Search This Blog
Labels
Popular Posts
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Seperti biasa, ini kisah rekayasa, dengan menggunakan nama orang yang benar. Prof. Fidelma O'Leary mema...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Orang sering berkomentar kepada saya, kok banyak orang bisa melakukan korupsi padahal mereka shalat dan puasa. Ka...
-
Assalamu'alaikum wr.wb. Kemarin saya sibuk ketemu orang bule yang masuk Islam karena mau menikah dengan wanita Indonesia. Saya diberi...
-
[Pertanyaan]: 1) Saya mau nanya nih, saya pernah melakukan onani setelah berbuka puasa. Apakah puasa saya pd hari itu di terima? 2) Saya per...
-
(Membalas komentar dari guru di milis pendidikan). Assalamu’alaikum wr.wb., Sudah ada beberapa guru di dalam milis pendidikan yang...
-
Sabtu, 24/07/2010 14:12 WIB Pasien DBD 'Ditahan' Rumah Sakit Rois Jajeli – detikSurabaya Surabaya - Sikap pihak Rumah Sakit Islam (R...
-
Source : Scholars for 9/11 Truth By: James H. Fetzer Founder and Co-Chair Scholars for 9/11 Truth SCHOLARS FOR 9/11 TRUTH ...
-
[Pertanyaan]: Assalamualaikum pak ustad. Saya mau tanya nih. Malam ini saya minum bir bintang, apakah puasa saya besok dan seterusnya masih ...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Ada beberapa komentar di blog saya dari orang yang inginkan hukum syariah diterapkan dengan cepat, dan mereka kecew...
-
Pada saat saya jalan-jalan dengan teman, saya diajak makan es krim di Pisa Café, Menteng, lalu saya diberitahu bahwa sebagian dari es krim d...
15 July, 2019
Anak Murtad, Jangan Salahkan Orang Tua? Orang Tua Yang Paling Salah!
Saya punya pengalaman tangani orang yang murtad menjadi Kristen atau ateis. Dalam hampir semua kasus, jelas bahwa orang tuanya bersalah. Bukan sengaja, tapi lalai. Ibaratnya kita keluar kota naik mobil, lalu tidak periksa ban, oli, air di radiator, dsb. Ketika mobil mogok di tengah jalan karena oli habis, maka jelas lalai dan salah sendiri. Mobil seharusnya periksa dulu, sebelum boleh pergi. Sama dengan pendidikan agama bagi anak: Sebelum anak dilepaskan ke dunia, harus dikasih pendidikan agama agar kuat menempuh jalan yang penuh kesulitan.
Kalau orang tua sibuk kerja, atau serahkan pendidikan agama ke pihak lain (tanpa pantau), atau orang tua juga lemah dalam agama, atau utamakan uang dan pangkat di atas agama, maka itu permulaan dari kerusakan anaknya. Di tengah kondisi itu, anak tidak melihat Islam sebagai hal yang penting dalam kehidupannya. Dia tidak punya hubungan yang kuat dengan Allah.
Lalu ketika terjadi suatu gangguan, ada dua pilihan: 1) mendekatkan diri kepada Allah, dan mohon pertolongan-Nya, atau 2) anggap Allah dan Islam tidak berguna, lalu lari, mencari yang lain. Nomor 2 ini yang paling sering dialami oleh orang yang murtad. Mereka tidak dididik untuk merasa dekat pada Allah, jadi dengan sangat gampang mereka lepaskan pegangan Allah, dan lari mencari pertolongan atau ketenangan di tempat lain.
Selama 22 tahun mendidik orang ttg Islam, saya belum pernah bertemu satu orang yang menganalisa ajaran Islam dan Kristen dengan logika, lalu memilih agama Kristen. Jadi kalau anak murtad, selalu ada faktor lain, dan emosi selalu diutamakan di atas logika. Yang paling umum, ada pacar Kristen. Yang penting adalah "rasa cinta". Bukan kebenaran agama. Dan karena dianggap "semua orang baik pasti masuk surga", maka bukan masalah pindah agama. Juga ada peran Setan. Kadang orang itu bermimpi melihat salib atau alami kejadian "mistis", lalu simsalabim, seluruh ajaran Islam dibuang dgn cepat karena dari awalnya tidak ada pegangan yang kuat. Emosi diutamakan di atas logika.
Jadi kalau ada yang bilang "orang tua tidak bersalah", pengalaman saya selama 22 tahun mendidik orang ttg Islam membuktikan sebaliknya. Dalam hampir semua kasus, anak murtad merupakan kegagalan orang tua. Kalau orang tua serius mendidik anak ttg Islam, kemungkinan dia mau lari dari pertolongan Allah hampir 0%.
-Gene Netto
Usai Pindah Agama, Salmafina: Jangan Salahkan Orang Tua Saya
Minggu, 14 Jul 2019 15:20 WIB · Mauludi Rismoyo – detikHOT
https://hot.detik.com
25 February, 2019
Dokumen Tentang Pelecehan Seksual Anak Di Gereja Katolik Sengaja Dihancurkan
Di banyak negara barat, gereja makin sepi dan bahkan gedungnya dijual di banyak kota karena banyak orang dewasa sudah sadar ttg perilaku Gereja seperti ini, dan tinggalkan organisasi itu. Mereka masih ingin percaya pada Tuhan, tapi tidak mau percaya pada Gereja. Mungkin sebagian dari mereka bisa tertarik pada Islam, sebagai agama penuh kebenaran dari Tuhan Yang Maha Esa, kalau tidak dipersulit oleh peran media barat dan tokoh2 di sana yang selalu sebarkan kebencian terhadap orang Muslim.
Banyak orang barat sudah mulai menggunakan daya berpikir logis yang Allah berikan kepadanya sejak lahir, sehingga mereka akhirnya menjadi sanggup tinggalkan Gereja. Tapi jalan bagi mereka untuk menuju kebenaran Islam tidak mudah karena penuh halangan. Yang paling dibutuhkan di barat adalah dakwah yang bisa diterima secara umum, sehingga orang biasa bisa melihat perbedaan yang sebenarnya antara ajaran Kristen dan Islam.
-Gene Netto
'Dokumen Tentang Pelecehan Seksual Anak Di Gereja Katolik Sengaja Dihancurkan'
24 Februari 2019, Seorang Kardinal senior Gereja Katolik Roma mengatakan dokumen-dokumen yang mencatat pelecehan seksual anak sudah dihancurkan dan tindakan ini memungkinkan pelanggaran untuk terus berlanjut.
"Data yang seharusnya bisa mendokumentasikan tindakan-tindakan mengerikan dan menunjukkan siapa saja yang bertanggung jawab dihancurkan, atau bahkan tidak pernah dibuat," kata Kardinal Marx pada hari ketiga konferensi Vatikan.
https://www.bbc.com
19 November, 2018
Diskusi Agama dengan Orang Buddha
Assalamu'alaikum wr.wb. Pada suatu hari, saya bertemu dengan seorang pria dari Sri Lanka yang beragama Buddha. Saya minta dia jelaskan ajaran agama Buddha kepada saya. Katanya: Tidak mencuri, tidak berbohong, tidak mencintai dunia ini, menahan hawa nafsu, tidak berzina, tidak menyakiti orang lain, dan seterusnya. Saya senyum dan bilang, "Semua ajaran itu juga bagian dari Islam!"
Kami membahas apa mungkin Buddha bisa dipandang sebagai seorang Nabi Allah (dalam pengertian Islam), karena ajarannya mirip dengan isi Al-Qur'an dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Menurut dia, sepertinya Nabi Muhammad SAW ambil ajaran Buddha dan kemasnya menjadi "Islam"! Setahu saya, tidak ada orang Buddha di Madina, jadi bisa belajar dari mana? Menurut saya, lebih logis kalau Buddha dan Nabi Muhammad SAW dapat ajaran agama dari sumber yang sama: Tuhan Yang Maha Esa! Di dalam Al-Qur'an, dikatakan Allah akan kirim seorang nabi kepada setiap kaum, jadi mungkin Buddha juga bisa dipandang sebagai seorang nabi (dalam pengertian Islam). Tetapi sesudah setiap nabi wafat, ajarannya diubah oleh manusia. Hanya Islam yang tetap mengikuti kebenaran dari Al-Qur'an, yang tidak pernah berubah.
Sayangnya, pria itu tidak percaya ada "Tuhan", dan juga tidak percaya ada surga dan neraka. Hanya ada reinkarnasi, yaitu setiap manusia dilahirkan ribuan kali. Disebabkan kebaikan atau keburukan di masa lalu, "Karma" akan memberikan kebaikan atau keburukan dalam kehidupan ini sekarang. Menjadi manusia sempurna berarti akan mencapai "nirwana" dan berhenti lahir kembali (menjadi tidak ada). Saya bertanya, apa lebih enak "penderitaan hidup" berakhir dengan menjadi "tidak ada" atau malah hidup secara kekal dalam kebahagiaan? Dia setuju, lebih enak hidup kekal dalam kebahagiaan. Saya minta dia menggunakan pemikiran logis, karena saya yakin Islam adalah agama yang logis, karena berasal dari Tuhan. Bagaimana dengan ajaran agama Buddha?
Dia jelaskan bahwa karma adalah sebuah kekuatan abadi. Saya bertanya, apakah "kekuatan" itu seperti gravitasi, daya tarik magnet, cinta, dll.? Katanya, kurang lebih begitu. Saya bertanya: Kalau karma tidak diketahui asal usulnya dan "ada" secara abadi, apa karma punya "kesadaran"? Manusia punya kesadaran, tapi daya gravitasi atau batu tidak punya. Kalau karma tidak punya kesadaran karena bukan makhluk hidup, bagaimana karma bisa menentukan apa yang tergolong baik dan buruk? Gravitasi tidak bisa!
Secara logis, hanya suatu makhluk hidup dengan "kesadaran" dan kecerdasan bisa menentukan apa yang benar dan salah, baik dan buruk. Apa yang menjadi dasarnya bagi "karma" untuk menentukan bahwa perbuatan A itu baik dan perbuatan B itu buruk? Kalau karma tidak punya kesadaran, kenapa karma peduli pada perbuatan manusia? Bagaimana karma, kalau tidak punya kesadaran, bisa "maha tahu" tentang apa yang dilalukan dalam ribuan kehidupan seorang manusia, lalu memutuskan bahwa orang itu perlu dikasih hukuman atau kebaikan? Bagaimana karma bisa "memantau" puluhan milyar manusia, dalam ribuan kehidupan, tanpa memiliki kesadaran? Saya minta penjelasan logis.
Saya jelaskan: Kalau dia percaya memang ada kesadaran dalam suatu "kekuatan abadi", yang maha tahu tentang masa lalu dan masa depan, yang bisa menentukan apa yang benar dan salah, yang bisa mengirim seorang pembawa berita untuk jelaskan bahwa kita akan dihukum kalau salah dan dapat kebaikan kalau benar, maka saya SETUJU. Bedanya adalah dia percaya kekuatan itu dinamakan "karma" dan orang Muslim percaya kekuatan itu dinamakan "Tuhan Yang Maha Esa" atau Allah. Tetapi sebaliknya, kalau dia percaya kekuatan bernama karma itu setara dengan gravitasi dan tidak punya kesadaran, maka bagaimana "kekuatan" itu bisa maha tahu tentang manusia, dan bisa menentukan benar dan salah? Dan kenapa karma mau peduli? Dan kenapa dia mau tunduk dan taat kepada kekuatan itu, kalau "karma" tidak punya kesadaran? Dia mengaku sangat bingung dan tidak bisa berikan jawaban logis.
Saya bertanya: KALAU dia bisa "bicara dengan karma", mohon ampun atas dosa masa lalu, dan mohon kebaikan untuk masa depan, apakah dia mau bicara dengan karma? Dia jawab, “SANGAT MAU!!” Akan lebih enak diampuni atas dosanya dan tidak dihukum. Saya jelaskan, orang Muslim bisa "bicara dengan karma" tetapi kami sebutkan "Tuhan", dan Tuhan punya kesadaran jadi bisa mendengarkan doa kami. Jadi kalau mau "bicara dengan karma", yang punya kesadaran, maka bisa dilakukan kalau menjadi Muslim. Tidak perlu tunduk pada "keputusan karma" (yang tidak punya kesadaran), dan malah boleh MENGUBAH keputusan tentang masa depan dengan berdoa kepada Tuhan (yang punya kesadaran). Dan disebabkan doa kita, Tuhan bisa mengubah takdir kita menjadi lebih baik. Jadi lebih enak pilih yang mana? Dia berkata harus banyak merenung dan berdoa, karena belum pernah dengar pemikiran seperti yang saya sampaikan kepadanya.
Yang menjadi menarik dari diskusi itu adalah bagaimana dia terbiasa hidup puluhan tahun dan beragama tanpa pernah menggunakan akalnya untuk berusaha memahami ajaran agamanya. Dan ketika diajak menggunakan akal satu kali saja, dia langsung merasa tertarik pada Islam. Setelah itu, tidak ada kabarnya lagi karena dia pergi ke luar negeri. Jadi saya hanya bisa berdoa, semoga Allah membuka akalnya, dan memberikan petunjuk dan hidayah kepadanya agar bisa menemukan kebenaran dalam Islam. Dan semoga orang Muslim yang baca ini akan banyak bersyukur karena diberikan kemudahan lahir sebagai Muslim, dan sudah diberikan agama yang logis dan benar tanpa perlu pusing mencari kebenaran sendiri.
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu'alaikum wr.wb.
-Gene Netto
25 January, 2018
Apa Semua Agama, Dan Semua Pemeluk Agama, Sama Di Mata Tuhan?
[Gene]: Tidak mungkin "Kita semua sama dimata Tuhan". Kalau itu benar, berarti setiap Nabi baru yang diutus oleh Allah dari Adam sampai Muhammad hanya buang2 waktu saja menyampaikan “kebenaran”, karena Tuhan cuek saja kita ikuti agama dan aturan yang mana. Betul? Apakah Tuhan dan para Nabi hanya iseng saja memberikan agama? Atau apakah ada agama yang sah dan agama yang tidak sah di mata Tuhan? Silahkan pilih. Tidak mungkin kedua pendapat itu benar. Satu pasti benar, dan yang lain pasti salah.
85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
(QS. Ali Imron 3:85)
[Ayat ini mirip dengan 3:19 - agama yg diridhoi di sisi Allah hanya Islam.]
Persatuan tidak berasal dari pengakuan atas agama yang salah dan tidak sah. Ketika orang Muslim menyatakan agama di luar Islam tidak sah, maka itu bukan keputusan kita sendiri, tapi keputusan Allah SWT. Jadi kita taat sama keputusan Allah itu, karena kita tidak berani menentukan sendiri. Dan persatuan didapatkan ketika kita ramah dan baik hati terhadap orang beda agama, walaupun pada dasarnya orang beda agama itu cuek pada Tuhan, dan ciptakan agama sendiri (dan mereka mengetahui hal itu, tapi tidak mau mengaku).
Mereka tidak peduli pada semua Nabi yang diutus dari Tuhan dalam kebenaran, tidak peduli apakah agama mereka dinilai sah atau tidak sah di mata Tuhan, dan hanya kebiasaan dan perasaan hati saja yang membimbing keputusan mereka untuk tetap pada agama itu. Mereka tidak berani bertanya kepada Tuhan tentang agama mana yang Dia terima, dan mohon petunjuk kepada agama yang benar dan diakui oleh Dia. Kalau mereka berani berdoa begitu kepada Tuhan, dan mohon Tuhan bawa mereka ke agama yang benar, maka mereka akan pindah agama dan masuk Islam karena Allah akan berikan petunjuk kepadanya. Tapi mereka tidak peduli pada pendapat Tuhan. Hanya pendapat mereka sendiri yang diagungkan.
170. Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?"'
(QS. Al-Baqarah 2:170)
Kita yang Muslim tahu pemeluk agama itu salah, tapi kita biarkan mereka menjalankan agama mereka, dan berikan perlindungan kepada mereka, walaupun tidak setuju dengan mereka. Persatuan berasal dari pengakuan hak mereka untuk berbeda agama, bukan dari pengakuan palsu bahwa semua agama sama dan semua pemeluk agama sama di mata Tuhan. Kalau seandainya semua agama dan semua pemeluk agama “SAMA” di mata Tuhan, maka Tuhan Sendiri dan para Nabi-Nya yang pertama kali bicara begitu, agar jelas.
Ternyata Tuhan dan para Nabi tidak pernah menyatakan demikian. Hanya manusia saja yang berani, karena tidak suka kalau agama yang mereka rekayasa sendiri dilawan oleh kebenaran dari Tuhan dalam bentuk agama Islam yang sah. Silahkan berpikir secara dalam, dengan menggunakan akal yang Tuhan berikan kepada anda, kalau berani mencari kebenaran dari Tuhan. Atau silahkan ikuti pendapat anda sendiri kalau tidak peduli pada pendapat Tuhan. Itu hak anda sebagai manusia. Dan nanti di akhirat, Allah akan memisahkan antara pemeluk agama yang sah, dan tidak sah. Itu hak Dia sebagai Tuhan yang menciptakan manusia.
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
-Gene Netto
02 July, 2017
Doa Non-Muslim Tidak Mungkin Dikabulkan?
[Gene]: Assalamu'alaikum wr.wb. Menduakan Allah, atau mengaku ada Trinitas, adalah "dosa syirik" dalam Islam. Bukan berarti orang itu tidak percaya ada Tuhan yang Maha Esa. Pengertian dia tentang substansi Tuhan berbeda (dan juga salah, menurut kita). Tetap saja, kalau dia berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa maka dia sedang berdoa kepada Allah SWT, walaupun dia sendiri tidak mengakuinya atau sadar.
Ibaratnya ada orang yang kirim surat sekarang ke Presiden Republik Indonesia di Istana Negara, dan setelah dibuka, dimulai "Dear Ibu Megawati..." (padahal presiden yang sah bukan Megawati di saat ini). Suratnya sangat mungkin akan tetap diterima karena dialamatkan kepada PRESIDEN NEGARA (pemimpin mutlak). Soalnya Presiden yang sah di saat ini tidak sesuai dengan perkiraan orang itu adalah hal yang berbeda. Istana tidak diwajibkan buang suratnya hanya karena orang yang kirim surat menulis kata sambutan yang salah. Mungkin seperti itu perumpamaannya kalau orang Yahudi atau Kristen berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa. Menjadi Haknya Allah untuk mengabulkan sebagian dari doa-doa mereka itu KALAU Dia mau. Atau juga bisa menolak. (Beda halnya kalau orang Kristen berdoa kepada "Yesus" daripada Tuhan.)
Dalam sebuah hadits, diceritakan ada pelacur Yahudi yang diampuni semua dosanya setelah berikan air pada anjing yang kehausan. Padahal dia TIDAK BERDOA untuk mohon ampun atas dosanya. Allah tetap saja berhak mengampuninya kalau Dia mau. Jadi kalau orang Yahudi atau Kristen berdoa (setelah bersedekah, misalnya) dan minta tambahan rezeki, maka menjadi Haknya Allah untuk berikan atau tidak. Dan bukan hak kita untuk mengatakan doa mereka pasti ditolak dan tidak mungkin dikasih rezeki. Orang ateis saja dikasih rezeki, dan kita yang Muslim yakini uang itu berasal dari Allah (atau datang atas Izin-Nya Allah) walaupun orang ateis itu tidak percaya ada Tuhan!
Tentang persoalan apakah pahala dan kebaikan mereka diterima atau tidak, maka itu adalah hal yang terpisah juga. Perhitungan pahala terjadi di akhirat, bukan di dunia. Dulu saya dikatakan "orang kafir". Lalu saya masuk Islam. Kebaikan saya percuma semua? Islam mengajarkan semua kebaikan saya selama 25 tahun (sebagai orang kafir) TETAP ADA. Dan hanya dosa yang dihapus saat masuk Islam. Dan sekarang sudah banyak orang yang masuk Islam dengan saya, dan banyak muallaf yang dibina.
Jadi coba berpikir dengan sikap yang bijaksana. Kalau kita sibuk menghujat seorang kenalan, dan bilang "Dia orang kafir. Dia tidak dapat pahala. Doa dia tidak bakalan diterima. Dia tidak masuk surga. Dia tidak berguna!" dan sebagainya, maka hati-hati. Bisa jadi 5 tahun di depan, dia sudah masuk Islam dan punya ilmu agama yang luas, dan pahala yang banyak, dan mungkin menjadi orang saleh yang doanya cepat dikabulkan. Tetapi di saat yang sama, kita masih sibuk menghujat orang kafir yang lain.
Kesimpulannya, kalau kita inginkan doa kita dikabulkan, maka kita harus berdoa dengan cara yang sah kepada Tuhan Yang Sah. Kalau melakukannya dengan cara yang "salah", mungkin saja tetap bisa dapat pertolongan dan kemudahan dari Allah. Tapi kalau mau dapat kepastian doanya diterima, maka harus berdoa berdasarkan SOP yang benar, yang sudah ditentukan oleh Allah. Tidak ada doa lebih sah daripada doa seorang Muslim kepada Allah SWT. Dan kalau seandainya Allah mau mengabulkan sebagian dari doanya orang dalam umat lain, maka itu Haknya Dia sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Ateis saja masih bisa dapat sebagian dari apa yang mereka harapkan, yang hanya mungkin terjadi atas IZIN Allah. Masa orang Kristen dan Yahudi yang percaya ada Tuhan yang Maha Esa tidak boleh dapat kebaikan sama sekali di dunia ini? Coba berpikir lagi.
Wassalamu'alaikum wr.wb.,
-Gene Netto
01 July, 2017
Selandia Baru Akan Hapus UU Penodaan Agama
14 January, 2017
Video Masjid Al Haram, Makkah Tahun 1930
09 January, 2017
Orang Kristen adalah Pengikut Yesus Atau Bukan?
Setan Atau Orang Kristen Yang Lebih Ingkar Pada Tuhan?
Untuk Mengenal Tuhan Harus Pakai Akal
Pendapat Para Ahli Agama Kristen Tentang Alkitab
01 April, 2014
Apa Allah Tidak Adil Terhadap Orang Kafir Yang Baik Hati?
[Jawaban]: Wa 'alaikum salam wr.wb. Mungkin sebagian orang Muslim merasa "lebih adil" kalau semua orang yang "baik hati" bisa masuk surga. Katanya, Allah Maha Adil. Jadi orang yang "baik hati" dan percaya pada Tuhan seharusnya masuk surga. Tapi tunggu dulu. Orang "baik" itu seperti apa? Agamanya apa? Tidak beragama? Merasa yakin ada Tuhan yang Maha Esa yang menciptakan alam semesta, tapi sekaligus, tidak mau lakukan hal-hal yang diperintahkan Tuhan itu? Dulu ada teman non-Muslim saya yang mengatakan:
"Saya percaya ada Tuhan yang Maha Esa. Dia berkuasa di atas segala sesuatu yang terjadi. Hakekat dari Tuhan adalah "cinta". Tidak ada kekuatan yang lebih sempurna daripada cinta. Rasa cinta berasal dari Tuhan. Jadi Tuhan inginkan kita mencintai sesama manusia. Saya mencintai pacar saya. Dan di saat saya bercinta dengan pacar saya, Tuhan pasti makin mencintai saya."
Di dalam Islam, hal itu disebut "perzinaan". Jadi dia dapat ajaran tentang "cinta" itu dari mana? Bukan dari Tuhan. Dia mengaku percaya pada Tuhan tapi sekaligus tidak peduli pada semua Nabi, semua kitab, atau bentuk ibadah yang ditentukan oleh Tuhan. Dia hanya percaya pada Tuhan dan "cinta". Yang penting, terserah dia merekayasa ajaran dan perbuatan yang "pasti disenangi oleh Tuhan".
Menurut dia, aborsi pasti didukung oleh Tuhan. Kalau ada anak yang tidak diinginkan, yang lahir di keluarga miskin, maka dia akan menderita. Daripada dia menderita dan sedih, Tuhan lebih senang anak itu tidak lahir. Jadi justru karena kita mencintai anak, lebih baik aborsi. Aborsi = cinta terhadap anak (agar tidak menderita). Tuhan pasti pro-aborsi, dan itu bukan pembunuhan, karena bayi belum lahir. Katanya Tuhan "pasti" begitu.
Apakah benar Tuhan pro-seks bebas, dan pro-aborsi? Dan tidak ingin memberikan aturan apapun kepada manusia? Kita bebas melakukan apa saja yang diinginkan (seks bebas, aborsi, judi, narkoba, dan apa saja lagi yang diinginkan manusia) asal ada rasa "cinta" dalam kehidupan? Menurut dia, IYA, Tuhan seperti itu. Dari mana dia bisa tahu "kemauan Tuhan" seperti itu? Tentu saja dia merekayasa semua ajaran itu sendiri. Tidak ada sedikitpun dari ajaran itu yang berasal dari Tuhan. Jadi atas dasar apa dia bisa masuk surga, padahal dia merasa sebagai manusia yang BAIK yang selalu sebarkan "cinta" (dengan seks bebas dan aborsi, dll.)
Kalau ada Surga dan Neraka, maka kedua tempat itu adalah MILIK ALLAH. Bukan milik manusia. Allah sebagai pemilik boleh menentukan "syarat masuknya". Sebagai perumpamaan, bayangkan ada sebuah PT hiburan swasta bernama "Surga Indah" di pinggir pantai. Allah Pemilik mutlaknya. Lalu Allah menentukan cara masuk PT Surga Indah: Wajib punya tiket, yang harganya sekian rupiah, dibuka pada hari ini, pada jam ini, dilarang bawa anjing, dsb. Semua syarat masuk ditentukan oleh Allah. Lalu, bagaimana mungkin seorang manusia bersikeras "harus ada izin" untuk masuk tanpa bayar, tanpa perlu tiket, di jam 12 malam, pada harinya tempat itu tutup? Syarat sudah dibuat dan jelas. Yang melanggar tidak diberikan izin masuk. Selesai. Ini poin pertama yang paling penting. Kalau tidak mau taat pada syarat masuk sebuah tempat milik pribadi, dari mana bisa dapat izin masuk?
Kalau percaya masih mungkin masuk tanpa perlu izin sebelumnya, coba BUKTIKAN sekarang di dunia ini. Datang ke bandara, tanpa tiket pesawat, tanpa paspor, tanpa identitas, tanpa uang, dan coba paksakan masuk dan naik pesawat ke negara lain, dengan menyatakan, "Saya orang baik hati, jadi perusahaan penerbangan PASTI akan izinkan saya terbang ke sana." Bisa masuk? Tanpa tiket, paspor, identitas, atau uang? Tanpa peduli pada syarat masuk? Atau sama sekali tidak bisa? Coba berpikir secara cerdas: Di dunia ini saja tidak akan bisa, apalagi di akhirat, di hadapan Allah SWT yang Maha Kuasa!!
Setelah paham itu, coba berpikir tentang tujuan hidup di dunia ini. Kehidupan ini adalah UJIAN. Allah SWT adalah Tuhan yang memberikan ujian ini kepada kita. Dia yang membuat peraturan. Dan Dia yang mewajibkan kita beriman kepada-Nya. Segala sesuatu yang kita lakukan harus dilakukan KARENA Dia, karena kita BERIMAN kepada Dia. Kalau tidak, maka tidak diberikan nilai (pahala) oleh Dia.
Coba berpikir begini. Tuhan adalah pemilik suatu PT besar yang juga punya gedung sendiri. Di depan gedung itu ada banyak satpam yang jaga gedung, dan juga ada taman yang indah, yang terbuka untuk umum. Setiap hari, banyak bapak tua berkumpul di taman, main catur, ngopi dan melihat semua orang yang lewat. Suatu hari, bapak2 tua itu datang ke kantor HRD, dan minta gaji. Katanya, mereka lakukan hal yang "sama" dengan satpam: duduk di depan gedung dan melihat semua orang yang lewat. Apa bapak2 tua itu akan dikasih gaji? Tidak? Kenapa tidak?
Pemilik PT itu menggaji satpam. Satpam itu punya kewajiban: harus hadir di kantor setiap hari. Kalau tidak hadir, kena sanksi. Kalau hadir, dapat gaji dan hak2 lain. Jadi ada kewajiban, dan ada haknya. Kalau menjalankan kewajiban, dapatkan haknya. Bapak2 tua itu mungkin "kelihatan sama" dengan satpam, tapi mereka berbeda. Mereka tidak pernah daftar sebagai karyawan, tidak punya kewajiban, dan tidak akan kena sanksi kalau tidak hadir. Dan karena itu, mereka tidak dapat hak apapun dari sisi PT. Bisa paham? Kelihatan sama, tapi sebenarnya sangat berbeda.
Allah juga bersikap seperti itu. Dia menjadi Pemilik "Kompleks Surga Indah". Untuk masuk ada syaratnya: daftar sebagai karyawan. Setelah daftar, ada kewajiban: hadir dalam shalat 5 waktu per hari, dan lain-lain. Lalu setelah melakukan kewajiban, bisa menerima haknya: doa dikabulkan, dikasih kebaikan, dan diperhatikan terus. Dan nanti juga ada hak yang paling bagus dari semua, yaitu menerima tiket untuk masuk dan tinggal di kompleks bernama Kompleks Surga Indah, yang hanya disediakan untuk karyawan Allah yang pensiunan dari dunia ini. Selain karyawan Allah dilarang masuk. Tidak ada izin. Sederhana bukan?
Bagaimana dengan orang di dunia yang "percaya pada Tuhan dan melakukan kebaikan"? Mereka sama dengan bapak2 tua yang kelihatan sama seperti satpam, tapi sebenarnya berbeda, karena mereka bukanlah karyawan. Jadi walaupun mereka lakukan hal yang mirip, mereka tidak melakukan hal2 itu ATAS NAMA TUHAN. Alias, mereka bukan karyawan Allah, dan tindakan mereka tidak punya nilai di sisi Allah. Jadi mereka tidak dapat hak apapun di akhirat, dan dilarang tinggal di Kompleks Surga Indah, yang hanya untuk karyawan saja. Sederhana bukan?
Kalau seandainya Allah berikan hak pensiun kepada para satpam dan karyawan lain yang kerja keras selama puluhan tahun, dan JUGA berikan hak pensiun kepada bapak2 tua itu yang sebatas "mirip dengan satpam" maka di situ Allah menjadi TIDAK ADIL SEKALI! Yang kerja bertahun-tahun disama-ratakan dengan orang yang bukan karyawan dan tidak punya kewajiban apapun terhadap PT. Apakah itu adil? Tentu saja tidak. Jadi supaya bisa Maha Adil, Allah hanya memberikan tempat pensiun yang baik di Kompleks Surga Indah kepada orang yang pernah bekerja sebagai "karyawan Allah", yang resmi, terdaftar, dan bersertifikasi selama hidup di dunia.
Kalau orang lain mau meniru kebaikan yang dilakukan oleh orang Muslim dengan harapan bisa tinggal di Kompleks Surga Indah juga nanti, maka mereka sangat salah. Mereka melakukan kebaikan, tapi tidak mengaku bahwa Allah-lah yang perintahkan kebaikan itu! Oleh karena itu, Allah tidak mau berurusan dengan mereka karena mereka bukan karyawan Dia. Dan agar adil terhadap karyawan, orang yang bukan karyawan itu tidak dapat hak apapun nanti.
Ini sebuah ayat di Al Qur'an yang membahas orang seperti itu.
Amal Tidak Diterima Dari Org Kafir
103. Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"
104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
105. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
(QS. Al Kahfi 18.103-105)
Semoga sudah jelas. Wabillahi taufik walhidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
-Gene Netto
