagaimana banyak orang salah tangkap apa yang dibahas, berikan penjelasan yg kurang tepat, atau salah.

Ada banyak orang (di semua tingkat dan kalangan) yg kurang peduli pd orang2 lain yang kurang lancar dlm bahasa inggris. Orang2 yg kurang lancar itu bisa diabaikan, diremehkan, dsb. Tergantung orangnya siapa, dari negara mana, kondisi ekonomi, hubungan bilateral, kondisi strategis negaranya, dan banyak faktor lain. Artinya, kl bisa berbahasa inggris dgn baik, menjadi “lebih mudah” utk bangun hubungan baik antar negara. Segitu saja.

Kalau mau bangun negara demokrasi yang kuat dan sejahtera, jangan alergi terhadap kritikan bagi pemimpin. Anggap biasa saja. Soalnya, pilihan sebaliknya adalah pemimpin tidak boleh dikritik. Korea Utara spt itu. Orde Baru spt itu. Di manapun ada diktator, ada larangan mengritik pemimpin. Di Saudi juga begitu dgn Raja. Mengritik raja = masuk penjara. Inggris sebaliknya, bebas hinakan ratu, jadi ternyata 99,9% dari rakyat memilih utk menghormatinya, walaupun tidak setuju.

Membiasakan diri dgn kebebasan bicara. Kalau melihat orang lain mengritik, bisa balas dan membela (kl mau), atau bisa abaikan. Tapi tidak perlu menghinakan atau mengancam orang yang mengritik itu. Sikap itu kurang dewasa, dan tidak bantu membangun negara demokrasi yang kuat. Silahkan dipikirkan.

Dan FYI, saya tidak mengritik Jokowi kemarin. Cuma bertanya apa dia bisa pahami orang2 di sekitarnya dgn logat macam2. Saya sendiri bisa sulit, apalagi orang yang jarang berkomunikasi dlm Bahasa Inggris. Kalau anda anggap pertanyaan segitu saja pasti sinis, coba periksa isi hati sendiri.
-Gene Netto

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...