Sunday, March 11, 2018

“Kitalah Yang Mengangkat Ibu!”

Marissa Schimmoeller adalah seorang guru Bahasa Inggris yang perempuan di sebuah SMA di Amerika, dan pakai kursi roda. Setelah terjadi penembakan di sebuah sekolah minggu kemarin di Florida, Ibu Marissa diskusi sama siswa tentang apa yang akan terjadi kl suatu hari ada penembakan di sekolah mereka juga. Ketika siswa bertanya, Ibu Marissa menjawab dengan berat hati bahwa tentu saja dia sayangi semua siswa, dan akan berusaha sekuat mungkin untuk melindungi mereka kalau terjadi penembakan. Tapi perlu dipahami, sebagai guru yg pakai kursi roda, dia tidak akan sanggup melindungi mereka seperti halnya seorang guru dengan badan yang normal.
Para siswa menjawab bahwa mereka sudah diskusi sendiri ttg reaksi mereka kl terjadi penembakan. Lalu mereka jelaskan, “Kitalah yang mengangkat dan membawa Ibu Marissa ke tempat selamat!”
Ibu Marissa tidak tahan menangis. Seorang guru yang sayangi dan hormati siswanya, akan dapat balasan kasih sayang dan hormat juga!

'We are going to carry you': Students bring teacher to tears after the Florida shooting.



Oknum Guru Diduga Kerap Main Pukul, Siswa Kelas 2 Akhirnya Meninggal

Tidak ada ratusan ribu guru yang bangkit dan bersatu, teriak untuk minta perlindungan bagi siswa. Tidak ada yang kumpulkan 200 juta untuk keluarga korban. Tidak ada perhatian dari Presiden, Menteri dan Bupati. Hanya satu lagi anak Indonesia yang mati dengan sia-sia. Jawaban standar dari para guru ketika membahas kesalahan satu guru adalah ucapan, “Oknum guru” saja. Beda halnya kalau korban adalah seorang GURU (seperti Pak Budi yang kemarin wafat setelah dipukul siswanya).
Rakyat Indonesia dikasih contoh yang jelas dari banyak guru: Yang penting adalah golongan sendiri. Lalu anak sekolah menjadi dewasa, menjadi polisi, TNI, dokter, pengacara, dsb. dan mereka ikuti petunjuk dari guru sekolahnya: Yang penting adalah golongan sendiri. Keadilan tidak penting, kecuali untuk golongan sendiri!
Kalau masyarakat kita penuh kekerasan, para ahli pendidikan tidak mau tanggapi. Menunggu satu anggota golongan mereka yang menjadi korban, baru peduli sekali. Ketika korbannya seorang anak kecil yang tidak berdosa, reaksinya para guru hanya ucapan “oknum guru” saja.
Kasihan anak Indonesia yang dapat orang dewasa seperti kita!
-Gene Netto

Oknum Guru Diduga Kerap Main Pukul, Siswa Kelas 2 Akhirnya Meninggal
DM1.CO.ID, BOALEMO: Diduga lantaran kerap dipukul oleh gurunya, Ratni Tanani, siswa kelas 2 SD Negeri 05 Botumoito, Kabupaten Boalemo, akhirnya meninggal dunia.
Menurut informasi yang berhasil dihimpun, dugaan penganiayaan yang kerap dilakukan oleh oknum guru tersebut terakhir kembali terjadi pada Kamis (25/1/2018).
Kala itu, oknum guru kontrak ini mengumpulkan 7 siswa untuk diberi sanksi lantaran tidak mengerjakan tugas PR (Pekerjaan Rumah), dan Ratni Tanani yang berusia 8 tahun itu adalah salah satunya. Menurut keterangan dari berbagai sumber, oknum ibu guru itu setiap memberi hukuman kepada siswanya selalu menggunakan sebilah kayu.








Bawa 5 Anak yang Diadopsi, CW Berpindah Hotel Selama 10 Tahun

Saya tidak paham. Kok bisa seorang ibu menginap di hotel dengan 5 anak, yang bukan anak kandungnya, selama bertahun-tahun, dan tidak ada yang curiga terhadapnya?? Pihak hotel cuek saja kl ada 5 anak dalam sebuah kamar, tidak perlu terlihat berangkat sekolah, ada di kamar terus, dan tidak ada yang lapor ke polisi? Yang penting bayar kamar hotel saja?
Anak itu pasti terlihat oleh orang dewasa. Secara logis, ada cleaning service yang masuk kamar setiap hari. Ada room service yang antar makanan. Ada satpam yang pantau CCTV dan melihat siapa yang masuk dan keluar. Kalau selama 1 bulan saja, ada 5 anak di sebuah kamar, tidak pernah pergi sekolah, tidak kelihatan keluar dari kamar, seharusnya ada orang dewasa yg merasa “curiga”.
Sepertinya faktor utama dalam berita ini adalah tidak ada kepedulian terhadap keselamatan anak dari pihak hotel2 itu. Belum lama ini, ada berita dari Bandung ttg film porno yg dibuat oleh perempuan dewasa dengan dua anak. Dan sebelumnya ada banyak berita ttg trafficking anak untuk industri seks. Seharusnya pihak keamanan dan managemen hotel sadar ttg itu, dan memantau anak kecil di dalam hotel. Apalagi menginap terus sampai 1 tahun, dan tidak terlihat berangkat sekolah. Minimal bisa ditanyakan ttg sekolah dan kenapa anak itu berada di kamar terus. Ternyata tidak. Menyedihkan sekali.
-Gene Netto 

Bawa 5 Anak yang Diadopsi, CW Berpindah Hotel Selama 10 Tahun
Kontributor Jakarta, David Oliver Purba Kompas.com - 03/03/2018, JAKARTA, KOMPAS.com - Kapolres Jakarta Pusat Kombes Roma Hutajulu mengatakan, dari pemeriksaan terhadap CW (60), perempuan kelahiran Malang itu kerap berpindah hotel tempat tinggal sambil membawa lima anak yang diadopsinya. Roma mengatakan, CW pernah tinggal di dua hotel yang berbeda di kawasan Jakarta Barat selama sembilan tahun. Yang terakhir CW membawa lima anak yang diadopsinya dan tinggal selama 1,5 tahun di salah satu hotel berbintang di Jakarta Pusat. Roma mengatakan, dari keterangan CW, dia sebenarnya memiliki rumah. Namun, rumah tersebut enggan ditinggali karena CW merasa trauma pernah dirampok di rumah tersebut. Hal itu membuat CW memutuskan untuk tinggal berpindah-pindah dari satu hotel ke hotel lain.



https://megapolitan.kompas.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...