Assalamu’alaikum wr.wb. Dua hari yang lalu saya diskusi dengan seorang anak laki-laki yang merasa ragu terhadap kebenaran Islam, dan juga tidak salat selama beberapa tahun. Dia telah diskusi dengan teman Kristen, dan ingin mendalami agama lain karena berpikir mungkin lebih bahagia kalau tinggalkan Islam. Alhamdulillah, dia masih bersedia diskusi dengan saya ketika ibunya memberi saran.
Kami diskusi selama hampir tiga jam. Saya jelaskan tentang agama Kristen, Alkitab, Yahudi, Taurat, Hindu, Buddha, Nirwana, dll. Ternyata, dia baru tahu sedikit, dan juga kurang paham ajaran Islam. Saya jelaskan, dalam semua kasus ada anak Muslim yang mau murtad, selalu ada pola yang sama. Saya sebutkan contohnya, lalu dia senyum lebar dan bilang, “Kok sepertinya membahas saya?!”
Sama seperti banyak orang lain yang ingin murtad, dia benci bapaknya. Banyak anak seperti itu tidak ingin memahami Islam, dan hanya ingin Islam disalahkan. Yang dipikirkan, kalau bapaknya jelek, tidak mungkin Islam benar! Kalau Islam benar, bapaknya akan ikuti ajaran Islam dan menjadi baik. Ternyata tidak begitu, jadi Islam yang harus disalahkan!
Saya menjelaskan ajaran Islam kepadanya dengan landasan logika, dan kami diskusi secara baik. Ternyata, dia juga termasuk anak yang memang mencari jawaban, dan sangat senang bisa memahami Islam dan kehidupannya lewat lensa logika. Dia mengaku sudah 5 tahun tidak shalat, dan tidak pernah berdoa atau minta apapun dari Allah.
Saya berikan perumpamaan. Kalau saya memberikan nomor HP presiden, dan saya berkata, “Presiden sangat bangga dengan kamu, dan inginkan kamu menjadi bahagia dan sukses. Jadi, kalau kamu perlu bantuan apa pun, pakai nomor ini, hubungi presiden, dan tinggalkan pesan suara. Presiden tidak bisa bicara dengan kamu, tetapi dia akan dengarkan pesan kamu, dan akan berusaha memberikan yang kamu minta.”
Kemudian saya bertanya, maukah kamu pakai nomor itu? Dia ketawa dan menjawab, Iya, tentu saja!!!!! Saya berkata, kamu bisa hubungi Tuhan Yang Maha Esa setiap hari, tinggalkan pesan, dan minta apa saja. Jadi, daripada telfon presiden, kenapa tidak “telfon Allah”? Dia jauh lebih berkuasa, dan satu-satunya orang yang menghalangi kamu dari hubungi Allah setiap hari adalah kamu sendiri!!
Dia ketawa dan langsung paham. Malam itu, ibunya memberi tahu saya bahwa dia langsung berubah setelah bicara dengan saya, menjadi lebih bahagia dan positif, dan ingin mulai belajar Islam lagi. Satu hari kemudian, anak itu kirim pesan kepada saya dan bilang dia mau pergi ke masjid untuk shalat. Saya kaget. Tidak menyangka dia akan berubah secepat itu. Alhamdulillah. Dia sudah berdoa (sesuai arahan saya), dan minta diberi petunjuk, minta dibuat yakin, dan minta bantuan dari Allah untuk berubah dan menjadi semangat shalat dan sering berdoa kepada Allah. Alhamdulillah, dalam 1 hari saja, doanya anak itu sudah dikabulkan. (Dan doanya saya dan ibunya juga!)
Saya jelaskan kepadanya bahwa itu cara termudah untuk mendapatkan BUKTI bahwa Allah selalu mendengarkan kita, yaitu minta kepada kepada-Nya sebanyak mungkin dan harus yakin bahwa Allah akan dengarkan kita. Semakin banyak yang kita minta, semakin banyak yang kita dapatkan. Alhamdulillah dia bisa langsung paham, dan tidak ingin tinggalkan Islam lagi.
Semoga bermanfaat.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto
Search This Blog
Labels
Popular Posts
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Seperti biasa, ini kisah rekayasa, dengan menggunakan nama orang yang benar. Prof. Fidelma O'Leary mema...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Orang sering berkomentar kepada saya, kok banyak orang bisa melakukan korupsi padahal mereka shalat dan puasa. Ka...
-
Sabtu, 24/07/2010 14:12 WIB Pasien DBD 'Ditahan' Rumah Sakit Rois Jajeli – detikSurabaya Surabaya - Sikap pihak Rumah Sakit Islam (R...
-
(Membalas komentar dari guru di milis pendidikan). Assalamu’alaikum wr.wb., Sudah ada beberapa guru di dalam milis pendidikan yang...
-
Source : Scholars for 9/11 Truth By: James H. Fetzer Founder and Co-Chair Scholars for 9/11 Truth SCHOLARS FOR 9/11 TRUTH ...
-
[Pertanyaan]: 1) Saya mau nanya nih, saya pernah melakukan onani setelah berbuka puasa. Apakah puasa saya pd hari itu di terima? 2) Saya per...
-
[Pertanyaan]: Assalamualaikum pak ustad. Saya mau tanya nih. Malam ini saya minum bir bintang, apakah puasa saya besok dan seterusnya masih ...
-
Assalamu’alaikum wr.wb. Ada orang yang mengatakan dia capek dan kesiangan, jadi baru bangun jam 8 pagi, dan tidak bisa shalat subuh. Saya b...
-
Assalamu'alaikum wr.wb. Kemarin saya sibuk ketemu orang bule yang masuk Islam karena mau menikah dengan wanita Indonesia. Saya diberi...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Ini satu bab dari buku saya "Mencari Tuhan, Menemukan Allah" (Searching for God and Finding Allah). Awal...
17 December, 2025
Dakwah Berhasil Dengan Remaja Muslim Yang Mau Murtad
17 July, 2025
Pengalaman Chatting 6 Jam Lewat WA Di HP Dengan Calon Muallaf Di Negara Panama
Assalamu’alaikum wr.wb. Sabtu sore saya ke rumah guru saya. Rencananya mau berdzikir dan diskusi agama seperti biasa. Tiba-tiba ada pesan dari teman. Dia berada di Panama, Amerika Selatan, dan ketemu orang di pesawat. Orang Panama itu bernama John, dan sudah belajar tentang Islam sendiri. John mulai bertanya-tanya, lalu teman saya bilang, lebih baik diskusi sama Gene saja.
Rasulullah SAW bersabda, "Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat." (HR. Bukhari)
Teman itu bertanya apa saya bisa diskusi dengan pria itu? Saya jawab, boleh saja. Dia ingin memahami Islam, tetapi di saat yang sama, saya juga ingin dengar guru saya. Pilihan yang berat. Haha. Setelah dipikirkan, saya merasa kurang enak kalau suruh dia menunggu sampai besok, hanya karena “lebih enak bagi saya”. Jadi dibuat grup WA dan kami mulai chatting pada jam 20.00. Ternyata, dia sudah belajar banyak sendiri, dari situs Sunni dan Syiah juga. Bagi dia, sama-sama Islam, bukan? Jadi saya harus jelaskan dulu tentang aliran Syiah, agar dia bisa paham dan tinggalkan. Lalu jelaskan ajaran Islam secara singkat tapi lengkap. Akhirnya, saya pegang HP dan chatting terus selama 6 jam dengan John, dan baru berhenti pada jam 2 pagi.
HP saya sudah Low Batt banget, tinggal 13% pada saat mau pulang. Alhamdulillah dia sudah hampir siap masuk Islam, tetapi seperti biasa, masih ada keraguan. Saya kasih PR kepadanya. Coba berdoa kepada Tuhan, dalam bahasa Spanyol, dan minta dikasih petunjuk. Apakah lebih baik masuk Islam sekarang, atau tunda dulu, sambil berpikir lagi selama beberapa bulan, atau tahun, atau abad...
Lalu saya bertanya secara serius, “Mohon maaf, tetapi apa yakin masih hidup besok?” Baru beberapa minggu yang lalu, ada pesawat di India yang tinggal landas. Isinya ratusan penumpang yang punya rencana tentang masa depan mereka masing-masing. Baru terbang 3 menit, langsung mati semua, kecuali 1 orang.
Saya jelaskan sebuah prinsip dalam Islam: Kalau ada niat melakukan suatu kebaikan, jangan ditunda tanpa alasan yang jelas. Soalnya, kita tidak tahu masa depan kita seperti apa, atau berapa lama lagi. Kalau sangat ragu, dan masih banyak pertanyaan, silahkan tunda masuk Islam. Tetapi dia sudah bilang sendiri bahwa banyak pertanyaan sudah dijawab dan jawabannya jelas.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mengutusku dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, dan aku diperintahkan untuk menyampaikan agama ini kepada seluruh manusia." (HR. Muslim)
Setelah saya pulang, masih sore waktunya di Panama, jadi saya lanjut saja diskusinya, sambil menunggu Subuh. Saya kirim beberapa file, dan video dari YouTube, seperti Shalat Tarawih dari Makkah. Saya jelaskan. Empat juta orang sedang melakukan ibadah yang sama, di gedung yang sama, pada waktu yang sama, dalam bahasa yang sama, ikuti pemimpin yang sama, menghadap arah yang sama, dan semuanya kompak dan bersatu ikuti petunjuk yang sama. Ketika ada takbir, semuanya sujud. Tujuannya juga sama, yaitu beribadah kepada Allah. Di mana ada lagi yang setara di dunia ini? Setahu saya, tidak ada.
Dia juga kaget karena baru pertama kali lihat 4 juta orang kompak begitu. Jadi saya tinggalkan dia untuk kerjakan PR-nya, berdoa kepada Allah dan minta petunjuk. Apa sudah cukup yakin untuk masuk Islam? Atau masih mau merenung bertahun-tahun lagi? Ketika dia masih sibuk merenung, saya malah sibuk minta bantuan Allah dan merasa dibantu oleh Allah terus. Enakan mana? Merenung tanpa batas, atau dapat bantuan tanpa batas? Hehe.
18. Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al Hasyr 59:18 )
Saya jelaskan. Menjadi Muslim ibaratnya tekan kontrak dan masuk sebuah PT. Ada Boss yang menjadi Pemilik Mutlak. Dia berikan perintah, kami taat. Ada kewajiban (seperti shalat), dan juga ada hak, yaitu, bebas minta bantuan terus kepada Boss. Lalu Boss sering berikan apa yang kami minta karena Dia senang punya karyawan yang baik. Yang tidak mau bergabung di PT dan tekan kontak dengan Boss tidak punya kewajiban, tetapi juga tidak dapat hak. Dan hak yang paling enak adalah ketika pensiun nanti, ada hak masuk Kompleks Surga Indah yang disediakan oleh Boss untuk semua karyawan. Yang bukan karyawan dilarang masuk. Sederhana dan logis, betul?
Dari pengalaman saya, insya Allah dalam waktu dekat, John akan siap masuk Islam. Sudah dekat. Hanya perlu rasa yakin, dan itu yang kita sebutkan “hidayah”. Dan Allah bisa kasih kepada siapapun, kapanpun, di manapun. Mohon doanya bagi John. Semoga Allah segera berikan petunjuk dan hidayah kepadanya dan berikan kemudahan untuk menjadi Muslim dan jalankan Islam secara kaffah. Aamiin, Aamiin, ya Rabbal ‘Aalamiin.
Semoga tulisan ini juga bermanfaat sebagai renungan bagi orang yang Muslim dari lahir. Betapa enaknya kalian?! Tidak perlu bersusah payah cari Allah karena sudah dikenalkan sejak nafas pertama! Jadi kenapa masih banyak orang yang ragu-ragu bahwa doanya akan dikabulkan, dan merasa bahwa Allah tidak dekat dengan mereka? Allah sudah dekat dengan mereka seumur hidup. Salah sendiri kalau merasa “jauh” dari rahmat Allah! Betul?
Semoga bermanfaat.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto
07 June, 2023
Shalatnya Bolong Selama Puluhan Tahun, Tapi Berubah Setelah Diskusi Satu Kali
Saya bertanya, apakah ada waktu untuk tinggalkan rapat dan buang air kecil, atau merokok di luar gedung, atau ambil kopi? Katanya, selalu ADA! Saya bilang, berarti juga ada waktu untuk shalat, betul?! Kalau bisa pamit dari rapat untuk pergi ke WC, sebelum kembali, lakukan shalat Ashar sekaligus. Setelah kami diskusi beberapa jam, dia bilang ingin mulai berusaha.
Dan alhamdulillah, dalam 1 hari saja, dia lapor bisa langsung berubah dan merasa sanggup shalat 5 waktu, walaupun kesiangan sedikit untuk shalat subuh. Yang penting adalah niatnya untuk shalat dulu. Saya berikan perumpamaan: Coba pikirkan anak buah di kantor yang wajib input data di komputer, lalu kadang diabaikan. Jadi setiap hari ada data yang tidak lengkap, dan dalam satu bulan sering menjadi masalah. Anda pasti marah, betul? Bagaimana kalau orang itu berubah dan mulai input data dengan benar, walaupun kadang sedikit telat, tetapi datanya lengkap dan bisa dipakai secara baik? Anda pasti merasa sangat senang dengannya, betul? Dia setuju.
Begitulah kondisi kita di hadapan Allah. Kalau puluhan tahun shalatnya tidak lengkap, Allah tidak mau pedulikan masa lalu itu. Kalau ada niat memperbaiki diri, dan bertaubat, maka Allah akan terima usaha kita yang dilakukan pada saat ini, walaupun belum "sempurna". Diusahakan saja dulu, dan yakin Allah akan menolong kita…
53. Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Az Zumar 39:53)
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Kebahagiaan Allah dengan taubat hamba-Nya lebih besar daripada kebahagiaan seseorang yang menemukan kembali untanya yang penuh dengan barang-barang setelah hilang di padang tandus." (HR. Bukhari dan Muslim)
Siapa saja bisa berubah, kapan saja, selama ada kemauan untuk menjadi lebih baik dan ada teman-teman atau saudara yang bisa bantu dengan memberikan motivasi dan dukungan yang dibutuhkan. Manusia diciptakan dengan kemampuan berbuat dosa dan kesalahan, jadi Allah tidak kaget kalau kita bersalah. Yang diharapkan Allah adalah cepat atau lama kita akan menjadi sadar, siap bertaubat, dan semangat untuk dapat kehidupan yang lebih baik. Dan ketika kita mulai berubah, Allah siap memberikan pertolongan kepada kita, selama kita mohon bantuan-Nya.
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto
22 July, 2019
Kisah Dakwah dan Diare
Ketika ketemu, kami diskusi agama dan terlihat pengertian agamanya masih lemah, jadi saya jelaskan banyak hal dari nol, karena tidak mau berasumsi dia sudah paham. Setelah 2 jam, dia pamit ke WC. Setelah 10 menit, akhirnya dia kembali, dan minta maaf karena lagi kena diare! Ya Allah. Saya tanya, kalau sakit kenapa keluar? Dia bilang karena sudah berjanji, dan seminggu lagi akan kembali ke Kanada, jadi takutnya sulit ketemu lagi. Dua orang bule, sama2 kena diare, dan sama2 paksakan diri keluar karena mau diskusi agama. Setelah dua kali lagi dia ke WC, akhirnya dia terima saran saya utk minim imodium juga. Dan saya bawa di tas, jadi dia bisa langsung mimun.
Selama diskusi itu, saya harus fokus pada aliran diskusi, dan pastikan dia paham apa yang saya jelaskan. Tapi juga harus konsentrasi agar "menahan kentut" karena takutnya bukan hanya angin yang keluar. Hahaha. Parah deh. Jadi pengalaman dakwah dan diare.
Alhamdulillah beberapa kali dalam diskusi, saya lihat matanya berkaca, dan dia menahan perasaan menangis. Dari pengalaman saya, itu tandanya orang tersebut mulai terima hidayah. Dia jadi sadar bahwa ada agama yang jelas dan logis, dan berasal langsung dari Tuhan Yang Maha Esa, tanpa unsur rekayasa manusia.
Saya tekankan kepada dia, kalau mau jadi yakin pada Islam, cari logika dalam ajaran Islam, karena logika itu membuktikan asalnya ajaran tersebut bukan rekayasa dari manusia. Karena Allah tidak menciptakan kebingungan. Allah malah memberikan jawaban terhadap pertanyaan kita dan memberikan petunjuk ke jalan yang jelas dan logis. Kita punya pilihan: Mau taat pada Tuhan atau tidak? Dia setuju, jadi insya Allah dia akan mulai pelajari Islam secara dalam, dan siap melakukan shalat. Semoga Allah berikan hidayah yang kuat kepadanya utk menjalankan agama Islam secara kaffah. Dan segera sembuhkan diarenya. Amin.
-Gene Netto
19 November, 2018
Diskusi Agama dengan Orang Buddha
Assalamu'alaikum wr.wb. Pada suatu hari, saya bertemu dengan seorang pria dari Sri Lanka yang beragama Buddha. Saya minta dia jelaskan ajaran agama Buddha kepada saya. Katanya: Tidak mencuri, tidak berbohong, tidak mencintai dunia ini, menahan hawa nafsu, tidak berzina, tidak menyakiti orang lain, dan seterusnya. Saya senyum dan bilang, "Semua ajaran itu juga bagian dari Islam!"
Kami membahas apa mungkin Buddha bisa dipandang sebagai seorang Nabi Allah (dalam pengertian Islam), karena ajarannya mirip dengan isi Al-Qur'an dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Menurut dia, sepertinya Nabi Muhammad SAW ambil ajaran Buddha dan kemasnya menjadi "Islam"! Setahu saya, tidak ada orang Buddha di Madina, jadi bisa belajar dari mana? Menurut saya, lebih logis kalau Buddha dan Nabi Muhammad SAW dapat ajaran agama dari sumber yang sama: Tuhan Yang Maha Esa! Di dalam Al-Qur'an, dikatakan Allah akan kirim seorang nabi kepada setiap kaum, jadi mungkin Buddha juga bisa dipandang sebagai seorang nabi (dalam pengertian Islam). Tetapi sesudah setiap nabi wafat, ajarannya diubah oleh manusia. Hanya Islam yang tetap mengikuti kebenaran dari Al-Qur'an, yang tidak pernah berubah.
Sayangnya, pria itu tidak percaya ada "Tuhan", dan juga tidak percaya ada surga dan neraka. Hanya ada reinkarnasi, yaitu setiap manusia dilahirkan ribuan kali. Disebabkan kebaikan atau keburukan di masa lalu, "Karma" akan memberikan kebaikan atau keburukan dalam kehidupan ini sekarang. Menjadi manusia sempurna berarti akan mencapai "nirwana" dan berhenti lahir kembali (menjadi tidak ada). Saya bertanya, apa lebih enak "penderitaan hidup" berakhir dengan menjadi "tidak ada" atau malah hidup secara kekal dalam kebahagiaan? Dia setuju, lebih enak hidup kekal dalam kebahagiaan. Saya minta dia menggunakan pemikiran logis, karena saya yakin Islam adalah agama yang logis, karena berasal dari Tuhan. Bagaimana dengan ajaran agama Buddha?
Dia jelaskan bahwa karma adalah sebuah kekuatan abadi. Saya bertanya, apakah "kekuatan" itu seperti gravitasi, daya tarik magnet, cinta, dll.? Katanya, kurang lebih begitu. Saya bertanya: Kalau karma tidak diketahui asal usulnya dan "ada" secara abadi, apa karma punya "kesadaran"? Manusia punya kesadaran, tapi daya gravitasi atau batu tidak punya. Kalau karma tidak punya kesadaran karena bukan makhluk hidup, bagaimana karma bisa menentukan apa yang tergolong baik dan buruk? Gravitasi tidak bisa!
Secara logis, hanya suatu makhluk hidup dengan "kesadaran" dan kecerdasan bisa menentukan apa yang benar dan salah, baik dan buruk. Apa yang menjadi dasarnya bagi "karma" untuk menentukan bahwa perbuatan A itu baik dan perbuatan B itu buruk? Kalau karma tidak punya kesadaran, kenapa karma peduli pada perbuatan manusia? Bagaimana karma, kalau tidak punya kesadaran, bisa "maha tahu" tentang apa yang dilalukan dalam ribuan kehidupan seorang manusia, lalu memutuskan bahwa orang itu perlu dikasih hukuman atau kebaikan? Bagaimana karma bisa "memantau" puluhan milyar manusia, dalam ribuan kehidupan, tanpa memiliki kesadaran? Saya minta penjelasan logis.
Saya jelaskan: Kalau dia percaya memang ada kesadaran dalam suatu "kekuatan abadi", yang maha tahu tentang masa lalu dan masa depan, yang bisa menentukan apa yang benar dan salah, yang bisa mengirim seorang pembawa berita untuk jelaskan bahwa kita akan dihukum kalau salah dan dapat kebaikan kalau benar, maka saya SETUJU. Bedanya adalah dia percaya kekuatan itu dinamakan "karma" dan orang Muslim percaya kekuatan itu dinamakan "Tuhan Yang Maha Esa" atau Allah. Tetapi sebaliknya, kalau dia percaya kekuatan bernama karma itu setara dengan gravitasi dan tidak punya kesadaran, maka bagaimana "kekuatan" itu bisa maha tahu tentang manusia, dan bisa menentukan benar dan salah? Dan kenapa karma mau peduli? Dan kenapa dia mau tunduk dan taat kepada kekuatan itu, kalau "karma" tidak punya kesadaran? Dia mengaku sangat bingung dan tidak bisa berikan jawaban logis.
Saya bertanya: KALAU dia bisa "bicara dengan karma", mohon ampun atas dosa masa lalu, dan mohon kebaikan untuk masa depan, apakah dia mau bicara dengan karma? Dia jawab, “SANGAT MAU!!” Akan lebih enak diampuni atas dosanya dan tidak dihukum. Saya jelaskan, orang Muslim bisa "bicara dengan karma" tetapi kami sebutkan "Tuhan", dan Tuhan punya kesadaran jadi bisa mendengarkan doa kami. Jadi kalau mau "bicara dengan karma", yang punya kesadaran, maka bisa dilakukan kalau menjadi Muslim. Tidak perlu tunduk pada "keputusan karma" (yang tidak punya kesadaran), dan malah boleh MENGUBAH keputusan tentang masa depan dengan berdoa kepada Tuhan (yang punya kesadaran). Dan disebabkan doa kita, Tuhan bisa mengubah takdir kita menjadi lebih baik. Jadi lebih enak pilih yang mana? Dia berkata harus banyak merenung dan berdoa, karena belum pernah dengar pemikiran seperti yang saya sampaikan kepadanya.
Yang menjadi menarik dari diskusi itu adalah bagaimana dia terbiasa hidup puluhan tahun dan beragama tanpa pernah menggunakan akalnya untuk berusaha memahami ajaran agamanya. Dan ketika diajak menggunakan akal satu kali saja, dia langsung merasa tertarik pada Islam. Setelah itu, tidak ada kabarnya lagi karena dia pergi ke luar negeri. Jadi saya hanya bisa berdoa, semoga Allah membuka akalnya, dan memberikan petunjuk dan hidayah kepadanya agar bisa menemukan kebenaran dalam Islam. Dan semoga orang Muslim yang baca ini akan banyak bersyukur karena diberikan kemudahan lahir sebagai Muslim, dan sudah diberikan agama yang logis dan benar tanpa perlu pusing mencari kebenaran sendiri.
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu'alaikum wr.wb.
-Gene Netto
17 January, 2017
Jangan Menilai Orang Lain Dari Pakaiannya
01 March, 2014
Pengalaman Bule Muallaf di Indonesia: Setahun Di Sini Mau Murtad Dan Bunuh Diri!
Pertanyaan dia: "Kalau Islam memang benar, kenapa umat Islam seperti ini?"
Kalau ada yang mengatakan "insya Allah" kepadanya, dia marah. Bagi dia, artinya adalah: "Saya sedang bohongi anda, dan saya tidak akan melakukannya." Mendengar komentar itu, saya menjelaskan budaya Indonesia. Banyak orang tidak enak menolak, jadi mengatakan "insya Allah" tanpa niat penuhi janjinya. Dia menolak kebiasaan itu, karena dianggap kebohongan dan kemunafikan.
Katanya, kebanyakan orang yang ketemu dia seolah-olah bermuka dua. Dia bertanya, apa Islam mengajarkan kita untuk bermuka dua? Kalau tidak, kenapa begitu umum?
Dalam bisnis, semua orang Muslim juga begitu, katanya. Berbohong, munafik, dan bermuka dua. Dia menunggu berbulan-bulan: Ada kontrak yang disetujui dan "insya Allah siap berjalan". Ternyata tidak. Janjinya seorang Muslim tidak bisa dipercayai. Dia datang ke sini sebagai orang kaya, tapi dalam waktu singkat, seluruh hartanya dihabiskan oleh saudara dan teman dari istrinya, yang ajak dia berbisnis, pinjam uang untuk "investasi", lalu mengaku "bangkrut" dan tidak bisa bayar kembali. Karena merasakan hal-hal seperti itu terus, akhirnya dia putus asa. Buat apa beragama Islam terus kalau kualitas Muslim seperti ini? Menyesal bergabung dengan "mereka".
Dia mencari penjelasan yang logis tentang hal-hal yang berkaitan dengan Islam, tapi tidak dapat. Kebanyakan orang menjawab, "disuruh orang tua" atau "ustadz bilang begitu". Contohnya, dia bertanya kenapa Shalat Jumat 2 rakaat dan bukan 4? Alasan logisnya? Dikasih jawaban, "Karena disuruh begitu." Dia bertanya kenapa tidak boleh bunuh diri? Alasan logisnya? Semua orang Muslim hanya menjawab, "Tidak boleh," tanpa penjelasan. Dia bilang, "Katanya Allah Maha Kuasa! Kalau iya, kenapa Allah tidak halangi saya dari bunuh diri? Kenapa Allah tidak hilangkan semua kejahatan? Kenapa Allah izinkan Setan mengganggu kita?" Dia mencari penjelasan yang logis, tapi semua orang Muslim, termasuk ustadz, tidak bisa jelaskan. Dia tambah bingung dan depresi.
Karena tidak lancar dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, dia sulit belajar. Dia sudah tua, tidak pakai internet, jadi sulit cari info online. Dan setelah melihat umat Islam dan perilakunya secara umum, dia hanya merasa makin depresi, makin tidak paham Islam, dan tidak mau hidup lagi, jadi shalat menjadi tidak penting. Ketika saya menjawab semua pertanyaannya, dan jawaban saya sederhana dan logis, alhamdulillah dia berubah. Saat masuk dzuhur, dia tiba-tiba dia mengatakan, "Ayo, kita harus shalat dzuhur!" (Malah dia yang ajak saya! Hehe). Saya suruh dia duduk lagi, dan tanya KENAPA dia mau shalat, dan dia harus berikan penjelasan logis. Alhamdulillah, dalam 3 jam dia sudah berubah secara total.
Kesulitan utama bagi dia adalah betapa sedikitnya orang Muslim yang bisa menjelaskan Islam secara logis, dan betapa sedikitnya ustadz yang bisa menjelaskan Islam secara logis dalam Bahasa Inggris. Banyak ustadz berilmu tinggi, tapi ilmu mereka tidak bisa keluar dari Indonesia. Dia ingin memahami Islam lewat pertanyaan dan penjelasan yang logis karena hal itu yang membuat dia masuk Islam. Sayangnya, sebagian Muslim menjadi emosi, dan menghina dia karena tidak mau "asal nurut saja, tanpa berpikir". Hasilnya, dia menjadi malas belajar.
Berkali-kali saya menegaskan, kalau mau yakin pada Islam, harus pelajari dasar-dasar Islam dari Al Qur'an, hadits, dan buku (dan butuh guru juga). Kalau menilai Islam dari perilaku orang Muslim, maka dijamin akan kecewa. Dalam kata lain, "KALAU MAU MENGENAL ISLAM, JANGAN MELIHAT ORANG MUSLIM". Sekarang, alhamdulillah, si bule muallaf itu sudah shalat 5 waktu lagi. Sudah berkali-kali saya bertemu dengan calon muallaf, dan diskusinya selalu mirip. Mereka selalu bertanya, "Kalau Islam memang benar, kenapa umat Islam seperti ini?"
Alhamdulillah satu orang berhasil diselamatkan (untuk saat ini). Insya Allah tidak jadi murtad, tidak bunuh diri, sudah kembali shalat, dan insya Allah bisa dapat ketenangan setelah dia pindah ke negara lain dan tidak lagi tinggal di tengah umat Islam yang mengganggu hatinya di Indonesia. Saya ingin sekali mengatakan kepada muallaf, "Kalau mau merasakan contoh nyata dari Rasulullah SAW, tinggal di tengah umatnya." Tapi sayangnya, banyak orang bule yang tinggal di tengah umat Islam malah merasakan yang sebaliknya, karena justru umat Islam yang membuat mereka ingin kabur jauh dari Islam!
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wabillahi taufik walhidayah,
Wassalamu'alaikum wr.wb.,
-Gene Netto
10 July, 2012
Apa Bagus Kalau Membina Muallaf Dengan Pandangan Islam Yang Keras?
04 July, 2012
Jangan Menilai Orang Lain Dari Pakaiannya
28 May, 2012
Hikmahnya Sebuah Senyuman No.2
(QS. Al-Baqarah 2:245)
23 May, 2012
Hikmahnya Sebuah Senyuman
05 May, 2011
Tidak shalat bertahun2, kembali shalat setelah diskusi 2,5 jam
07 April, 2011
Selesai Dakwah dgn Orang Asing, Mulai Lagi dgn Sopir Taksi
Kemarin saya ada pertemuan dengan orang pada waktu siang, untuk membahas suatu kegiatan untuk bulan depan. Saya berangkat setelah dzuhur, dan rapatnya hanya 2 jam, jadi saya kira bisa pulang sekitar ashar, karena masih ada banyak kerjaan dan tugas di rumah yang belum selesai untuk membantu 3 yayasan yang sedang ditangani.
Setelah rapat itu, saya ketemu seorang teman yang memperkenalkan saya dengan seorang muallaf bule di kantornya. Dia sudah masuk Islam beberapa tahun, tetapi masih merasa ragu terhadap Islam, dan belum bisa shalat secara rajin. Saat saya melihat bahwa dia ingin bertanya banyak, saya memutuskan untuk berusaha menjawab semua pertanyaannya sampai dia merasa puas.
Kadang, dengan orang asing, mereka merasa dekat dengan Islam (sudah muallaf atau sudah memikirkannya) tetapi masih ada sesuatu di dalam hatinya yang menghalangi mereka untuk lepaskan kehidupan biasa mereka dan mengikuti Islam secara benar.


