Tuesday, May 15, 2007

Bullying Di Sekolah



Menyedihkan sekali ini:

The latest research by non-profit organization the Sejiwa Foundation, conducted in three cities, revealed that 27.5 percent of interviewed teachers considered bullying to be harmless to children's psychological wellbeing.

18.3 percent of respondents also said bullying was normal and should not be policed [= tidak perlu dicegah] by teachers. (Jakarta Post, 8 May, 2007)

Masa!!!???!!!

Bullying = mengganggu anak lain dengan cara mengejek, menghinakan, mengacam, memeras, mendorong, memukul, menganiaya, menyiksa, dan bahkan juga menghajar sampai mati. (Kata “bullying” ini tidak punya terjemahan yang persis sama dalam bahasa Indonesia)

27.5% dari guru yang disurvei menganggap bahwa bullying tidak mengganggu keadaan psikologis anak kecil????????!!!!!!!!!!!?????

Astagfirullah al adzim!!

Bagaimana anak bisa belajar kalau dia dalam keadaan tertekan? Bagaimana bisa berhasil kalau ada yang mengancam dan memukulnya setiap hari? Kok bisa dianggap “normal” atau “biasa” oleh ¼ dari para guru??

Kok guru bisa menyatakan bahwa ini bukan tugas guru untuk mencegahnya?

Kok orang dewasa yang mempunyai otak (guru) bisa melihat anak kecil yang diancam dan dianiaya, tanpa ada rasa kasih sayang atau kepedulian yang muncul di hatinya dan tanpa ada keinginan untuk membela anak yang tidak berdosa yang ditindas dan diteror oleh orang lain?

Bangsa apa ini? Bukannya penuh dengan orang Islam? Bukannya mayoritas dari guru ini beragama Islam?

"We have also questioned teachers and the principal but have found no indications of negligence," he added.

Benar? Atau barangkali lebih tepat mengatakan:

“Kita sudah memeriksa para guru dan kepala sekolah, tetapi mereka tidak siap mengakui bahwa mereka adalah orang lalai yang tidak pedulikan muridnya dengan cukup baik. Dan sekarang karena salah satu muridnya sudah wafat karena ‘bullying’, mereka tidak ingin disalahkan, padahal mereka sudah lama mengetahui bahwa ada geng anak yang suka mengancam dan menghajar anak lain yang lebih kecil. Tapi jangan salahkan para guru ya! Mereka lagi sibuk di ruang guru pada saat murid malang itu sedang dibunuh. Mereka tidak perlu bertanggung-jawab. Mereka tidak salah.”

Saya merasa sangat sedih sebagai seorang guru pada saat saya baca hasil survei ini dari orang yang juga menyebutkan diri “Guru”. Apakah mereka ini guru? Atau penjaga anak di suatu gedung yang kebetulan dinamakan “sekolah”?

Apakah ini yang terbaik untuk masa depan bangsa ini? Yang jelas, para guru ini yang tidak melihat ada efek buruk dari ‘bullying’ perlu training sehingga mereka bisa paham. Dan kalau mereka belum paham juga setelah training selesai, saya siap memukul dan membanting badan mereka sampai mereka mengatakan “paham”. Barangkali kalau mereka sendiri dipukul pada saat belajar, baru mereka akan menjadi sanggup memahami apa yang dirasakan anak kecil yang mereka jaga (atau tidak jaga) di sekolah.

Insya Allah mereka akan menjadi paham sebelum anak anda atau anak tetangga anda menjadi korban berikut.

Boleh kita minta Menteri Pendidikan baru yang peduli pada pendidikan, sehingga dia siap melakukan perbaikan dengan secepatnya….?

Kapan ya…?

*******************************

When it comes to bullying, ignorance is not bliss

City News - May 08, 2007

The Jakarta Post, Jakarta

Who is to blame when children become violent? Fathers often beam with pride when their sons show off their macho side while mothers react with joy when their brave daughters tell them stories of how they bettered a boy at school. Little do we realize that the smallest violence can lead to devastating loss.

"Ma, I'm getting beaten up, Ma. I'm getting beaten up," Edo Renaldo, 8, mumbled while taking an afternoon nap. What at first looked like a mere fever turned into tragedy for the second grader and his parents Theresia Leli and Yohanes last week. "When I checked, I noticed bruises on his neck, waist and on both of his thighs," Yohanes told the daily Warta Kota on Friday. After she insisted Edo tell her what really happened, the boy said he had been beaten up by four of his seniors at school.

On April 28, Edo, an unfit child, was exhausted after PE class. He went to the toilets where a boy a year older than him knocked him off of his feet while three female classmates stomped on him, Leli said. The bullying continued after Edo returned to the classroom, where he was pushed in the chest by one of the girls.

Edo passed away a week later.

No conclusive cause has been found for Edo's death. But doctors have said they found a 10-centimeter rupture to Edo's intestines during autopsy. East Jakarta police resort head Sr. Comr. Robinson Manurung said the final result of the autopsy would come out within the next two weeks. "We have questioned the four students as well as teachers," Manurung said. During questioning the students, who were accompanied by their parents, admitted having beaten up Edo, Manurung said.

"We have also questioned teachers and the principal but have found no indications of negligence," he added.

Meanwhile, Edo's parents said they were disappointed with the school's response to their complaints about their son's injuries. "They said it was normal for someone to have bruises after working out," Leli said.

A study from Plan International Indonesia indicated that such violence in schools ranked second after domestic violence. The latest research by non-profit organization the Sejiwa Foundation, conducted in three cities, revealed that 27.5 percent of interviewed teachers considered bullying to be harmless to children's psychological wellbeing. 18.3 percent of respondents also said bullying was normal and should not be policed by teachers.

Bullying by nature is a reaction to perceived difference: being too attractive, too fat, too shy or having different cultural background, psychologist Ratna Djuwita said. A private school principal whose institution mainstreamed bullying prevention efforts, Ratna's message has long been when it comes to bullying that "ignorance is not bliss."

National Commission for Child Protection chairman Arist Merdeka Sirait said the Child Protection Law stipulated that schools be held responsible for any violence on their premises. "Whatever the form (of violence) and whoever does it, schools should be violence-free zones and should protect their students," he said. (01)

http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20070508.C01

3 comments:

  1. Sepertinya lebih baik anak disekolahin dirumah sama orangtuanya, sambil nunggu dana apbn 20% untuk pendidikan benar-benar terealisasi untuk kasih training semua guru di Indonesia.

    ReplyDelete
  2. Postingan ini mengingatkan saya waktu pertama kali masuk SD. Karena ayah dan ibu saya dari suku yang berbeda, maka sehari-harinya kami bicara dalam B. Indonesia. Waktu itu keluarga baru pindah ke lingkungan baru yang mayoritas orang jawa. Di sekolah teman-teman selalu ngobrol dalam bahasa jawa yang saat itu saya nggak paham. Ada temen laki-laki yang selalu mengejek karena saya nggak memahami bahasa mereka. Kalau saya diajak ngobrol pastinya saya nggak nyambung. Karena seringnya diejek dan ditertawain sampai-sampai saya jatuh sakit dan nggak mau lagi pergi sekolah, padahal sekolah saya hanya di seberang rumah. Saya masih ingat tidak ada tindakan nyata yang diambil oleh guru agar anak tersebut tidak selalu mengganggu saya. Akhirnya ayah saya sendiri yang menemui anak tersebut dan meminta agar tidak mengejek dan mengganggu saya. Setelah teman saya minta maaf dan berjanji tidak akan mengejek saya lagi, baru saya mau sekolah. Sangat tidak menyenangkan menjadi korban bully.

    ReplyDelete
  3. Masalahnya Guru umumnya di negeri kita belum memiliki sense of education, tidak ada jiwa keinginan amal jariyah melihat murid-muridnya jadi orang hebat meski harus berkorban waktu tenaga pikiran kesabaran,
    dalam pikiran mereka hanya uang..uang..uang..
    bagaimana bisa bersaing kekayaan dengan teman..meski harus mengancam dan menganak tirikan murid-muridnya yang tidak ikut les dengannya...dan menganak emaskan yang lain.
    ada yang mewajibkan beli buku darinya..
    ada yang memojokkan murid2nya didepan murid lain yang orang tuanya tidak kasih ini itu ke dia...
    jangankan bagaimana membentuk watak yang baik, dia sendiri belum bisa memberi contoh yang benar.

    tapi saya punya satu guru hebat, yang selalu menginspirasi saya hingga kini...membuat saya ingin negara ini menjadi negara yang hebat...itu impian saya..dan harus bisa saya wujudkan !
    kelak di akhirat saya akan jadi saksi agar guru hebat ini bisa masuk surga meski saya harus mengorbankan diri sendiri...

    ReplyDelete