Monday, July 15, 2019

Kok Orang Bule Tidak Punya Uang?

[Komentar]: Untung aja si bule NZ ini berkedok tukang cari donatur untuk kesejahteraan anak2 yatim Indonesia. Sendirinya buat bikin buku minta donatur di FB. Mana tuh sekutunya kok ga bantu? Kasianan deh!

[Gene]: Ada alasan kenapa saya tidak punya uang di saat ini. Selama kerja fulltime 15 tahun di Jakarta, setiap bulan gaji saya selalu habis. Ketika saya dapat gaji 17 juta per bulan dulu, selalu ada orang Indonesia yang minta tolong kepada saya. Anak yatim, sopir, satpam, office boy, ustadz, dll. Mereka minta bantuan kepada keluarga dan teman pribumi Muslim, tapi tidak dibantu, atau dapat basa basi. Jadi mereka minta kepada saya, dan saya berusaha menolongnya.

Saya belum pernah bayar zakat sejak menjadi Muslim. Setiap bulan dulu, gaji saya habis. Seluruh penghasilan saya, lebih dari 1,5 Milyar Rupiah, dihabiskan di Indonesia utk menolong orang Indonesia yang kesulitan, ketika orang Indonesia yang lain tidak mau membantunya. Sejak saya mulai bangun yayasan sendiri, dari nol, saya tidak dapat gaji lagi, dan pinjam uang setiap bulan. Saya mau mendirikan program pelatihan guru nasional yang gratis, antara lain. Tapi orang pribumi Muslim yg punya yayasan mengatakan, "jangan gratis". Mereka mau cari untung dari 3 juta guru, daripada memberi. Jadi saya kerjakan rencana saya sendirian, demi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia, di saat banyak orang Indonesia tidak peduli.

Jadi silahkan menghinakan saya atau meremehkan saya. Banyak orang sudah dapat bantuan dari saya, ketika saudara sebangsa dan setanah air dan seagama tidak mau membantu mereka. Dan setelah buku saya terbit, kalau Allah menjadikannya viral di dunia, mungkin saya bisa dapat jutaan dolar. Insya Allah uang itu akan saya bawa ke sini untuk progam sosial dan pendidikan, demi kemajuan Indonesia. Jadi kalau harus minta tolong utk sementara, bukan sesuatu yang hina menurut saya. Kalau ada orang Indonesia yg anggap saya hina atau rendah karena tidak punya uang di saat ini, silahkan saja. Saya tidak keberatan. Allah Maha Tahu.
-Gene Netto

Anak Murtad, Jangan Salahkan Orang Tua? Orang Tua Yang Paling Salah!

Saya tidak tahu ttg Salmafina, jadi saya tidak mau komentari dia. Saya hanya mau bahas pernyataan: "Jangan salahkan orang tua."

Saya punya pengalaman tangani orang yang murtad menjadi Kristen atau ateis. Dalam hampir semua kasus, jelas bahwa orang tuanya bersalah. Bukan sengaja, tapi lalai. Ibaratnya kita keluar kota naik mobil, lalu tidak periksa ban, oli, air di radiator, dsb. Ketika mobil mogok di tengah jalan karena oli habis, maka jelas lalai dan salah sendiri. Mobil seharusnya periksa dulu, sebelum boleh pergi. Sama dengan pendidikan agama bagi anak: Sebelum anak dilepaskan ke dunia, harus dikasih pendidikan agama agar kuat menempuh jalan yang penuh kesulitan.

Kalau orang tua sibuk kerja, atau serahkan pendidikan agama ke pihak lain (tanpa pantau), atau orang tua juga lemah dalam agama, atau utamakan uang dan pangkat di atas agama, maka itu permulaan dari kerusakan anaknya. Di tengah kondisi itu, anak tidak melihat Islam sebagai hal yang penting dalam kehidupannya. Dia tidak punya hubungan yang kuat dengan Allah.

Lalu ketika terjadi suatu gangguan, ada dua pilihan: 1) mendekatkan diri kepada Allah, dan mohon pertolongan-Nya, atau 2) anggap Allah dan Islam tidak berguna, lalu lari, mencari yang lain. Nomor 2 ini yang paling sering dialami oleh orang yang murtad. Mereka tidak dididik untuk merasa dekat pada Allah, jadi dengan sangat gampang mereka lepaskan pegangan Allah, dan lari mencari pertolongan atau ketenangan di tempat lain.

Selama 22 tahun mendidik orang ttg Islam, saya belum pernah bertemu satu orang yang menganalisa ajaran Islam dan Kristen dengan logika, lalu memilih agama Kristen. Jadi kalau anak murtad, selalu ada faktor lain, dan emosi selalu diutamakan di atas logika. Yang paling umum, ada pacar Kristen. Yang penting adalah "rasa cinta". Bukan kebenaran agama. Dan karena dianggap "semua orang baik pasti masuk surga", maka bukan masalah pindah agama. Juga ada peran Setan. Kadang orang itu bermimpi melihat salib atau alami kejadian "mistis", lalu simsalabim, seluruh ajaran Islam dibuang dgn cepat karena dari awalnya tidak ada pegangan yang kuat. Emosi diutamakan di atas logika.

Jadi kalau ada yang bilang "orang tua tidak bersalah", pengalaman saya selama 22 tahun mendidik orang ttg Islam membuktikan sebaliknya. Dalam hampir semua kasus, anak murtad merupakan kegagalan orang tua. Kalau orang tua serius mendidik anak ttg Islam, kemungkinan dia mau lari dari pertolongan Allah hampir 0%.
-Gene Netto

Usai Pindah Agama, Salmafina: Jangan Salahkan Orang Tua Saya
Minggu, 14 Jul 2019 15:20 WIB · Mauludi Rismoyo – detikHOT
https://hot.detik.com

Dapat Grasi Jokowi, Terpidana Kasus Sodomi di JIS Bebas!

Sayangnya, yang WNI masih di penjara. Sejak awalnya kasus ini, saya tidak percaya guru Neil Bantleman ini bersalah. Secara singkat:

1. Dia tidak mengaku bersalah. Dalam mayoritas kasus lain, ketika sudah ditangkap, pelaku mengaku dgn harapan vonisnya lebih ringan. Ini tidak.

2. "Korban" diperiksa di rumah sakit di Indonesia dan Singapura. Tidak ada penyakit atau kerusakan pada anus. Bukan korban sodomi. Setelah dapat hasil itu, anak dibawa ke rumah sakit yang lain. Simsalabim, dinyatakan korban sodomi dan ada penyakit herpes. Hanya hasil itu yang diterima di pengadilan. Yang lain dibuang.

3. Dalam video singkat dari persidangan, seorang hakim perempuan teriak penuh emosi. Dia tanya Bantleman main seks berapa kali dgn isterinya setiap minggu. Bantleman jawab biasanya 1 kali. Sibuk kerja, dan sudah lama menikah. Hakim terhormat tambah histeris, dan teriak pria yang tidak main seks setiap hari pasti menjadi pedofil. (Wah?) Kesannya, terdakwah sudah divonis bersalah sebelum sidang mulai. Bukti tidak penting.

4. Anak yang dikatakan "korban" masuk JIS dgn santai, dan tunjukkan lokasi "kejadian". Anak itu terlihat bosan, bukan trauma. Dalam ribuan kasus lain, anak begitu trauma sampai tidak mau keluar dari rumah, berhenti makan, menolak kehadiran pria dewasa, histeris kalau mendekati lokasi, dsb. Anak ini terkesan korban trauma paling santai sepanjang zaman. Kalau tidak salah ingat, Kak Seto juga komentari keanehan itu.

5. "Lokasi kejadian" adalah ruang guru, yang seluruh temboknya dibuat dari kaca, di tengah ruangan2 administrasi, yang semua temboknya juga dibuat dari kaca. Banyak orang melintas wilayah itu, dan ada CCTV. Di mana buktinya anak itu disodomi oleh gurunya di ruangan terbuka itu? Sepertinya tidak perlu bukti rekaman atau saksi.

Kesimpulannya: Tidak terlihat ada bukti Mr. Bantleman sodomi seorang anak di ruang guru, yang seluruh temboknya dibuat dari kaca, sehingga membuat anak itu menderita penyakit herpes, yang hanya bisa terdeteksi di satu rumah sakit. Setelah Bantleman masuk penjara, ada tim investigasi dari tivi Australia yang minta izin tes darah anak itu lagi. Lab independen tidak temukan penyakit herpes. Kata ibunya: Lab itu salah! Anaknya ada herpes!

Kenapa bisa muncul kasus ini? Ada kabar burung JIS mau digusur. Kalau muncul kasus sodomi, mungkin diharapkan siswa ditarik, sekolah tutup, dan tanah mau dijual. Lalu kalau memang ketahuan Bantleman tidak bersalah, kenapa baru dibebaskan sekarang? Mungkin ada suatu janji dari Kanada, untuk menolong Jokowi dengan suatu hal? Yang jelas, dari keterangan di atas, saya anggap Bantleman sebagai korban "keadilan" Indonesia. Keadilan bukan suatu kepastian di negara hukum ini!
-Gene Netto

Dapat Grasi Jokowi, Neil Bantleman Terpidana Kasus Sodomi di JIS Bebas!
Jumat 12 Juli 2019, Indah Mutiara Kami, Dhani Irawan – detikNews
https://news.detik.com

Thursday, July 11, 2019

Jokowi Suruh Guru Mendidik Anak Untuk Era Digital, Guru Malah Hancurkan HP!

Presiden dan wapres berpidato tentang pentingnya dunia digital. Katanya siswa bisa "belajar dari mana-mana". Katanya guru harus siap berpikir tentang dunia di luar kelas, dan mendidik siswa agar mereka tidak salah hadapi dunia digital tanpa binaan gurunya. Google dan Wikipedia dikatakan alat penting dalam pencarian ilmu. Tapi harus didampingi oleh guru, agar siswa bisa belajar dengan benar, dan bukan dibiarkan cari tahu sendiri di luar waktu sekolah.

Reaksi guru pesantren: "Kami akan hancurkan HP! Siswa dilarang gunakan teknologi untuk akses informasi di luar pesantren! Teknologi berbahaya! Siswa tidak perlu belajar. Guru tidak perlu mendidik. Yang penting duduk dan ngaji saja! Zaman dulu cukup, sekarang juga cukup."

Bagaimana Indonesia mau bangkit dan menjadi pemimpin dunia, kalau para ahli agama takut hadapi dunia digital? Siswa perlu GURU untuk membinanya dalam mendalami suatu ilmu baru. Tapi di pesantren dan banyak sekolah, teknologi dianggap perusak saja. Ilmu dan pembinaan dari guru nol. Siswa harus belajar sendiri, nanti. Dan kalau jadi salah, guru angkat tangan, dan merasa tidak bertanggung jawab.
-Gene Netto

Pemusnahan Ratusan Ponsel Siswa di Jombang, HP Dipukul-pukul Pakai Palu Sampai Hancur
https://jabar.tribunnews.com

Di Kongres PGRI, Jokowi Ingatkan Tugas Guru di Era Digital
"‎Ruang kelas bukan satu-satunya tempat belajar. Hati-hati sekarang sudah bergerak kemana-mana. Sekali lagi, ruang kelas bukanlah satu-satunya tempat belajar," kata Jokowi. "Dunia virtual adalah kampus, kita bisa ‎belajar dari sana. Google adalah perpustakaan kita, bisa menjadi perpustakaan kita. Wikipedia adalah ensiklopedia kita, bisa cari apa saja dan masih banyak media digital lainnya," kata Jokowi.
https://tirto.id

22 Negara Tegor China Karena Penahanan Muslim Uighur, Indonesia Diam Saja

Dalam rapat dewan HAM di PBB, 22 negara berikan surat tegoran terhadap Cina karena mereka telah penjarakan lebih dari 1 juta Muslim Uighur, termasuk anak-anak. Negara Eropa yang penduduknya non-Muslim bergabung dgn Inggris, Australia, Selandia Baru, Kanada dan Jepang untuk protes perbuatan Cina yang menindas umat Isam. Sebaliknya, negara yang mayoritas penduduknya Muslim malah diam, atau bahkan memuji Cina, disebabkan kebutuhan ekonomi mereka dari pinjaman dan proyek infrastruktur. Cina berkuasa, umat Islam diam dan lemah.

Dulu Rasulullah SAW mengatakan umat Islam "ibaratnya satu tubuh" yang apabila satu anggota sakit, yang lain ikut merasa sakit. Nabi tidak tahu bahwa di zaman ini, pemimpin Muslim akan berikan catatan kaki: "KECUALI ada kebutuhan ekonomi dari si penindas yang menyebabkan rasa sakit. Kalau begitu, anggota tubuh yang sakit dibiarkan sakit sendiri, dan anggota tubuh yang lain bersikap EGP!"

Umat Islam di Indonesia menjadi buih di atas lautan, disebabkan pilihan pemerintahnya sendiri. Dan umat Islam diam saja. Seharusnya Indonesia bersatu dan bangkit menjadi negara kuat dan sejahtera, yang berwibawa di hadapan negara2 lain. Malah tidak ada yang pedulikan pendapat Indonesia. Itupun kalau Indonesia berani bersuara. Biasanya tidak. Orang yang ingin menindas umat Islam merasa bebas, karena Indonesia lemah, dan tidak mungkin bisa berbuat apa-apa. Minta umat Islam boikot Cina juga percuma ketika pemerintah sendiri menjadi kawan sejati terhadap pemerintah Cina.
-Gene Netto

Sebanyak 22 Negara Minta China Hentikan Penahanan Muslim Uighur
Muhaimin Kamis, 11 Juli 2019
JENEWA - Sebanyak 22 negara telah meminta China untuk menghentikan penahanan massal etnis minoritas Uighur, termasuk warga Muslim, di wilayah Xinjiang. Seruan puluhan negara itu disampaikan dalam sepucuk surat yang ditujukan kepada pemimpin Dewan Hak Asasi Manusia PBB.
https://international.sindonews.com

China Rebuked by 22 Nations Over Xinjiang Repression
https://www.nytimes.com

Anak-anak Muslim Uighur Juga Dipenjarakan

Sebuah laporan baru menyatakan sekarang anak2 Muslim Uighur juga ditahan di dalam "asrama" dan wajib "dididik kembali" agar tidak punya kepedulian terhadap ajaran Islam. Setelah pemerintah telah menahan orang tua, anak dianggap terlantar. Dalam penelitian, di satu desa saja, sebanyak 400 anak Uighur dipaksakan masuk asrama untuk dididik mencintai pemerintah, partai komunis, dan budaya Cina. Tidak boleh ada kepedulian terhadap ajaran Islam seperti shalat, puasa, ngaji dll.

Anak ditahan dalam "asrama" yang diberikan tembok tinggi dan kawat berduri, dan dilarang kembali ke kampung halaman, atau tinggal bersama saudara lain setelah orang tuanya ditahan. Foto satelit menunjukkan peluasan "asrama" pada skala besar agar bisa menampung ribuan anak di satu lokasi saja.
Banyak negara di dunia sudah protes atas penahanan anak Muslim ini, tanpa sebab. Indonesia diam.
-Gene Netto

Anak-anak Muslim Uighur pun Juga Masuk Kamp Pendidikan
BerliantoSabtu, 06 Juli 2019 –
BEIJING - Ribuan anak-anak Muslim Uighur yang meninggali wilayah Xinjiang barat China dipisahkan dari orang tua mereka. Sebuah studi terbaru melaporkan bahwa mereka menjalani apa yang disebut sebagai kampanye sistematis rekayasa sosial ulang dan genosida budaya.

https://jateng.sindonews.com

China Muslims: Xinjiang schools used to separate children from families
By John Sudworth BBC News, Xinjiang 4 July 2019
https://www.bbc.com

Wednesday, July 10, 2019

Pertama Mereka Datang untuk Orang Komunis…

Ini sebuah puisi yang terkenal di negara barat:

Pertama mereka datang untuk [tangkap] orang komunis,
dan saya tidak berbicara karena saya bukan orang komunis.
Kemudian mereka datang untuk [tangkap] anggota serikat buruh,
dan saya tidak berbicara karena saya bukan anggota serikat buruh.
Kemudian mereka datang untuk [tangkap] orang Yahudi,
dan saya tidak berbicara karena saya bukan seorang Yahudi.
Kemudian mereka datang untuk [tangkap] saya,
dan tidak ada orang yang tersisa untuk berbicara bagi saya.

Assalamu’alaikum wr.wb. Mungkin banyak orang belum pernah baca puisi terkenal ini. Ditulus oleh seorang pastor Jerman bernama Martin Niemöller pada tahun 1946. Waktu Adolf Hitler dan partai Nazi bangkit, Niemöller dukung mereka. Saat orang komunis ditangkap dan dipenjarakan, Pastor Niemöller diam, karena dia bukan orang Komunis. Lalu, Nazi tangkap anggota serikat buruh, dan Niemöller diam, karena bukan anggota serikat buruh. Lalu, Nazi tangkap semua orang Yahudi, dan Niemöller diam karena bukan orang Yahudi.

Lalu Hitler mengatakan pemerintah harus berkuasa di atas agama, dan Pastor Niemöller mulai mengritik Hitler, tapi sudah telat. Jadi pada saat Niemöller sendiri dipenjarakan, tidak ada pihak lain yang tersisa, yang berani berbicara dan protes atas nama dia. Orang lain diam, karena "mereka bukan pastor".

Kejadian nyata ini dipelajari di sekolah di negara barat. Kalau rakyat diam, dan membiarkan pihak tertentu dalam pemerintah membuat aturan semaunya, dan anggap anggota rakyat sebagai "musuh", tanpa peduli pada keadilan, atau aspirasi rakyat, maka pada saat pihak itu mau penjarakan kita juga, disebabkan afiliasi kita, tidak ada sisa orang yang berani bicara untuk melindungi kita!

Zaman dulu di negara2 barat, orang yang "menghinakan pemimpin" kena hukuman keras. Bisa disiksa, dipenjarakan, atau dibunuh. Tidak ada kebebasan bicara. Rakyat jadi korban kedzholiman terus. Kalau berani mengritik, dianggap orang subversif yg menghinakan pemimpin dan pemerintah. Lalu negara2 itu berubah, disebabkan pengalaman buruk itu. Rakyat diberikan hak bicara bebas, selama hanya "bicara" dan tidak "bertindak".

Terbukti, mayoritas dari rakyat tidak mau menghinakan pemimpin. Rakyat belajar bersikap dewasa dalam diskusi, dan pemerintah tidak menjadi sibuk melindungi orang dari "perasaan sakit hati". Sistem kebebasan bicara itu muncul dari sejarah yang gelap, dan terbukti lebih besar manfaatnya kalau rakyat boleh bebas, daripada pikiran dan ucapan rakyat harus "dikontrol" oleh pemerintah. Coba anda pikirkan. Sistem mana yang terbaik untuk kemajuan bangsa Indonesia? Mau ulangi sejarah buruk itu, atau mau belajar dari kesalahan orang lain dan memberikan kebebasan, sambil mendidik rakyat berdiskusi dewasa? Atau harus menunggu anda sendiri menjadi korban, baru berani protes, seperti Pastor Niemöller?
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto


[Ini versi bahasa Inggrisnya]:

First they came…

First they came for the communists,
and I didn't speak out because I wasn't a communist.
Then they came for the trade unionists,
and I didn't speak out because I wasn't a trade unionist.
Then they came for the Jews,
and I didn't speak out because I wasn't a Jew.
Then they came for me
and there was no one left to speak out for me.

- Martin Niemöller

https://en.wikipedia.org

Monday, July 08, 2019

Pelanggaran UU ITE di Kasus Hina Jokowi Mumi

Mungkin perlu dipasang spanduk baru di bandara:

*** "Selamat datang di Indonesia! Hati-hati kalau bicara. Tidak ada hak bicara bebas di sini. Kalau anda menghinakan orang lain, bisa masuk penjara!" (1)

Catatan Kaki (1): Definisi "penghinaan" terserah pemerintah, jaksa dan hakim. Jangan minta contohnya. Setiap hari bisa berubah, tergantung siapa yang membuat tuntutan. Lakban untuk tutupi mulut dijual di tempat pengambilan bagasi. Selamat berlibur di Indonesia. Awas, jangan banyak bicara ya! ***

Korea Utara sudah sangat pandai membuat rakyatnya takut bicara. Di sana berhasil menciptakan rakyat yang "rukun" yang tidak pernah menhinakan presiden, atau pejabat, atau organisasi. Jangankan menghinakan, mengritik saja tidak berani. Orang yang buka mulut bisa hilang, masuk penjara bertahun-tahun, tanpa sidang. Indonesia masih lebih baik. Ada kesempatan masuk pengadilan sebelum masuk penjara. Tapi apa pernah ada yang kena pasal UU ITE lalu TIDAK masuk penjara?? Apa anggota DPR mau studi banding ke Korea Utara untuk belajar cara2 yang paling efektif membuat rakyat ketakutan pada pemerintah? Kalau mau meniru negara kediktatoran, kenapa tidak langsung belajar pada ahlinya?
-Gene Netto

3 Saksi Ahli Kuatkan Dugaan Pelanggaran UU ITE di Kasus Hina Jokowi Mumi
Sabtu 06 Juli 2019, Erliana Riady - detikNews
https://news.detik.com

PPP Minta Bareskrim Usut Akun Zara Zettira yang Disebut Hina Pesantren
Jumat 05 Juli 2019, Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
https://news.detik.com

Sunday, July 07, 2019

Ayah Cabul Masih Gauli Putrinya Dua Hari sebelum Melahirkan

Setiap hari ada berita seperti ini. Anak Indonesia diperkosa oleh bapak kandung, bapak tiri, kakak kandung, kakak tiri, dan sebagainya. Orang yang paling dekat adalah yang paling bejat. Dalam berita pemerkosaan yang saya ingat di negara maju, seorang perempuan dewasa diperkosa di tempat parkir pada malam hari. Di banyak kota, perempuan dewasa takut pergi sendiri ke tempat yang sepi.

Beda di Indonesia. Yang diperkosa umumnya anak kecil. Pelakunya malah bapak sendiri, bapak tiri, kakak kandung, kakak tiri, dan orang2 lain yang paling dekat. Seharusnya orang itu yang paling kuat rasa kasih sayangnya dan rasa tanggung jawab untuk melindungi. Malah ada terlalu banyak kasus di mana pria dewasa melihat anak yang tidak berdosa di rumahnya, dan berpikir, "Wah, kesempatan nih!!"

Secara rutin, orang Indonesia ceritakan kemuliaan "budaya timur", yang penuh dgn rasa santun, sopan, dan "kepedulian tinggi terhadap keluarga". Beda sama orang bule yang jelek, katanya, yang hidup secara independan. Jadi kalau "budaya timur" itu memang ada, dan keluarga memang lebih penting di sini, kenapa ada begitu banyak anak Indonesia yg menjadi korban pemerkosaan dari anggota keluarganya sendiri? Ada yang bisa jelaskan? Jangan-jangan budaya timur yang dibanggakan itu hanya sebuah "topeng" untuk menutupi kondisi yang sebenarnya.
-Gene Netto

Ayah Cabul Masih Gauli Putrinya Dua Hari sebelum Melahirkan
https://www.viva.co.id

Thursday, July 04, 2019

Kenapa Sebagian Orang Barat Membenci Islam?

[Pertanyaan]: Maaf Pak Gene kira2 apa yg menyebabkan mereka membenci Islam????

[Gene]: Banyak manusia membenci yang berbeda dari mereka. Ada orang kulit putih yg benci kulit hitam, dan sebaliknya, ada Muslim yang benci Kristen, dan sebaliknya, ada orang miskin yang benci orang kaya, dan sebaliknya, ada kapitalis yang benci komunis, dan sebaliknya, ada orang kurus yang benci orang gemuk, dan sebaliknya. Mau ratusan contoh yang lain?

Anda bertanya, "Kenapa mereka benci Islam?" Pertanyaan saya, kenapa anda heran, ketika dunia penuh kebencian, dan asal usul manusia dimulai dengan pembunuhan: anaknya Nabi Adam membunuh adik kandungnya sendiri! Kenapa heran kl ada orang barat yg membenci Islam? Kebencian sangat normal di dunia ini. Tidak ada zaman yg bebas dari kebencian. Kita tidak bisa hilangkan kebencian. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha utk menguranginya, dan kontrol diri sendiri agar kita tidak ikut menyebarkan. Ketika orang lain membenci suatu kaum tanpa dasar, kita perlu tenangkan dan mendidik dia.

Membahas kebencian terhadap Islam sekarang, ada banyak faktor. Utamanya, ada peran media massa. Ketika Muslim membunuh, dicap teroris Muslim. Ketika orang non-Muslim membunuh, dicap "pembunuh" saja. Di barat, Islam dinilai "asing dan berbeda". Gampang menjadi sasaran kebencian. Dulu orang Yahudi juga dibenci dgn cara yang sama. Dan orang Cina. Dan banyak yg lain.

Maaf, banyak orang Indonesia tidak tahu sejarah dunia. Dulu orang Yahudi di Eropa harus tinggal di "penjara terbuka" di pinggir kota. Orang Yahudi dianggap pengganggu. Banyak Yahudi dibunuh, disiksa, dan orang Kristen tidak mau berurusan dengan mereka. Kenapa? Mereka membunuh Yesus. Jadi dibenci. Dulu di Amerika, orang Cina dibenci. Mereka datang utk kerja di pembangunan rel kereta api dan tambang. Pekerja Cina lebih murah. Orang kulit putih yang miskin jadi pengangguran. Kebencian terhadap Cina menjadi besar sekali.

Ada banyak contoh yang lain. Kebencian terhadap kaum yang "asing dan berbeda" sudah ada sejak dulu. Sekarang giliran Islam. Jadi jangan kaget melihat kebencian terhadap Islam. Hadapi dengan tenang, dan contohkan kemuliaan Islam. Orang yang sedang mencari kebenaran akan terpengaruh kalau mereka melihat kebaikan, kebenaran, kejujuran, kemuliaan, dan kasih sayang yang dicontohkan oleh orang Muslim yang benar-benar mengikuti Rasulullah SAW.
-Gene Netto

Mau Hidup di Negara Demokrasi atau Negara Kediktatoran?

Negara2 kediktatoran punya ciri2 yang sama. Tidak ada kebebasan bicara. Kritikan terhadap pemerintah (termasuk satire, ucapan konyol yang spontan, dan penghinaan) dianggap ancaman terhadap negara karena bisa berikan wawasan yang tidak diinginkan kepada rakyat, dan membuat rakyat meragukan kebenaran pemerintah. Penghinaan terhadap pemimpin dilarang. (Definisi "penghinaan" terserah pemerintah). Dan orang yang sebatas "menghina" pemimpin diancam penjara bertahun-tahun, sama seperti pembunuh, pemerkosa dan teroris.

Sebaliknya, di negara2 demokrasi, di mana pemimpin diangkat dari rakyat untuk melayani rakyat, ada ciri2 yang sama juga. Ada kebebasan bicara. Kritikan terhadap pemimpin dan pemerintah diizinkan secara bebas. Pemimpin dianggap pelayan, dan bukan mahluk suci. Rakyat yang mengritik dan menghinakan tidak kena ancaman penjara. Hal seperti "pencemaran nama baik" sulit dimenangkan di pengadilan karena hak bicara bebas adalah hak mutlak. Dan kerugian nyata dari pencemaran nama tersebut harus dibuktikan oleh korban. (Dipecat dari pekerjaan, bisnisnya bankrut, dsb.)

Turki sudah menunjukkan ciri2 negara kediktatoran di bawah kepemimpinan Erdogan. Anehnya, banyak orang Muslim di Indonesia sibuk memujinya. Hanya karena "kebaikan" yang dia lakukan. Seorang diktator juga bisa berbuat baik. Tapi kebaikan itu tidak menghapus ketidakadilan yang dia lakukan.
-Gene Netto

Politisi Oposisi Turki Terancam Bui 17 Tahun karena Postingan 6 Tahun Lalu
Sabtu 29 Juni 2019, Rita Uli Hutapea - detikNews
Istanbul - Politisi oposisi Turki, Canan Kaftancioglu telah ditangkap atas serangkaian postingan di Twitter yang mengkritik pemerintah dan Presiden Recep Tayyip Erdogan.
https://news.detik.com

Tuesday, July 02, 2019

Kebencian Terhadap Muslim Meningkat Di Negara Barat

Di negara barat sekarang, kebencian terhadap orang Muslim meningkat di mana-mana. Data dari polisi di Inggris menunjukkan bahwa sepanjang 2017-2018, ada 94 ribu kasus kejahatan berdasarkan agama (hate crime) di Inggris. Lebih dari 50% dari kasus itu menimpa orang Muslim. Dan jumlah kasus ini meningkat dua kali lipat dari 5 tahun yang lalu. Dan ini hanya di Inggris, belum Eropa, Amerika, dll.
-Gene Netto

Religious Hate Crime Rises 40% In England And Wales – With More Than Half Directed At Muslims
Lizzie Dearden Home Affairs Correspondent Tuesday 16 October 2018
Religious hate crime has rocketed by 40 per cent in a year across England and Wales, as the number of offences recorded hits a record high. Statistics released by the Home Office showed more than half of religiously-motivated attacks in 2017-18 were directed at Muslims and the next most commonly targeted group was Jewish people. Police recorded a total of 94,098 hate crime offences – more than double the total five years ago – and all categories saw a rise.
https://www.independent.co.uk

Monday, July 01, 2019

Mohon Bantuan Dana 15 Juta

Assalamu’alaikum wr.wb. Saya perlu dana 15 juta utk format buku saya menjadi ebook utk dijual di Amazon. Buku itu, "Mencari Tuhan, Menemukan Allah", membandingkan ajaran agama Kristen dan Islam. Banyak orang yang baca draft masuk Islam. Sekarang siap disebarkan ke seluruh dunia sebagai ebook dalam bahasa Inggris, tapi belum ada dana utk formatting. Kemarin saya sudah bayar satu orang, tapi setelah diformat beberapa kali, masih ada banyak masalah. Saya dapat perusahaan profesional yang format ebook. Perkiraan biaya minimal adalah 10 juta.

Apa ada yang bisa bantu saya dengan pinjman 15 juta utk biaya itu, dan utk bayar webdesigner utk rapikan website saya juga? Kalau bisa bantu dgn pinjaman, tolong kirim pesan pribadi kepada saya, atau email ke genenetto@gmail.com.
Kalau ada yang mau bantu dgn sumbangan kecil saja, silahkan kirim sedekah atau zakat ke sini: BCA a/n Eugene Francis Netto, No. 6000340888, KCP Soepomo. (Rekening Pribadi)

Mohon disebarkan kepada teman2 yang mampu, yang mungkin bersedia membantu saya dgn tugas dakwah ini. Terima kasih banyak.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Gene Netto

Cabuli 34 Murid, Guru Matematika Divonis 9 Tahun Penjara

Seorang guru manfaatkan posisinya untuk cabuli dan sodomi 34 anak. Jaksa menuntut 12 tahun. Tapi hakim baik hati, dan hanya kasih 9 tahun saja. 9 tahun x 12 bulan = 108 bulan. 108 bulan dibagi 34 = 3 bulan per korban. Bayangkan kalau anda anak disodomi gurunya, lalu dipenjarakan utk 3 bulan.

Memang tidak begitu cara menghitung sebuah hukuman. Maksud saya, seorang guru yang sodomi 1 murid saja bisa kena hukuman 9 tahun. Jadi, kalau mau sodomi murid, lebih baik sodomi sebanyak-banyaknya, untuk dapat kenikmatan yang maksimal. Soalnya kalau hanya 1 siswa saja, hukumannya bisa sama dgn 34 atau 100 siswa. Jumlah tidak menjadi persoalan di pengadilan ternyata.

Saya juga tidak paham logika hakim. Hal yang "meringankan" vonisnya adalah pelaku belum pernah dihukum. Jadi kalau belum pernah ditangkap karena sodomi anak bertahun-tahun, maka itu dianggap hal yang "baik"? Sedangkan seorang guru yang sodomi 1 anak, dipenjarakan, keluar, sodomi lagi, dianggap buruk, padahal korbannya cuma 2? Bagi saya tidak masuk akal. Pelaku juga mengakui perbuatannya. Tapi ada 34 saksi. Siapa yang peduli kalau dia mengaku? Kalau teroris bunuh 34 orang dan polisi sudah punya bukti lengkap, masa diringankan hukumannya hanya karena mengaku? Dan kalau tidak mengaku, hukumannya berat? Logika dari mana itu?

Lebih aneh lagi, diringankan vonis karena "berjanji" tidak akan mengulangi perbuatannya. Sudah diulangi 34 kali sebelum ditangkap. Ketika menjadi guru, ada kontrak kerja, dgn pasal2 berjanji taat pada aturan, dsb. Dia sudah ingkari janjinya dalam kontrak itu. Ketika ditangkap karena sodomi siswa, tiba2 janjinya punya makna kuat dan vonis hakim diringankan? Kenapa hakim minta perjanjian dari orang yang telah ingkari perjanjiannya 34 kali?! Sungguh tidak logis. Kasihan anak Indonesia! Mereka patut dapat kondisi negara yang lebih berkualitas.
-Gene Netto.

Cabuli 34 Murid, Guru Matematika di Bandung Divonis 9 Tahun Penjara
https://www.merdeka.com

Sunday, June 30, 2019

13.000 Anjing Disembelih Setiap Bulan di Solo

Kota Solo masuk berita di Inggris. Katanya 13 ribu anjing dibunuh setiap bulan untuk sediakan daging anjing utk konsumen di Solo. Ada video yang menunjukkan anjing disembelih, dan digantung agar darah keluar, saat anjingnya masih hidup. Anjing2 lain nonton sambil menunggu dibunuh juga. Katanya karena permintaan daging anjing tinggi, banyak anjing diculik dari kota2 lain dan dibawa ke Solo untuk dibunuh.

City Slaughtering 13,000 Dogs A Month To Match Demand For Animal's Meat
More than 13,000 dogs are slaughtered each month in an Indonesian city to keep up with the demand for the animal’s meat.
Horrific video footage captured in slaughterhouses in the Central Javan capital city of Surakarta, known as Solo, shows the animals being beaten and strung up to bleed out while still conscious.
https://www.independent.co.uk

Thursday, June 27, 2019

Foto Dua Anak: Satu Divaksinasi, Satu Tidak



Foto ini asli dari tahun 1900. Kedua anak ini di Inggris kena cacar variola (smallpox) pada hari yang sama dari sumber yang sama. Yang kiri tidak divaksinasi. Yang kanan sudah divaksinasi waktu masih menjadi bayi. Setelah kena cacar variola (yang sangat mematikan, dan merusak tubuh manusia), anak yang sudah dapat vaksinasi terbukti dapat perlindungan yang kuat.
Pada tahun 1980, WHO menyatakan smallpox sudah musnah di dunia, dan tidak ada kasus lagi sejak itu. Penyakit polio hampir dimusnahkan juga, tapi karena ada beberapa wilayah yang tidak berhasil memberikan vaksinasi kepada semua bayi, masih terjadi beberapa kasus sampai sekarang.
-Gene Netto

Does This Photograph Show Two Boys, One Vaccinated, One Not, Who Were Exposed to Smallpox?
Dan Evon Published 13 June 2018 - This is a genuine photograph that was taken in the early 1900s by Dr. Allan Warner of the Isolation Hospital at Leicester in the UK. Warner photographed a number of smallpox patients in order to study the disease.
https://www.snopes.com

Pesantren, Penjara, dan Dufan

Kemarin ada teks dari pengasuh yang gambarkan kondisi di pesantren. Saya gantikan kata "pesantren" menjadi "penjara", dan sisa teks tetap masuk akal. Pengasuh terkesan spt penjaga penjara, yg selalu siaga, karena anak sering kabur, bahkan lewat lorong sampah. Tapi banyak orang menjadi marah dengan saya, bukan marah dgn pengasuh yang gambarkan suasana pesantren mirip penjara.

Banyak orang gagal paham jadi saya mau coba pakai contoh lain. Dalam teks ini, saya ganti "Dufan" menjadi "Penjara Ancol" dsb. Dan kalau teks itu tidak masuk akal lagi, kita harus menyimpulkan bahwa Dufan tidak bisa disamakan dengan penjara. Yang perlu dipikirkan adalah kenapa pengasuh bisa gambarkan suasana penjara di pesantren? Dan kenapa dianggap normal dan wajar? Coba baca:

>>>> Hadiah liburan akhir tahun kami fokuskan ke tempat tahanan yang tidak jauh dari rumah. Pilihan banyak, tapi kami tetapkan ke tempat yang penuh keajaiban, sarat kenangan, dan penuh pesona. Hanya ada satu tempat dan namanya Penjara Ancol! Kami sekelurga menuju Penjara Ancol naik taksi. Anak saya yang kedua yang berumur 6 tahun serius menyimak penjelasan ibunya, karena ini adalah wisata yang perdana ke Penjara Ancol.

Akhirnya kami sampai di Penjara Ancol. Saya menuju loket ticket masuk dan memesan 4 ticket. Harga ticket untuk satu napi adalah Rp 180.000,00. Demi membahagiakan keluarga, saya rela mengeluarkan uang sebesar Rp 720.000,00 untuk menjadi napi satu hari. Kami berjalan ke pintu gerbang masuk Penjara Ancol dan menyempatkan untuk mengambil beberapa foto.

Kami masuk kawasan Penjara Ancol dengan disambut suara musik khas Penjara Ancol. “Selamat datang di Penjara Ancol, penjara penuh keajaiban”, kata saya kepada istri dan kedua anak saya. “Silakan menikmati wahana apa saja yang ada di Penjara Ancol”. Terlihat antrian yang cukup panjang di wahana Tahanan Kota meskipun hari masih relatif pagi. Wahana mirip tempat interogasi inilah yang selalu setia menyambut kedatangan napi baru di Penjara Ancol.<<<<<

Bisa lihat BEDANYA? Teks ini yg tidak masuk akal lagi. Anak dibawa ke penjara karena membuatnya gembira? Teks kemarin tetap masuk akal karena gambarkan pengasuh yang melarang, mengancam, menghukum, dan jaga CCTV karena anak sering kabur setelah bayar utk masuk! Di pesantren normal, di penjara normal. Kenapa anak yang bayar utk masuk Dufan tidak kabur lewat lorong sampah? Kenapa kabur dari pesantren dianggap "normal"? Kenapa pengasuh pesantren harus pantau CCTV supaya tidak ada yang kabur? Coba anda jelaskan KENAPA ulasan ttg pesantren mirip dgn penjara. Dan coba membuka hati anda untuk berani berpikir dan bertanya, "Apakah ini sistem pendidikan yang terbaik untuk 3 juta santri di Indonesia?" Semoga bermanfaat bagi orang yang ingin merenung.
-Gene Netto

[Sumber teks asli]: Liburan Akhir Tahun yang Berkesan di Dunia Fantasi Ancol https://bit.ly/2FBx9hj

Pesantren "Fokus Pada Agama". Sahabat Belajar Apa Dari Nabi SAW?

Sahabatnya Rasulullah SAW menjadi ahli agama dan hafiz Quran, karena belajar di "pesantren" Nabi (belajar di masjid). Tapi ilmu agama itu hanya menjadi fondasi. Mereka belajar ilmu2 yang lain, untuk menjadi ahli di bidang itu juga. Bukan hanya "fokus pada agama". Rasulullah SAW mengajarkan mereka tentang topik seperti hukum negara, pemerintahan, ekonomi, pajak, keuangan, urusan sosial, anak, pendidikan, bisnis, perjanjian, pertanian, hak hewan, hubungan antar negara, aturan perang, kesehatan, pengobatan, kebersihan, moralitas, kebaikan hati, dll.

Sekarang, anak belajar di pesantren dan dianggap HP, tivi, internet dll. (dunia digital) akan "mengganggu". Harus fokus pada agama. Bukannya Rasulullah SAW dan para sahabat juga "fokus pada agama"? Tetapi ternyata mereka tetap belajar semua ilmu yg lain. Bagaimana mereka bisa menjadi ahli agama dan hafiz Qur'an, sedangkan mereka juga kerja utk dapat nafkah keluarga, dll.?

Masa depan adalah dunia digital. Sayangnya, semua kemajuan dunia berasal dari orang non-Muslim. Listrik, mobil, pesawat, HP, aplikasi, komputer, internet, dan ratusan barang lain diciptakan oleh non-Muslim. Lalu anak Muslim disuruh abaikan dunia digital karena akan ganggu proses menjadi "ahli agama". Ketika lulus, mereka punya ilmu fiqih dan tafsir. Bisa ceramah terus ttg "kemenangan di surga bagi orang yang beriman". Sayangnya, banyak ceramah membosankan jadi ribuan bapak setengah sadar atau tidur pada saat khutbah jumat. Manfaatnya apa?

Kemajuan umat Islam akan berasal dari mana kalau pemuda Muslim hanya mengerti agama? Saya sedih ketika diskusi dengan ustadz muda yang lulusan pesantren dan hafiz Quran. Ketika membahas teknologi, mereka berkomentar, "Saya tidak mengerti." Membahas ilmu2 dunia yang lain, dapat jawaban yang sama terus.

Ustadz yang gaptek harus membina umat Islam yang hidup di dunia digital. Mereka sulit "mendidik" umat Islam karena tidak mengerti sendiri. Orang non-Muslim melihat kita dan tidak mau masuk Islam karena tidak terlihat ada manfaatnya. Anak di negara maju dididik untuk berpikir sendiri dan banyak bertanya. Anak Muslim dididik untuk meneruskan saja tanpa berpikir sendiri.

Para sahabat Rasulullah SAW disiapkan utk berkuasa di dunia dan melihat ke masa depan. Santri di Indonesia disiapkan utk jawab pertanyaan2 yg sama ttg fiqih selama 50 tahun dan selalu melihat ke belakang. Kapan umat Islam akan bangkit, bersatu, dan mulai berkuasa di dunia ini? Rasulullah SAW sudah kasih contoh dengan menyiapkan para sahabatnya untuk berkuasa dan sukses di semua bidang. Kenapa kita takut mengikutinya? Semoga bermanfaat sebagai renungan.
-Gene Netto

Pesantren atau Penjara? Kenapa Mirip?

Kemarin ada komentar dari seorang pengurus pesantren yang setuju HP dihancurkan. Saya pahami komentarnya, dan setuju HP ada banyak buruknya. Tapi saya juga lihat dari sisi pendidikan. "Melarang" tidak sama dengan "mendidik". Anak bisa dilarang melakukan suatu hal, dan diancam. Tapi bagaimana ketika kita tidak hadir utk melarang dan mengancam? Apa mereka sudah dididik untuk mengurus diri sendiri?
Saya mengubah beberapa kata di dalam komentarnya. Kata "pesantren" diganti menjadi "penjara". "Santri" menjadi "napi". "Pengurus" menjadi "penjaga". Coba berpikir kenapa begitu mudah ganti lokasi dari pesantren ke penjara, dan kalimat yang sama tetap masuk akal. Suasana di dalam kedua tempat itu kenapa mirip? Apa itu pendidikan terbaik untuk para santri Indonesia?
-Gene Netto

Sudut Pandang Seorang Penjaga Penjara (sebelumnya, pengurus pesantren):

Kemaren saya janji jelaskan mengapa napi selama masa tahanan dilarang membawa hape. Saya bergelut langsung dengan dunia penjara dan menangani langsung. Hape di tangan napi yg dalam usia muda itu lebih banyak mudhorotnya daripada manfaatnya. Menjadikan napi banyak membuang waktu daripada beraktifitas lain yg lebih bermanfaat.

Seringkali hape yg tersita oleh penjaga isinya video2 dan gambar2 vulgar, grup2 WA yg berkonten pornografi, history browsing situs2 porno. Di penjara kami, ketika pendaftaran napi baru, disosialisakan kepada napi dan wali napi apa saja peraturan penjara dan apa hukumnya.Termasuk larangan membawa hape dengan disita dan tidak dikembalikan, wali napi juga menandatangani perjanjian di surat bermaterai 6000.

Pertama dulu, hape disita dikembalikan ketika napi boyong, tapi hal itu tidak efektif, napi tetap tidak takut bawa hape. Toh nanti dikembalikan. Eh, napi bawa hape itu kucing-kucingan lho ma penjaga, pintar menyembunyikan. Bahkan ada yang ngambil 4 hape karena berkali2 hapenya kesita. Lama2 wegah juga, tidak bikin jera, penjaga jadi bertanggungjawab merawat hape bahkan bertahun2.

Percayalah, napi itu anak yg kreatif, lebih pintar cari jalan ke luar penjara meskipun penjara kami dipasangin banyak CCTV. Pernah, dengan make sarung yg dijemur di lantai 4, mereka sambung2 dibuat untuk turun dari lantai 4, cara yg klasik tapi berhasil. Terinspirasi dari Rapunzel kali. Itu masih biasa, ada yg luar biasa lagi keluar dari penjara lewat cerobong sampah, padahal cerobong sampah itu diameternya gak sampek semeter. Dan tingginya 20 meteran. Kemudian hape yg disita didiamin aja, cuman disimpan.

Akhirnya hape yg disita dihancurin.Ya di hadapan napi abis nariyahan atas burdahan gitu. Itu bagianku haha. Penjaga ya gak berani lah, wegah ngadepin napi yg revenge ataupun wali napi yg komplain. Hapenya yg kesita gak main2 lho, hape baru dan update semua... Iphone 7, S5 gitu. Ancur semua...

Mubadzirkan barang? Iya, tapi..

[Semoga bermanfaat sebagai renungan. -Gene Netto]

Guru Pesantren Hancurkan Belasan Ponsel Murid dengan Palu

Pertanyaan saya: Berapa banyak siswa yang simpan aplikasi Al-Quran, Mpeg3 murrotal Al-Quran, Aplikasi Hadiths, dan link ke website ilmu agama Islam yang sering diakses, dalam puluhan HP yang dihancurkan itu? Guru pesantren teriak "Allahu Akbar" lalu hancurkan HP berisi aplikasi Al Quran? Menurut saya, ini memberikan pelajaran yang jelas kepada siswa. Pelajarannya begini:

"Tempat ini milik saya, bukan milik kita bersama. Anda tidak punya kepemilikan apapun di lokasi ini. Anda hanya diizinkan melintas saja, dan saya tetap berkuasa penuh. Saya membuat semua aturan. Anda dilarang punya pendapat yang berbeda ttg aturan itu. Saya melarang HP. Saya menilai jelek. Saya tidak peduli kalau ada manfaatnya. Saya berkuasa. Anda orang yang lemah. Saya melihat pelanggaran. Saya menyelesaikan dengan gunakan kekerasan dan menghancurkan barang berharga. Saya tidak peduli orang tua anda hemat uang berapa lama untuk beli HP bagi anda, agar anda bisa dengarkan murrotal Al Quran di HP. Saya yang berkuasa. Saya tidak perlu mendidik. Diam dan taat saja! Anda lemah dan tidak punya kekuasaan. Saya mau merusak. Kalau anda tidak suka, pergi saja!"

Bagi saya, kejadian ini bukan bagian dari "pendidikan" tapi malah merusak sistem pendidikan, dan berikan pelajaran yang sangat buruk kepada siswa ini. Ketika siswa itu menjadi dewasa, dan berkuasa di suatu tempat (sekolah, kantor, masjid, komunitas), mereka akan ingat pelajaran ini dan berbuat yang sama terhadap orang lemah di bawah kekuasaan mereka. Kalau sudah berkuasa, buat apa peduli pada kemauan dan haknya orang di bawah? Boleh merusak dan menghancurkan semaunya saya mereka sudah berkuasa! Merusak HP merupakan suatu pilihan. Bukan suatu keharusan. Dan pilihan itu malah merusak cara berpikir siswa karena berikan pelajaran yang buruk ttg kekuasaan.
-Gene Netto

VIDEO: Guru Hancurkan Belasan Ponsel Murid dengan Palu
Senin, 24 Juni 2019 Beredar video guru di sebuah pesantren 'marah' saat mengetahui banyak santri membawa ponsel (smartphone). Dari rekaman tersebut, ada belasan ponsel di jejerkan di sebuah meja. Guru yang marah lantas mengambil palu dan memukul belasan ponsel tersebut. Tribun Medan masih mencari tahu di mana lokasi kejadian.
https://jateng.tribunnews.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...