Friday, February 16, 2007

Balasan Email Tentang Sekolah 1


Assalamu’alaikum wr.wb.,

{paragraf pertama deleted, karena tidak penting}

Sekolah kedua (*nama sekolah dihapus atas permintaan pengirim* di Cibubur, apa Bapak pernah ke sana?), agak lumayan, gurunya cukup mengerti pendekatan kepada anak kecil.. Hanya ada masalah manajemen. Guru sering sekali berganti-ganti karena keluar.

Selain itu, sebenarnya tawarannya adalah bilingual, tapi pronounciation B. Inggris gurunya jauh sekali dari baik.

Saya pernah dengar tapi belum ke sana. Masalah managemen sudah cukup untuk merusak kinerja sekolah. Bahwa guru sering keluar seharusnya membuat kita kuatir terhadap kualitas pendidikan.

Sekolah yang ketiga (*nama sekolah dihapus atas permintaan pengirim* Sekolah Islam di Jakarta Selatan) sepertinya lebih baik.

Kerja sama dengan Al Azhar Mesir & Victoria Islamic School Australia (dari brosurnya).

Anak SD ditarget hafal Al Qur'an 16 juz.Saya awalnya percaya bahwa hal itu mungkin, karena di Mesir memang begitu. Jika gurunya orang Mesir, mungkin akan lebih efektif.

Ada anak teman di sekolah itu juga. Dari awalnya sekolah itu, kelihatan bahwa mereka tidak mengerti pendidikan. Didirikan dengan uang yang sangat minim. Saya diminta membantu mereka menulis kurikulum tanpa dibayar (karena kita sama2 orang Islam, jadi saya harus bantu dengan ikhlas, katanya). Akhirnya, guru sekolah yang bikin, dan sebagian dari mereka bukan guru.

Kurikulum diambil dari 5 lokasi (berapa negara?) dan dipadukan. Itu seperti memperbaiki mesin mobil Mercedes, dengan mengunakan onderdil dari 5 mobil yang lain (Kijang, Honda CRV, BMW, Volvo, dan Extrail). Apa kalau begitu kinerja mesin bisa bagus? Yang namanya kurikulum pasti berbeda di setiap negara karena kebutuhan dari sistem pendidikan beda di setiap negara.

Saya pernah ngecek dengan baca di internet: Al Azhar di Mesir ada tingkat drop out yang tinggi karena anak Arab itu tidak tahan kalau harus hafalkan al Qur'an di tingkat SD. Ada yang bisa, ada banyak yang tidak sanggup. Kalau mereka yang lancar bahasa Arab tidak bisa, kenapa anak sini diwajibkan begitu?

Terus, manfaat menghafalkan 16 juz pada umur 12 apa? Apakah ada riset yang membuktikan bahwa semua anak itu masih menghafal semuanya pada umur 30 tahun? Kalau 80% dari anak itu sudah lupa banyak dari hafalan pada usia dewasa, berarti mereka hanya makan banyak waktu di masa SD yang juga bisa digunakan untuk belajar hal yang lain: menjadi pemimpin, percaya diri, belajar bahasa Inggris, matematika, ilmu pengetahuan, berolahraga, membaca banyak buku untuk mendapat wawasan yang luas, lakukan bakti social, bermain saja, dsb.

Daripada kerjakan semua itu, anak2 diwajibkan duduk dan menghafalkan kata-kata dalam sebuah bahasa asing. Manfaatnya apa? Selain pahala, tentu saja. Manfaat pendidikannya apa dan mana riset yang membuktikan bahwa manfaat tersebut memang membantu proses pendidikannya dan masa depannya?

Akan tetapi, ternyata guru yang orang Mesir tidak setiap kali ada. Guru tahfizh nya adalah guru lokal, yang kadang2 tidak hafal juga.

Kalau gaji guru rendah, kualitas guru juga bakalan rendah. Mungkin guru asing ditampilkan sewaktu-waktu saja supaya orang tua mau bayar mahal.

Guru B. Inggris bukan dari Victoria itu, tetapi dari lembaga B. Inggris di Tebet.

Kalau begitu barangkali dia dari sebuah lembaga bahasa inggris di Tebet. Kalau dia memang dari lembaga itu, kemungkinan besar (90%) dia bukan guru bahasa inggris juga tapi “backpacker” atau orang biasa yang mendapat pekerjaan di lembaga itu untuk sementara. Karena setahu saya, mayoritas dari guru di lembaga itu adalah orang seperti itu, tanpa gelar pendidikan. Yang penting dia punya hidung mancung dan kulit putih karena hanya itu yang dilihat para orang tua. Pasti belum pernah ada orang tua yang ketemu kepala sekolah dan minta melihat kualifikasi si bule. Mereka hanya melihat bule dan merasa puas.

Terus terang saya sedikit merasa tertipu, tetapi sejauh ini tidak ada pilihan lain.

“Selamat datang dia dunia pendidikan swasta Jakarta!!”

Pertanyaannya :

1. Menurut Pak Gene, di antara sekolah Islam Indonesia yang jelek itu, mana yang paling kurang jeleknya?

Saya tidak bisa memberi rekomendasi terhadap sekolah Islam satupun pada saat ini. Masing-masing ada kebaikannya dan juga kekurangannya, dan belum banyak sekolah yang telah saya selediki secara mendalam, sehingga saya tidak tahu secara terinci sekolah itu seperti apa.

Kalau saya punya anak dan terpaksa memilih sebuah sekolah, saya akan tetap sekolahkan mereka di sebuah sekolah Islam yang dekat dengan rumah, karena dengan demikian mereka mendapatkan pergaulan yang Islmaiah dan ada sebagian (besar atau kecil?) dari guru2 di sekolah Islam yang bagus sekali. Saya sering mendengar tentang masalah dengan yayasan sekolah2 Islam di DKI dan perpecahan yang terjadi di dalam jaringan sekolahnya. Sayang sekali semua sekolah ini tidak bisa dijaga kualitasnya dengan cara yang lebih baik untuk kepentingan masa depan bangsa. Saya merasa sangat prihatin dengan keadaan para orang tua yang tidak ada pilihan yang baik untuk sekolahkan anaknya. Karena para orang tua tidak bisa mempengaruhi yayasan, saya tidak melihat solusi selain dari membangun sekolah Islam yang baru.

Ada [sebuah sekolah Islam di Jakarta Selatan]. Di sekolah itu lingkungan sekolah sangat bagus (hanya saja kelas tidak menggunakan AC), dan perpustakaan bagus sekali, termasuk yang terbaik di DKI menurut saya. Tetapi waktu saya ke sana, saya tidak melihat kurikulum dan tidak bicara dengan para guru (karena guru paling tahu kualitas sekolah, dan biasanya lebih jujur tentang hal itu daripada pemilik sekolah). Jadi, saya tidak bisa memberi jaminan bahwa kualitas pendidikan di sekolah itu setara dengan kualitas bangunannya. Saya ada niat melamar untuk masuk sekolah itu pada waktu itu karena sering mendengar nama sekolah dari orang lain dan saya melihat sekolah mempunyai lingkungan yang baik. Tetapi kepala sekolah menawarkan saya gaji yang sangat rendah (untuk guru asing), dan saya tidak boleh membahas maslah itu langsung dengan yayasan: harus terima gaji rendah dulu, baru boleh ketemu dengan yayasan. Saya tolak. Setelah sekian bulan, saya minta tolong kepada seorang kenalan untuk melamar langsung pada anggota yayasan supaya saya bisa ditanggap dengan cara yang lebih serius. Jawaban dari anggota yayasan itu: “Ohh, tidak usah, kita sudah dapat BULE.” Kalau yang mereka inginkan hanya “ asal bule saja” dan bukan guru professional yang berpengalaman, maka saya menjadi tidak tertarik untuk masuk sekolah itu lagi. Dan sampai sekarang saya belum berusaha melamar lagi.

Ada juga sebuah sekolah Islam di daerah Cinere yang kelihatannya sangat baik. Ada anak teman dia sana, dan teman itu juga seorang guru jadi saya sangat percaya pada komentar dia tentang sebuah sekolah. Teman saya mengatakan bahwa setiap orang tua dikasih kopian kurikulum pada awal setiap tahun dan juga diberi penjelasan tentang latar belakang guru kelas. Itu saja sudah sangat luar biasa bagusnya, dan sekolah Islam yang lain juga seharusnya begitu. Saya diberitahu bahwa dia sangat puas dengan sikap pengurus sekolah yang sepertinya sangat peduli pada pendidikan dan siap menerima orang tua di sekolah untuk konsultasi. Mengenai fasilitas sekolah, sangat bagus dan dirawat dengan baik. Kalau lingkungan sekolah, bagus sekali, hanya saja kelas tidak menggunakan AC dan untuk itu ada pandangan yang pro and kontra. Jadi tidak menjadi soal besar. Saya termasuk yang senangi AC untuk kenyamanan belajar, tetapi ada pandangan lain bahwa udara yang alamiah dan segar lebih baik untuk anak. Selama ini, teman saya merasa puas dengan sekolah itu, dan dia belum ada keluhan tentang kualitas pendidikan. Dia memang tinggal di Cinere jadi faktor itu juga sedikit berpengaruh. Kalau saya punya anak dan tinggal di Jakarta Selatan, saya akan siap memasukkan anak saya ke sana setelah menyelediki sedikit lebih mendalam untuk meyakinkan diri sendiri. Waktu saya berkunjung ke sana, hanya melihat sekilas, tidak periksa kurikulum, dan tidak melihat isi dari Perpustakaan. Juga tidak sempat bicara dengan para guru.

Kalau orang tua membutuhkan contoh dari sebuah sekolah Islam yang insya Allah baik, maka Lazuardi cukup baik sebagai contoh tersebut. Orang tua bisa melakukan survei ke sekolah ini, melihat2, banyak bertanya, dan melihat suasana yang baik yang sudah diciptakan di sana. Kemudian, orang tua bisa kembali ke sekolah di mana anak belajar sekarang, dan bertanya kenapa tidak bisa mengikuti contoh yang baik seperti itu. Kalau untuk masuk, barangkali ada waiting list, jadi untuk tahap pertama, belajar dulu dari contoh sekolah ini supaya orang tua memahami sekolah yang baik mesti seperti apa.

2. Apakah lebih baik anak2 mengikuti homeschooling?

Kalau di Indonesia, saya rasa tidak. Kecuali orang tua memang sanggup. Dia sini, menurut saya, kebanyakan orang tua tidak sanggup membimbing anak sendiri dengan kurikulum Diknas. Kalau Ibunya si anak adalah seorang guru, baru boleh. Kalau dia hanya lulus SMA dan pernah menjadi sekretaris (misalnya), barangkali tidak sanggup. Kalau dia pernah kuliah, tapi tidak merasa bahwa dia punya wawasan yang luas dan kepintaran untuk tangani semua mata pelajaran, sebaiknya tidak. Tapi kalau si Ibu merasa yakin, boleh dicoba untuk setahun dulu. Setelah itu, harus dianalisa secara jujur, tanpa emosi. Kalau hasilnya kurang bagus, masuk sekolah. Kalau hasil bagus dan nilai tesnya baik, boleh diteruskan.

Sosialisasi yang terjadi di sekolah juga penting untuk perkembangan mental si anak. Dari sekolah dia dapat teman, harus belajar membagi, bekerja sama, mencari solusi kalau ada konflik, dan semua itu bermanfaat juga bagi perkembangannya.

3. Lebih jauh tentang anak saya. Anak saya ini seharusnya TK B. Akan tetapi karena di (sekolah ****) tidak ada TK B (ruangan tidak memadai), anak saya dicoba dites untuk masuk SD. Ternyata hasil tes baik, jadilah dia masuk SD (saat ini kelas 1, usia pas 6 tahun di bulan Feb ini). Sejauh ini dia bisa mengikuti pelajaran. Untuk matematika malah dia sangat menguasai. Hanya menulis yang sedikit ketinggalan. Secara psikologis sepertinya baik2 saja, hanya yang saya sedikit khawatirkan, dia badannya mungil sekali jika dibandingkan dengan teman2nya, kira2 apakah akan menjadi masalah? Mohon tanggapan Pak Gene tentang hal ini, bagaimana sebaiknya.

Coba mencari TK B di lain sekolah untuk setahun. Kalau mau berlanjut di (Sekolah ***), minta jaminan dari mereka bahwa anak bisa kembali lagi dan masuk SD Kelas 1 setelah selesai TK B di lain tempat.

Pada umur 6-7 tahun, hanya sedikit skil yang bisa dites jadi hasil tes itu hampir tidak ada makna. Hanya gambaran global saja tentang skil dasar dan sikap mentalnya. Tapi nanti, pada kelas 3 dan kelas 4, beda umur setahun sangat berarti buat anak-anak. Ada anak yang tidak mau bergaul dengan anak yang lebih muda 1 tahun karena dianggap tidak “se-level”. Untuk remaja tua/dewasa, perbedaan satu tahun tidak dianggap. Untuk anak SD bisa ada dampak besar.

Sebenarnya, ada terlalu banyak faktor yang berpengaruh: sikap anak, sikap anak yang lain di kelas, skil guru, skil orang tua untuk tangani kalau masalah muncul dan anak jadi stres, sistem sekolah untuk tangani “bullying” (satu anak menganggu anak lain secara fisik/mental), dsb.

Kalau tidak ada paksaan masuk cepat (karena dia genius, misalnya), maka lebih baik dia mendapat satu tahun lagi di TK untuk menikmati kehidupan sebagai anak kecil yang tidak pernah mendapat PR atau tes! Masa perkembangan ini 4-7 tahun, sangat penting buat anak. Jangan buru buru memaksakan dia menjadi “dewasa” terlalu cepat.

Mungkin demikian dulu. Mudah2an Pak Gene bersedia menjawab.

Saya selalu bersedia untuk membantu anak-anak di Indonesia dan orang tuanya!

Terima kasih banyak sebelumnya.

{nama pengirim dihapus}

Sama sama. Semoga bermanfaat.

Gene Netto

2 comments:

  1. Pak Gene, apa benar Lazuardi itu bagus? Setahu saya mereka agak sekuler. Misalnya, mengajarkan moral sebagai moral perse, bukan sebagai kewajiban seorang muslim. Contoh lain, jilbab cukup diajarkan sebagai suatu kebaikan, tanpa penjelasan yg sebanding dari sisi kewajiban syariah. Dlm pandangan saya, sebagai muslim harus mengutamakan tujuan beribadah. Manfaat-manfaat kebaikan boleh dibahas sebagai penguat akidah.

    ReplyDelete
  2. Kalau secara terinci, saya kurang tahu. Hanya ada laporan dari teman yg anaknya sekolah di sana. Dia belum komplain. Kalau soal apa yg diajarkan, maaf, saya sama sekali tidak tahu.

    ReplyDelete