Assalamu’alaikum wr.wb. Setelah tinggal di Selandia Baru beberapa minggu, saya bertemu seorang imigran dari Afghanistan dan dia menceritakan banyak hal yang mengejutkan tentang kehidupannya di sini. Setelah 10 tahun tinggal di negara maju ini, dia merasa tidak bahagia, dan mengatakan banyak teman Muslimnya menyesal datang ke negara ini. Dia seorang tukang yang dipanggil untuk kerja di rumah orang, jadi dia bergantung pada warga lokal untuk telfon dan memesan jasa. Tetapi setelah dia menyebutkan nama Muslimnya, banyak orang berubah, dan tiba-tiba tidak membutuhkan bantuan lagi.
Orang di jalan dan toko bertanya kepadanya dan keluarganya, “Kalian berasal dari mana?” Istrinya juga sering diminta melepas jilbabnya! Setelah menjelaskan mereka berasal dari Afghanistan, pertanyaan selanjutnya adalah, “Mengapa kalian berada di sini?” Beberapa orang lokal tidak senang dengan peningkatan imigrasi dan mereka kecewa dengan pemerintah karena membiarkan lebih banyak “orang berkulit coklat dan hitam” datang ke sini. Mereka mengatakan sekolah dan rumah sakit “penuh karena imigran”.
Saat melamar kerja dengan nama Muslim, mereka ditanya, “Apakah anda seorang Muslim? Jadi, anda harus berhenti kerja untuk salat? Dan berpuasa saat Ramadhan? Jadi hal-hal itu akan merugikan perusahaan kami, betul?” Rupanya, sebagian dari perusahaan tersebut sangat membutuhkan pekerja tambahan, dan hanya mau mempekerjakan Muslim karena penduduk lokal kulit putih tidak tersedia.
Satu keluarga datang dari Afghanistan. Setelah anak-anak mereka dewasa, sang ibu ceraikan suaminya. Salah satu anak perempuan menikah dengan pria non-Muslim, menjadi hamil, lalu bercerai juga. Dan anak-anak itu berhenti melaksanakan salat karena mereka hidup seperti orang Barat, tanpa agama. Akibatnya, orang tua menjadi depresi, dan anak-anak juga depresi, dan orang tua menyesal pernah datang ke sini.
Ada tekanan untuk “berasimilasi” dan menjadi seperti penduduk lokal, hanya berbicara dalam bahasa mereka, berpakaian seperti mereka, makan seperti mereka, minum alkohol dan berjudi seperti mereka, menikmati kehidupan ini seperti mereka, dan mengganti budaya sendiri dengan budaya mereka. Jika anda mau melakukan itu, maka anda akan dianggap “imigran yang baik”. Dan jika anda ingin mendapatkan pekerjaan, mungkin lebih baik mengubah nama juga. Buang nama “Muhammad Salahuddin” dan jadilah “Dean”, supaya rakyat lokal lebih mudah menerima anda.
Banyak orang tua Muslim khawatir tentang masa depan anak dan cucu mereka. Akankah mereka kehilangan identitas mereka? Seorang pria berkata, “Lebih baik hidup miskin di negara asal saya di mana anak-anak saya beriman kepada Allah, daripada tinggal dalam istana di Barat tetapi anak-anak saya menjadi tersesat!” Jadi, jika seseorang ingin tinggal di negara maju untuk dapat “kehidupan yang lebih baik” di negara Barat yang bagus, bersih, dan maju, tetapi setelah bertahun-tahun, anak-anaknya telah kehilangan iman, bahasa, dan budaya mereka, lalu apa sebenarnya yang didapatkan oleh orang tua itu? Faktanya, mereka kehilangan semua yang penting bagi mereka.
Seorang insinyur IT Muslim mengatakan bahwa di hampir setiap pekerjaan yang dia lamar, pekerjaannya akan menguntungkan AS dan Israel. Semua sistem IT dan jaringan keamanan terhubung dengan negara-negara tersebut. Jadi, dia berhenti bekerja di bidang itu, lalu kesulitan mendapatkan pekerjaan karena nama Muslimnya, dan kemudian menjadi sopir taksi saja.
Banyak orang mengatakan ada berita rutin tentang usaha kecil yang bangkrut di Selandia Baru. Setiap tahun, semakin sulit mendapatkan pekerjaan, dan banyak orang pindah ke Australia atau Amerika untuk mencari pekerjaan dan gaji yang lebih tinggi. Jadi, pemerintah Selandia Baru mendatangkan lebih banyak imigran untuk melakukan pekerjaan yang tidak diinginkan penduduk lokal (seperti menjadi tukang kebersihan, sopir, dll.) dan juga mendatangkan dokter imigran (dan pekerja profesional yang lain), setelah banyak dokter dan perawat lokal juga pergi ke luar negeri untuk dapat gaji yang lebih tinggi. Semua orang yang saya ajak bicara (orang lokal dan imigran) mengeluhkan kondisi ekonomi, biaya hidup yang tinggi, dan betapa sulitnya untuk maju. Selain kelas menengah atas dan orang kaya, semua orang lain tampaknya “menderita” dan tidak bahagia.
Seorang bapak berkata, ketika dia berada di Afghanistan, ada bahaya fisik terus disebabkan perang selama 20 tahun. Tetapi di Selandia Baru, ada "bahaya spiritual" terus, dan itu terasa lebih buruk daripada bahaya perang!! Saat ada bahaya fisik dari perang, dia hanya dalam bahaya ketika bom jatuh di dekat rumahnya. Tetapi di sini, ada bahaya spiritual tanpa henti. Setiap hari, keluarganya menghadapi tekanan untuk "berasimilasi" dan membuang hal-hal yang penting bagi mereka: Agamanya, bahasanya, budayanya, dan bahkan nama mereka juga. Lalu, apa yang akan terjadi pada anak dan cucu mereka di masa depan? Jadi, dia menyesal datang ke sini dan sedang membuat rencana pulang kampung ke Afghanistan, dan beberapa orang tua lain mengatakan hal yang sama kepada saya.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi umat Islam di Indonesia agar bisa merenung kembali tentang keinginan mereka untuk tinggal di negara Barat. Dan juga bisa lebih bersyukur atas semua nikmat yang Allah SWT berikan ketika anda diizinkan lahir dan menetap di Indonesia seumur hidup. Kalau anda mau komplain tentang semua hal yang “rusak”, harus dipahami bahwa di negara lain juga banyak yang rusak dulu. Tetapi setelah rakyat BERSATU dan berjuang bersama, mereka berhasil memperbaiki negaranya, menjadi negara maju. Anda juga bisa.
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto
Search This Blog
Labels
Popular Posts
-
[Pertanyaan]: 1) Saya mau nanya nih, saya pernah melakukan onani setelah berbuka puasa. Apakah puasa saya pd hari itu di terima? 2) Saya per...
-
Assalamu'alaikum wr.wb. Kemarin saya sibuk ketemu orang bule yang masuk Islam karena mau menikah dengan wanita Indonesia. Saya diberi...
-
Assalamu’alaikum wr.wb. Ini Bab Pertama dari buku saya Mencari Tuhan, Menemukan Allah.(Baru terbit dalam bahasa Inggris. Bahasa Indonesia be...
-
Assalamu’alaikum wr.wb. Ada orang yang mengatakan dia capek dan kesiangan, jadi baru bangun jam 8 pagi, dan tidak bisa shalat subuh. Saya b...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Seperti biasa, ini kisah rekayasa, dengan menggunakan nama orang yang benar. Prof. Fidelma O'Leary mema...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Orang sering berkomentar kepada saya, kok banyak orang bisa melakukan korupsi padahal mereka shalat dan puasa. Ka...
-
Sabtu, 6 Okt 07 14:50 WIB Assalamu'alaikum Ustadz, Saya ingin menanyakantentang pemakaian Jilbab oleh muslimah, karena beberapa ...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Ada seorang isteri yang bertanya apa benar bahwa dia mesti “taat pada suami” walaupun suaminya ketahuan ber...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Ada beberapa komentar di blog saya dari orang yang inginkan hukum syariah diterapkan dengan cepat, dan mereka kecew...
-
Pertanyaan Assalamu'alaikum wr.wb., Saya mau bertanya kalau orang Muslim boleh mendoakan orang non-Muslim? Kalau ada teman atau sauda...
14 October, 2026
Umat Islam di Negara Barat - Kehidupan Dalam Sangkar Emas
Berapa Besarnya Pengaruh Dari Muslim Indonesia Di Amerika?
Assalamu’alaikum wr.wb. Kemarin saya menulis tentang orang Muslim yang pindah ke Amerika dan Eropa. Ada yang berkata semuanya merupakan “pejuang dakwah dan pejuang masjid”, hanya disebabkan mereka pindah ke sana. Mohon maaf, saya kurang setuju. Mereka (mayoritasnya) pindah untuk mencari kenikmatan dunia, bukan untuk berdakwah. Lalu ada orang yang kebakaran jenggot, dan merasa “dituduh” tidak berjuang, padahal saya jelas tidak membahas “semua Muslim”. Ada yang bilang saya bicara tanpa data. Jadi, saya kumpulkan data yang bisa digunakan untuk membuat analisis dan diskusi.
“Ketika diminta untuk menjelaskan alasan mereka menjadi Muslim, para mualaf memberikan berbagai alasan. Sekitar 25% mengatakan mereka lebih menyukai kepercayaan atau ajaran Islam daripada agama mereka sebelumnya, sementara 21% mengatakan mereka membaca teks-teks agama atau mempelajari Islam sebelum membuat keputusan untuk pindah agama. Yang lainnya mengatakan mereka ingin menjadi bagian dari suatu komunitas (10%), bahwa pernikahan atau hubungan adalah motivasi utama (9%), bahwa mereka diperkenalkan pada agama tersebut oleh seorang teman, atau bahwa mereka mengikuti seorang pemimpin publik (9%).” (Sumber: The Share Of Americans Who Leave Islam Is Offset By Those Who Become Muslim [“Proporsi Orang Amerika Yang Meninggalkan Islam Diimbangi Oleh Mereka Yang Masuk Islam”]).
Diperkirakan minimal 20 ribu orang menjadi Muslim di Amerika setiap tahun. Tetapi jumlah yang murtad juga sekitar 20 ribu! Dinyatakan bahwa hampir 25% dari semua orang yang dibesarkan sebagai Muslim di Amerika murtad ketika dewasa. Dari jumlah yang murtad itu, 51% menjadi “tidak beragama” alias ateis. Lalu 22% menjadi Kristen, dan 21% masuk agama-agama lain, seperti Buddha, atau menjadi orang yang punya perasaan spiritual tanpa agama.
Dalam survei terhadap para muallaf, sekitar 4,5% mengatakan bahwa mereka dikenalkan pada Islam oleh “seorang teman”. (Dan 4,5% yang lain mengikuti seorang tokoh publik terkenal, tanpa disebutkan negara asalnya.) Jadi 4,5% dari 20 ribu muallaf adalah 900 orang. Mereka masuk Islam karena kenal seorang Muslim, dan persahabatan itu memberikan pengaruh terkuat. (Untuk analisis ini, yang menikah dengan Muslim, atau ikuti ceramahnya tokoh Muslim dari mancanegara, tidak akan dilihat karena fokus utama adalah pengaruh dari Muslim Indonesia yang memperkenalkan Islam secara langsung kepada calon muallaf.) Ada sekitar 96 ribu orang Indonesia di Amerika pada tahun 2025. Hanya 25% dari mereka adalah Muslim. (Mayoritasnya beragama Protestan dan Katolik.) Jadi 25% dari 96 ribu adalah 24 ribu Muslim Indonesia di Amerika.
Hanya 900 orang Amerika masuk Islam karena dikenalkan pada Islam secara langsung oleh seorang teman Muslim. Tetapi ada 3.45 juta Muslim di Amerika dari mancanegara. Jadi 24 ribu Muslim Indonesia adalah 0,7% dari total Muslim di Amerika. Jadi kalau 900 orang Amerika masuk Islam karena terima dakwah langsung dari seorang teman Muslim, berarti hanya 0,7% dari teman tersebut adalah orang Indonesia. Jadi 0,7% dari 900 adalah 6,3 orang (katakan, 7 orang) yang masuk Islam setiap tahun karena terpengaruh oleh seorang Muslim dari Indonesia. Sisanya, 893 orang, masuk Islam karena kenal Muslim dari negara lain. Dan mayoritasnya dari 20 ribu muallaf Amerika masuk Islam setelah belajar sendiri atau membaca Al Qur’an tanpa ada pengaruh sedikitpun dari orang Muslim Indonesia terhadap mereka.
Kalau ada 24 ribu Muslim Indonesia di Amerika, dan disebabkan kehadiran mereka, hanya sekitar 7 orang Amerika menjadi muallaf setiap tahun, berarti untuk setiap 1 muallaf, butuh 3,428 Muslim Indonesia. Dalam kata lain, setiap 1 Muslim Indonesia punya pengaruh sebesar 0,0292% terhadap setiap 1 muallaf Amerika. Ini yang didapatkan kalau kita lihat “persentase” dari Muslim Indonesia dan muallaf Amerika. Juga mungkin ada 1 Muslim yang punya pengaruh besar, karena aktif melakukan dakwah. Tetapi hal itu berarti semua Muslim Indonesia yang lain tidak berguna sedikitpun. Juga ada pengaruh (di luar perhitungan ini) dari tokoh agama nasional, tetapi dalam survei tidak disebutkan negara asalnya, jadi tidak ketahuan apakah mereka orang Indonesia atau tidak.
Jadi, setelah orang Muslim dari Indonesia berangkat ke Amerika, dan secara otomatis dicap “pejuang dakwah dan pejuang masjid” oleh penggemarnya di Indonesia, ternyata hanya ada sekitar 7 orang Amerika yang masuk Islam setiap tahun, DISEBABKAN mereka terpengaruh secara langsung oleh seorang Muslim Indonesia. Kalau semua Muslim yang berangkat ke sana dicap “pejuang dakwah”, kenapa pengaruhnya dari 24 ribu Muslim Indonesia tidak lebih besar?
Jumlah penduduk Amerika adalah 333,29 juta orang pada tahun 2025, dikurangi 3,45 juta Muslim. Jadi dari total 330 juta warga Amerika yang non-Muslim, hanya 7 orang masuk Islam setiap tahun, setelah kenal seorang Muslim dari Indonesia. Jadi setelah Muslim Indonesia berangkat ke sana, hanya 0,000002% dari jumlah penduduk Amerika terpengaruh dan ingin menjadi Muslim. (Jumlah 7 muallaf dari jumlah penduduk 330 juta non-Muslim adalah 0,00000233%)
Mohon maaf, tetapi sekali lagi, mayoritas dari orang Muslim dari semua negara yang pindah ke Eropa, Amerika, dan negara barat yang lain, pindah untuk cari kenikmatan dunia bagi diri sendiri. Mereka mencari gaji lebih besar, peluang kerja dan buka usaha yang lebih baik, kesempatan belajar di universitas terkemuka, dan seterusnya. Mereka bukan pejuang dakwah, bukan pejuang masjid, jadi tidak perlu “dipuji”. (Tetapi kalau mau memuji semuanya, silahkan saja.) Mayoritas dari orang Amerika yang masuk Islam belajar sendiri. Al Quran tersedia di internet dan toko buku. Ada banyak situs yang jelaskan ajaran Islam dalam bahasa Inggris. Itu yang memberikan pengaruh yang besar, bukan Muslim dari Banyuwangi yang pindah ke New York.
Penelitian membuktikan bahwa mayoritas dari orang Amerika yang menjadi muallaf adalah perempuan dan juga orang berkulit hitam. Mereka pelajari ajaran Islam dari situs dan buku, atau baca Al Quran dan hadits sendiri. Ketika datang ke masjid untuk baca Syahadat, mereka sudah punya keinginan menjadi Muslim. Dan hampir selalu terjadi bahwa mereka menjadi Muslim sendirian. Keluarganya dan ribuan kenalannya tidak ikut menjadi Muslim. Begitu juga dengan saya, dan semua muallaf asing yang saya kenal. Jadi muallaf sendirian. Faktanya bahwa anggota keluarga menjadi Muslim tidak berikan pengaruh terhadap kebanyakan orang kafir, apalagi kalau seorang Muslim dari Garut tiba-tiba muncul dan membahas Islam.
Mohon dipahami. Tulisan ini tidak bertujuan untuk merendahkan siapapun yang ingin melakukan dakwah di Amerika atau Eropa. Saya hanya mau berikan klarifikasi saja. Mayoritas (bukan semua) dari Muslim dari negara seperti Bangladesh, Pakistan, Mesir, Suriah, Lebanon, India, Indonesia, dll. yang pindah ke negara barat, TIDAK pindah dengan niat menjadi “pejuang dakwah” di sana. Mereka pergi untuk mencari kenikmatan dunia. Dan mungkin sebagian kecil dari mereka aktif berdakwah dengan non-Muslim. Mayoritasnya tidak. Semoga jelas, dan semoga bisa diterima sebagai fakta yang biasa saja, dan bukan penghinaan terhadap semua Muslim yang pindah ke Amerika untuk rasakan kenikmatan dunia. Tetapi juga harus diingat ada risiko 25% dari anak mereka bisa murtad di masa depan. Cucunya bagaimana?
Semoga bermanfaat.
Wa billahi taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto
Sumber:
The Share Of Americans Who Leave Islam Is Offset By Those Who Become Muslim
https://www.pewresearch.org/short-reads/2018/01/26/the-share-of-americans-who-leave-islam-is-offset-by-those-who-become-muslim/
Indonesians in the U.S. Fact Sheet
https://www.pewresearch.org/fact-sheet/asian-americans-indonesians-in-the-u-s/
Muslims and Islam: Key findings in the U.S. and around the world
https://www.pewresearch.org/short-reads/2017/08/09/muslims-and-islam-key-findings-in-the-u-s-and-around-the-world/
Indonesian Americans
https://en.wikipedia.org/wiki/Indonesian_Americans#
Buka Mata Anda Tentang Muslim Dan Islam Di Negara Barat!
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid04ho4wtKXsTAMF7zma7EYNpZnEU3ZzC4YXUn11a4NUGxmrvx26tf8q8xzL79mTpwQl&id=100064581255862
Bahayanya Membawa Anak Muslim Ke Negara Barat
Assalamu’alaikum wr.wb. Sesudah shalat Jumat, saya bertemu seorang pemuda dengan tato di muka, leher, dan lengan. Saya kira dia muallaf baru dari suku Maori, karena pernah lihat beberapa orang seperti itu. Tiba-tiba dia berkomentar, “Saya dari Afghanistan!” Saya kaget. Berarti dia Muslim dari lahir? Kok penampilannya seperti ini? Setelah dia pergi, ada teman yang menjelaskan.
Dulu, ada ratusan keluarga dari Afghanistan yang pindah ke Selandia Baru. Banyak yang membawa anak kecil, yang masuk sekolah di sini. Setelah tinggal di sini 10 tahun, dan alami pengaruh dari sekolah, masyarakat, TV, dll. banyak dari anak itu mulai berubah. Di usia remaja dan pemuda, ada yang berhenti shalat, berzina, minum alkohol, pakai narkoba, berjudi, murtad, dll. Orang tuanya adalah Muslim yang baik, jadi anaknya juga diajarkan shalat, dll. Tetapi pengaruh dari lingkungan begitu besar, tidak ada yang tahu anak mana yang akan terjerumus dan mana yang akan selamat.
Teman saya jelaskan, dari semua anak yang menyimpang itu, sebagian tetap rusak, tetapi sebagian yang lain bisa diselamatkan. Walaupun ada bekas-bekasnya, seperti tato di muka, dsb. Mungkin ada pemuda lain yang punya anak di luar nikah, kena penyakit, berhutang dari perjudian, dll.
Ketika kami masih membahas pemuda itu, ada pria Malaysia yang dikenalkan kepada saya. Sudah puluhan tahun tinggal di Selandia Baru. Dia dengar percakapan kami dan tambahkan informasi tentang anak-anak keturunan Malaysia yang juga tidak shalat, murtad, dll. Dalam 1 generasi saja. Tanpa survei ribuan orang, saya tidak bisa jelaskan apakah anak yang menyimpang, berhenti shalat, atau murtad itu merupakan mayoritas, minoritas besar, atau minoritas kecil. Yang jelas “ada”, dan “banyak”, karena setiap kali saya ketemu 1 orang baru, selalu ada kisah yang serupa tentang anak-anak dari komunitasnya.
Juga ada orang Indonesia yang hubungi saya dari berbagai negara dengan kisah serupa. Tidak berarti semua anak berakhir begitu. Tetapi ada banyak WNI yang “bangga” karena anaknya masih shalat, padahal mereka baru lihat 1 generasi saja. Paling banyak 2 generasi, karena sudah ada cucu sekarang, setelah 40 tahun tinggal di negara barat. Bagaimana dengan cicit?
Kalau anda pernah lihat video dari orang Indonesia yang mengaku “berhasil hidup sebagai Muslim” di negara barat, dan bisa menjaga keimanan diri dan keluarganya, mohon dipahami bahwa mereka sedang menjual sebuah fatamorgana. Ibaratnya rumah saya kebakaran tetapi saya selamat, bagaimana kalau saya membuat video bahwa, “Kebakaran rumah tidak sebahaya itu, dan siapa saja yang mengalaminya bisa survive, dan tidak perlu takut pada api, karena saya menjadi buktinya bisa selamat!!” Lalu anda tidak melihat video kebakaran rumah selain yang satu itu. Mau percaya bahwa kebakaran rumah “aman”?? Tentu saja tidak benar. Tapi kalau sumber informasinya hanya 1 video yang bilang “aman”, bagaimana bisa tahu apa yang benar?
Video tentang Muslim dari Indonesia yang “berhasil” di negara barat adalah pengalaman mereka pada saat ini, jadi mau dibanggakan. Tetapi saya berani jamin 1.000%, kalau 5 tahun di depan, anak mereka menolak shalat dan mengaku ateis, tidak mungkin mereka akan membuat video baru dan jelaskan bahwa hidup di negara kafir berbahaya. Kerusakan keluarga seperti itu akan DIRAHASIAKAN secara mutlak karena mereka malu dan takut menjadi sasaran gosip. Neneknya saja tidak akan dikasih tahu, apalagi kita!!
Jadi tolong berpikir secara dalam dan shalat istikharah berkali-kali sebelum ambil keputusan membawa anak ke negara barat. Makin lama saya berada di Selandia Baru, makin banyak kisah kerusakan, kegagalan, dan penderitaan orang tua yang disampaikan kepada saya. Yang bahagia? Ada. Pada saat ini. Karena anaknya “belum murtad” dan cucunya belum ada. Lima atau 10 tahun lagi, bagaimana? Mau ambil risiko? Silahkan. Mau berenang di sungai karena tidak yakin ada buaya juga silahkan. Saya hanya bisa berikan peringatan. Orang tua yang harus ambil keputusan. Dan anaknya harus menjadi korban dulu, baru orang tua itu akan menyesal.
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto
29 September, 2026
Di Selandia Baru, Gaji Tinggi, Tapi Biaya Hidup Juga Tinggi
Banyak orang bertanya, berapa gajinya yang umum di Selandia Baru, jadi saya cari infonya. Memang bisa dapat “gaji tinggi” di sini. Tapi jangan lupa, biaya hidup juga SANGAT tinggi. Jadi gaji tinggi tidak begitu terasa, dan hanya jadi bermanfaat kalau bisa hemat uang terus dan dibawa ke Indonesia untuk ditukar dengan rupiah. Kalau dipakai terus di Selandia Baru, tetap saja tidak cukup.
Median gaji tahunan, yang mencerminkan penghasilan pekerja pada umumnya, adalah NZ$ 5.800 per bulan, atau Rp 58 juta. Tetapi rata-rata biaya hidup tahunan di Selandia Baru berkisar antara sekitar Rp. 42-54 juta per bulan untuk satu orang dewasa saja. Biaya untuk keluarga berempat adalah Rp. 62-79 juta per bulan.
Jadi “orang biasa” bisa dapat gaji Rp. Rp 58 juta per bulan tetapi ada biaya hidup 42-54 juta per bulan juga untuk 1 orang saja. Kalau berhasil menghemat Rp. 50 juta per tahun, terdengar banyak bagi orang kampung di Indonesia. Tetapi di Selandia Baru, itu hanya menjadi $ 5.000. Kalau mobil rusak 1 kali, dana segitu bisa habis. Dan kalau bertanya ke banyak orang biasa, apakah mereka punya 5 ribu dolar, sebagian akan jawab iya, tetapi mereka juga takut menghabiskannya, karena takut akan dibutuhkan pada bulan-bulan mendatang.
Artinya, banyak sekali orang yang menjadi pekerja biasa tetap hidup pas-pasan dan susah menabung. Sekali liburan, tabungan habis. Dan kalau di RUSD harus menunggu 1 tahun untuk dapat operasi gratis, bayar untuk 1 kali operasi di rumah sakit swasta bisa habiskan tabungan juga. Ada banyak cara untuk kosongkan tabungan di sini, disebabkan pengeluaran yang tidak dipikirkan, lalu kembali hidup dalam kesulitan, walaupun gajinya terlihat “tinggi” kalau dirupiahkan.
Dan jangan lupa, biaya listrik, gas, bensin, internet, kontrakan, makanan, dll. juga sangat tinggi. Tidak bisa mampir ke warung untuk makan siang dengan biaya Rp 50.000. Apapun yang mau dibeli, dijamin akan mahal. Di sini, banyak orang berkomentar bahwa gaji tetap sama setiap tahun, tetapi harga barang naik terus, dan pajak juga naik terus. Jadi daya beli masyarakat turun terus, jadi kalau tahun kemarin terasa “oke”, tahun ini bisa terasa “berat”. Jadi jangan mengira hanya ada kesulitan hidup di Indonesia saja. Negara maju tidak jauh beda. Walaupun lingkungannya bersih dan indah. Banyak orang tidak peduli pada keindahan taman kota kalau tidak punya uang juga.
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
-Gene Netto
26 August, 2026
Berhutang, Ingin Bunuh Diri?
Assalamu’alaikum wr.wb. Kemarin saya nasehati seorang pria di Indonesia yang berpikir untuk bunuh diri karena “punya hutang”. Jumlahnya puluhan juta, dan itu cukup membebani dia sampai menjadi depresi dan ingin mati. Saya jelaskan: Dunia ini tidak nyata! Cepat atau lama, kita akan masuk kuburan. Jadi uang memang dibutuhkan, tetapi jangan sampai uang menjadi “raja” yang mengatur pola pikir kita. Allah Maha Kaya. Bukan “Lumayan Kaya”. Saya bertanya, “Apa tidak mungkin Allah berikan uang tambahan besok?” Dia jawab (dengan suara kecil dan lemas), “Iya, bisa saja...” Tetapi ketahuan dari intonasi suaranya bahwa dia tidak yakin!
2. […] Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya,
3. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. […]
(Surah At-Thalaq 65:2-3)
Saya habiskan beberapa jam untuk motivasi dia. Saya bahas orang yang lebih menderita, yang badannya cacat, yang sakit keras, yang hidup di zona perang, dsb. Mereka masih bisa bertahan. Dan apakah nanti enak di dalam kuburan? Bisa bawa laptop? Ada wifi? Ada kopi? Kalau menghabiskan masa ribuan tahun di situ, dan hanya bisa berpikir (atau menyesal), coba menghitung APA yang dibawa sebagai “tiket masuk Surga”? Dia setuju, lebih baik menambahkan amal dan ibadah sekarang. Saya suruh dia main ke panti asuhan dan bermain dengan anak-anak itu.
Banyak orang putus asa secara mudah, menjadi depresi, berhenti shalat, merasa marah pada Allah, atau bahkan berpikir untuk bunuh diri. Tetapi kuburan itu BUKAN suatu tujuan yang perlu dikejar, karena nanti juga datang sendiri. Yang perlu dilakukan setiap hari bukan memikirkan penderitaan yang terasa sekarang, tetapi memikirkan betapa untungnya kita karena masih diberikan waktu untuk menambahkan amal ibadah.
87. “[…] dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir.”
(QS. Yusuf 12: 87)
Saya jelaskan bahwa uang yang saya bawa dari Indonesia sudah habis, dan sekarang pakai kartu kredit terus. Ketika pergi naik taksi ke acara pemakaman, saya sempat memikirkan biayanya, lalu ingat bahwa dunia ini tidak nyata, dan Allah Maha Kaya. Jadi saya bismillah dan berangkat. Uang memang dibutuhkan, tetapi jangan biarkan uang mengatur niat baik kita. Allah Maha Kaya. Bukan “Lumayan Kaya”.
Saya di negara asing sekarang, jauh dari tempat yang menjadi kampung halaman saya selama 30 tahun. Jauh dari komunitas Muslim, masjid, dan makanan halal. Uang saya sudah habis, dan saya juga berhutang lebih dari dia! Jadi seharusnya sayalah yang telfon dia, dan menangis, dan bilang ingin bunuh diri. Kok saya malah tenang, dan dia yang stres? Bedanya di mana? Bedanya adalah saya lebih yakin pada Allah daripada dia. Kalau punya uang, atau tidak ada uang, kita harus tetap yakin pada Allah, dan berusaha melakukan kebaikan setiap hari.
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang membantu seorang Muslim menghilangkan kesulitan yang ada pada dirinya dari kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan hilangkan baginya kesulitan dari kesulitan-kesulitan di hari kiamat kelak. [...].” (HR Muslim)
Dia berterima kasih kepada saya dan merasa wajib balas budi. Saya jelaskan. Dia tidak perlu membalas apa pun. Saya membantunya karena Allah. Jadi Allah yang akan berikan balasan kepada saya. Semua bantuan yang dia terima itu berasal dari Allah, bukan dari saya. Allah yang mengirim saya untuk menolong dia. Jadi kalau umpamanya ada teman yang mengirim pembantunya untuk jemput dia, dan bawa ke hotel bintang 5, dan di kamar hotel sudah disiapkan uang, makanan, dan pakaian mewah sebagai hadiah, maka dia TIDAK PERLU berterima kasih kepada pembantu itu. Dia harus berterima kasih kepada TEMANNYA yang MENGIRIM pembantu tersebut.
Jadi Allah yang merupakan “temannya”, dan Allah yang berbuat baik kepadanya. Saya hanyalah hamba Allah yang sampaikan bantuan tersebut, atas nama Allah. Jadi dia bisa membalas pertolongan Allah itu dengan menjadi Muslim yang baik, yang ramah dan mulia, dan selalu siap membantu orang lain. Dan Allah akan menjadi senang dengannya karena dia bersyukur dan paham bahwa pertolongan itu berasal dari Allah, bukan dari pembantu (manusia) di depannya.
Semoga bermanfaat sebagai renungan, terutama bagi orang yang terbebani oleh masalah ekonomi. Ingat: Allah Maka Kaya. Bukan Lumayan Kaya. Jangan pernah berputus asa terhadap Rahmat dari Allah. Dan jangan pernah berpikir bahwa Uang Allah sudah habis, dan anda tidak akan bisa terima lagi. Allah Maka Kaya. Bersabar dulu, dan berdoa, dan YAKIN pertolongan Allah akan datang pada waktunya yang sudah ditentukan sebelum anda lahir. Allah Maha Kaya dan Maha Kuasa. Dan di kuburan tidak ada kopi, jadi buat apa mau pergi ke sana dengan cepat?!
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto
03 March, 2026
Apa Ada Doa Yang Terlalu "Remeh" Untuk Allah?
Assalamu’alaikum wr.wb. Pada suatu malam, saya ada rencana bertemu seorang ustadz untuk makan malam. Saya sampai di mall duluan, dan menunggu lama. Akhirnya dia datang dan jelaskan bahwa parkiran di mall penuh. Saya bertanya, "Kenapa tidak berdoa dan minta parkiran saja?" Dia kelihatan bingung dan bertanya, "Apa doanya dalam bahasa Arab untuk minta parkiran?" Sekarang, saya yang jadi bingung. Berdoa kepada Allah tidak harus dalam bahasa Arab! Berdoa dalam bahasa Indonesia dan semua bahasa lain juga boleh. Contohnya: "Ya Allah, tolong bantu saya dapat parkiran yang baik dan aman! Amin." Gitu aja kok repot?!
Dia ketawa dan mulai bertanya. Masa semua orang berdoa minta parkiran? Apa Gene sudah pernah coba? Hasilnya apa? Saya jelaskan. Sudah menjadi kebiasaan saya sejak masuk Islam dulu. Rekor saya adalah 3 detik. Rata-rata dalam waktu 10-30 detik dapat parkiran, di semua mall, kapan saja, termasuk hari Sabtu dan Minggu yang paling ramai. Kadang saja bisa menunggu beberapa menit, tetapi jarang.
Rasulullah SAW bersabda, "Berdoalah kepada Allah dalam keadaan YAKIN DITERIMA dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai." (HR. Tirmidzi)
Saya pernah ajarkan hal ini kepada seorang calon muallaf dari Eropa. Saya jelaskan, Allah Maha Mendengar dan Maha Kuasa, dan Allah bisa saja bantu kita dengan atur sebuah tempat parkir, KALAU kita minta tolong kepada-Nya. Orang Eropa itu coba berdoa sendiri pada sore itu, dan 5 detik kemudian dapat tempat parkir. Dia menjadi sangat kaget bisa berhasil dengan begitu cepat, dan mulai berpikir apakah Islam memang benar, dan Allah Mendengar dan Melihat dia setiap hari. Lalu setelah diskusi dengan saya 2 kali lagi, alhamdulillah dia masuk Islam. Sebelumnya dia ateis, tetapi setelah dapat pengalaman bahwa doanya bisa dikabulkan dengan cepat, dan bisa terjadi berkali-kali, dia berubah cepat dan merasa bahwa Allah memang “ada”, dan Allah memperhatikan dia, dan juga peduli pada dia.
60. Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina".
(QS. Ghafir 40:60)
Kalau anda belum pernah berdoa untuk minta tempat parkir, atau minta hal-hal lain yang tergolong "sangat kecil", yang mungkin dikatakan remeh atau tidak penting oleh banyak orang, silahkan coba saja sendiri! Dan insya Allah anda juga akan dapat hasil yang baik. Makin kecil dan sederhana perkaranya, makin mudah bagi Allah untuk mengaturnya bagi kita. Doa minta tempat parkir mudah diurus. Doa menjadi orang paling kaya di dunia jauh lebih sulit diatur. Dengan makin sering berdoa, dan makin sering merasa doa itu dikabulkan dengan cepat, insya Allah kita akan dapat kemauan untuk berdoa terus-terusan, sepanjang hari, sampai dapat perasaan bahwa kita sangat dekat dengan Allah, seakan-akan Allah siap melayani semua permintaan kita 24 jam.
Apapun yang dibutuhkan, tugas kita hanya BERDOA DAN BERSABAR. Dan tentu saja perlu berusaha juga! Terserah kita berdoa kepada Allah sepanjang hari dan minta tolong dengan seribu hal yang tergolong besar dan kecil, atau tidak. Dan ternyata, tidak ada hal yang tergolong "terlalu kecil" atau "remeh" di sisi Allah. Semut saja diurus sama Allah. Masa menolong seorang hamba yang beriman dan bertakwa agar dapat tempat parkir dengan cepat akan membuat Allah repot? Berdoalah. Dan sesudahnya, berdoa lagi! Tanpa batas. Dan yakinlah bahwa Allah selalu ingin menolong kita.
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto
14 January, 2026
Rekaman Bodycam Menunjukkan Polisi Amerika Memberikan Resusitasi Jantung Paru pada Bayi
Di Amerika, seorang polisi datang ke rumah orang dan temukan bayi yang tidak bernafas. Ambulance sudah dipanggil, tetapi belum sampai. Jadi polisi itu ikuti pelatihannya, dan langsung mulai Resusitasi Jantung Paru (RJP-CPR). Syukur, bayi itu mulai bernafas lagi dan selamat. Kalau hal yang sama terjadi di Indonesia, bayi yang tidak bernafas itu akan "dibawa lari ke puskesmas". Dan setelah perjalanan 20 menit, di luar dugaan, anak yang tadinya mati tetap saja mati. Siapa yang bisa menyangka? Anak yang tidak bernafas selama 20 menit kok bisa tetap mati ya? Kenapa dokter tidak bisa hidupkan kembali?
Di negara maju, polisi, guru, satpam, petugas, dan orang yang kerja dalam ratusan bidang lain yang berhadapan dengan anak dan rakyat umum, diwajibkan belajar Resusitasi Jantung Paru (RJP - CPR). Di Indonesia, daripada belajar RJP, semuanya belajar kalimat sakral untuk membahas mayat anak yang mustahil dibantu, yaitu: “Ini Musibah, dan Takdir Allah, dan Kami Tidak Menyangka!”
Di negara lain, anak diselamatkan. Di Indonesia, anak dikuburkan. Kesannya di sini terlalu sulit untuk “belajar” cara menyelamatkan anak yang tidak bernafas, walaupun hanya butuh beberapa jam saja. Lebih mudah hafal kalimat sakral yang bantu semua orang lepaskan segala bentuk tanggung jawab, dan salahkan Tuhan saja.
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
-Gene Netto
Rekaman Bodycam Menunjukkan Polisi Amerika Memberikan Resusitasi Jantung Paru pada Bayi
https://www.youtube.com/watch?v=fbZQf7XNALw
Anak Yang Tidak Bernafas Hanya Bisa Diselamatkan Dengan Resusitasi Jantung Paru
Kapan rakyat Indonesia akan diberitahu bahwa seorang anak yang dibawa jalan-jalan selama 20 menit dalam keadaan tidak bernafas mustahil hidup kembali? Kalau tidak dilakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP - CPR) langsung di saat itu, di tempat kejadiannya, maka tidak mungkin anak itu bisa diselamatkan. “Dibawa lari ke rumah sakit” sama dengan “menjamin kematiannya”. Tetapi dalam semua berita baru, setiap kali orang dewasa ketemu anak yang tidak bernafas, yang baru saja tewas (biasanya tenggelam), tindakan yang sama selalu dilakukan: Mereka MENJAMIN anak itu mati dengan dibawa jalan-jalan selama 20 menit dalam keadaan tidak bernafas. Sudah jelas mereka “ingin menyelamatkan” anak itu. Tetapi tindakannya justru merupakan jaminan anak itu mati.
Kalau seluruh rakyat dan semua anak sekolah bisa dididik tentang bahayanya demam berdarah, cara memberantas telur nyamuknya, dan cara hindari gigitan dari satu jenis nyamuk saja, pada jam tertentu saja, kenapa tidak bisa dididik juga tentang kewajiban melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP - CPR) langsung pada saat ketemu anak yang baru tenggelam atau tewas? Info demam berdarah bisa disebarkan, sampai semua orang hafal. Kenapa info RJP tidak bisa disebarkan juga? Berapa banyak anak bangsa harus tewas secara sia-sia, karena nyaris tidak ada orang dewasa yang mengerti apa yang perlu dilakukan?
Anak yang baru saja tenggelam atau tewas BISA hidup kembali kalau dilakukan RJP dalam waktu 5-10 menit. (Kalau sudah tewas 30 menit lebih, tidak berguna lagi.) Kalau pemerintah tidak mau bertindak, rakyat bisa! Semua orang tua bisa minta pengurus sekolah dan pesantren melakukan pelatihan 1 hari. Karyawan bisa usulkan di PT-nya. PNS bisa minta diadakan di semua lembaga dan kementerian. Kalau dimulai sekarang, mungkin pada tahun depan kita bisa melihat berita yang berbeda: Anak yang tenggelam DISELAMATKAN dan hidup kembali karena dilakukan RJP dengan cepat!! Tetapi kalau 100 juta orang dewasa dan 80 juta anak sekolah dan santri juga diam dan tidak mau bertindak, maka berita tidak akan berubah: Anak yang baru saja tewas dijamin tidak bisa diselamatkan, karena dibawa jalan-jalan keliling kota sebelum dinyatakan “tetap mati” di puskesmas. Mau lihat berita yang mana?
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
-Gene Netto
Bocah 4 Tahun di Jambi Tewas Saat Bermain dalam Wahana Istana Balon
Beberapa saat setelah balon dilipat, orang tua korban datang mencari anaknya. Pemilik kemudian membuka kembali lipatan balon dan menemukan korban dalam keadaan tidak sadarkan diri. G langsung dibawa ke RS DKT Sungai Penuh, namun dinyatakan meninggal dunia.
https://www.detik.com
Sakit, Kok Malah Bersyukur?
Assalamu’alaikum wr.wb. Kemarin saya sakit kepala keras, meriang, dan lemas. Sepanjang hari kemarin ada sakit kepala ringan. Setelah maghrib, ada niat makan dan tidur cepat. Lalu saya dapat permintaan bicara dengan anak perempuan yang sudah murtad selama 2 tahun. Walaupun kurang enak badan, saya terima, dan diskusi lewat telfon dengan anak itu dan ibunya selama 3 jam. Ketika selesai, sudah jam 11 malam, saya belum makan, dan sudah mulai meriang. Jadi saya makan dulu, minum obat, dan tidur. Saat bangun subuh, sakit kepalanya tambah keras, jadi saya minum obat lagi dan tidur. Ketika bangun jam 2 siang, sakit kepala lebih keras lagi, dan saya merasa lebih meriang, dan mual, dan lemas.
Saya berbaring di kasur dan mulai bersyukur. Kok Malah Bersyukur? Kenapa? Karena saya sadar bahwa punya kamar yang aman dan bersih, yang bebas dari segala gangguan. Ada listrik, AC, komputer, internet, HP, uang, kamar mandi yang bersih, makanan di dapur, tidak ada luka di tubuh, dan ada rumah sakit dan apotek yang dekat kalau dibutuhkan. Alasan-alasan untuk bersyukur ada ratusan, bahkan ribuan, kalau mau disadari. Apapun keadaan kita, apapun kondisi fisik kita, apapun lokasi kita, selalu ada banyak orang lain yang alami kesulitan yang lebih besar lagi. Dan kalau Allah berikan rasa sakit sekecil apapun, dijamin dosa kita akan diampuni. Alhamdulillah.
Semua orang bisa langsung mengeluh dan “salahkan Tuhan” kalau mau! (Kenapa saya harus sakit, padahal kemarin malam saya berdakwah, dan ada banyak tugas lain yang mau dikerjakan sekarang?!) Tetapi keluhan itu tidak membawa manfaat. Jadi orang yang beriman kepada Allah tidak akan mencari “alasan untuk mengeluh” tetapi malah akan mencari “alasan untuk bersyukur”. Dan kalau kita sadar atas semua nikmat yang Allah berikan, sangat tidak mungkin kita sanggup “bayar kembali” kepada Allah. Dan Allah juga tidak minta. Yang diminta oleh Allah sederhana saja: Beriman kepada Allah, selalu berbaik sangka kepada Allah, dan selalu mencari alasan untuk bersyukur! Dan ketika kita bersyukur, Allah berjanji bahwa kita akan diberikan lebih banyak kenikmatan lagi. Alhamdulillah. Kita wajib shalat, tetapi saya tidak sanggup bersujud karena rasa sakit akan bertambah, dan alhamdulillah boleh shalat duduk!! Alhamdulillah x 1.000.
7. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
(QS. Ibrahim 14:7)
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto
26 October, 2025
6 Pelajar SMP Karawang Perkosa Temannya: Direkam-Dilihatkan ke Orang Tua Korban
Sudah ada banyak tulisan di media tentang “generasi emas” dan “bonus demografi”. Katanya, jumlah pemuda di Indonesia sangat besar, jadi hal itu bisa membawa masa depan yang berjaya. Jumlah pemuda yang besar mungkin bermanfaat. Tetapi bagaimana kalau otaknya rusak? Berapa persen dari anak Indonesia punya IQ yang tinggi dan hati yang baik? Mayoritas? Kalau 70% dari 100 juta anak baik, berarti ada 30 juta anak yang rusak. Dan bagaimana kalau SEBALIKNYA?! Yaitu, ada 30 juta anak yang baik, tetapi ada 70 juta anak yang ber-IQ rendah, dan hatinya juga rusak?! Mereka akan melakukan apa di masa depan? Sekarang saja di usia remaja sudah jelas ada banyak remaja yang rusak, apalagi menjadi dewasa dan lebih bebas nanti.
Berapa banyak anak yang bodoh, dan akhlaknya juga rusak? Berapa banyak yang sadis? Saya sudah baca ribuan artikel tentang kasus pemerkosaan bergilir. Dari semua remaja dan pemuda yang dapat tawaran “ikut perkosa anak perempuan”, ternyata 100% SETUJU. Tidak ada SATUPUN anak dalam puluhan tahun terakhir yang menolak tawaran itu, dan kabur cari bantuan, atau berusaha selamatkan korban.
Dalam berita di atas, 6 anak remaja itu melakukan kejahatan secara bersamaan, merekam kejahatan itu, sebarkan ke medsos, sampai dikasih lihat kepada orang tua korban. Apa mereka tidak berpikir akan ditangkap dan masuk penjara? Akalnya tidak ada? Bagaimana mau menjadi generasi emas kalau otaknya rusak seperti ini? Dan siapa yang mau berusaha memperbaiki keadaan ini? Tidak cukup menambahkan ujian di sekolah, atau ganti buku teks. Masalah seperti ini hanya bisa diatasi kalau 100 juta orang tua bersatu dan menuntut perubahan pendidikan yang membangun generasi yang berakhlak baik dan juga cerdas. Diam saja, dan berharap “semoga bukan anak saya yang diperkosa”, bukan solusi.
-Gene Netto
6 Pelajar SMP Karawang Perkosa Temannya: Direkam-Dilihatkan ke Orang Tua Korban
https://kumparan.com
19 October, 2025
Renungan Tentang Umat Islam Dari Sisi Bola: Mengapa Indonesia Peringkat 122 Di FIFA?
Assalamu’alaikum wr.wb. Ada berita tentang peringkat Indonesia di FIFA: Hanya bisa mencapai urutan 122 pada bulan Oktober 2025, dan tidak bisa masuk Piala Dunia. Di bawah ini ada beberapa negara di atas Indonesia dalam Peringkat FIFA. Jumlah penduduk = jumlah total, jadi kalau di Kroasia ada 4 juta warga, maka pria dewasa akan kurang dari 1 juta orang. Tetapi mereka di urutan 11 di FIFA. Sedangkan Indonesia, dengan sekitar 100 juta pria dewasa, berada di urutan 122.
11. Kroasia – populasi 4 juta (total, jadi kurang dari 1 juta pria dewasa).
18. Senegal - populasi 15 juta.
43. Tunisia – populasi 11 juta.
44. Republik Ceko – populasi 10 juta.
68. Jamaika – populasi 3 juta
117. Gambia – populasi 2,5 juta.
121. Sierra Leone – populasi 8,5 juta.
Jamaika, sebuah negara berkembang, dengan 870 ribu pria dewasa saja, bisa mencapai ranking 68 di FIFA. Sedangkan Indonesia, dengan stok 100 JUTA PRIA DEWASA, hanya bisa mencapai ranking 122, dan tidak sanggup masuk Piala Dunia…?
KENAPA?!!
Mungkin banyak Muslim akan mengatakan ini takdir: Allah tidak izinkan Indonesia dapat prestasi di dunia bola. Mungkin ada yang mengatakan 1.000 tahun yang lalu, ada Muslim bernama Al-Messi yang ciptakan bola sepak pertama di Mesir, jadi prestasinya orang itu cukup sebagai kebanggaan kita sekarang. Tetapi sebenarnya, kegagalan Indonesia, khususnya umat Islam, untuk dapat pencapaian yang tinggi di dunia bola adalah sebuah simbol. (Walaupun juga curang dengan pemain asing!)
Jangankan kita hebat di dunia komputer, robot, sains, atau medis! Untuk tendang bola ke gawang saja tidak bisa! Allah kasih semua manusia otak dan kaki, dan dengan stok 870 ribu pria dewasa saja, Jamaika bisa dapat prestasinya jauh di atas Indonesia. Umat Islam di Indonesia punya stok 100 juta pria dewasa! Allah kasih mereka otak dan kaki juga, tetapi kita masih tidak bisa menemukan 11 orang yang lebih hebat dari orang Jamaika itu. Padahal di semua sekolah, kampung, dan kota di sini, ada puluhan juta anak yang main bola setiap hari.
Ini merupakan suatu kegagalan yang jelas. Ada 240 juta Muslim di Indonesia. Banyak yang banggakan diri disebabkan prestasi zaman dulu dari beberapa orang Arab. Atau banggakan diri karena yakin masuk Surga, jadi anggap dunia tidak penting. Usahanya untuk mencari prestasi dan kemajuan bagi umat manusia tidak banyak. Dan untuk urusan tendang bola ke gawang saja tidak bisa, dan juga tidak malu. Allah kasih orang non-Muslim otak, badan, dan kesempatan yang sama dengan kita, dan mereka manfaatkan untuk mencari kemajuan dan prestasi. Tanpa berdoa kepada Allah, mereka melebihi kita. Kita dapat kesempatan juga, tetapi kita berdoa kepada Allah setiap hari, jadi kenapa pencapaian kita begitu kecil?
Kapan umat Islam akan bangun dari dunia mimpi? Kapan bisa ketemu 11 orang yang sanggup main bola? Bagaimana mau menjadi pemimpin dunia kalau dalam urusan tendang bola saja tidak bisa dapat prestasi? Orang non-Muslim seharusnya bisa tertarik pada Islam kalau melihat semua kelebihan kita di semua bidang. Tetapi setelah menyaksikan kita, mereka malah ketawa dan kabur. Jadi kita harus berubah. Kita harus bangun, bangkit, bersatu, dan menjadi pemimpin dunia, dan menjadi pemimpin dalam semua bidang. Jangan berharap bisa kirim robot ke planet Mars kalau tendang bola terlalu sulit!
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto
FIFA/Coca-Cola World Ranking
https://inside.fifa.com/fifa-world-ranking/men
Ya Allah, Ada Apa Dengan Negara Ini?
[Pertanyaan]: Ya Allah, ada apa dengan negara ini? Kenapa ada banyak kerusakan?
[Gene]: Assalamu’alaikum wr.wb. Banyak masalah di sini berawal dari sistem pendidikan yang kurang baik. Efeknya, banyak orang menjadi pemimpin, dapat tanggung jawab, tetapi mereka kurang pantas. Banyak sistem lain juga rusak, tetapi pendidikan yang terpenting. Pola pikir kita menentukan tindakan dan perbuatan kita. Anak yang dapat sistem pendidikan yang baik, dan keluarga yang baik, tidak menjadi orang jahat. Mereka senang berpikir, menggali ilmu, berbuat baik, menolong orang lain, dsb.
Tetapi banyak orang lain dapat pendidikan yang rusak, dan keluarganya juga rusak. Orang tuanya adalah hasil dari sistem yang rusak di zaman dulu. Sayangnya, mereka (anak dan orang tuanya) malas belajar sekarang, walaupun semua ilmu bisa diakses lewat internet. Hasilnya, banyak orang yang “tidak pantas” malah bisa menjadi pemimpin. Ada banyak pejabat nasional dan daerah, dan pemimpin di bidang politik, pendidikan, agama, rumah tangga, dan seterusnya, yang kurang berkualitas. Berapa banyak pria yang menikah tetapi kurang pantas menjadi suami atau bapak? Mereka tidak memahami tugasnya, malas belajar, dan tidak bisa memimpin diri sendiri, apalagi orang lain.
Di sini, banyak sistem dibiarkan rusak, karena para pemimpin sibuk kumpulkan kekayaan dan kekuasaan. Di negara maju, anak dan dewasa sering membaca, banyak berpikir, jadi IQ rakyat tinggi, dan rakyat menjadi sejahtera. Tetapi di sini, anak dan dewasa malas membaca, IQ rakyat rendah, banyak anak DO, dan umat Islam menghabiskan Rp. 2.200 triliun untuk beli rokok setiap tahun. Sekaligus mengaku miskin dan sulit maju karena dijajah Belanda zaman dulu. Beli buku, susah. Beli rokok, wajib. Anehnya, Jepang hancur 70 tahun yang lalu. Sekarang?
Dari Ibnu Umar ra., Rasulullah SAW bersabda, "Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya mengenai kepemimpinanmu. Imam (Penguasa) adalah pemimpin dan akan ditanya mengenai kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya dan bertanggung jawab mengenai kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin rumah tangga suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Pelayan (buruh) adalah pemelihara harta majikannya dan akan ditanya mengenai pemeliharaannya. Maka kamu sekalian adalah pemimpin dan masing-masing bertanggung jawab atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari & Muslim)
Artinya “pemimpin” adalah semua orang yang dapat tanggung jawab. Mereka punya kekuasaan, walaupun terbatas. Sayangnya, mereka tidak dibekali dengan ILMU MENJADI PEMIMPIN. Itulah hasil dari sistem pendidikan yang rusak, dan seringkali keluarganya rusak juga! Saat menjadi “pemimpin” (dapat tanggung jawab), mereka menciptakan kerusakan, atau teruskan yang sudah ada. Pejabat, suami, guru, karyawan, polisi, satpam, dll. adalah pemimpin. Ada tanggung jawab, dan perbuatan mereka berefek pada orang lain, jadi mereka tergolong “pemimpin”.
Apa solusinya? Sederhana. Kita harus bangun dari dunia mimpi, bersatu, siap membantu orang lain, dan membangun komunitas yang baik. Itu tanggung jawab kita semua, bukan “tugasnya pejabat”. Jangan menunggu orang lain muncul untuk memperbaiki Indonesia. Kita yang harus melakukannya!
Caranya? Mulai dengan diri sendiri, dan anak di rumah. Jangan merasa “puas” dengan ilmu yang dimiliki. Berusaha untuk belajar terus, setiap hari. Menjadi semangat mencari informasi, walaupun dianggap “tidak bermanfaat”. Belajar tentang negara lain, sejarah dunia, dan bidang yang kurang penting bagi anda. Contohnya: Sistem ekonomi di Cina apa? Kekaisaran Romawi runtuh kenapa? Apa air laut bisa menjadi air minum? Binatang apa yang paling beracun? Dan seterusnya.
Mengejar ilmu dunia dan ilmu agama terus, karena itu sumbernya peningkatan IQ. Dapat kemampuan berpikir dan membuat analisis! Mendidik anak dengan cara yang sama. Jangan berharap mendapat anak yang “diam dan taat”. Didik mereka untuk merasa mandiri, berpikir sendiri, ciptakan pendapat, dan berdebat secara baik. Bantu mereka dapat IQ dan kreativitas tinggi. Berikan buku, sumber ilmu dari internet, dan semangatkan mereka.
Tanpa berdoa kepada Allah, negara maju mereka berhasil. Sekitar 50% dari orang di barat sudah ateis sekarang. Di Cina, seluruh negara! Kita berdoa kepada Allah SWT setiap hari, jadi seharusnya kita bisa melebihi mereka dalam semua bidang. Faktanya, banyak Muslim berdoa kepada Allah, tetapi tidak yakin doanya akan dikabulkan! Jadi kita butuh Allah, ilmu, dan semangat berjuang, tanpa menunggu orang lain! Dan daripada bakar Rp. 2.200 triliun per tahun untuk rokok, coba diberikan kepada anak yatim dan dhuafa! Minta doanya, dan merasa yakin Indonesia ini bisa maju. Kalau kita semangat, Allah akan semangat dukung kita juga. Jangan menunggu orang lain. Mulai mendidik anak anda sekarang juga.
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto
16 October, 2025
Jemaah Haji Dan Umrah Dapat Menteri, 80 Juta Anak Kenapa Diabaikan?
Assalamu’alaikum wr.wb. Pada tahun 2024, tercatat 1,8 juta orang Indonesia melakukan Umrah dan 241 ribu orang melakukan Haji. Jadi totalnya adalah 2 juta orang yang pergi ke Saudi selama beberapa hari saja.
Tetapi ada 80 JUTA ANAK INDONESIA YANG PERGI KE SEKOLAH SETIAP HARI, lalu dapat atap yang mau ambruk, WC yang rusak, tembok yang rusak, perpustakaan penuh buku teks kuno (bukan buku cerita), listrik yang sering putus, kelas panas tanpa kipas angin atau AC, pejabat yang tiba-tiba isi satu kelas dengan 50 anak, guru yang gajinya 300 ribu per bulan, guru yang cabuli anak, guru killer yang marah besar kalau anak lupa kerjakan PR, tempat bermain berisi perosotan buatan zaman Belanda, kebijakan pendidikan yang berubah terus, kurikulum yang berubah terus (ganti menteri, ganti kurikulum), dan setelah lulus dari SMA harus bersaing dengan puluhan ribu anak lain untuk menjadi kasir di Alfamart karena sulit dapat pekerjaan yang lain, atau bisa menggunakan keahlian matematika dan sejarah yang dipelajari untuk menjadi tukang ojek, lalu dilindas polisi.
KENAPA orang kaya yang pergi ke Saudi selama beberapa hari bisa dapat seorang menteri untuk bantu mengatur semua urusan mereka secara baik, tetapi 80 juta anak bangsa tidak pernah dapat seorang menteri yang bertindak sebagai advokat mereka di tengah pemerintah? Kenapa tidak ada pejabat khusus yang memastikan kondisi hidup mereka, keluarga mereka, kesejahteraan mereka, perlindungan mereka, dan masa depan mereka merupakan PRIORITAS bagi pemerintah? Ada 80 juta anak yang butuh seorang pejuang dan juru bicara, yang bisa bicara atas nama mereka dan melindungi mereka dari orang dewasa yang bertindak seenaknya, membuat kebijakan seenaknya, mengubah lingkungan dan komunitas seenaknya, tanpa peduli pada dampaknya terhadap anak Indonesia.
Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta'ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)
Mohon kepada Bapak Presiden untuk segera lantik Menteri Urusan Anak. Dan berikan dia kekuasaan hukum untuk panggil menteri dan pejabat lain, melakukan koordinasi, dan melarang pejabat bertindak seenaknya tanpa peduli pada efeknya terhadap 80 juta anak Indonesia. Presiden punya Paspampres untuk menjaganya dan punya banyak staf untuk mengatur semua urusannya. Siapa di dalam pemerintah yang menjaga dan mengurus 80 juta anak dan memikirkan masa depan mereka? Kenapa mereka tidak lebih utama dari 2 juta orang kaya yang mau pergi ke luar negeri selama beberapa hari?
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto












