Search This Blog

Labels

alam (8) amal (97) anak (324) anak yatim (117) bilingual (22) bisnis dan pelayanan (6) budaya (8) dakwah (90) dhuafa (18) for fun (12) Gene (225) guru (69) hadiths (9) halal-haram (24) Hoax dan Rekayasa (34) hukum (69) hukum islam (51) indonesia (594) islam (562) jakarta (34) kekerasan terhadap anak (378) kesehatan (100) Kisah Dakwah (13) Kisah Sedekah (11) konsultasi (13) kontroversi (5) korupsi (28) KPK (16) Kristen (14) lingkungan (19) mohon bantuan (40) muallaf (52) my books (2) orang tua (11) palestina (34) parenting (2) pemerintah (138) Pemilu 2009 (63) pendidikan (527) pengumuman (27) perang (10) perbandingan agama (12) pernikahan (11) pesantren (48) politik (128) Politik Indonesia (53) Progam Sosial (60) puasa (37) renungan (197) Sejarah (5) sekolah (95) shalat (11) sosial (324) tanya-jawab (15) taubat (6) umum (13) Virus Corona (24)

Popular Posts

Showing posts with label Gene. Show all posts
Showing posts with label Gene. Show all posts

03 March, 2026

Mata Kuliah Gene Netto, Di Universitas Griffith, Brisbane, Australia

Assalamu'alaikum wr.wb. Kadang ada orang yang tidak paham kenapa saya sering membahas politik. Semoga ini bisa menjelaskan. Fakultas saya di Australia setara dengan FSIP atau Hubungan Internasional di sini, tetapi hanya berfokus pada Asia. (“Faculty of Asian International Studies”.) Di bawah ada detailnya dari pelajaran saya di Griffith University, Brisbane, dari tahun 1990-1994. Sejak zaman itu, saya terbiasa membahas perkembangan politik di Indonesia dan di dunia. Yang kenal saya sebagai “guru bahasa Inggris”, atau “ustadz”, tidak tahu saya punya latar belakang seperti ini. Saya memang seorang guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, dan guru sejarah dunia, tetapi juga mengikuti ilmu politik selama 30 tahun. Saya aktif belajar agama dari beberapa guru, terutama bidang fiqih dan tafsir. Dan aktif membahas politik Indonesia dan dunia dengan para teman, guru agama, dosen, dll.

Ini yang pelajaran saya waktu kuliah: 

Bachelor of Arts (BA), Asian Internasional Studies (Fakultas AIS)

•    BAHASA INDONESIA - Tahun I, II, III, IV
•    SASTRA INDONESIA MODERN - Mempelajari sastra Indonesia, termasuk keterampilan sebagai penerjemah.
•    ILMU POLITIK - Teori2 standar Ilmu Politik internasional. 
•    NEGARA DAN POLITIK DI INDONESIA - Tentang pemerintah Indonesia, politik umum dan partai politik dari pra-perang hingga pasca Perang Kemerdekaan, Gerakan Pemuda, PKI, 1965, Gestapo, Supersemar, Orde Lama, Orde Baru, dominasi militer dalam bisnis dan politik, Dwifungsi ABRI, struktur kekuasaan, birokrasi, hubungan Indonesia dengan negara lain, dll.
•    HUBUNGAN INTERNASIONAL DAN ASIA - Teori2 standar Hubungan Internasional, teori hubungan bilateral dan multilateral, dan bagaimana teori2 itu berhubungan dengan konteks Asia, teori “North vs South”, kolonialisme, hutang internasional, lembaga keuangan, dunia ketiga, dunia berkembang, negara maju, PBB, kebijakan luar negeri Amerika dan kekuatan militernya di Asia, dll.
•    BISNIS DAN POLITIK DI WILAYAH ASIA PASIFIK - Bagaimana bisnis dan politik dipengaruhi di setiap negara Asia, terutama Indonesia, Jepang, Korea dan Cina, dengan struktur politik dan sosial yang berbeda.
•    AUSTRALIA DAN ASIA - Hubungan pemerintah dan sosial antara Australia dan negara-negara Asia lainnya, bagaimana hubungan dagang dan politik mempengaruhi setiap kebijakan, pertahanan, keamanan nasional, keamanan ekonomi, dll.
•    MASYARAKAT ASIA - Tentang struktur sosial yang berbeda dalam masyarakat di semua negara terkemuka di Asia.
•    PEDESAAN INDONESIA - Ekonomi dan Perubahan Sosial dalam desa Indonesia, kehidupan di pedesaan Indonesia, bagaimana ekonomi pedesaan dikembangkan dan dipelihara, bagaimana bisa rusak, masalah sosial dan ketidakstabilan yang disebabkan oleh kerusakan ekonomi pedesaan, dll.
•    HISTORIOGRAFI - Teori tentang bagaimana manusia menciptakan dan menganalisis sejarah.
•    ANTROPOLOGI - Teori standar antropologi yang membandingkan budaya2 dan masyarakat di satu negara dengan yang lain.

Setelah selesai BA, saya teruskan dengan Graduate Diploma of Education dan menjadi seorang guru. Mata kuliahnya berkaitan dengan Pendidikan Anak, Psikologi Anak, Manajemen Sekolah, Pembuatan Kurikulum, Ujian, dll. Lalu saya dapat beasiswa untuk belajar di Universitas Indonesia selama 1 tahun saja, di Fakultas Sastra Indonesia. Pada akhir tahun 1995, saya sudah ingin masuk Islam, jadi saya dapat pekerjaan sebagai guru bahasa Inggris, dan menetap di Jakarta terus sampai sekarang. Dulu ada rencana berlanjut sampai kuliah S3, tetapi saya kena Hepatitis dari makan di warung2 di Jakarta, dan menjadi kurang sehat bertahun-tahun, jadi belum ada tenaga untuk kuliah lagi.

Jadi saya sudah terbiasa belajar, pantau berita, dan membahas pendidikan, agama, politik, hubungan internasional, sejarah, bisnis, dan topik serupa selama puluhan tahun. Saya sering terima permintaan konsultasi terkait semua topik itu, dan saya berusaha untuk membantu semua orang, dengan harapan akan ada manfaatnya bagi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia. 

Saya mulai membahas politik dunia dari usia 10 tahun, setelah tahu tentang Nelson Mandela yang dipenjarakan. Suatu hari, saya dimarahi ibu saya karena berdebat dengan orang dewasa sampai dia kalah. Kata Ibu, orang dewasa malu kalau kalah debat dengan anak SD. Hehe.

Jadi saya tertarik pada politik sejak kecil, dan ditambah dengan kuliah di Australia. Bagi saya, bidang2 pendidikan, agama, dan politik setara dengan bidang kesehatan bagi dokter. Kalau tidak boleh dibahas, apa gunanya belajar selama puluhan tahun? 
Sekian dulu. Semoga bermanfaat sebagai penjelasan. 
Wassalamu'alaikum wr.wb.
-Gene Netto


26 February, 2026

Sedekah Untuk Anak Yatim Dibalas 18 Kali Lipat Dalam 18 Jam, Dalam Bentuk HP Baru

Assalamu’alaikum wr.wb. Pada suatu hari, saya makan malam dengan seorang anak yatim yang saya kenal. Saat mau pulang, saya kasih dia Rp.150 ribu sebagai uang saku. Alhamdulillah, sudah bisa membuat anak yatim kenyang, sudah berikan uang saku, dan juga menghibur hatinya dengan diskusi agar dia dapat wawasan yang luas. Besok harinya, ada teman yang ajak saya minum kopi, tetapi katanya harus mampir ke Mall Ambassador dulu. Saya merasa capek, tetapi sudah lama tidak bertemu dia, jadi tidak enak menolak, jadi saya paksakan diri keluar. Saat ketemu, dia bilang mau lihat HP baru dulu. Yahhh, capek deh, kalau harus menunggu teman melihat HP berjam-jam. Tetapi ternyata, dia hanya mau lihat satu HP saja. 

Di tokonya, saya duduk dan berdzikir saja karena bosan melihat HP padahal tidak bisa beli. Setelah dia sudah periksa semuanya, teman saya berpesan, “Minta DUA ya Mbak!” Saya kaget. Baru saja lihat, kok langsung beli dua? Saya bertanya, apa buat istrinya? Teman saya senyum. “Nggak. Buat kamu saja, biar kita sama!!” Sebelumnya, saya sudah sering bilang bahwa HP lama saya kurang enak dipakai dan sering error saat instal aplikasi terbaru. Ternyata, teman itu juga alami masalah yang sama, jadi dia sudah berniat beli dua HP baru, biar kami bisa senang pakai HP yang bagus.

Setelah dipikirkan, saya merasa kaget. Kok bisa? Waktu diajak, saya tidak mau pergi karena capek, tetapi paksakan diri karena ingin silaturahim. Lalu dapat HP baru. Tiba-tiba saya ingat anak yatim dari satu hari sebelumnya. Saya kasih dia Rp.150 ribu saja, dan besok harinya saya dapat HP baru, dengan harga 2,7 juta. Saya pakai kalkulator. Rp. 2,7 juta / 150rb = 18. Jadi uang yang diberikan kepada anak yatim dibalas 18 kali lipat, dan dibalas persis 18 jam sesudahnya juga. KEBETULAN? Kalau kita yakin kepada Allah, tidak ada kebetulan.

Kalau anda punya banyak uang, atau sedikit, jangan lupa anak yatim dan dhuafa. Uang yang diberikan kepada mereka tidak akan hilang. Tetapi itu adalah investasi yang paling aman, karena Allah SWT yang menjamin akan bayar kembali dengan berlipat ganda! Coba saja, dan jangan takut. Doa dari anak yatim itu lebih berharga daripada deposito yang paling bagus di bank. Doa itu membawa manfaat yang luas di dunia dan juga di akhirat, sedangkan deposito mungkin bermanfaat di dunia, tetapi tidak bisa selamatkan kita di akhirat.

245. Siapakah yang mau memberi PINJAMAN kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan MELIPAT GANDAKAN PEMBAYARAN KEPADANYA dengan LIPAT GANDA YANG BANYAK. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki), dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.
(QS. Al-Baqarah 2:245)

Rasulullah SAW bersabda, “Aku dan pemelihara anak yatim di surga seperti ini (dan beliau memberi isyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya, lalu membukanya.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, Abu Daud)

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto



14 January, 2026

Sakit, Kok Malah Bersyukur?

Assalamu’alaikum wr.wb. Kemarin saya sakit kepala keras, meriang, dan lemas. Sepanjang hari kemarin ada sakit kepala ringan. Setelah maghrib, ada niat makan dan tidur cepat. Lalu saya dapat permintaan bicara dengan anak perempuan yang sudah murtad selama 2 tahun. Walaupun kurang enak badan, saya terima, dan diskusi lewat telfon dengan anak itu dan ibunya selama 3 jam. Ketika selesai, sudah jam 11 malam, saya belum makan, dan sudah mulai meriang. Jadi saya makan dulu, minum obat, dan tidur. Saat bangun subuh, sakit kepalanya tambah keras, jadi saya minum obat lagi dan tidur. Ketika bangun jam 2 siang, sakit kepala lebih keras lagi, dan saya merasa lebih meriang, dan mual, dan lemas. 

Saya berbaring di kasur dan mulai bersyukur. Kok Malah Bersyukur? Kenapa? Karena saya sadar bahwa punya kamar yang aman dan bersih, yang bebas dari segala gangguan. Ada listrik, AC, komputer, internet, HP, uang, kamar mandi yang bersih, makanan di dapur, tidak ada luka di tubuh, dan ada rumah sakit dan apotek yang dekat kalau dibutuhkan. Alasan-alasan untuk bersyukur ada ratusan, bahkan ribuan, kalau mau disadari. Apapun keadaan kita, apapun kondisi fisik kita, apapun lokasi kita, selalu ada banyak orang lain yang alami kesulitan yang lebih besar lagi. Dan kalau Allah berikan rasa sakit sekecil apapun, dijamin dosa kita akan diampuni. Alhamdulillah. 

Semua orang bisa langsung mengeluh dan “salahkan Tuhan” kalau mau! (Kenapa saya harus sakit, padahal kemarin malam saya berdakwah, dan ada banyak tugas lain yang mau dikerjakan sekarang?!) Tetapi keluhan itu tidak membawa manfaat. Jadi orang yang beriman kepada Allah tidak akan mencari “alasan untuk mengeluh” tetapi malah akan mencari “alasan untuk bersyukur”. Dan kalau kita sadar atas semua nikmat yang Allah berikan, sangat tidak mungkin kita sanggup “bayar kembali” kepada Allah. Dan Allah juga tidak minta. Yang diminta oleh Allah sederhana saja: Beriman kepada Allah, selalu berbaik sangka kepada Allah, dan selalu mencari alasan untuk bersyukur! Dan ketika kita bersyukur, Allah berjanji bahwa kita akan diberikan lebih banyak kenikmatan lagi. Alhamdulillah. Kita wajib shalat, tetapi saya tidak sanggup bersujud karena rasa sakit akan bertambah, dan alhamdulillah boleh shalat duduk!! Alhamdulillah x 1.000.

7. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
(QS. Ibrahim 14:7)

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah 
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto  



22 December, 2025

Kalau Gene Netto Masuk Islam Karena Sinterklaus, Yang Murtad Menemukan Apa?

[Pertanyaan]: Setelah Gene tahu Sinterklaus tidak nyata, agama Kristen ditinggalkan. Lalu, orang yang murtad menemukan apa ya sehingga mau tinggalkan Islam?

[Gene]: Assalamu’alaikum wr.wb. Yang masuk Islam setiap tahun di Indonesia ada puluhan ribu orang. Semua masjid besar punya daftar. Tetapi yang murtad sedikit, dan polanya hampir selalu sama. Anak remaja atau pemuda murtad karena sebab ini: 1) Dia benci orang tuanya, ada masalah keluarga. 2) Ada pacar non-Muslim. 3) Belajar filosofi (SMA atau kuliah). 4) Merasa Muslim keturunan, mungkin agama lain “lebih baik”. 5) Ada kejadian aneh seperti mimpi melihat salib, dsb.

Semua orang itu hampir selalu tidak rajin beribadah dan ilmu agama Islamnya rendah. Yang punya masalah keluarga ingin mencari “kenikmatan” dalam agama lain. Ada yang murtad hanya untuk menyakiti orang tuanya. Ada rasa benci dan emosi, jadi mereka merenung: “Kalau Islam benar, kenapa bapak/ibu begini?” Dianggap orang tua Muslim seharusnya “sempurna”. Kalau tidak, Islam yang salah.

Yang punya pacar Kristen utamakan cinta terhadap pacar. Kalau ditanya kenapa lebih mencintai pacarnya, daripada Allah dan Rasulullah SAW, mereka tidak bisa menjawab. Yang belajar filosofi utamakan pemikiran orang non-Muslim zaman dulu, dan tidak peduli pada pemikiran Rasulullah atau Firman Allah di dalam Al Qur’an. Dianggap ahli filosofi lebih paham tujuan hidup daripada Nabi Allah!

Yang anggap dirinya “Muslim keturunan” merasa seharusnya cari agama sendiri. (Tetapi saat bapaknya bayar kuliah, mereka terima “uang keturunan”, tidak perlu dicari sendiri.) Yang dapat mimpi aneh, atau kejadian serupa, mencari penjelasan dari teman non-Muslim dan percaya pada jawabannya, dan tidak mencari penjelasan dari orang tua (yang dibenci) atau ustadz.

Selama 30 tahun berikan konsultasi, saya belum pernah dengar ada satu kasus di mana seorang Muslim pelajari ajaran Kristen dan Islam, pelajari Al Kitab dan Al Quran, lalu menggunakan LOGIKA untuk tinggalkan Islam dan memilih Kristen. Selalu dipilih karena masalah keluarga, pacar, merasa Islam keturunan, kejadian aneh, dsb. Yang belajar filosofi biasanya menjadi ateis dan meragukan semua agama. Jadi semuanya lepaskan akal yang sehat, dan mengikuti perasaan dan emosinya. 

Ada satu orang yang diskusi dengan saya dulu. Di mengaku: tidak tahu Alkitab ditulis siapa, dan tidak yakin dia “mengikuti Yesus” dengan benar. Dia sepakat: Yesus adalah orang Yahudi, baca Taurat, dalam bahasa Ibrani, di Sinagoge, pada hari Sabtu! Yesus tidak masuk gereja, pada hari Minggu, untuk baca Alkitab, dalam bahasa asing, melakukan Misa, bernyanyi, menatap salib, dan berdoa kepada Yesus, dalam bahasa asing, dan tidak pernah membahas Trinitas. Tetapi dia masih memilih agama Kristen karena mencintai pacarnya, dan “semua agama sama”, jadi semua orang baik pasti masuk surga. 

Kalau mereka menolak menggunakan logika, sulit dibantu. Allah sudah kasih mereka kenikmatan lahir sebagai Muslim, lalu mereka sendiri yang membuangnya. Tetapi kalau mereka bersedia diskusi berbasis logika, biasanya dalam beberapa jam (atau beberapa pertemuan) mereka kembali ke Islam. 

100. Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.
(QS. Yunus 10:100)

Pesan Kepada Orang Tua: Membangun hubungan harmonis dengan anak. Sering peluk dan cium mereka, sampai dewasa (remaja juga butuh, laki-laki juga). Jangan menjadi marah. Kemarahan bukan solusi terhadap masalah: Hati anak perlu cinta, kasih sayang, diskusi, dan penerimaan, bukan kemarahan. Anak yang mencintai orang tuanya, akrab, sering dipeluk, dan dapat pendidikan Islam yang baik, akan taat pada orang tua, dan tidak akan murtad, insya Allah. Jawab pertanyaan mereka dengan logika, dan kalau sulit, cari bantuan. Insya Allah anak-anak Muslim yang dibesarkan seperti itu akan selamat, dan keimanan mereka terjaga. 

Semoga bermanfaat.
Wa billahi taufiq wal hidayah.
Wassalamu’alaikum wr.wb. 
-Gene Netto 



17 March, 2025

"Maaf Pak, Tarifnya Berapa? Apa Permintaan Khusus Apa?”

Assalamu’alaikum wr.wb. Pada suatu hari, ada ibu dari sebuah yayasan yang telfon saya. Dia mau undang saya berceramah untuk anak-anak yang sakit di rumah singgah, dalam acara buka puasa bersama. Katanya banyak anak yang depresi, jadi butuh ceramah motivasi untuk menghibur hatinya dan membuatnya semangat. Lalu, seperti yang dilakukan dengan para penceramah sebelumnya, ibu itu merasa "terpaksa" bertanya tarifnya berapa. Saya jawab tidak ada tarif (karena arahan dari guru saya begitu).

Dia masih bertanya lagi, "Maaf, dibutuhkan berapa untuk biaya transportasi dan lain-lain?" Saya jawab lagi tidak ada tarif dan tidak perlu jumlah uang tertentu. Dia belum percaya, dan bertanya terus. Tolong disebutkan angkanya berapa, butuh dana berapa, karena takutnya kalau nanti pembayarannya tidak sesuai harapan, saya bisa kesal dan nanti tidak mau diundang lagi. Saya tetap mengatakan tidak ada tarif.

Lalu, perlu dijemput jam berapa? Saya jawab, tidak perlu dijemput. Taxi banyak, jadi tidak perlu merepotkan panitia. Dia masih bertanya lagi karena takut saya tidak akan datang kalau tidak dijemput oleh mereka. Saya tetap menolak. Ada taxi, GoCar, GrabCar, Gojek, GoOnta, dan lain-lain. Jadi insya Allah sangat mudah untuk sampai lokasinya dan tidak perlu dipikirkan oleh mereka. Saya kira sudah selesai. Ternyata belum.

"Maaf Pak, ada permintaan khusus apa?" Permintaan khusus?? Seperti apa? Saya kurang paham. "Untuk makanannya, Pak. Kita harus sediakan apa untuk Pak Ustadz?" Kok harus ada permintaan khusus? Emangnya Katy Perry atau Justin Bieber yang mau datang? Saya jawab, apa saja boleh Bu. Dia bertanya lagi, "Apa Pak Ustadz bersedia makan nasi kotak bersama anak-anak yang sakit?" YA ALLAH!! Sekali lagi saya jelaskan tidak usah pikirkan makanan khusus, atau transportasi, atau dana. Yang dikasih kepada anak-anak sudah cukup baik untuk saya juga, insya Allah.

Dia masih bertanya terus. "Apa tidak ada permintaan khusus sama sekali untuk makanannya?" Saya jawab, "Mohon makanannya untuk saya jangan dikasih racun ya!!" Itu saja permintaan khususnya. Hahaha. Alhamdulillah, dia bisa ketawa dengan keras. Saya bertanya, apa sering ada permintaan khusus kalau dari calon penceramah? Katanya, biasanya ada.

Boleh saya minta contohnya? Katanya, ada ustadz yang minta disediakan EQUIL untuk air minum. Aqua biasa tidak cukup baik ternyata. Buat anak yatim oke saja, tetapi untuk ustadz harus ada Equil. Saya hampir saja minta contoh yang lain, tetapi takutnya kalau dapat terlalu banyak info miring tentang para penceramah, saya bisa merasa kecewa dan puasa saya terganggu. Jadi saya tidak bertanya lagi.

Bagi saya, yang penting adalah tanggal ceramah sudah dicatat, nama dan nomor ibu itu sudah disimpan, saya bisa datang dan pulang sendiri naik taksi, dan saya bisa makan dan minum bersama anak-anak yatim, dan tidak ada permintaan khusus apapun (selain tidak dikasih racun! Hehe). Dan semoga ibu itu tidak pingsan karena begitu kaget.

Guru saya, alm. KH Masyhuri Syahid, mengajarkan saya sejak pertama kali saya diundang memberikan ceramah, lebih dari 25 tahun yang lalu: Kalau mau berceramah dan menyampaikan ilmu agama Islam kepada yang membutuhkannya, hendaknya karena Allah saja. Tetapi kalau tidak mau berceramah karena Allah, demi kemajuan umat, tanpa ada segudang permintaan, lebih baik diam saja di rumah dan dzikir sendiri saja. Masih dapat pahala, tetapi tidak akan mengganggu orang lain yang mau menuntut ilmu! Sayangnya, mungkin banyak orang tidak dapat arahan seperti itu dari gurunya, jadi setiap kali mereka terima undangan ceramah, sudah disiapkan daftar panjang permintaannya. Syukur Nabi Muhammad SAW tidak pernah berbuat begitu... Jadi yang melakukannya sedang mengikuti contoh siapa ya?

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto

29 January, 2025

Kenapa Saya Menulis Terus Tentang Pencabulan Anak?

Assalamu’alaikum wr.wb. Fenomena pencabulan dan sodomi terhadap anak bukannya “tidak bisa dicegah”. Tetapi malah, “tidak ada yang mau berusaha mencegahnya”! Kenapa kita harus pakai helm naik motor, pakai safety belt di mobil, dan kecepatan di tol dibatasi 100 km/jam? Karena pemerintah ingin mencegah kecelakaan, demi keselamatan warga, dan kebanyakan orang dewasa setuju. Kita juga tidak ingin menjadi korban. Pencabulan terhadap anak? Tidak ada pencegahan. Padahal sederhana sekali:

•    Pelatihan 1-2 jam yang wajib, di semua sekolah dan pesantren dan tempat serupa (klub bola, dll.), setiap tahun.
•    Poster yang wajib dipasang di semua sekolah dan pesantren. Memberikan info dasar (jelaskan artinya pencabulan), menyuruh anak waspada dan cepat lapor, dan memberikan nama dan nomor HP untuk orang di dalam dan di luar lokasi itu yang siap bantu. (Pak RT, Kepala Desa, tetangga, polsek, dsb.)
•    Iklan masyarakat di TV. Wajib ditayangkan sekali setiap bulan, semua saluran, selama 1 tahun dulu. Isinya, penjelasan definisi pencabulan, didikan bagi anak agar orang lain tidak boleh sentuh kemaluan mereka (selain dokter, orang tua), yang dilakukan secara paksa dengan mengancam dan membuat mereka takut. Kalau terjadi, mereka harus berani lapor walaupun diancam.
•    Diskusi dan pelatihan ringan di banyak komunitas (wali anak di sekolah, pengajian, perkantoran, dll.), agar semua orang tua paham, dan mulai waspada.
•    Kewajiban bagi guru dan ustadz untuk laporkan rekan kerja apabila merasa “curiga” (diberikan tanda-tandanya seorang dewasa cabuli anak)
•    Dan sebagainya.

Kalau ada kepedulian dari 100 juta orang tua, dan 3 juta guru, dan ratusan ribu ustadz dan kyai, dan seratus ribu pejabat, jumlah kasus pencabulan mungkin bisa diberantas 90% dalam 1 tahun. Tetapi harus ada kepedulian dulu. Di saat ini, tidak ada. Semua orang dewasa anggap bukan urusan mereka, karena bukan anak mereka yang menjadi korban.

Saya kenal beberapa anak laki-laki. Ada yang lapor langsung ke saya. Ada yang lapor ke teman saya. Mereka dicabuli, disodomi, atau kemaluannya diisap. Oleh ustadz, oleh guru, oleh pelatih olahraga. Mereka rahasiakan. Orang tua dan keluarganya TIDAK TAHU. Dianggap anaknya “nakal” oleh orang tuanya karena sering ribut, emosi, banyak membantah, di kamar terus, dll. Mereka sudah pernah dicabuli. Mereka malu. Merasa tidak ada yang bisa menolong mereka. Jadi mereka rahasiakan. (Hampir semuanya juga diancam.)

Jadi dalam 100% dari kasus pencabulan, semua orang tua selalu mengatakan, “Kami tidak menyangka.” Coba kondisi ini dibawa ke ranah lain. Anak berenang di sungai, digigit buaya. Ada yang terluka, ada yang mati. Besoknya, anak lain digigit. Besoknya, anak lain. Besoknya, anak lain. Setiap kali seorang anak jadi korban, semua orang tua kaget dan bilang tidak menyangka. Apakah ada pencegahan? Tidak ada. Semua orang dewasa yang tahu ada buaya di sungai diam saja. Pemerintah dan pemda diam saja. Tidak ada pagar. Tidak ada papan. Tidak ada pengumuman. Dibiarkan anak baru datang terus dan berenang di sungai setiap hari. Kebanyakan anak aman. Misalnya, 50 anak berenang tanpa masalah. Lalu 1 anak digigit. Besoknya, 50 anak yang lain datang dan berenang, dan 1 digigit. Dan begitu seterusnya. Tidak ada pencegahan sama sekali dari siapapun.

Kalau kondisinya seperti itu, apakah lebih baik kita yang paham diam saja? Atau kasih peringatan terus: “ADA BUAYA DI SUNGAI, DILARANG BERENANG DI SITU!” Dalam kasus pencabulan, tidak ada yang mau melakukan pencegahan. Semua anak dibiarkan pergi ke tempat bahaya, lalu 1 anak jadi korban. Tapi kebanyakan orang tua berpikir, “Bukan anak saya, jadi bukan urusan saya.” Mohon maaf, tetapi sikap itu yang membuat negara ini rusak. Melihat anaknya orang lain menderita, lalu kita diam saja karena tidak penting bagi kita.

Saya tidak mau diam. Saya tidak bisa memaksa pemerintah atau pesantren atau sekolah BERUBAH. Yang bisa saya lakukan hanyalah memberikan informasi dan peringatan terus, dan berharap sebagian dari orang tua yang baca akan mulai waspada. Dan semoga beberapa anak bisa selamat dan tidak menjadi korban, karena orang tuanya sudah belajar dari saya. Sekian. Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto

16 January, 2025

Kesempatan Konsultasi Tentang Masalah Agama, Pendidikan dll.

Assalamu’alaikum wr.wb. Saya punya pengalaman 25 tahun menolong orang lain dengan memberikan waktu konsultasi. Sering diminta bantu orang yang anaknya atau saudaranya punya masalah agama atau pendidikan (antara lain). Kalau ada yang perlu bantuan konsultasi dengan saya, silahkan kirim pesan lewat Facebook atau email. Kadang saya bisa balas dengan tulisan lewat pesan FB, WA, atau email, dan sudah cukup. Ada yang ditelfon karena saya perlu bicara langsung. Dan kadang, perlu atur pertemuan karena butuh diskusi panjang dan pendekatan langsung dengan orang tersebut.
Beberapa contoh dari jenis konsultasi selama ini:

•    Mau nikah dengan non-Muslim
•    Calon muallaf (orang asing atau lokal)
•    Anak atau saudara tidak shalat
•    Anak meragukan kebenaran Islam (bantah terus dengan orang tua, minta penjelasan berbasis logika terus)
•    Sudah murtad, atau mau murtad, menjadi ateis atau Kristen
•    Masalah pribadi
•    Masalah keluarga
•    Perlu ide dan saran untuk kembangkan program di yayasan atau PT
•    Dan beberapa perkara yang lain

Kalau sekiranya saya bisa bantu, silahkan hubungi saya. Tidak ada biaya atau fee untuk konsultasi. Kalau saya sehat, dan punya waktu kosong, saya akan berusaha memberikan nasehat yang bermanfaat.
Email: genenetto@gmail.com
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto

22 August, 2024

Apa Yang Dilakukan Gene Netto untuk Indonesia?

Assalamu’alaikum wr.wb. Ini sebagian dari hal-hal yang pernah saya lakukan sejak 1995, untuk memajukan Indonesia. (Ini bukan untuk pamer, tetapi untuk menjelaskan saja.)

Selama 15 tahun, saya mengajar bahasa Inggris di Jakarta. Murid saya lebih dari 10.000 orang. Saya memberikan pelatihan dan pembinaan guru dan siswa di berbagai tempat selama 20 tahun, tanpa tarif. Saya sudah menolong ribuan orang dengan konsultasi gratis, tentang Islam, urusan muallaf, pendidikan, psikologi anak, parenting, pernikahan, masalah pribadi, business development, dsb. Hampir setiap hari ada permintaan konsultasi yang baru.

Saya sudah ceramah di ratusan masjid, kantor dan pengajian, tanpa tarif. Saya pernah berikan ceramah Maulid Nabi di Masjid Istiqlal di depan Menteri Agama. Saya sudah berikan ceramah motivasi kepada ribuan siswa, yatim, dan dewasa, agar mereka semangat berjuang, walaupun miskin. Kadang, saya diskusi dengan orang yang tidak shalat selama 20-30 tahun, dan biasanya mereka langsung mulai lagi setelah diskusi dengan saya 1 kali. Saya juga bertemu orang yang ingin murtad, dan membantu mereka agar tetap Muslim, atau kembali ke Islam kalau sudah murtad.

Saya sering mencari dana untuk menolong anak yatim, dhuafa, anak cacat, pengobatan, bakti sosial, pesantren, jompo, dll. Dari itu, saya sudah bantu puluhan ribu orang di berbagai wilayah. Saya sudah kumpulkan dan salurkan lebih dari 3 milyar rupiah, tanpa potongan atau biaya.

Saya pernah berusaha mendirikan lembaga nasional untuk menolong ribuan orang yang menjadi muallaf di Indonesia setiap tahun. Awalnya, Kementerian Agama mendukung, tetapi tarik dukungannya setelah kami bersikap “anti-korupsi”. Teman-teman saya patah hati, dan program itu dibubarkan.

Saya pernah mengusulkan “Menteri Urusan Anak”. Presiden SBY setuju, tetapi jumlah menteri terlalu banyak. Jadi, nama “Menteri Pemberdayaan Perempuan” diubah pada tahun 2009 menjadi “Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak”. Saya dapat perubahan nama, tetapi belum dapat menteri yang fokus pada 80 juta anak.

Ada berita tentang 12 ribu paedofil Australia yang masuk Bali setiap tahun. Saya berusaha membuat daftar cekal agar mereka diblokir. Saya berusaha membangun hubungan antara Imigrasi Indonesia, polisi dan imigrasi Australia. Saya hubungi beberapa kedutaan yang lain dan ajak bergabung juga. Akhirnya saya berhenti, karena semua pihak bersikap pasif dan menunggu saya bertindak sendirian, tanpa dukungan.

Saya berusaha membentuk sebuah Forum Diskusi Nasional, untuk mengatasi masalah kekerasan terhadap anak. Saya hubungi berbagai ahli pendidikan, agama, budaya, psikologi, dan ajak mereka bersatu. Akhirnya saya berhenti, karena semua pihak bersikap pasif dan menunggu saya bertindak sendirian, tanpa dukungan.

Saya mendirikan "Yayasan Bambu Biru" dengan teman saya Dr. Irwan Kreshnamurti SpOG, sebagai wadah untuk menciptakan beberapa program berskala nasional untuk memajukan Indonesia. Yang utama adalah Program Pelatihan Guru Nasional yang gratis, untuk menolong 3 juta guru dan 70 juta siswa. Tetapi program itu belum bisa dikembangkan, karena saya tidak bisa dapat dana atau dukungan. Sekarang, saya juga tidak bisa dapat visa untuk kerja di dalam yayasan, jadi mungkin akan dibubarkan.

Dengan teman-teman dokter, saya pernah membuat program pengobatan skabies (kudis) yang dilaksanakan di beberapa panti asuhan dan pesantren. Skabies adalah penyakit kulit gatal yang disebabkan oleh parasit. Lewat yayasan saya, direncanakan Program Nasional. Tetapi belum dikembangkan, karena semua pihak bersikap pasif dan menunggu saya bertindak sendirian, tanpa dukungan.

Saya sudah menulis buku "Searching for God and Findiing Allah" (Mencari Tuhan, Menemukan Allah) yang membandingkan ajaran agama Islam dan Kristen. Puluhan orang masuk Islam setelah baca Draft, dan beberapa Muslim batal murtad. Alhamdulillah, sudah terbit sebagai ebook dalam bahasa Inggris, tetapi saya masih sakit setelah kena Covid 2 kali, jadi belum melakukan marketing global. Insya Allah nanti juga ada paperback, audio book, dan terjemahan dalam puluhan bahasa asing.

Setelah 20 tahun tinggal di Indonesia, saya hanya memiliki komputer, HP, pakaian dan buku. Tidak ada rumah, deposito, tanah, emas, saham, mobil atau motor. Selama 15 tahun kerja sebagai guru dulu, gaji saya habis setiap bulan, karena selalu ada beberapa orang Indonesia yang minta tolong. Kebanyakan dari sumbangan itu adalah untuk dana pengobatan.

Saya merasa yakin Indonesia bisa bangkit dan menjadi negara maju yang kuat dan sejahtera, dan pemimpin dunia. Tetapi rakyat Indonesia harus bersatu. Saya membahas masalah serius di Facebook dan dalam ceramah, agar semua orang bisa memahami masalahnya yang perlu dihadapi. Saya berusaha dan bertindak sendiri, dengan niat memajukan umat Islam dan bangsa Indonesia. Tetapi saya terbiasa dengan orang Indonesia yang menghina saya, atau suruh saya diam dan pergi dari sini. Mereka hanya suka orang bule yang memuji batik atau gamelan, dan tidak suka orang bule yang ajak umat Islam berpikir secara kritis. Mereka lebih suka buang muka daripada hadapi masalah. Yang penting menjadi sejahtera sendiri, dan tidak perlu peduli pada saudara atau tetangga.

Saya berharap rakyat Indonesia bisa bangun dari dunia mimpi, dan bersatu, dan Indonesia bisa menjadi negara yang kuat  dan sejahtera, dan berhasil menjadi salah satu pemimpin dunia. Amin.
Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.  
-Gene Netto

30 May, 2024

The Meaning of Life: Life Is a Test

Assalamu’alaikum wr.wb. The "meaning of life" is very simple. Almighty God created us, placed us on earth, and gave us rules to follow. If we follow those rules, we will be rewarded with an eternal life in Heaven. If we disobey those rules, we will be punished for all of eternity in Hell. So, our existence here is "a Test". Every human being who has ever lived will either pass or fail this Test, and then we will spend all of eternity living with the consequences of our actions.

126. Do they not see that they are tried every year once or twice but then they do not repent nor do they remember?
- (Al-Qur'an, At-Taubah 9:126)

Almighty God gave us logical brains so that we would be able to think about Him and try to understand what He wants from us. He carefully selected numerous prophets as His spokesmen to give us guidance, gave them holy books so that we would have rules to follow, and then God allowed them to perform miracles to prove that they had been sent by the One True Almighty God. However, some people ignore all of those prophets, and their holy books, and their miracles, and those people then use the logical brains that God gave them to constantly wonder about the meaning of life. This becomes more complicated when they spend too much time reading the thoughts of various philosophers instead of trying to understand the clear teachings from all of God's prophets, who already told us that this life is a Test.

1. Blessed is He in whose hand is dominion, and He is over all things competent.
2. [He] who created death and life to test you [as to] which of you is best in deed - and He is the Exalted in Might, the Forgiving.
- (Al-Qur'an, Al-Mulk 67:1-2)

God also created the Rules that will apply in His Test. The Test applies to all of us whether we like it or not. We can either try our best to follow the Rules in order to be rewarded, or we can ignore the Test and not care about what will happen later on. When the people who do not believe in the Test finally meet their Creator on Judgment Day, they will be shocked and will ask God to send them back to earth to take the Test again.

12. If you could but see when the criminals are hanging their heads before their Lord, [saying], "Our Lord, we have seen and heard, so return us [to the world]; we will work righteousness. Indeed, we are [now] certain."
- (Al-Qur'an, As-Sajdah 32:12)

112. [Allah] will say, "How long did you remain on earth in number of years?"
113. They will say, "We remained a day or part of a day; ask those who enumerate."
114. He will say, "You stayed not but a little - if only you had known.
115. Then did you think that We created you uselessly and that to Us you would not be returned?"
116. So exalted is Allah, the Sovereign, the Truth; there is no deity except Him, Lord of the Noble Throne.
- (Al-Qur'an, Al-Mu'minun 23:112-116)

When the disbelievers try to plead for a second chance, it will already be too late. The time allocated for us to take the Test will have finished, and Almighty God will be checking the results (our record of good deeds and sins). But even before we get to Judgment Day, we will already know the result of our Test. After our bodies have died, our souls will remain alive, and so we will be conscious in our graves. Then every day, God's angels will give us a preview of the fate that is waiting for us.

Narrated by Ibn Umar: Allah's Messenger [Muhammad PBUH] said, "When any one of you dies, he is shown his seat (in the Hereafter) morning and evening. If he is among the inhabitants of Paradise (he is shown the seat) from among the inhabitants of Paradise, and if he is one from among the inhabitants of Hell (he is shown the seat) from among the inhabitants of Hell, and it will be said to him: 'That is your seat until Allah raises you on the Day of Resurrection (and sends you to your proper seat).'"
- (Hadith Sahih Muslim)

Life is a Test, and so we must make a choice. Anyone who did not follow the Rules of the Test will get a bad score, and this includes those people who refused to participate in the Test by ignoring God, ignoring God's Rules, or denying the existence of His Test. If we can accept that God created us and is now testing us, then we need to make sure we have the correct and legitimate Rule Book to follow, which is the Holy Qur'an. Or, we can reject Almighty God, ignore His prophets, ignore their warnings, and take our chances.

God has given us absolute freedom to choose whichever path we want to follow. We should choose wisely because there will be no second chances. We only have this one life to make the right choice, and as soon as we die, we will be shown the initial result of our Test before we get the formal results directly from God on Judgment Day. So, anyone with a logical mind should want to carefully consider the possible existence of this Test. They should care about what all of God's prophets told us, and they should try to understand the validity of the Final Prophet Muhammad PBUH and the validity of the Holy Qur'an that was given to him by Almighty God. And they should do that right now before they run out of time!

35. Every soul will taste death. And We test you with evil and with good as trial; and to Us you will be returned.
- (Al-Qur'an, Al-Anbiya' 21:35)

The "meaning of life" is that we are being tested by Almighty God, and as a result of His Test, we will either go to Heaven or Hell. This belief that God created us and placed us here on earth to test us was taught directly by the Prophet Muhammad PBUH. This is one of the standard teachings of Islam and has not changed from the time of the Prophet Muhammad PBUH until now.

I hope this is useful for reflection and understanding.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto

21 May, 2024

Kenapa Gene Netto Bisa Betah Di Jakarta Yang Sesak, Mahal Dan Kotor?

[Komentar]: Pak Gene kok betah amat siiiihhh, apalagi tinggal di Jakarta, yang penuh sesak, mahal, udara kotor, lingkungan kumuh??

[Gene]: Assalamu’alaikum wr.wb. Ada masalah apa? Anda tidak merasa betah? Mau kabur ke negara maju, demi mendapat kota yang rapi dan jalan yang bersih? Mau dapat jalan yang bersih, tetapi di semua toko swalayan alkohol dijual bebas? Atau jalannya bersih, tetapi perjudian dan narkoba legal? Atau jalannya bersih, tetapi ada wanita dan pria yang berprofesi sebagai pelacur dan bayar pajak? Atau jalannya bersih, tetapi ada klinik aborsi di setiap kabupaten, lalu anak usia 14 tahun boleh aborsi dan klinik itu wajib rahasiakan dari orang tuanya?

Atau jalannya bersih, tetapi laki-laki dan perempuan usia 18 tahun yang membuat konten menjual badannya online dibanggakan karena menjadi kaya? Atau jalannya bersih, tetapi banyak perempuan nyaris telanjang di tempat umum? Atau jalannya bersih, tetapi kondom dibagikan secara gratis bagi remaja dan pemuda?

Atau jalannya bersih, tetapi ada lembaga LGBT yang mendorong semua anak yang punya "perasaaan" homoseks atau transgender untuk segera mengaku agar dibanggakan? Atau jalannya bersih, tetapi anak usia 7 tahun ditanya oleh gurunya apa merasa sebagai laki-laki atau perempuan? Atau jalannya bersih, tetapi dua remaja bisa berzina, melahirkan anak, dan tinggal bersama? Atau jalannya bersih, tetapi anak remaja nonton film porno di rumah, dan orang tuanya juga nonton?

Atau jalannya bersih, tetapi banyak anak dibiasakan minum alkohol dari usia SMP? Atau jalannya bersih, tetapi jompo dan orang yang sakit bisa dapat bantuan bunuh diri? Atau jalannya bersih, tetapi 50% dari masyarakat mengaku ateis? Atau jalannya bersih, tetapi banyak anak merasa tidak perlu bicara secara sopan kepada orang tuanya, kakek-neneknya, gurunya, tetangganya, polisi, atau orang lain, karena hak bicara bebas lebih penting?

Mau saya teruskan dengan seribu contoh yang lain???

Dan kalau orang di negara maju itu diajak "bertaubat", maka jawabannya dua: 1) "Bertaubat kepada siapa? Karena tidak ada Tuhan!", dan 2) "Yesus disalibkan, jadi semua dosa kami dihapus!" Tetapi preman Muslim yang paling bejat di sini bisa berubah, BERTAUBAT, dan menjadi rajin shalat. Di sana, tidak ada kemauan untuk bertaubat. Anda mau tinggal di sana? Silahkan saja! Dan nanti, kalau anak anda murtad, atau hamil di luar nikah, atau kecanduan pada alkohol, narkoba, dan perjudian karena semua temannya juga begitu, maka jangan menangis ya.

Nasibnya anak itu, yang dibesarkan di negara maju dengan jalan bersih yang anda agungkan itu, adalah hasil dari CINTA anda terhadap dunia ini! Anda melihat negara kafir yang maju dan bersih, lalu sangat ingin tinggal di sana. Kenapa anda bisa merasa terpesona dengan kehidupan mereka, sehingga hanya sanggup melihat "kebersihan jalan" dan abaikan semua sisi negatif yang lain di tengah masyarakat mereka? 

Tolong baca ayat dan hadits di bawah ini, dan MERENUNG tentang TUJUAN dari kehidupan kita di bumi ini. Di akhirat, tidak ada manusia yang ditanyakan apakah jalan di depan rumahnya bersih atau tidak. 

[64]. Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui. 
(QS. Al-Ankabut 29:64)

Rasulullah SAW bersabda, "Perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya." (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

[112]. Dia (Allah) berfirman, "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?"
[113]. Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung."
[114]. Dia (Allah) berfirman, "Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui."
[115]. Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu dengan main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?
(QS. Al-Mu'minum 23:112-115)

Dari Anas bin Malik ra., Rasulullah SAW bersabda, "Kelak pada hari kiamat akan didatangkan penduduk neraka yang pernah merasakan kenikmatan paling lezat selama di dunia lalu dia dicelupkan di neraka sekali celupan. Kemudian ditanyakan kepadanya, 'Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?' Maka dia menjawab, 'Sama sekali tidak pernah, wahai Tuhanku.' Dan juga didatangkan penduduk surga yang hidupnya paling susah selama di dunia, lalu dicelupkan sekali celupan di dalam surga. Kemudian ditanyakan kepadanya, 'Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kesusahan? Apakah kamu pernah merasakan kesulitan?' Maka dia menjawab, 'Sama sekali tidak pernah, wahai Tuhanku. Aku belum pernah merasakan kesusahan dan belum pernah melihat kesulitan.'" (HR. Muslim)

[7]. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
(QS. Ibrahim 14:7)

Jalan yang kotor bisa dibersihkan. Semua yang rusak bisa diperbaiki. Cukup umat Islam bersatu dan semangat berjuang bersama untuk bangun negara ini. Tetapi hati yang tertutup pada Allah dan ingin kafir terus tidak bisa diubah. Jadi mereka akan dapat kenikmatan sesaat di dunia, dari jalan yang bersih, tetapi nanti di akhirat, jalan bersih itu tidak akan diingat sedikitpun. Mereka akan menangis dan minta izin kembali ke dunia, ke negara Muslim yang paling kotor, asal ada kesempatan lagi menjadi orang yang beriman kepada Allah. Lupakan nikmatnya di negara mereka. Bersatu, dan memperbaiki semua hal yang kurang bagus di negara ini saja!! 

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah, 
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto


16 May, 2024

Sebagai Orang Barat, Kenapa Gene Netto Tidak Kecewa Dengan Umat Islam Di Indonesia?

[Pertanyaan]: Saya sering menemui orang2 yang agamanya buruk, sehingga saya ragu-ragu bahwa Muslim pasti mengikuti perintah Allah. Tapi setelah membaca tulisan Gene, saya jadi tergelitik. Apa yang membuat Gene bertahan di sini? Kenapa muallaf lain kecewa, sementara Gene bertahan & tidak terpengaruh?

[Jawaban]: Sebelum pindah ke Indonesia, saya sudah lulus dari Fakultas Pendidikan di Australia, jadi sebagai guru, saya ingin menolong dan mendidik orang lain. Ketika guru dapat anak yang tidak pandai dalam bahasa asing, matematika, atau sains, guru tidak mengeluh dan bertanya kenapa harus tangani orang yang "tidak tahu", lalu minta hidup enak dengan murid yang sudah cerdas. Guru semangat menolong, berarti harus mengajar orang yang tidak tahu sehingga bisa paham.

Ketika dokter ketemu pasien yang sakit, dokter tidak mengeluh dan bertanya kenapa harus tangani orang yang sakit! Lalu minta hidup enak dengan pasien yang sehat. Dokter semangat menolong, berarti harus hadapi penyakit sehingga pasien bisa sehat.

Pengacara tidak mengeluh karena ketemu orang yang tidak mengerti hukum. Akuntan tidak mengeluh karena ketemu orang yang tidak mengerti akuntansi. Peternak tidak mengeluh karena ketemu orang yang tidak bisa besarkan kambing sendiri. Sopir bis tidak mengeluh karena ketemu orang yang tidak bisa pergi ke tempat lain sendiri. Petugas Damkar tidak mengeluh karena ketemu orang yang tidak bisa padamkan api sendiri. Dan seterusnya.

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang membantu seorang Muslim menghilangkan kesulitan yang ada pada dirinya, maka Allah akan hilangkan baginya kesulitan di hari kiamat. Barangsiapa yang mempermudah orang yang dalam kesulitan maka Allah akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat. […]." (HR. Muslim)

39. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,
40. dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).
(QS. An-Najm 53:39-40)

Bisa dipahami? Sebagai seorang guru, dan sebagai orang yang suka menolong, dan sebagai Muslim yang yakin dapat pahala, saya ingin berusaha memperbaiki umat Islam. Dan saya bersyukur Allah berikan saya kesempatan di saat banyak orang lain tidak mau. Menjadi tugas sepanjang usia untuk berjuang memperbaiki umat Islam, sehingga kita bisa menjadi pemimpin dunia. Dimulai dari membangun kesadaran ada masalah. Banyak orang kurang sadar, atau tidak peduli, dan menunggu "orang lain" bertindak. (Mau terima hasilnya, tapi malas berjuang.)

11. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
(QS. Ar-Ra'd 13:11)

Umat Islam hanya bisa berubah kalau kita bersatu dan berjuang bersama. Dimulai dengan menolong saudara dan teman dan tetangga. Dan yang belum paham, harus kita didik. Dan yang akhlaknya rusak, bisa kita buang, atau bisa kita rangkul dan membantu mereka menjadi baik. Pilihannya di tangan kita, bukan di tangan mereka. Banyak orang perlu bantuan, tapi malu atau bingung tanya ke mana. Jadi kita harus proaktif menawarkan bantuan. Dan kalau kita bersatu dan berjuang terus, banyak negara di dunia akan dikalahkan oleh kekuatan Indonesia. Di saat ini kita lemah. Tetapi sekaligus tepuk punggung sendiri dan merasa bangga karena kita "banyak". Kita harus menjadi banyak DAN berkualitas juga. Semoga sudah jelas.

Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto

16 April, 2024

Baca, Berpikir, Bersabar!

[Komentar]: Thanks Mr Netto. Alhamdulillah dpt pencerahan. Saya pernah berdebat dengan anda. Tapi waktu itu argumen anda gak bisa diterima oleh "pikiran" saya. Tapi kadang, pendapat anda bisa langsung diterima. Kenapa gak selalu berikan penjelasan sederhana, biar saya gak perlu capek2 mendebat anda?

[Gene]: Assalamu’alaikum wr.wb. Saya sudah mengajar 10 ribu siswa, dan melakukan pelatihan bagi ribuan guru, dan membina ribuan orang dewasa dan anak yang punya berbagai macam masalah. Tidak bisa seluruh ilmu dan pengalaman itu saya sampaikan dalam 1 kalimat, setiap kali ada perkara baru. Kalau saya bicara, insya Allah ada landasan ilmu dan pengalaman di belakangnya. Saya berkomentar kalau merasa paham, dan ingin bagikan ilmu. Kalau tidak paham, saya akan diam, atau bertanya. 

Kalau anda mau berbeda pendapat, silahkan, dan coba buktikan pendapat anda dengan argumen yang kuat. Tapi mohon maaf, banyak orang Indonesia ketika pendapatnya dilawan, bukannya introspeksi dan berpikir, tapi naik darah dan menyerang. Ini hasil dari pendidikan sekolah dan rumah selama ini. Makanya saya bersabar, karena menanti hasilnya di mana orang lain akhirnya bisa setuju dengan analisis saya atau bisa buktikan saya salah.

Jadi saya harus menunggu sampai otaknya orang lain bisa mulai terbuka, menggunakan logika, berwawasan luas, berilmu, dan siap terima kemungkinan bahwa mereka belum benar. Bukan karena saya dijamin benar, tetapi karena ada ilmu, bukti, pengalaman, dan analisis yang saya sampaikan, dan insya Allah semua itu yang benar. Tapi yang sering terjadi di sini, orang yang paling marah merasa paling benar. Bukti tidak penting, logika tidak penting. Sebagai guru, saya harus bersabar dan menunggu orang lain sadari bahwa saya punya keinginan untuk mencerdaskan orang dengan ilmu. Dan kadang butuh waktu lama untuk mencapai hasil itu.

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun." (HR. Ibnu Majah)

Ketika anak disuruh makan sayuran, tidur siang, dsb. banyak yang melawan. Tapi ketika di usia 20 tahun, badannya besar, kuat, sehat, otak dan akalnya bagus, dan dia melihat HASIL dari pendapat orang tuanya dulu, baru dia SADAR bahwa ilmu dan pendapat orang tuanya dulu benar, setelah dia didorong untuk mencapai hasil yang terbaik walaupun dia tidak suka. Jadi orang tua harus bersabar dan menunggu 15 tahun untuk melihat anaknya berubah. Dan insya Allah saya juga bisa begitu dengan 200 juta orang Muslim di Indonesia.

Kalau anda tidak setuju dengan pendapat saya, silahkan. Saya hanya ingin sampaikan "ilmu, bukti, pengalaman, dan analisis", tetapi biasanya dilawan oleh "emosi dan hinaan" dan saya disuruh "jangan berbeda pendapat" dengan kebanyakan orang. Jadi saya bersabar dan menunggu orang lain bangun dari dunia mimpi dan menjadi sadar secara bertahap. Hasil yang saya harapkan adalah umat Islam di Indonesia bangkit, bersatu, menjadi pemimpin dunia, dan menciptakan negara yang maju, kuat dan sejahtera.

Hasil itu tidak bisa dicapai tanpa proses pendidikan yang pahit, di mana banyak orang akan berontak, emosi, dan melawan. Dan juga tidak bisa terjadi tanpa umat Islam bangun dari dunia mimpi yang membuatnya merasa nyaman selama ini. Jadi saya bersabar, karena harapan saya besar. Kalau baca tulisan saya, coba tahan emosi, berpikir dulu, diskusi dengan yang lain, dan bersabar. Insya Allah tulisan saya akan bermanfaat untuk kemajuan umat Islam di Indonesia, walaupun mungkin banyak orang tidak selalu suka pada awalnya.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.   
-Gene Netto

15 September, 2023

Pengalaman Tiba Di Sukarno Hatta dan Mencari Kereta Bandara

Saya kembali ke Indonesia pada malam hari. Pesawat mendarat jam 21.30 di Terminal 2. Sekarang harus scan QR code untuk laporan Bea Cukai. (Bagaimana kalau tidak punya HP, atau baterai habis?) Baterai HP saya tinggal 10%. Minggu kemarin, teman saya suruh coba Skytrain ke Terminal 1 lalu kereta bandara "Railink" ke Manggarai. Kereta berangkat jam 22:15. Setelah lewat Imigrasi dan Bea Cukai, masih ada 20 menit. Saya tanya petugas pertama, Skytrain di mana? Naik 1 lantai. Di atas, pintu ke Skytrain tertutup. Saya tanya petugas kedua, ke Railink bagaimana? Dia tanya, Railink itu apa? Saya tanya, kereta api ke Manggarai? Ke Terminal 1.

Bagaimana caranya ke Terminal 1, kalau Skytrain tutup? Dia tidak tahu, dan tanya ke petugas ketiga. Naik shuttle bus. Naik 1 lantai lagi. Saya naik, tidak kelihatan shuttle bus. Saya tanya petugas keempat dan dia tunjuk ke kiri. Dari jauh, kelihatan bis kecil yang tiba-tiba berangkat. Tidak ada jadwal. Saya tanya petugas kelima yang jelaskan nanti datang lagi. Setelah 5 menit, bis kecil datang.

Ada orang yang scan QR code di pintu. Saya tanya ke sopir, apa itu bis ke terminal 1 dan stasiun kereta? Ya, bayar lima ribu. HP saya tinggal 5%. Bisa cash? Tidak bisa. Saya coba GoPay, berhasil. Akhirnya berhenti di terminal 1. Saya tanya, kereta api di mana? Sopir jawab, "Jauh ke sana pak." Apa bis ke sana sekarang? Tidak, keliling ke terminal lain. Dia suruh saya jalan kaki dan tunjuk lurus ke depan. Saya mulai jalan. Makin jauh makin sepi. Saya lihat petugas keenam jadi bertanya. Katanya, salah arah, dan tunjuk ke arah parkiran. Jauh sekali katanya, naik taksi saja. Saya kembali ke arah pintu terminal dan taksi.

Ada petugas ketujuh. Saya tanya, bisa naik taksi ke stasiun? Dia bingung. Stasiunnya di mana? Dia tanya ke petugas kedelapan. Orang itu suruh saya jalan kaki saja, dekat. Saya jelaskan, orang lain suruh naik taksi. Bisa atau tidak? Dengan sikap keberatan, dia suruh saya naik. Saya kasih tahu sopir taksi mau ke stasiun kereta api bandara. Dia tanya, di mana itu? Kami saling buka Google Maps. Railink tidak muncul. Sopir dapat lokasi, di tengah parkiran. Sepertinya benar. Dia buka jendela dan mulai diskusi dengan orang yang atur taksi. Kalau antar saya, boleh kembali ke bandara? Mereka diskusi dulu lima menit.

Akhirnya kami berangkat, ikuti Google Maps. Saya tanya, apa yang dibahas tadi? Katanya, kalau keluar bandara dilarang kembali cepat. Tapi dia sudah menunggu 2 jam, dan hanya antar saya 1 km saja. Rugi sekali. Kami ikuti Google Maps karena tidak ada rambu jalan. Keluar, putar balik, kembali ke arah parkiran, tiba-tiba jalan tertutup tapi Google suruh lurus. Sopir mundur ke gedung terakhir, ada orang. Sopir tanya ke petugas kesembilan, masuk stasiun di mana? Dia tidak tahu, dan suruh kami ke kiri, lalu tanya ke orang di parkiran. Kereta terakhir jam 22.45 dan sudah jam 22.38. Di tempat parkir, ada petugas kesepuluh. Dia suruh kami carikan jalan dekat pagar belakang. Kami ke pagar belakang, dan ada tempat untuk jalan kaki.

Saya turun dan lari cepat ke stasiun. Sudah jam 22.42. Ada petugas kesebelas yang suruh saya masuk dan beli tiket di mesin. Saya lari ke sana. Mesinnya begitu rumit, tidak bisa dipakai sendiri. Harus dibantu petugas kedua belas. Dia pencet 00000000001 untuk dapat tiket. Saya kasih kartu ATM BCA. Mesinnya error. Dicoba lagi. Error. Sudah jam 22.44. Coba GoPay, error. Kartu Mandiri, berhasil, tiket keluar. Saya lari ke kereta, masuk, dan 5 detik kemudian, pintu ditutup. Baterai HP saya tinggal 3%.

Sebelumnya, di Terminal 2, ada beberapa orang bule yang terlihat bingung. Mungkin cari Skytrain, shuttle bus, bis Damri, atau stasiun kereta api? Saya sudah tinggal bertahun-tahun di Jakarta, dan harus bicara dengan 12 petugas dalam bahasa Indonesia untuk cari kereta api ke kota. Saya harus negosiasi dengan sopir taksi dan 2 petugas yang tidak mau saya naik taksi ke stasiun, dan hampir semua orang yang ditanya tidak tahu stasiun di mana.

Kalau masih ada kereta pada jam 22:45, kenapa Skytrain berhenti pada jam 21:00? Kenapa petugas bandara tidak tahu Railink di mana, atau caranya sampai sana? Berapa persen dari petugas bandara tidak bisa berbahasa Inggris? Kenapa mesin tiket kereta begitu rumit sampai penumpang tidak bisa pakai sendiri, dan kenapa sistem pembayaran bisa error terus?

Kasihan sekali para turis dan pengusaha yang tiba di Jakarta pada malam hari. Apa mereka hanya diizinkan naik taksi dan semua mode transportasi lain dilarang? Singapura punya 5 juta penduduk, negara kecil, tapi dapat 19 juta turis per tahun. Indonesia punya 280 juta penduduk, ribuan pulau, ratusan bahasa dan budaya, ribuan destinasi wisata, tapi hanya dapat 16 juta turis per tahun. Jangan heran. Cari stasiun kereta api di bandara sudah sulit, apalagi yang lain!
-Gene Netto  

08 August, 2022

Bersedekah Karena Allah Tanpa Rasa Takut

133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang BERTAQWA,
134. (yaitu) orang-orang yang MENAFKAHKAN (hartanya), baik di waktu LAPANG maupun SEMPIT, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(QS. Ali Imran 3:133-134)

Assalamu’alaikum wr.wb. Tadi siang saya mau transfer uang kepada anak yatim piatu. Terkumpul 2,8 juta. Di rekening pribadi saya tersisa 208 ribu. Muncul niat bersedekah karena terasa sudah lama tidak bantu anak yatim, disebabkan kebutuhan saya sendiri juga banyak. Lalu muncul rasa ragu-ragu… Saya juga butuh uang! Tapi saya ingat: Sedekah kita akan dibalas oleh Allah SWT! Dan RAHMAT ALLAH yang didapatkan tidak bisa dihitung oleh akal manusia. Saya bismillah, dan pindahkan 200 ribu. Rekening saya tersisa 8 ribu. Saya transfer 3 juta, dan memberi tahu teman ustadz agar dicek.

Setelah lihat rekening saya kosong, dan berpikir tentang kebutuhan beberapa juta per bulan, saya senyum saja. Sudah terlanjur! Harus yakin pada Allah. Lalu, sambil chatting di WA dengan teman, saya ketawa dan bilang rekening saya kosong. Tiba-tiba, dia kasih tahu sudah kirim 250 ribu ke saya! Baru lewat 5 menit, dan sedekah saya sudah dikembalikan. Tetapi hati saya lebih tenang lagi memikirkan anak yatim piatu yang insya Allah akan dikejutkan melihat 3 juta! Rahmat Allah sebesar apa kalau bisa menyantuni, menghibur, menjaga, dan berikan semangat kepada anak yatim piatu?

Teman-teman, jangan mengira bahwa tugasnya "bersedekah" hanya untuk orang "kaya" saja. Kita semua sanggup, walaupun hanya dengan 5 ribu, walaupun hanya dengan bagikan makanan, walaupun hanya dengan senyum kepada orang lain, atau berikan waktu 5 menit untuk dengarkan masalah teman dan berikan nasehat. Bersedekah. Karena Allah. Seberapa bisanya. Dan YAKIN bahwa Allah SWT akan membalas.
Semoga bermanfaat. Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto



12 April, 2022

Tinggalkan Shalat Dan Islam 7 Tahun, Mulai Shalat 5 Waktu Setelah 1x Diskusi

Assalamu’alaikum wr.wb. Minggu kemarin saya diskusi selama 8 jam dengan seorang pemuda yang telah berhenti shalat dan tinggalkan Islam selama 7 tahun, setelah dia mengalami suatu musibah. Di waktu itu, dia berdoa berbulan-bulan agar dapat pertolongan Allah, tapi merasa diabaikan. Jadi dia anggap Allah tidak adil dan Allah pasti membencinya. Jadi dia balas dendam dengan membenci Allah juga.

Setelah itu, dia mengaku tidak memiliki tujuan dalam kehidupannya. Dia diskusi dengan beberapa ustadz tetapi mereka hanya suruh dia pasrah dan bersabar, padahal dia mencari "alasan logis" tentang kenapa dia harus hidup dalam kondisi yang (bagi dia) sangat buruk dan sulit diterima. Dalam diskusi dengan saya, dan setelah diberikan penjelasan yang didasarkan pada logika, alhamdulillah dia merasa sangat dibantu dan akhirnya bisa menerima pengalaman buruk itu sebagai suatu ujian dari Allah, dan sebuah tantangan untuk bangkit dan berjuang.

Langsung saja dia berhenti membenci Allah dan semangat ikut shalat bersama saya. Kebencian terhadap Allah selama 7 tahun lenyap dan dia menjadi rajin shalat dan banyak berdoa kepada Allah sepanjang hari. Dia menjadi sadar bahwa dulu bukan Allah yang tinggalkan dia (atau benci dia) tapi malah dia yang melarikan diri dan tinggalkan Allah, dan sekarang mau berubah dan menjadi dekat dengan Allah lagi.

272. Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.
(QS. Al-Baqarah 2:272)

Kalau anda punya saudara atau teman yang tidak shalat dan tidak yakin terhadap Islam, bersabar dulu. Jangan anggap mereka tidak pernah akan bisa berubah. Hanya perlu menunggu saatnya sampai mereka dapat bantuan yang dibutuhkan agar pemikiran mereka menjadi terbuka, dan mereka bersedia mengenal Allah SWT lagi.
Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto

18 February, 2021

Kenapa Islam Tidak Dibahas Dari Sisi Logika?

[Komentar]: Saya ingin sekali mendengar dakwah yang based on science tapi di Indonesia ini jarang sekali ada. Jadi saya rasa kebanyakan orang Indonesia mengikuti ibadah berdasarkan keyakinan adanya surga atau mendapat pahala saja. Saya pernah ditanya orang Swedia soal logika dalam Islam dan saya berusaha sebisanya. Dalam hal ini perlu juga orang Indonesia mempelajari ini supaya kalau western people bertanya akan lebih mudah diterima.. 

[Gene]: Assalamu’alaikum wr.wb. Seorang ibu pernah minta saya bantu pemuda asing yang ingin memahami Islam. Sudah ada tujuh ustadz sebelum saya yang dipanggil ke rumahnya berturut-turut. Semuanya jelaskan rukun Islam, rukun Iman, lalu selesai begitu saja. Tetapi ternyata, orang asing itu tidak tertarik, jadi apa boleh buat, dan setiap ustadz pulang tanpa hasil (selain terima amplop).

Akhirnya keluarga itu ingat saya. Beda dengan semua ustadz sebelumnya, yang hanya jelaskan rukun Islam saja, saya mulai dengan bertanya tentang latar belakangnya dulu, dan pengertiannya terhadap dunia, akhirat, kehidupan, dan agama. Setelah dia jelaskan latar belakangnya di agama Kristen, saya bertanya seperti ini: "Nabi Ibrahim diganti oleh Nabi Musa. Nabi Musa diganti oleh Yesus. Lalu Yesus diganti oleh siapa?"

Dia diam, menatap saya terus, dan tidak bisa jawab. Saya teruskan: Setiap Nabi Allah sejak Nabi Adam ada penggantinya, jadi yang terakhir siapa? Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dsb. tidak pernah menyatakan dirinya "terakhir". Begitu juga Yesus. Jadi sikap yang logis bagi kita semua adalah selalu "menunggu nabi berikutnya", sampai suatu saat ada yang menyatakan dirinya nabi yang terakhir. Jadi penggantinya Yesus siapa? Dia diam terus. Saya juga diam. Kami sama-sama diam selama beberapa menit tanpa diskusi apapun, sampai akhirnya air matanya mulai keluar. Lalu dia minta saya jelaskan tentang Nabi Muhammad SAW karena dia baru tahu namanya saja. (Kadang, tindakan yang paling tepat pada saat berdakwah adalah "diam saja" karena barangkali Allah sedang memberikan hidayah kepada orang itu, jadi prosesnya jangan diganggu dengan banyak komentar!)

Saya tidak bahas rukun Islam dan rukun iman. Saya hanya bahas logika, dan bagaimana manusia dikasih akal yang sehat untuk mencari kebenaran, jadi merupakan tanggung jawab kita semua untuk pakai akal itu dan mencari jalan Allah yang benar. Sayangnya, dia pulang ke negaranya sehari kemudian, dan saya tidak pernah ketemu lagi. Tidak ada kabarnya lagi, jadi sepertinya dia tidak masuk Islam. Tetapi minimal dia sudah mulai berpikir dengan logika pada hari itu, dan semoga nanti akan mulai lagi. (Saya hanya diskusi agama dengan orang yang hubungi saya karena ingin mencari kebenaran. Jadi saya tidak mau kejar dan bujuk orang diskusi kalau mereka tidak tertarik.)

Dari pengalaman rutin seperti itu, saya sudah saksikan bagaimana banyak Muslim dan non-Muslim terpengaruh oleh diskusi agama yang berlandasan logika. Sayangnya, hal itu cukup jarang di Indonesia dan bukan prioritas dalam program pendidikan di pesantren, sekolah, dan masjid, padahal manfaatnya luas. Menurut saya, mungkin akan bermanfaat kalau program pendidikan anak Muslim dan calon ustadz dikaji kembali, dan dipadukan dengan input dari muallaf tentang apa yang berikan pengaruh terhadap mereka. 

Saya belum ketemu seorang muallaf yang dengar ustadz berceramah 30 menit tentang rukun Islam (yang dihafal sebagai "media dakwah" di pesantren), lalu menjadi tertarik masuk Islam sesudahnya. Justru kebanyakan orang masuk Islam karena diskusi yang menyentuh akal dan hatinya, daripada karena ritual agama seperti shalat, haji, dan zakat dijelaskan kepadanya. Ketika orang mau beli HP baru, maunya dipegang langsung dan dijelaskan manfaatnya. Tidak ada pembeli yang duduk di toko dan minta buku petunjuk penuh spesifikasi teknis dibacakan satu per satu kepadanya. Jadi kalau kita ibaratnya "penjual Islam", kita harus paham dulu tentang apa yang berpengaruh terhadap "konsumen" agar mereka tertarik untuk "beli". Dan hal-hal itulah yang perlu menjadi pelajaran dasar bagi anak Muslim di sekolah dan calon ustadz di pesantren. 

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah, 
Wassalamu’alaikum wr.wb. 
-Gene Netto 

Berita Kekerasan Seks Terhadap Anak Bikin Resah!

[Komentar]: Pak Gene, berita kekerasan seks terhadap anak selalu itu2 saja, bikin miris, bikin kita takut akan anak2 kita nantinya, bikin resah, gk usahlah spt itu terus, minta beritanya yg manfaat.

[Gene]: Komentar anda sangat umum di sini. Mari kita masuk ke ranah berita yang lain, sebagai renungan. Contoh Berita Yang Lain: Seorang anak diculik dari jalan; Beberapa anak tenggelam di sungai saat ikut Pramuka; Banyak anak keracunan makanan dari kaki lima depan sekolah; Banyak anak di suatu wilayah kena demam berdarah; dan sebagainya.

Apakah terhadap masalah2 lain seperti itu, banyak orang tua bersikap begini: "Walaupun bahaya itu nyata, saya tidak mau tahu! Selama anak saya masih aman, kenapa saya harus peduli? Biarkan saja anaknya orang lain jadi korban terus. Jangan suruh saya peduli pada anak tetangga. Biarkan mereka menderita sendiri tanpa saya harus memikirkannya. Bukan anak saya, jadi bukan urusan saya!"

Apa begitu sikapnya para orang tua dalam semua kasus buruk yang menimpa anak Indonesia? Ternyata tidak. Ketika ada berita "bahaya terhadap anak" yang umum, kebanyakan orang tua malah perhatikan dan prihatin, dan takut bahaya itu bisa menimpa anaknya sendiri. Ketika satu anak diculik, atau beberapa anak tenggelam dalam kegiatan sekolah, atau beberapa anak keracunan makanan, atau banyak anak kena demam berdarah, banyak orang tua bagikan info itu dan ingatkan semua temannya untuk waspada.

TETAPI ketika ada berita tentang anak Indonesia yang diperkosa, disodomi, atau menjadi korban kekerasan, tiba-tiba banyak orang tua menjadi marah… terhadap saya (karena saya sebarkan berita itu). Sikap ini beda sekali dengan semua kondisi yg lain. Kalau anaknya orang lain menjadi korban dalam semua kasus yang lain, banyak orang tua siap PEDULI. Mereka prihatin dengan anak itu, dan memikirkan anaknya sendiri dan anak teman yang juga bisa menjadi korban kapan saja.

Tetapi dalam kasus pencabulan terhadap anak, sikap aneh muncul: "Jangan ganggu saya dengan informasi tentang penderitaan anak kecil, atau informasi tentang bahaya terhadap anak saya! Saya tidak mau tahu!"

Mohon maaf, tapi saya tidak akan berhenti memberikan peringatan kepada semua orang tua di Indonesia bahwa ada bahaya terhadap anak mereka, setiap hari, di mana saja, dari siapa saja. Kalau anda tidak suka, silahkan tinggalkan saya. Dan semoga tidak terjadi anak anda menjadi korban, lalu anda menyatakan, "Saya tidak menyangka!" padahal saya sudah memberi tahu anda setiap hari. Saya mau berusaha selamatkan anak anda, dan 80 juta anak Indonesia yang lain, agar tidak pernah menjadi korban. Kenapa anda malah kesal dengan saya? Begitu kecil kepedulian anda terhadap masa depan anak Indonesia?
-Gene Netto

Kenapa Gene Netto Mau Tinggal Di Indonesia?

Assalamu’alaikum wr.wb. Sebagian orang bingung kenapa saya mau tinggal di Indonesia, daripada di negara barat yang nyaman. Mungkin sebabnya adalah begitu banyak "kebetulan" yang mendorong saya untuk tinggal di sini, jadi terasa seperti Kehendak Allah. Saya lahir di Selandia Baru, dan setelah SMA, orang tua pindah ke Australia. Awalnya, saya tidak mau ikut tapi niat saya berubah. Di Australia niat saya berubah lagi, sampai ingin kuliah. Saya berniat pilih Fakultas Psikologi Anak tapi malah berubah masuk Hubungan Internasional. Saya ambil fokus terhadap Indonesia, cepat menjadi lancar dalam bahasa Indonesia, dan dapat nilai tinggi. Saya berniat pindah ke Psikologi Anak setelah 1 tahun, tapi niat saya berubah setelah dapat 2 beasiswa untuk kuliah di Jakarta (tahun 1991 dan 1995). Saya menjadi penasaran terhadap Islam karena semua teman saya Muslim. Sebelumnya saya ateis dari usia 10 tahun karena yakin semua agama tidak logis.

Saya diberitahu ada Shalat Tarawih dari Masjidil Haram di bulan Ramadhan. Saya nonton sendirian jam 2 pagi, setiap hari, selama bulan puasa itu, sambil baca teks terjemahan ayat-ayat Al Quran. Saya kaget karena belum pernah lihat kegiatan manusia yang setara. Saya mulai pelajari Islam dari buku, dan ceramah di TV (dari Zainuddin MZ, Quraish Shihab, Amien Rais, dll.). Setelah saya yakin bahwa Islam adalah agama satu-satunya yang logis di dunia, akhirnya saya merasa "terpaksa" masuk Islam (karena Islam terlalu logis).

Jadi ada banyak "kebetulan" dan hal yang terjadi tanpa perencanaan yang membawa saya ke Indonesia, dan bantu saya masuk Islam. Dalam ceramah, saya jelaskan Islam dari sisi logika, dan dari pengalaman saya yang berbeda dari kebanyakan orang, dan sering dapat komentar bahwa ceramah saya unik dan membuka wawasan baru. Jadi dari pengalaman menulis, berceramah, dan berdiskusi, saya merasa bisa bantu banyak Muslim dapat keimanan yang lebih kuat. Dari diskusi dengan saya, beberapa orang yang murtad kembali ke Islam, dan orang yang tidak shalat 30 tahun langsung shalat 5 waktu lagi (walaupun puluhan atau ratusan orang sebelum saya gagal membantu mereka).

Saya merenung tentang masa depan umat Islam dan Indonesia. Saya yakin kemajuan di sini butuh perubahan sistem pendidikan, jadi saya mulai merancang program pelatihan guru nasional yang gratis. Tetapi sulit untuk dapat dukungan, dan ketika mau kembali kerja saja, juga sulit dapat pekerjaan baru. (Misalnya, ada tawaran kerja, tetapi orang itu kena serangan jantung satu jam sebelum ketemu saya untuk teken kontrak, dan tawaran kerjanya dibatalkan.) Berkali-kali saya cari bantuan dana, tidak dapat, lamar kerja, juga tidak dapat. Ketika memutuskan mau pindah negara, selalu muncul tawaran baru, atau halangan, yang "mendorong" saya untuk tetap di sini. Dan terjadi puluhan kali selama beberapa tahun.

Saya punya cita-cita Indonesia menjadi lebih kuat dari Amerika, teknologinya lebih maju dari Jepang, kondisi negara lebih teratur dari Singapura, sistem pendidikan lebih maju dari Finlandia, jaminan kesehatan dan sosial lebih bagus dari Inggris, hukum ditegakkan, dan ada keadilan, kesejahteraan, dan kerukunan yang nyata. Langkah pertama adalah usaha "membangun kesadaran". Suatu "penyakit" hanya bisa diobati setelah ada niat untuk mengobatinya. Tetapi banyak Muslim ingin dipuji saja, agar merasa bahagia sebagai "kaum yang benar". Di saat yang sama, anak yatim dan dhuafa lapar, miskin, dan tidak punya banyak harapan. Dan masyarakat penuh dengan kriminalitas tinggi, kekerasan terhadap anak, dan keributan antara sesama Muslim yang haus kekuasaan dan uang.

Segala sesuatu yang dibutuhkan untuk membangun negara yang kuat dan sejahtera sudah ada di sini. Sumber daya alam, sumber daya manusia, tanah yang subur, laut yang luas, keimanan, ketakwaan, dan milyaran malaikat yang siap mendoakan kita, kalau kita bersatu. Kita sendiri yang belum mau bertindak. Allah sudah ciptakan umat Islam di Indonesia dalam kondisi "siap saji" untuk menjadi pemimpin dunia. Tinggal kita bersatu, sadar, mau "mengobati diri", dan kembangkan semua yang sudah Allah sediakan bagi kita.

11. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
(QS. Ar-Ra'd 13:11)

Saya yakin umat Islam di Indonesia bisa berubah, bangkit, bersatu, dan menjadi pemimpin dunia. Tapi banyak Muslim belum mau hadapi masalah yang nyata. Kita harus tafsirkan ayat di atas, menjadi: "Allah tidak akan mengubah keadaan [umat Islam di Indonesia] sehingga [umat Islam di Indonesia] mengubah keadaan diri mereka sendiri!" Semoga anda bisa memahami kenapa saya semangat untuk tinggal di sini. Dan insya Allah semua harapan saya bagi umat Islam bisa terwujud dalam waktu yang dekat. Aamiin, Aamiin, ya Rabbal 'Aalamiin.

Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto

22 December, 2020

I Converted to Islam Because Of Santa Claus!

A teacher in America was fired for telling schoolchildren that Santa Claus is not real. In many countries, all adults must lie to all children. If you say that Santa is not real, other adults will get angry because they are still busy lying. When I was a child, I remember a serious argument with my mother because we were staying at my uncle's house, but there was no chimney. How would Santa get into the house and deliver my presents? My mother laughed and said she would open a window. My logical brain was confused. If Santa could use a window, then why not use a door, and why use a small and dirty chimney? That was illogical! Something strange was going on.

A few years later, my older brother showed me all the presents in our parents' room, and he told me Santa Claus was a lie. I was so shocked! Why did my parents lie to me?! Whenever I told a lie, I would be punished. But they were bigger liars than me, and so they could not be trusted! I began to examine everything I had learned from my "lying parents". I found out that the Easter Bunny and the Tooth Fairy were also not real, and then I started reading adult books about the origins of Christianity when I was 10 years old.

I learned that Jesus was not born on the 25th of December, and no one knows who wrote the Bible, and the writers probably never met Jesus. There was nothing in the original language of Jesus (Aramaic), and no one knows who translated those stories into Greek. But then I also discovered that Jesus never went to a "church", on a "Sunday", to read "the Bible", and say "Mass", in a "foreign language", while staring at a "Cross", and praying "to Jesus" (as Almighty God). So, all the things that Christians did to "follow Jesus" were never actually done by Jesus. So, who were they following?

Nothing that I had been told was based on truth and reality, and so, I became an atheist. When I finally met a Muslim 10 years later, he explained that Islam is a logical religion. I was surprised. I thought all religions were illogical. After I studied Islam for 5 years, I felt "forced to become a Muslim" (by my own brain) because there was a clear and logical basis in the teachings of Islam.

So, I was able to convert to Islam because of Santa Claus! More precisely, after knowing that all adults had lied about Santa, I began a search for "the Truth" about everything else, especially religion. I wanted religious teachings that were logical, true, and free from lies or corruption. Everything I was looking for is available in Islam. Muslim parents teach their children to be honest, and they explain Islam honestly, without any need for lies. But the most important thing is that we have one clear example to follow: The Prophet Muhammad PBUH!

Santa Claus entering hundreds of millions of houses, through chimneys, delivering tens of billions of presents, to all Christian children, in one night is illogical! And eventually, all Christian parents are forced to admit that they had been lying to their children for years. I hope that everyone who does not like being lied to will be able to find the clear and logical Truth of Islam, just like I did. So, thank you Santa, for helping me convert to Islam!
-Gene Netto

23 November, 2020

Kenapa Gene Netto Share Berita Kriminalitas Ustadz Terus?

[Komentar]: Kenapa terus menerus men-share kriminalitas dgn pelaku ustad, Mr. Gene Hurgronje?

[Gene]: Ada bahaya terhadap anak Indonesia, di tempat di mana tidak terduga ada bahaya: Di rumah sendiri, di sekolah, di masjid, di pesantren, di musholla, di TPA, di rumah saudara, di angkot, di jalan, di belakang rumah, dll. Pelakunya adalah orang yang tidak terduga berbahaya: Bapak kandung, bapak tiri, paman kandung, paman tiri, kakek kandung, kakek tiri, sepupu, guru sekolah, guru ngaji, pengurus pesantren, guru pramuka, tetangga, teman sekolah, kenalan Facebook, satpam, penjaga warung, dll.

Hampir semua pelakunya Muslim, hampir semua korban adalah anak Muslim, berusia 3-16 tahun, perempuan dan laki-laki. Kasus mereka hanya ketahuan setelah masuk berita, lalu anda dan banyak orang Muslim lebih suka buang muka, karena hanya mau peduli pada anak kandung sendiri, dan hanya mau dibuat bahagia dan dipuji setiap hari di dunia mimpi, agar tidak perlu hadapi realitas.

Saya seorang guru. Saya dilatih untuk selalu berusaha melindungi semua anak, bahkan yang bukan murid saya. Anda tidak tahu, tapi di Australia ada UU negara. Kalau seorang guru melihat seorang anak (bukan muridnya, tidak dikenal) sedang dalam keadaan berbahaya, dan guru tidak berusaha melindungi anak itu, guru bisa kena pasal hukum. Saya lupa apa termasuk hukuman penjara. Tapi minimal akan kena masalah kerja, bisa diskors, didenda, dipecat, dll. Itu hukum negara, utk semua guru, di seluruh negara, tanpa guru bisa berikan alasan ttg kenapa dia diam saja dan biarkan anak menjadi korban atau alami kecelakaan. Guru melihat, guru wajib berusaha mencegah, walaupun secara lisan saja. (Mungkin setara dgn polisi kalau melihat perampokan: Wajib bertindak, dan akan kena masalah kalau diam di warung dan nonton saja.)

Saya seorang guru. Saya dilatih untuk melindungi semua anak. Termasuk yang bukan murid saya. Di mana saja saya berada, saya amati semua anak. Apabila saya lihat bahaya, saya berusaha selamatkan, atau minimal berikan peringatan untuk berhenti kegiatan mereka, atau berhati-hati. Saya dilatih. Dilarang diam. Saya menetap di Indonesia. Saya melihat bahaya. Saya tidak bisa melindungi anak yang sudah menjadi korban dan masuk berita. Yang bisa saya lakukan hanya satu: MEMBUAT ANDA SADAR ADA BAHAYA. Walaupun anda jadi emosi dan suruh saya diam, saya tidak akan diam. Saya seorang guru. Dan saya tidak menentukan jalan hidup saya disebabkan perasaan hati anda. Silahkan menjadi marah terus. Saya tidak akan berhenti dalam usaha saya melindungi semua anak di dalam keluarga besar anda agar mereka tidak menjadi korban.
-Gene Netto

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...