Search This Blog

Labels

alam (8) amal (97) anak (324) anak yatim (117) bilingual (22) bisnis dan pelayanan (6) budaya (8) dakwah (89) dhuafa (18) for fun (12) Gene (223) guru (69) hadiths (9) halal-haram (24) Hoax dan Rekayasa (34) hukum (69) hukum islam (51) indonesia (593) islam (561) jakarta (34) kekerasan terhadap anak (378) kesehatan (100) Kisah Dakwah (12) Kisah Sedekah (11) konsultasi (13) kontroversi (5) korupsi (28) KPK (16) Kristen (14) lingkungan (19) mohon bantuan (40) muallaf (52) my books (2) orang tua (11) palestina (34) parenting (2) pemerintah (138) Pemilu 2009 (63) pendidikan (527) pengumuman (27) perang (10) perbandingan agama (11) pernikahan (11) pesantren (48) politik (127) Politik Indonesia (53) Progam Sosial (60) puasa (37) renungan (196) Sejarah (5) sekolah (95) shalat (10) sosial (324) tanya-jawab (15) taubat (6) umum (13) Virus Corona (24)

Popular Posts

Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

28 January, 2026

Rakyat Indonesia Perlu Belajar Resusitasi Jantung Paru (RJP - CPR)

 

Apa ini bentuknya Resusitasi Jantung Paru (RJP - CPR) yang berlaku di Indonesia? Anak yang tenggelam dikocok-kocok dalam posisi terbalik, dan diharapkan bisa bernafas kembali? Dan kalau tidak bernafas, dinyatakan tewas saja? Musibah, dan takdir Allah, dan kami tidak menyangka? Dengan begitu banyak anak Indonesia yang tenggelam setiap tahun, pemerintah bisa saja MENDIDIK rakyat tentang tata cara melakukan RJP/CPR dengan benar, untuk selamatkan banyak anak yang tenggelam. Tetapi sepertinya tidak ada yang peduli. Ilmu penting itu hanya diajarkan kepada rakyat di negara maju saja, agar hanya mereka yang boleh selamatkan anak2nya. Di Indonesia, tidak perlu. Biarkan saja anak Indonesia tenggelam terus. Asal selalu “anaknya orang lain” dan bukan anak kita yang  tewas, betul? Kematian itu takdir. Selesai. Buat apa berusaha selamatkan anak Indonesia? 

32). Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” 
(QS. Al Maidah: 32)

Mungkin ayat ini hanya boleh berlaku untuk orang kafir di negara maju. Mungkin para pemimpin agama dan pemerintah di Indonesia anggap 200 juta orang dewasa yang Muslim tidak perlu tahu caranya selamatkan nyawa anak Muslim yang tenggelam...
-Gene Netto 

Seorang anak berusia 13 tahun nyaris tewas tenggelam di kawasan Dermaga Tanjung Riau, Batam
https://www.instagram.com/reels/DT7NX4_gR48/ 

Kronologis Anak 13 Tahun di Batam Nyaris Tewas saat Berenang di Dermaga Tanjung Riau Sekupang
https://batam.tribunnews.com

27 January, 2026

Tidak Sah Kalau Bilang “Saya Dulu Dipukul Di Sekolah Dan Sukses Sebagai Dewasa”

[Komentar]: Di SMP saya dulu, tahun 1981, Kepala Sekolahnya memutar cincinnya dulu kalau mau menempeleng muridnya. Kalau ada muridnya berkelahi, dikasih sarung tinju, dan diadu tinju sampai kecapekan. Habis itu disuruh berdamai. Tiap reuni kami ketawaan mengingat masa2 itu dan berterima kasih dididik dengan cara spartan seperti itu. Gak peduli dibilang kejam dan brutal.

[Gene]: Assalamu’alaikum wr.wb. Mohon maaf pak, tetapi ada masalah dengan pola pikir itu. Kita tidak bisa ambil dua versi dari anak yang sama (misalnya 2 anak kembar), lalu satu dihajar terus di sekolah, dan satu lagi dikasih motivasi dan semangat, dan tidak pernah alami kekerasan. Lalu setelah 5, 10, dan 20 tahun, kita cek lagi dan membuat analisis. 

Seorang bapak bilang “Saya dulu dihajar terus dan saya sukses! Hajar anak bukan masalah!” Coba kita kaji lebih dalam. Kalau 1.000 anak dihajar, lalu 300 berkumpul saat reuni dan merasa “sukses”, bagaimana dengan 700 orang yang lain? Apa kondisi hidup mereka diketahui? Sukses juga? 

Lalu kita lihat, dari 1.000 anak itu, berapa persen yang bercerai, selingkuh, kecanduan narkoba, hajar anak dan istri di rumah, sering pindah kerja, merasa depresi, berada di penjara, atau bunuh diri? Dan apa persentase dalam semua hal itu setara dengan rakyat secara umum? Dari penelitian seperti itu, baru kita bisa dapat gambaran. Secara umum, manusia selalu fokus pada yang baik dan berhasil. Contohnya, anak lulus pesantren sebagai hafiz Quran dan menjadi pejabat. Pasti dipamerkan terus. Orang lain, yang ditangkap polisi, akan disembunyikan. Orang lain yang menjadi kecanduan narkoba dan tewas tidak akan dibahas. Dan kondisi mereka itu tidak akan dikaitkan dengan pengalamannya pada waktu kecil. 

Jadi kalau bapak dulu dihajar dan sekarang merasa “sukses”, dan berikan nilai keberhasilan sebagai 8/10 dalam kehidupan, bagaimana kalau saya bilang pengukuran yang sebenarnya BUKAN 1-10 saja, tetapi malah bisa jadi 1-100? Hanya saja, bapak tidak sadar ada penghitungan sampai 100 itu. Dianggap 10 sudah tinggi dan 8/10 sudah sangat bagus sekali. Tetapi kalau seandainya dihitung dari 100, maka 8/100 sangat rendah (walaupun memuaskan). Artinya, coba berpikir tentang APA yang seandainya bisa dicapai kalau bapak tidak pernah dihajar dulu dan malah dikasih motivasi? Apa hasilnya akan sama saja? Atau jauh lebih besar?  

Pernah ada guru yang berdebat dengan saya. Seorang mantan murid berterima kasih, dulu sering dihajar, dan sekarang berhasil sebagai polisi. Dia memukul tersangka dan memaksa mereka mengaku. Karena banyak tersangka mengaku, polisi itu dapat prestasi. Guru tersebut ikut bangga. Saya jelaskan masalahnya, tetapi guru itu tidak mau peduli. Katanya, orang yang tidak bersalah tidak mungkin mengaku. Pasti itu kriminal dan “dibantu” mengaku. Baik guru itu, maupun muridnya, merasa dalam kebenaran, dan tidak ingin melihat dari sisi tersangka yang takut dibunuh jadi mengaku, walaupun tidak bersalah. 

Ini hanya satu contoh dari berbagai macam masalah yang bisa muncul kalau anak dididik dengan kekerasan. Sudah ada data dari penelitian di seluruh dunia. Hasilnya dari kekerasan itu buruk terus, untuk BANYAK anak (tidak semuanya). Ada banyak yang alami efek yang luas di usia dewasa seperti menjadi depresi, pakai narkoba, DO dari sekolah atau universitas, selingkuh, sering cerai, bunuh diri, dll. Ada pengaruh dari pola pendidikan masa kecil. Tetapi kebanyakan orang tua tidak belajar tentang psikologi pendidikan, jadi tidak tahu. Dan banyak guru di sini juga tidak mau tahu.

Memukul anak BUKAN cara yang benar untuk mendidik anak. Kalau memang benar, dijamin ada matakuliah di Fakultas Pendidikan berjudul, “Tata Cara Hajar Anak Demi Hasil Pendidikan Yang Baik: 4 SKS.” Ternyata, tidak ada, di seluruh dunia!!! Coba berpikir kenapa!

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto 



24 January, 2026

Bagaimana Rakyat Indonesia Bisa Menjadi Cerdas?

[Komentar]: Saya tertarik dengan paradigma korupsi rendah di negara maju, disebabkan sistem pendidikan bagus. Memang cukup janggal, Indonesia dengan budaya dan pembelajaran keislaman yang kental tapi justru terpuruk dalam moral, khususnya kejujuran. Saya tidak memiliki gagasan tentang sebuah sistem untuk memperbaiki semuanya karena ternyata faktor-faktornya komplit dan bikin pusing.

[Gene]: Assalamu’alaikum wr.wb. Tidak rumit. Tidak sulit. Tidak perlu bikin pusing. Sistem pendidikan yang bagus sudah ada di banyak negara. Contohnya, Finlandia, Denmark, Norwegia, Belgia, Jerman, Selandia Baru, Kanada, dll. Tinggal ditiru saja. Di atas sistem pendidikan sekolah itu, negara2 maju sediakan puluhan jalur bagi orang dewasa untuk belajar di komunitasnya. Ada gedung milik pemda yang khusus untuk belajar di mana2 (mirip banyaknya gedung puskesmas di sini). Ada aula, ruangan kelas, ada guru2 yang digaji, ada kelas sukarelawan, ada perpustakaan di semua kecamatan, dll. jadi akses terhadap pelatihan, ilmu, buku, dan pendidikan ada di mana2 bagi rakyat, baik anak maupun dewasa. Ada kursus yang murah, ada yang gratis. Banyak orang yang sudah pensiun malah siap menjadi pelatih. Ada yang digaji, ada yang sukarelawan. Membangun komunitasnya masing2. Sistemnya sudah begitu sejak puluhan tahun yang lalu. Sekarang juga ada versi online, lewat situs dan aplikasi, yang gratis atau murah juga. Di sini juga bisa. Tinggal ditiru saja sistemnya. 

Tetapi daripada bangun sistem seperti itu, pemerintah dan pemda selalu lebih sibuk buka lahan kelapa sawit, dan tambang batu bara, dan tambang migas, dan seterusnya. Dan juga sibuk isi rekening masing2 dan mencari kekuatan bisnis dan politik bagi diri sendiri dan keluarganya, untuk 700 turunan. DARIPADA berusaha membuat rakyat cerdas. Kalau rakyat Indonesia bersatu, kita bisa berusaha bangun sistem pendidikan berbasis komunitas seperti di negara maju itu. Tidak harus datang dari atas, dari pemerintah. Dari bawah juga bisa. Misalnya, ada banyak masjid dengan aula yang hanya dipakai untuk acara pernikahan, dan selain itu kosong. Kenapa tidak ada puluhan macam kelas di situ setiap hari? Semua kantor kecamatan ada aula, yang sering kosong. Kenapa tidak ada banyak kelas yang tersedia di situ? Semua desa ada kantor desa, dan sering ada aula kecil. Bisa menjadi kelas.

Tetapi rakyat harus bersatu dulu dan semangat berjuang. Tidak cukup diam saja dan menunggu “orang lain” melakukan perubahan. Rakyat harus ada kemauan untuk maju, dan siap berjuang sendiri. Tetapi kebanyakan orang malas berjuang. Maunya duduk manis di rumah, menunggu orang lain membuat anaknya cerdas. Dan kalau sudah dewasa dan menikah dan punya anak, buat apa perlu “belajar lagi” dan menjadi lebih cerdas lagi? Sekolah buat anak, bukan dewasa. Yang dewasa bisa duduk di sofa, merokok, minum kopi, dan nonton bola dan sinetron dan gosip tentang tetangga. Lebih enak daripada baca buku dan menuntut ilmu. Betul? 

Selama rakyat tidak mau berubah, negara ini tidak akan berubah. Tetapi kalau rakyat siap berubah, negara ini bisa maju cepat dan kalahkan banyak negara lain. Seharusnya INI yang menjadi temanya dalam khutbah Jumat dan semua pengajian, setiap minggu, selama 3 tahun, sampai terjadi perubahan!! Malah semua ustadz sibuk membahas kemenangan di surga dan hukum fiqih. Dan rakyat berusaha duduk di belakang dan cari tembok agar lebih enak tidurnya. 
 
11. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
(QS. Ar-Ra’d 13:11)
 
Coba cari ayat yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum pemerintah mereka berubah dan membangun sistem pendidikan berkualitas, yang bisa dinikmati oleh rakyatnya tanpa perlu berjuang sendiri”. Apakah ada??? Tidak ada!!!! Kenapa? Karena kuncinya BUKAN di sisi pemerintah, tetapi berada di sisi “kemauan rakyat”. Jadi solusinya adalah: “Bangun. Bersatu. Dan Berjuang Bersama Teman2.” Dan kalau tidak mau, jangan salahkan pemerintah terus. Lihat diri sendiri di cermin, dan bertanya kenapa ilmu2 yang anda miliki tidak pernah diajarkan kepada orang lain!!

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah 
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto 



22 January, 2026

Kenapa Ada Banyak Konflik Antara Siswa Dan Guru Sekarang?

[Komentar]: Menurut saya, kekerasan boleh kalau masih dalam koridor mendidik. Murid jadi takut, termotivasi belajar, dan hormati gurunya. Zaman dulu, guru pakai kekerasan, murid tidak marah, tidak dendam. Zaman dulu, guru dihormati.

[Gene]: Mohon maaf, tetapi orang yang anggap kekerasan dibutuhkan untuk anak belum memahami ilmu pendidikan, ilmu psikologi anak, dan ilmu parenting. Manusia mendidik anjing, kuda, dan binatang lain dengan kekerasan agar binatang itu taat. Apa cocok untuk manusia juga, yang punya otak? Tidak perlu dibedakan antara anjing dan manusia? Faktanya, banyak anak yang dipukul gurunya akan membencinya. Anak lebih mudah belajar dari orang yang disayangi, atau orang yang dibenci??

Murid tidak marah zaman dulu? Sudah survei berapa juta murid? Sudah baca berapa ratus artikel penelitian? Sudah bicara dengan orang tua yang anaknya bunuh diri setelah menjadi korban bullying dari gurunya? Sudah bicara dengan anak yang menjadi depresi? Sudah bicara dengan anak yang kecanduan narkoba? Atau apakah mereka tidak penting, dan boleh dibuang ke laut?

Saya koreksi pernyataan anda: “Zaman dulu, anak DIPAKSA menghormati guru dan DIANCAM kalau tidak.” Lalu, ketika ancaman itu dihilangkan, anak yang tidak menghormati gurunya tidak perlu takut. Mereka tidak dipukul, ditendang, dan nilainya tidak diturunkan! Hasilnya: Banyak anak tidak mau hormati sebagian guru. Tetapi ada guru2 lain yang tetap dihormati. Jadi bedanya bukan pada anak zaman ini. Bedanya ada pada faktanya bahwa ancaman terhadap anak sudah dihapus, tetapi sikapnya dan ilmunya banyak guru tidak berubah. 

Jadi, apakah sekarang SEMUA guru tidak dihormati oleh SEMUA anak dalam SEMUA sekolah? Tentu saja tidak. Banyak guru masih dihormati dan disayangi! Artinya, ada sebagian guru yang sikap pribadinya tidak terhormat (mereka sombong, kasar, pemarah, dll.). Jadi guru yang itu saja yang tidak dihormati. Tetapi ada banyak guru lain, yang hatinya penuh kasih sayang, dan sangat menghormati dan menghargai siswanya, dan mereka sangat dicintai oleh siswanya. 

Jadi yang muncul di media adalah kisah tentang guru2 yang kurang baik, lalu mereka bela diri dengan mantra, “Niat saya mendidik”. Tetapi faktanya adalah guru2 itu kurang baik, dan bertindak dengan sikap yang tidak terhormat. Mereka tidak mau belajar, dan hanya teruskan pola pendidikan yang mereka terima 20 tahun yang lalu. Dan oleh karena itu, guru2 yang itu saja yang TIDAK DIHORMATI oleh sebagian anak. Kenapa? Karena ancaman terhadap anak dihapus, tetapi banyak guru tidak mau berubah dan belajar. 

Sebagai perumpamaan, seorang bapak mau beli mobil baru. Dia terbiasa dengan jenis mobil yang diproduksi 100 tahun yang lalu, karena dipakai bapaknya. Mobil itu sangat tidak aman. Di toko Toyota, dia minta mobil seperti itu. Ditawarkan mobil baru, yang jauh lebih baik, dia menolak. Yang zaman dulu cukup bagus, kenapa harus berubah? Kalau berjalan dengan kecepatan 20 km/jam, akan aman. Kenapa anak muda sekarang mau berjalan 100 km/jam, dalam mobil yang aman? Yang salah anak muda sekarang!

Bapak itu cerdas? Atau bodoh? Sudah ada ratusan kemajuan dalam ilmu penciptaan mobil. Tetapi dia tidak peduli karena terbiasa dengan sistem lama! Bukan karena terbukti lebih baik, tapi karena terbiasa!! Itu setara dengan guru yang mau teruskan pola pendidikan zaman dulu (dari 50-100 tahun yang lalu), dan abaikan ratusan kemajuan dalam ilmu pendidikan, psikologi anak, dan parenting. Sekarang ada pilihan. 1) Mau belajar, dan siap berubah, sesuai zaman ini? Atau 2) Mau berpegang teguh pada hal yang berlaku di zaman dulu? Ilmu sudah berubah, tetapi sebagian guru menolak belajar lalu jadikan anak kambing hitam agar gurunya tidak perlu berubah! 

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
-Gene Netto 



14 January, 2026

Rekaman Bodycam Menunjukkan Polisi Amerika Memberikan Resusitasi Jantung Paru pada Bayi

Di Amerika, seorang polisi datang ke rumah orang dan temukan bayi yang tidak bernafas. Ambulance sudah dipanggil, tetapi belum sampai. Jadi polisi itu ikuti pelatihannya, dan langsung mulai Resusitasi Jantung Paru (RJP-CPR). Syukur, bayi itu mulai bernafas lagi dan selamat. Kalau hal yang sama terjadi di Indonesia, bayi yang tidak bernafas itu akan "dibawa lari ke puskesmas". Dan setelah perjalanan 20 menit, di luar dugaan, anak yang tadinya mati tetap saja mati. Siapa yang bisa menyangka? Anak yang tidak bernafas selama 20 menit kok bisa tetap mati ya? Kenapa dokter tidak bisa hidupkan kembali?

Di negara maju, polisi, guru, satpam, petugas, dan orang yang kerja dalam ratusan bidang lain yang berhadapan dengan anak dan rakyat umum, diwajibkan belajar Resusitasi Jantung Paru (RJP - CPR). Di Indonesia, daripada belajar RJP, semuanya belajar kalimat sakral untuk membahas mayat anak yang mustahil dibantu, yaitu: “Ini Musibah, dan Takdir Allah, dan Kami Tidak Menyangka!” 

Di negara lain, anak diselamatkan. Di Indonesia, anak dikuburkan. Kesannya di sini terlalu sulit untuk “belajar” cara menyelamatkan anak yang tidak bernafas, walaupun hanya butuh beberapa jam saja. Lebih mudah hafal kalimat sakral yang bantu semua orang lepaskan segala bentuk tanggung jawab, dan salahkan Tuhan saja. 
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
-Gene Netto 

Rekaman Bodycam Menunjukkan Polisi Amerika Memberikan 
Resusitasi Jantung Paru  pada Bayi
https://www.youtube.com/watch?v=fbZQf7XNALw 



Anak Yang Tidak Bernafas Hanya Bisa Diselamatkan Dengan Resusitasi Jantung Paru

Kapan rakyat Indonesia akan diberitahu bahwa seorang anak yang dibawa jalan-jalan selama 20 menit dalam keadaan tidak bernafas mustahil hidup kembali? Kalau tidak dilakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP - CPR) langsung di saat itu, di tempat kejadiannya, maka tidak mungkin anak itu bisa diselamatkan. “Dibawa lari ke rumah sakit” sama dengan “menjamin kematiannya”. Tetapi dalam semua berita baru, setiap kali orang dewasa ketemu anak yang tidak bernafas, yang baru saja tewas (biasanya tenggelam), tindakan yang sama selalu dilakukan: Mereka MENJAMIN anak itu mati dengan dibawa jalan-jalan selama 20 menit dalam keadaan tidak bernafas. Sudah jelas mereka “ingin menyelamatkan” anak itu. Tetapi tindakannya justru merupakan jaminan anak itu mati.

Kalau seluruh rakyat dan semua anak sekolah bisa dididik tentang bahayanya demam berdarah, cara memberantas telur nyamuknya, dan cara hindari gigitan dari satu jenis nyamuk saja, pada jam tertentu saja, kenapa tidak bisa dididik juga tentang kewajiban melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP - CPR) langsung pada saat ketemu anak yang baru tenggelam atau tewas? Info demam berdarah bisa disebarkan, sampai semua orang hafal. Kenapa info RJP tidak bisa disebarkan juga? Berapa banyak anak bangsa harus tewas secara sia-sia, karena nyaris tidak ada orang dewasa yang mengerti apa yang perlu dilakukan? 

Anak yang baru saja tenggelam atau tewas BISA hidup kembali kalau dilakukan RJP dalam waktu 5-10 menit. (Kalau sudah tewas 30 menit lebih, tidak berguna lagi.) Kalau pemerintah tidak mau bertindak, rakyat bisa! Semua orang tua bisa minta pengurus sekolah dan pesantren melakukan pelatihan 1 hari. Karyawan bisa usulkan di PT-nya. PNS bisa minta diadakan di semua lembaga dan kementerian. Kalau dimulai sekarang, mungkin pada tahun depan kita bisa melihat berita yang berbeda: Anak yang tenggelam DISELAMATKAN dan hidup kembali karena dilakukan RJP dengan cepat!! Tetapi kalau 100 juta orang dewasa dan 80 juta anak sekolah dan santri juga diam dan tidak mau bertindak, maka berita tidak akan berubah: Anak yang baru saja tewas dijamin tidak bisa diselamatkan, karena dibawa jalan-jalan keliling kota sebelum dinyatakan “tetap mati” di puskesmas. Mau lihat berita yang mana? 
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
-Gene Netto 

Bocah 4 Tahun di Jambi Tewas Saat Bermain dalam Wahana Istana Balon
Beberapa saat setelah balon dilipat, orang tua korban datang mencari anaknya. Pemilik kemudian membuka kembali lipatan balon dan menemukan korban dalam keadaan tidak sadarkan diri. G langsung dibawa ke RS DKT Sungai Penuh, namun dinyatakan meninggal dunia. 
https://www.detik.com



17 December, 2025

Dakwah Berhasil Dengan Remaja Muslim Yang Mau Murtad

Assalamu’alaikum wr.wb. Dua hari yang lalu saya diskusi dengan seorang anak laki-laki yang merasa ragu terhadap kebenaran Islam, dan juga tidak salat selama beberapa tahun. Dia telah diskusi dengan teman Kristen, dan ingin mendalami agama lain karena berpikir mungkin lebih bahagia kalau tinggalkan Islam. Alhamdulillah, dia masih bersedia diskusi dengan saya ketika ibunya memberi saran. 

Kami diskusi selama hampir tiga jam. Saya jelaskan tentang agama Kristen, Alkitab, Yahudi, Taurat, Hindu, Buddha, Nirwana, dll. Ternyata, dia baru tahu sedikit, dan juga kurang paham ajaran Islam. Saya jelaskan, dalam semua kasus ada anak Muslim yang mau murtad, selalu ada pola yang sama. Saya sebutkan contohnya, lalu dia senyum lebar dan bilang, “Kok sepertinya membahas saya?!”

Sama seperti banyak orang lain yang ingin murtad, dia benci bapaknya. Banyak anak seperti itu tidak ingin memahami Islam, dan hanya ingin Islam disalahkan. Yang dipikirkan, kalau bapaknya jelek, tidak mungkin Islam benar! Kalau Islam benar, bapaknya akan ikuti ajaran Islam dan menjadi baik. Ternyata tidak begitu, jadi Islam yang harus disalahkan! 

Saya menjelaskan ajaran Islam kepadanya dengan landasan logika, dan kami diskusi secara baik. Ternyata, dia juga termasuk anak yang memang mencari jawaban, dan sangat senang bisa memahami Islam dan kehidupannya lewat lensa logika. Dia mengaku sudah 5 tahun tidak shalat, dan tidak pernah berdoa atau minta apapun dari Allah. 

Saya berikan perumpamaan. Kalau saya memberikan nomor HP presiden, dan saya berkata, “Presiden sangat bangga dengan kamu, dan inginkan kamu menjadi bahagia dan sukses. Jadi, kalau kamu perlu bantuan apa pun, pakai nomor ini, hubungi presiden, dan tinggalkan pesan suara. Presiden tidak bisa bicara dengan kamu, tetapi dia akan dengarkan pesan kamu, dan akan berusaha memberikan yang kamu minta.”

Kemudian saya bertanya, maukah kamu pakai nomor itu? Dia ketawa dan menjawab, Iya, tentu saja!!!!! Saya berkata, kamu bisa hubungi Tuhan Yang Maha Esa setiap hari, tinggalkan pesan, dan minta apa saja. Jadi, daripada telfon presiden, kenapa tidak “telfon Allah”? Dia jauh lebih berkuasa, dan satu-satunya orang yang menghalangi kamu dari hubungi Allah setiap hari adalah kamu sendiri!!

Dia ketawa dan langsung paham. Malam itu, ibunya memberi tahu saya bahwa dia langsung berubah setelah bicara dengan saya, menjadi lebih bahagia dan positif, dan ingin mulai belajar Islam lagi. Satu hari kemudian, anak itu kirim pesan kepada saya dan bilang dia mau pergi ke masjid untuk shalat. Saya kaget. Tidak menyangka dia akan berubah secepat itu. Alhamdulillah. Dia sudah berdoa (sesuai arahan saya), dan minta diberi petunjuk, minta dibuat yakin, dan minta bantuan dari Allah untuk berubah dan menjadi semangat shalat dan sering berdoa kepada Allah. Alhamdulillah, dalam 1 hari saja, doanya anak itu sudah dikabulkan. (Dan doanya saya dan ibunya juga!)

Saya jelaskan kepadanya bahwa itu cara termudah untuk mendapatkan BUKTI bahwa Allah selalu mendengarkan kita, yaitu minta kepada kepada-Nya sebanyak mungkin dan harus yakin bahwa Allah akan dengarkan kita. Semakin banyak yang kita minta, semakin banyak yang kita dapatkan. Alhamdulillah dia bisa langsung paham, dan tidak ingin tinggalkan Islam lagi. 

Semoga bermanfaat.
Wa billahi taufiq wal hidayah, 
Wassalamu’alaikum wr.wb. 
-Gene Netto



12 December, 2025

ANAK YANG BARU TENGGELAM BISA DISELAMATKAN!

*MOHON DISEBARKAN*

Assalamu’alaikum wr.wb. Banyak orang tidak tahu bahwa seorang anak yang baru saja tenggelam atau tewas BELUM “mati total”. Masih ada harapan bisa hidup kembali, tetapi ada syarat: Secepat mungkin, harus dilakukan *RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP-CPR).* Dicek dulu apa masih ada detak jantung. Kalau ada, berikan bantuan nafas. Kalau detak jantung dan nafasnya tidak ada, mulai kompresi dada 30 kali, bantuan nafas 2 kali, dan ulangi terus dengan pola itu selama 10 menit. 

*JANGAN DIBAWA LARI KE PUSKESMAS!!* Kalau korban dibawa jalan-jalan dalam keadaan tidak bernafas selama 15-20 menit, ketika sampai puskesmas, dijamin 100% akan tetap tidak bernafas! Artinya: Bawa pergi = Menjamin anak itu tewas!! Kalau mau diselamatkan, wajib laksanakan RJP-CPR SECEPATNYA di lokasi kejadian. 

Berdasarkan riset, anak yang baru tenggelam *0–5 menit* lalu menerima RJP/CPR, bisa langsung hidup kembali tanpa efek samping. Kalau *6–10 menit* lalu terima RJP/CPR, bisa hidup kembali tetapi ada risiko gangguan otak. Kalau *10–15 menit,* sudah 50-50, dan risiko cacat otak tinggi. Kalau *15–25 menit,* jarang bisa hidup kembali dan risiko cacat otak sangat tinggi. Dan kalau *25 menit* atau lebih, kemungkinan hidup kembali hampir nol. 

Resusitasi Jantung Paru (RJP-CPR) tidak sulit belajar. Cukup pelatihan 1 jam, dan praktek dengan boneka. Jangan biarkan anak Indonesia tewas terus hanya karena orang dewasa malas belajar. Kalau anda punya komunitas di sekolah, kampus, kantor, lembaga, jemaah pengajian, dll. coba cari informasi dari puskesmas atau rumah sakit terdekat. Hubungi petugas yang bisa datang dan memberikan pelatihan RJP 1 hari. 

Cukup belajar 1 kali saja, dan insya Allah akan diingat selama puluhan tahun. Sangat mudah dilaksanakan kalau sudah tahu caranya. Pahalanya sebesar apa kalau bisa selamatkan 1 nyawa? Jangan takut belajar! 
Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto

*BERIKUT INI PROSEDUR RJP-CPR:*

(Teks ini diberikan sebagai informasi umum saja. Sangat penting anda dapat pelatihan resmi dari tenaga medis yang ahli, agar bisa dipahami secara baik.)

1. Pastikan lokasinya aman. 
2. Periksa kesadaran, detak jantung, dan nafasnya. 
3. Dongakkan kepala ke belakang, periksa dan buka jalur nafasnya. 
4. Kalau ADA DETAK JANTUNG, tetapi tidak bernafas, berikan bantuan nafas, tanpa berhenti.
5. Kalau TIDAK ADA DETAK JANTUNG, dan juga TIDAK BERNAFAS, mulai kompresi dada. 
6. Lakukan 30x kompresi dada, berhenti, berikan bantuan nafas 2x. 
7. Lanjut terus dengan kompresi dada 30x, bantuan nafas 2x. 
8. Kalau dalam waktu 15 menit tidak hidup kembali, boleh berhenti. 

Catatan: Kompresi dada diulang sebanyak 30 kali, dengan kecepatan 100‒120 kali/menit. Kompresi dada dilakukan dengan cepat dan kuat, dengan kedalaman minimal 5 cm dan maksimal 6 cm. (Tergantung usia korban, kegemukan, dll. Intinya, kalau kurang dalam, tidak berguna.) Untuk balita dan anak, lakukan kompresi dengan satu tangan. Untuk anak yang badannya besar, remaja, dan dewasa, pakai dua tangan. Lihat contohnya di video, dan cari pelatihan resmi agar bisa dipahami secara baik.

Ada banyak video teknik RJP-CPR di YouTube. Semoga bermanfaat untuk berikan gambaran umum, sebelum anda bisa dapat pelatihan resmi. 

Memahami CPR / RJP
https://gleneagles.com.my/id/accident-emergency/cpr

VIDEO: Resusitasi Jantung Paru
https://www.youtube.com/watch?v=2wZpmDXSvCA 

Video Edukasi RJP (Resusitasi Jantung Paru)
https://www.youtube.com/watch?v=6__UmK2KlOg 

Bantu Selamatkan Nyawa, Begini Trik CPR pada Orang Henti Jantung
https://www.youtube.com/watch?v=um8pk24DUCQ 

CPR compressions to Staying Alive by the BeeGees
https://www.youtube.com/watch?v=0wARruhshko 



Ketika 20 Anak SD Ditabrak Mobil, Guru Butuh Ilmu P3K

Sebuah mobil MBG tabrak banyak anak SD di Cilincing Jakarta, dan 20 anak terluka. Yang menjadi masalah terbesar adalah para guru tidak paham apa yang perlu dilakukan dalam kondisi darurat seperti itu. Tetapi kapan mereka pernah dapat latihannya? Sangat jelas bahwa kalau 3,5 juta guru tidak mengerti P3K, maka pemerintah bersalah dan pemerintah yang bertanggung jawab!!

Saat kejadian itu, para guru yang tidak pernah diwajibkan belajar P3K hanya bisa teriak, bingung, dan mulai ambil anak untuk membawanya ke rumah sakit. Ketika banyak anak menjadi korban sekaligus, yang paling penting adalah “Triase”. Artinya, semua korban wajib disaring dulu untuk lihat siapa yang paling terluka, dan wajib dibawa duluan. Tetapi para guru tidak paham, jadi mereka hanya bisa ambil satu anak dan "bawa lari" ke rumah sakit. Walaupun (misalnya) anak itu sedang tidak bernafas. Dibawa jalan-jalan dalam kondisi tidak bernafas = dijamin akan mati. Kalau ada yang tidak bernafas, wajib dilakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP-CPR) langsung di tempat itu dulu.

Kalau tidak ada yang lakukan triase, juga bisa terjadi ada anak yang terluka berat, tetapi semua mobil dan motor sudah berangkat duluan karena buru-buru membawa anak dengan luka ringan saja. Sudah beredar video dan CCTV dari lokasinya. Yang jelas semuanya panik, teriak, dan guru mulai ambil 1 anak dan bawa pergi, tanpa pemeriksaan terlebih dahulu. Ini sangat berbahaya. Bahkan memindahkan anak yang baru terlindas mobil bisa membuatnya lebih sakit lagi. Selain masalah perdarahan di dalam, kalau ada luka pada tulang punggungnya, tindakan mengangkat badannya dan taruhnya di motor bisa membuatnya lumpuh. Syaraf terjepit di tulang punggung bisa putus setelah dipindah. Jadi ilmu P3K sangat dibutuhkan bagi semua guru sekolah. Tetapi selama ini, pemerintah tidak pernah wajibkan ilmu penting itu karena dianggap tidak penting. Kapan keselamatan 80 juta anak bangsa akan menjadi prioritas bagi pemerintah? 
-Gene Netto

Mobil MBG Tabrak Siswa di Cilincing Jakarta: 20 Orang Terluka 
Mobil operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) menerobos masuk dan menabrak siswa di halaman SDN Kalibaru 01 Pagi, Cilincing, Jakarta Utara. Insiden itu menyebabkan 20 orang terluka, terdiri dari 19 siswa dan 1 guru.
https://www.detik.com



28 October, 2025

Siswa SD di Cianjur Ditemukan Tewas di Rumahnya, Diduga Bunuh Diri

Assalamu’alaikum wr.wb. Berkali-kali ada berita dengan informasi yang sama. Seorang anak kecil tiba-tiba berubah, menjadi diam, murung, dan hanya ingin di kamar terus. Orang dewasa di sekitarnya selalu bingung. Mereka selalu “tidak paham” kenapa. Kalau seorang anak berubah dan menjadi murung, itu merupakan tanda dia sudah alami trauma. Dua kondisi yang paling umum adalah 1) Dia menjadi korban bullying, dan 2) Dia menjadi korban pencabulan.

Keluarganya, gurunya, dan teman-temannya yang kenal anak itu bisa melihat perubahan tersebut. Tetapi dalam setiap kasus, semuanya “bingung”. Dalam beberapa kasus, anak tersebut bunuh diri. Ketika perubahan sikap itu muncul, anak itu perlu dibantu secara cepat. Tetapi yang sering terjadi adalah semua orang dewasa diam saja dan menunggu dia kembali normal. Lalu dia bunuh diri.

Dalam kasus ini, keluarganya merasa “kasihan” pada mayat korban, jadi tidak rela dilakukan autopsi dan investigasi polisi. Dalam kata lain, mereka tidak ingin korban dapat keadilan, dan pelakunya boleh dibiarkan melakukan kejahatan terhadap anak-anak yang lain. Biar ada banyak korban sekaligus. Biar banyak keluarga lain menderita juga.

Ada dua hal yang terulang, dan patut disayangkan. Pertama, banyak orang dewasa tidak sanggup mengingat satu fakta sederhana: Anak yang berubah menjadi murung telah mengalami trauma! Kedua, sering ada rasa “kasihan pada mayat”. Tetapi sikap itu sama dengan membebaskan pelaku untuk mengulangi perbuatannya. Keadilan bagi korban dibuang ke laut?  Rasa “kasihan pada mayat” lebih utama, seakan-akan mayat akan dapat suatu manfaat? 

Dua perubahan dibutuhkan. Pertama, pelatihan anti-pencabulan dan anti-bullying secara nasional. Semua orang dewasa perlu memahami tanda-tanda seorang anak mengalami trauma. Kedua, ketika anak wafat di luar dugaan, keluarga harus dukung investigasi polisi, demi mencari pelaku (kalau ada), agar bisa ditangkap, untuk selamatkan anak lain. Autopsi tidak mengganggu mayat seditpun! (Belum pernah ada mayat yang bangkit dan protes!) 

Kalau kedua perubahan ini tidak terjadi (dan sepertinya tidak ada yang cukup peduli), anak-anak Indonesia akan menjadi korban terus. Dan ribuan pelaku akan tetap bebas, karena tidak dicari polisi, karena keluarga korban menolak investigasi dan autopsi. Terkesan banyak orang tua telah mengalami pencucian otak agar punya rasa “kasihan pada mayat”. (Dari mana sikap umum itu??) Hasilnya adalah mereka tidak peduli pada keadilan, dan tidak mau melindungi anaknya orang lain! Ibaratnya mereka berkata, “Mayat anak saya lebih utama daripada anak lain yang masih hidup!!” Semua orang dewasa harus berubah, agar ribuan anak bisa diselamatkan dan tidak perlu menjadi korban!
Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb. 
-Gene Netto 

Siswa SD di Cianjur Ditemukan Tewas di Rumahnya, Diduga Bunuh Diri
Seorang anak laki-laki berinisial MAA (10 tahun) di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, ditemukan tewas di rumahnya, Rabu (22/10). "Memang ada kebiasaan yang berubah, biasanya cucu saya sering bermain di luar rumah bersama teman-temannya. Tapi, belakangan ini lebih memilih diam di dalam rumah, dan terlihat murung," tuturnya.
https://kumparan.com

 

26 October, 2025

Anak Yang “Bodoh” Mungkin Punya Masalah Dengan Matanya


Assalamu’alaikum wr.wb. Ada seorang anak SD yang cerdas dan cepat memahami sesuatu yang dijelaskan kepadanya, menurut anggota keluarganya. Tetapi anak laki-laki itu dicap “bodoh”, dan dianggap “lambat belajar” oleh guru kelasnya, jadi diyakini ada gangguan “cacat mental” yang membuatnya tidak bisa tangkap pelajaran di kelas. Guru itu suruh orang tuanya kirim anak itu ke SLB, karena dia dianggap beban bagi gurunya.

Saudaranya anak itu konsultasi dengan saya, lalu saya dapat kesan anak itu “normal” dan bisa berpikir dan diskusi secara baik. Yang menjadi masalah, dia tidak suka baca buku jadi belajar dan kerjakan PR menjadi sulit. Saya bertanya, apa pernah dicek matanya dan telinganya? Ternyata belum. Setelah dicek, diketahui MATANYA MINUS 5 !!! Jelas dia tidak akan bisa baca tulisan di papan tulis. Gurunya selalu tempatkan “anak bodoh” itu di belakang, agar tidak mengganggu, jadi anak dengan mata minus akan makin menderita. Apalagi dilarang pindah tempat duduk. 

Saya bertanya tentang guru itu. Dia PNS di SD negeri. Saya bisa paham kalau dia seorang guru honorer (dengan ilmu terbatas) di pelosok. Tetapi guru PNS yang profesional seharusnya punya ilmu pendidikan yang cukup, dan mau mencari akar masalah. Kalau ada anak “bermasalah” dan sulit belajar, selalu harus dimulai dengan pemeriksaan fisik. Guru tidak berikan petunjuk, orang tuanya tidak paham, dan anak itu tidak sanggup jelaskan apa yang dia rasakan. Hasilnya adalah anak cerdas malah dicap “bodoh” dan hanya bisa naik kelas karena pandai menghafal (daripada membaca). 

Berapa banyak anak mengalami gangguan serupa, dan menderita di kelas karena gurunya anggap anak itu “bodoh” dan tidak periksa matanya dulu? Jadi kalau ada orang lain yang menyatakan anak anda “bodoh” atau cacat mental, tetapi anda yakin tidak, tolong jangan percaya begitu saja. Ada banyak guru yang kurang profesional dan punya ilmu yang terbatas. Mereka dibayar untuk mendidik anak, tapi lebih inginkan yang mudah bagi dirinya. Jadi anak yang dianggap “tidak normal” dan sulit diatur mau dibuang dari kelasnya. Orang tualah yang harus protes dan cari informasi sendiri dari pihak lain.

Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto

19 October, 2025

Ya Allah, Ada Apa Dengan Negara Ini?

 

[Pertanyaan]: Ya Allah, ada apa dengan negara ini? Kenapa ada banyak kerusakan?

[Gene]: Assalamu’alaikum wr.wb. Banyak masalah di sini berawal dari sistem pendidikan yang kurang baik. Efeknya, banyak orang menjadi pemimpin, dapat tanggung jawab, tetapi mereka kurang pantas. Banyak sistem lain juga rusak, tetapi pendidikan yang terpenting. Pola pikir kita menentukan tindakan dan perbuatan kita. Anak yang dapat sistem pendidikan yang baik, dan keluarga yang baik, tidak menjadi orang jahat. Mereka senang berpikir, menggali ilmu, berbuat baik, menolong orang lain, dsb.

Tetapi banyak orang lain dapat pendidikan yang rusak, dan keluarganya juga rusak. Orang tuanya adalah hasil dari sistem yang rusak di zaman dulu. Sayangnya, mereka (anak dan orang tuanya) malas belajar sekarang, walaupun semua ilmu bisa diakses lewat internet. Hasilnya, banyak orang yang “tidak pantas” malah bisa menjadi pemimpin. Ada banyak pejabat nasional dan daerah, dan pemimpin di bidang politik, pendidikan, agama, rumah tangga, dan seterusnya, yang kurang berkualitas. Berapa banyak pria yang menikah tetapi kurang pantas menjadi suami atau bapak? Mereka tidak memahami tugasnya, malas belajar, dan tidak bisa memimpin diri sendiri, apalagi orang lain. 

Di sini, banyak sistem dibiarkan rusak, karena para pemimpin sibuk kumpulkan kekayaan dan kekuasaan. Di negara maju, anak dan dewasa sering membaca, banyak berpikir, jadi IQ rakyat tinggi, dan rakyat menjadi sejahtera. Tetapi di sini, anak dan dewasa malas membaca, IQ rakyat rendah, banyak anak DO, dan umat Islam menghabiskan Rp. 2.200 triliun untuk beli rokok setiap tahun. Sekaligus mengaku miskin dan sulit maju karena dijajah Belanda zaman dulu. Beli buku, susah. Beli rokok, wajib. Anehnya, Jepang hancur 70 tahun yang lalu. Sekarang?  

Dari Ibnu Umar ra., Rasulullah SAW bersabda, "Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya mengenai kepemimpinanmu. Imam (Penguasa) adalah pemimpin dan akan ditanya mengenai kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya dan bertanggung jawab mengenai kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin rumah tangga suaminya dan bertanggung jawab atas  kepemimpinannya. Pelayan (buruh) adalah pemelihara harta majikannya dan akan ditanya mengenai pemeliharaannya. Maka kamu sekalian adalah pemimpin dan masing-masing bertanggung jawab atas kepemimpinannya."  (HR. Bukhari & Muslim) 

Artinya “pemimpin” adalah semua orang yang dapat tanggung jawab. Mereka punya kekuasaan, walaupun terbatas. Sayangnya, mereka tidak dibekali dengan ILMU MENJADI PEMIMPIN. Itulah hasil dari sistem pendidikan yang rusak, dan seringkali keluarganya rusak juga! Saat menjadi “pemimpin” (dapat tanggung jawab), mereka menciptakan kerusakan, atau teruskan yang sudah ada. Pejabat, suami, guru, karyawan, polisi, satpam, dll. adalah pemimpin. Ada tanggung jawab, dan perbuatan mereka berefek pada orang lain, jadi mereka tergolong “pemimpin”.

Apa solusinya? Sederhana. Kita harus bangun dari dunia mimpi, bersatu, siap membantu orang lain, dan membangun komunitas yang baik. Itu tanggung jawab kita semua, bukan “tugasnya pejabat”. Jangan menunggu orang lain muncul untuk memperbaiki Indonesia. Kita yang harus melakukannya!  

Caranya? Mulai dengan diri sendiri, dan anak di rumah. Jangan merasa “puas” dengan ilmu yang dimiliki. Berusaha untuk belajar terus, setiap hari. Menjadi semangat mencari informasi, walaupun dianggap “tidak bermanfaat”. Belajar tentang negara lain, sejarah dunia, dan bidang yang kurang penting bagi anda. Contohnya: Sistem ekonomi di Cina apa? Kekaisaran Romawi runtuh kenapa? Apa air laut bisa menjadi air minum? Binatang apa yang paling beracun? Dan seterusnya. 

Mengejar ilmu dunia dan ilmu agama terus, karena itu sumbernya peningkatan IQ. Dapat kemampuan berpikir dan membuat analisis! Mendidik anak dengan cara yang sama. Jangan berharap mendapat anak yang “diam dan taat”. Didik mereka untuk merasa mandiri, berpikir sendiri, ciptakan pendapat, dan berdebat secara baik. Bantu mereka dapat IQ dan kreativitas tinggi. Berikan buku, sumber ilmu dari internet, dan semangatkan mereka. 

Tanpa berdoa kepada Allah, negara maju mereka berhasil. Sekitar 50% dari orang di barat sudah ateis sekarang. Di Cina, seluruh negara! Kita berdoa kepada Allah SWT setiap hari,  jadi seharusnya kita bisa melebihi mereka dalam semua bidang. Faktanya, banyak Muslim berdoa kepada Allah, tetapi tidak yakin doanya akan dikabulkan! Jadi kita butuh Allah, ilmu, dan semangat berjuang, tanpa menunggu orang lain! Dan daripada bakar Rp. 2.200 triliun per tahun untuk rokok, coba diberikan kepada anak yatim dan dhuafa! Minta doanya, dan merasa yakin Indonesia ini bisa maju. Kalau kita semangat, Allah akan semangat dukung kita juga. Jangan menunggu orang lain. Mulai mendidik anak anda sekarang juga. 

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto 

 

16 October, 2025

Jemaah Haji Dan Umrah Dapat Menteri, 80 Juta Anak Kenapa Diabaikan?

Assalamu’alaikum wr.wb. Pada tahun 2024, tercatat 1,8 juta orang Indonesia melakukan Umrah dan 241 ribu orang melakukan Haji. Jadi totalnya adalah 2 juta orang yang pergi ke Saudi selama beberapa hari saja. 

Tetapi ada 80 JUTA ANAK INDONESIA YANG PERGI KE SEKOLAH SETIAP HARI, lalu dapat atap yang mau ambruk, WC yang rusak, tembok yang rusak, perpustakaan penuh buku teks kuno (bukan buku cerita), listrik yang sering putus, kelas panas tanpa kipas angin atau AC, pejabat yang tiba-tiba isi satu kelas dengan 50 anak, guru yang gajinya 300 ribu per bulan, guru yang cabuli anak, guru killer yang marah besar kalau anak lupa kerjakan PR, tempat bermain berisi perosotan buatan zaman Belanda, kebijakan pendidikan yang berubah terus, kurikulum yang berubah terus (ganti menteri, ganti kurikulum), dan setelah lulus dari SMA harus bersaing dengan puluhan ribu anak lain untuk menjadi kasir di Alfamart karena sulit dapat pekerjaan yang lain, atau bisa menggunakan keahlian matematika dan sejarah yang dipelajari untuk menjadi tukang ojek, lalu dilindas polisi.

KENAPA orang kaya yang pergi ke Saudi selama beberapa hari bisa dapat seorang menteri untuk bantu mengatur semua urusan mereka secara baik, tetapi 80 juta anak bangsa tidak pernah dapat seorang menteri yang bertindak sebagai advokat mereka di tengah pemerintah? Kenapa tidak ada pejabat khusus yang memastikan kondisi hidup mereka, keluarga mereka, kesejahteraan mereka, perlindungan mereka, dan masa depan mereka merupakan PRIORITAS bagi pemerintah? Ada 80 juta anak yang butuh seorang pejuang dan juru bicara, yang bisa bicara atas nama mereka dan melindungi mereka dari orang dewasa yang bertindak seenaknya, membuat kebijakan seenaknya, mengubah lingkungan dan komunitas seenaknya, tanpa peduli pada dampaknya terhadap anak Indonesia. 

Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta'ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)

Mohon kepada Bapak Presiden untuk segera lantik Menteri Urusan Anak. Dan berikan dia kekuasaan hukum untuk panggil menteri dan pejabat lain, melakukan koordinasi, dan melarang pejabat bertindak seenaknya tanpa peduli pada efeknya terhadap 80 juta anak Indonesia. Presiden punya Paspampres untuk menjaganya dan punya banyak staf untuk mengatur semua urusannya. Siapa di dalam pemerintah yang menjaga dan mengurus 80 juta anak dan memikirkan masa depan mereka? Kenapa mereka tidak lebih utama dari 2 juta orang kaya yang mau pergi ke luar negeri selama beberapa hari? 

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah, 
Wassalamu’alaikum wr.wb. 
-Gene Netto 

Syukur Ada Zoom Dari Orang Non-Muslim

 


Assalamu’alaikum wr.wb. Beberapa minggu yang lalu, ada orang di Panama yang hubungi saya untuk belajar tentang Islam. Dan alhamdulillah setelah saya jelaskan lewat Zoom, dia merasa sangat puas dan masuk Islam 2 minggu setelah itu. Alhamdulillah, tadi pagi saya dapat kabar tentang orang satu lagi di Panama yang juga ingin diskusi dengan saya. Dia sudah mulai belajar Islam sendiri, sudah coba masuk masjid, tetapi masih ada banyak pertanyaan. 

Banyak orang mengira, kalau mau berdakwah kepada orang asing, harus pergi ke negara barat dan berdiri di pinggir jalan dan panggil orang yang lewat untuk jelaskan Islam kepadanya. (Ada banyak video seperti itu di YouTube.) Ternyata, tidak perlu. Setelah ada orang Muslim yang ciptakan listrik, kamera, komputer, internet, Zoom, dll., sangat mudah melakukan dakwah di seluruh dunia, tanpa tinggalkan kamar tidur. Ehh maaf, salah, ralat. Setelah orang KAFIR menciptakan itu semua... Orang Muslim menciptakan apa ya? Kalau di Indonesia, orang Muslim berhasil menciptakan salah satu sistem korupsi terkemuka di dunia. Kita berhasil ciptakan apa lagi ya? 

Untungnya ada orang non-Muslim di dunia ini. Kalau tidak ada orang non-Muslim, bagaimana mungkin orang Muslim bisa manfaatkan semua kemajuan teknologi untuk menyebarkan ajaran Islam...? Ketika anak butuh buku untuk menjadi cerdas, para bapak yang Muslim di Indonesia malah menghabiskan 2.100 TRILIUN RUPIAH untuk beli rokok, lalu dibakar sampai habis. Uang buat beli buku tidak ada. Uang buat anak yatim tidak ada. Uang untuk beli rokok, wajib!! 

Ketika banyak Muslim sibuk merokok, dan korupsi, dan sebarkan gosip, dan nonton orang joget di TikTok, dan kirim anaknya untuk belajar agama di pesantren yang ambruk, banyak orang non-Muslim malah sibuk memikirkan caranya MEMAJUKAN UMAT MANUSIA. Tanpa berdoa kepada Allah SWT, mereka berhasil menciptakan banyak barang yang bermanfaat untuk 8 miliar manusia, lalu tidak dapat pahala juga.
Apa yang kita ciptakan di dunia ini, selain banyak sampah? 

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah, 
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto 

15 October, 2025

Usai Tragedi Maut, KBM di Ponpes Al Khoziny Dimulai 2-3 Minggu Lagi


Assalamu’alaikum wr.wb. Mohon maaf, apa pantas disebut “Tragedi Maut”? Bukannya itu kasus “kematian yang disebabkan oleh kelalaian” (yang biasanya juga kena pasal)? Setelah terbukti para pengurus pesantren telah gagal mengutamakan perlindungan dan keselamatan bagi 200 anak kecil, ternyata sanksinya adalah: Segera mulai kegiatan belajar mengajar di lokasi baru, sambil menunggu pemerintah bangun kembali gedung yang ambruk dengan uang rakyat?? Enak sekali sanksi itu!

Jadi, kegiatan belajar ilmu agama di pesantren akan dimulai lagi, tetapi hanya bagi para santri yang belum mati. (Mungkin anak yang sudah mati bisa dapat surat izin tidak hadir di kelas baru, agar nyawanya tidak dibahayakan lagi.) Ternyata, masih banyak orang tua berani titip anaknya kepada orang yang tidak mengerti cara melindungi anak. (Kalau cari babysitter untuk anak, apa mau memilih orang yang di tempat kerjanya yang lama, anak majikan mati??) Totalnya, sudah ada 63 anak yang mati dan puluhan lain yang kena luka berat, seperti tangan atau kaki diamputasi. 

Banyak orang anggap bahwa yang terjadi kemarin bukan kesalahan atau kelalaian dari orang dewasa yang tidak mengutamakan perlindungan anak. Katanya, itu musibah, dan takdir Allah, dan orang dewasa di situ tidak menyangka bahwa tempat berbahaya bisa berbahaya. Masih banyak santri yang belum mati, jadi para pengurus mau dikasih kesempatan mengurus 200 anak lagi. Semoga mereka bisa bertahan hidup sampai lulus!! 

Sepertinya lebih bijaksana kalau dicabut izinnya mengurus tempat pendidikan bagi para pendidik yang gagal melindungi ratusan anak. Tetapi itu hanya akan terjadi kalau nyawa anak punya harga. Ternyata, di Indonesia, harganya nyawa anak sangat murah sekali. Dan karena begitu yakin Kyai selalu dalam kebenaran, banyak orang tua tetap tidak berani menyalahkan kyai, walaupun ratusan anak sudah menjadi korban dari kelalaiannya.

Seharusnya dari awalnya, semua santri dilarang keras mendekati tempat proyek yang berbahaya itu! Karena orang dewasa yang akalnya sehat akan lihat tempat berbahaya dan sadar bahwa tempat itu berbahaya. Tetapi karena tidak dilakukan, hasilnya adalah 63 anak telah mati secara sia-sia. Sayangnya, daripada marah, banyak orang tua malah segera maafkan sang kyai, kembalikan santunan kepadanya, anggap takdir saja, dan minta doanya dari kyai. Kalau pelakunya bukan kyai, hampir pasti langsung ditangkap dan dipenjarakan puluhan tahun.

Semoga bermanfaat bagi orang dewasa yang punya akal sehat dan ingin merenung. Atau silahkan cuek saja dan baca Bismillah, karena bagi banyak orang Muslim di Indonesia, itu sudah cukup sebagai perlindungan bagi anak! Dan akal yang Allah berikan dibuang ke laut! Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb. 
-Gene Netto 

Usai Tragedi Maut, KBM di Ponpes Al Khoziny Dimulai 2-3 Minggu Lagi
https://news.detik.com

13 October, 2025

Gedung Pesantren Ambruk: Ketika Perlindungan Anak Bukan Prioritas


Assalamu’alaikum wr.wb. Pada tanggal 29 September, 2025, gedung baru dalam sebuah pesantren di Sidoarjo ambruk pada saat banyak anak melakukan shalat di dalamnya. Hasilnya, 63 anak tewas, 24 anak luka berat, 74 anak luka ringan, dengan jumlah total korban 171 anak. Rakyat kaget, tetapi sebenarnya, ini merupakan hasil dari sistem pendidikan di Indonesia di mana perlindungan dan keselamatan anak bukan sebuah prioritas.

Di banyak sekolah dan pesantren ada bahaya. Ada sebagian anak yang mengalami bullying, penyiksaan, pemerasan, pencabulan, sodomi, atau pemerkosaan. Ada anak yang dikembalikan kepada orang tuanya sebagai mayat. Hal ini terjadi karena banyak guru dan ustadz yang menerima anak sebagai amanah tidak memahami tugas utamanya, yaitu, kewajiban melindungi anak! 

Kalau kita berpikir dengan akal yang sehat, sangat jelas bahwa tempat proyek berbahaya. Biasanya ada peringatan di pagarnya: Wajib memakai alat pelindung diri (APD) seperti helm safety, sepatu safety, dll. Suatu barang yang jatuh dari atas bisa membunuh orang di bawah. Sudah banyak pekerja yang terluka atau tewas di tempat proyek. *Kalau dewasa wajib pakai APD, kenapa 171 anak bisa masuk wilayah proyek dengan APD peci dan sarung saja? Sangat tidak masuk akal.*

Setiap kali ada anak yang terluka atau tewas, di pesantren, sekolah, atau dalam kegiatan resmi di luar, para guru dan ustadz selalu berkata: “Ini musibah! Ini takdir Allah! Kami tidak menyangka!” Ketika ada korban bullying sampai terluka atau tewas, atau korban pencabulan, komentar yang sama muncul juga. Orang dewasa yang menjaga anak perlu memikirkan bahaya terhadap anak, sebelum anak menjadi korban.

Para guru dan ustadz harus menggunakan akalnya, untuk memikirkan perlindungan dan keselamatan anak sebagai prioritas utama. Mungkin mereka anggap cukup kalau mengucapkan “Bismillah, insya Allah aman”, dan tidak perlu berpikir lagi. Jadi, untuk apa Allah berikan akal kepada manusia? Apakah ada banyak ayat di dalam Al Qur’an yang berbunyi, “Maka, janganlah berpikir”, atau “Akal tidak penting”? Setahu saya, tidak ada. Jadi kenapa banyak guru dan ustadz bisa bersikap seperti itu?

Di dalam Al Qur’an, ada sekitar 130 ayat yang menyuruh kita berpikir, menggunakan akal, mengambil pelajaran, merenung, mengingat, ambil peringatan, memahami, dan memperhatikan. Contohnya: 

Terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS. 3:190)
Apakah kamu tidak memikirkan(nya)? (QS. 6:50)
Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (darinya)? (QS. 6:80)
Terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (QS. 12:111)

Ketika Rasulullah SAW diberitahu bahwa umat Islam akan diserang, apa yang terjadi? Para sahabat sudah menunggu perintah untuk mengumpulkan pasukan, siapkan kuda, pedang, busur dan anak panah, dsb. Apa Rasulullah SAW pernah berkata, “KITA BISMILLAH SAJA, DAN TIDAK USAH BERPIKIR LAGI! Kita tidak perlu pasukan, pedang, posisi strategis, dan lain-lain. Cukup Bismillah saja, dan apa yang terjadi sesudahnya adalah MUSIBAH DAN TAKDIR ALLAH. Buanglah akal. Jangan berpikir. Kita sudah Bismillah!”

Apakah begitu sikap Rasulullah SAW? Cukup Bismillah saja? Atau apakah Nabi SAW selalu menggunakan AKAL dan membuat persiapan yang matang? Kalau Nabi Muhammad SAW selalu memberikan contoh menggunakan akal dan bersiap-siap secara baik, kenapa banyak guru, ustadz, dan orang tua merasa puas dengan persiapan “Bismillah saja, insya Allah aman”? Dari mana pemikiran itu? Sangat jelas bukan dari Rasulullah SAW, berarti juga bukan dari Allah! 

Anak perlu diselamatkan dari bahaya sebelum menjadi korban. Menjadi seorang guru atau ustadz adalah amanah dari Allah, dan amanah dari orang tuanya semua anak. Jangan diremehkan amanah itu dengan abaikan bahaya yang jelas. Justru Allah berikan akal kepada manusia agar kita memakainya untuk berpikir dan mencari jalan yang terbaik!

Kalau anda diberikan amanah dari Allah dengan ditugaskan mengurus anak, tetapi anda merasa tidak perlu berpikir dengan akal yang sehat, maka ada kesimpulan yang jelas: Mohon maaf, tetapi terbukti anda tidak pantas mendapat posisi dan pekerjaan tersebut. Kalau anda tidak mau memikirkan hal-hal yang bisa membahayakan anak, maka anda sudah gagal menjaga amanah! Dan apa saja yang menimpa anak-anak tersebut adalah kesalahan dan tanggung jawab anda 100%.

Allah sudah berikan amanah dalam bentuk 80 juta anak. Kita harus jaga amanah itu dan gunakan akal yang sehat untuk memikirkan apa yang berbahaya bagi mereka, dan bertindak untuk MELINDUNGINYA sebelum ada yang menjadi korban. Kita harus bangun dari dunia mimpi dan mulai berpikir secara bijaksana tentang apa yang dibutuhkan oleh mereka. Kita harus serius dalam menjaga mereka, atas nama Allah, atas nama orang tuanya, atas nama masa depan bangsa, agar semua anak Indonesia bisa tumbuh dalam kondisi yang baik dan aman, dan bisa menjadi kebanggaan kita di masa depan.

Mohon maaf apabila ada kekurangan. 
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah, 
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...